Tampilkan postingan dengan label Jalanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalanku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 November 2025

Akhirnya Tiba Juga (Perjalanan S-2)


Hari yang ditunggu akhirnya tiba, bukan sekedar ceremony atau euphoria saja melainkan perwujudan sebuah makna yang sangat dalam.

Kupenuhi janji itu, janji untuk terus melangkah, janji untuk terus belajar walaupun belajar tak semata-mata dengan sekolah formal. Aku memang pernah bermimpi bisa melanjutkan kuliah hingga jenjang S-2 tapi mimpi itu berangsur memudar saat anak-anak satu persatu lahir. Rasanya kok pesimis "ah ga mungkin", "sudahlah buat anak-anak saja nanti". Apa lagi kondisi ekonomi kami yang benar-benar sedang ditahap merintis, rasanya jika dihitung dengan matematika manusia kok nggak masuk akal. Namun ternyata takdir mengamini mimpiku walau bukan melalui jalur beasiswa seperti yang kuimpikan tapi akhirnya aku berkesempatan mengenyam bangku kuliah hingga jenjang S-2. 

Dahulu sebelum menikah aku memang pernah mengutarakan kepada calon suami jika aku masih punya janji dengan kedua orangtuaku untuk melanjutkan kuliah sampai S-1. Alhamdulillah dia tidak keberatan dan nyatanya kini dia yang mendorongku untuk melanjutkan studi hingga S-2. Dia tahu bahwa aku ingin sekali melanjutkan S-2 dengan mengejar bea siswa. Tapi setelah melalui banyak pertimbangan akhirnya suami menyarankan untuk mengambil yang mudah saja dulu. Dalam artian proses pendaftarannya tidak terlalu sulit begitu pula dengan proses kuliahnya karena aku tak perlu khawatir meninggalkan anak-anak. Masalah biaya suami menenangkanku bahwa nanti dipikir bersama, insya allah ada rejekinya. Gampang nanti kalau kesempatan beasiswa itu masih ada, kalau memang rejeki insyaallah nggak akan kemana. Okelah akhirnya kuputuskan mengambil jalur tugas belajar tanpa diberhentikan dengan konsekuensi biaya pendidikan ditanggung sendiri.

Saat itu suami sudah memberi lampu hijau, saat itu pula kesempatan seperti langsung menarikku. Alhamdulillah mulai dari semester satu hingga semester tiga akhirnya bisa terlalui walau harus gali lubang tutup lubang yang penting pas butuh pas ada. Ketemu teman-teman yang baik, dosen-dosen yang baik pula walau kadang tugasnya bikin nggak nafsu makan.  Tiga semester kemarin yang nano-nano rasanya. Kuliah online sambil diiringi backsound 3 "ajudanku" bahkan kadang sampai ketiduran saking capeknya. Kuliah offline sesekali waktu bareng teman-teman. Ngerjain tugas, presentasi yang diselingi oleh majelis ghibah yang suka ghibahin diri sendiri. Hingga akhirnya selesai juga sampai sidang tesis. Yang terpenting segala daya upaya yang sudah dikerahkan baik tenaga, pikiran, waktu dan tentunya biaya terbayar sudah.  

Diluar materi kuliah secara formal, banyak pelajaran berharga yang aku dapat selama tiga semester kemarin termasuk bagaimana menemukan kembali diriku. Insyaallah ini semua akan jadi bekalku dalam menjalankan peranku sebagai istri dan juga ibu yang lebih baik lagi. Karena bagiku pendidikan tinggi tidak semata-mata hanya untuk karir semata karena karir tertinggiku saat ini ya menjadi ibu dari ketiga calon manusia hebat pada masanya nanti. Ini sekaligus menjawab pertanyaan teman-temanku "ngapain kamu kuliah lagi katanya mau pensiun dini?". 

Suami dan anak-anak tentunya jadi saksi hidup bagaimana perjuanganku, kerelaan mereka  berbagi waktu yang aku habiskan untuk kembali belajar. Bapak dan ibu yang selalu siap sedia membantu saat aku harus menitipkan anak-anak sejenak. Rasanya masih nggak percaya aku bisa melaluinya.

Apapun pendapat, komentar ataupun nyinyiran netijen aku bodo amat. Semua ini aku yang jalani jadi selain donatur dilarang mengatur. Sekali lagi alhamdulillah aku bisa menyelesaikan apa yang sudah aku mulai, tentunya ini tak akan mudah tanpa dukungan support system yang baik. 

Jumat, 14 Maret 2025

Life Begins at 40?

Mungkin kita sering atau pernah mendengar istilah "Life Begins at 40" lantas apa sebenarnya makna dari istilah tersebut?

Dikutip dari laman kompas.com (25/02/2021) menurut seorang psikolog Astrid WEN istilah itu sebenarnya untuk memberi dukungan atau semangat kepada seseorang yang memasuki "kepala 4". Namun di sisi lain ungkapan tersebut juga sebagai gambaran bahwa seseorang diusia 40 tahun sudah memasuki jenjang yang stabil dan matang, baik secara emosional maupun finansial. Jika dilihat dari karakter pada usia ini seseorang akan lebih mantap dengan dirinya, begitu pula dengan finansial, karier ataupun relasi yang dibangunnya.

Menurut pakar psikolog Elizabet B. Hurlock  masa dewasa awal atau early adulthood terbentang sejak tercapainya kematangan secara hukum sampai kira-kira usia 40 tahun. Selanjutnya adalah masa setengah baya atau midle age yang umumnya dimulai pada usia 40 tahun dan berakhir pada usia 60 tahun. Dan akhirnya, masa tua atau old age dimulai sejak terakhirnya masa setengah baya sampai seseorang meninggal. 

Sedangkan dalam Islam usia 40 tahun dianggap usia yang istimewa, dalam sebuah kajian pernah disampaikan bahwa usia 40 ini menandakan kematangan akal, fisik dan spiritual. Usia ini juga menjadi momentum untuk meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Seseorang dengan usia 40 tahun dipandang sebagai pribadi yang istimewa serta memiliki kedewasaan atau kematangan dalam berpikir maupun bersikap.

Dan saat ini aku sedang melangkah menuju kesana, menuju gerbang usia kepala 4. Rasanya diri ini menolak tua karena sejujurnya aku masih merasa muda apalagi jika bersama rekan-rekan yang memang usianya masih jauh dibawahku. Tapi aku sepenuhnya sadar memang akan tiba juga masa ini dan semoga Allah SWT sampaikan umurku disana dan aku bisa melalui fase kepala 4 dengan menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih mendekat lagi kepada Sang Pencipta Allah SWT.

Hai rekan-rekan kelahiran 86 sudah siapkah kalian memasuki fase baru ini?





Senin, 02 Agustus 2021

Apa Sih Git dan GitHub?



Setelah postingan sebelumnya saya menulis tentang roadmap seorang web developer. Kali ini saya akan menuliskan dan membahas salah satu komponen dari roadmap tersebut.

Saya akan menulis tentang Git daan GitHub, yang mana saya sendiri juga baru berkenalan dengan aplikasi ini. Jadi di sini kita sama-sama belajar saja karena saya hanya akan berbagi dari apa yang telah dan sedang saya pelajari.

Sebelumnya saya tekankan di sini bahwa Git dan GitHub adalah dua hal yang berbeda dan terpisah, jadi kita bisa menggunakan aplikasi tersebut secara terpisah atau bahasa lainnya tidak harus digunakan secara bersamaan.

Version Control System (VCS)

Ada yang harus kita pelajari terlebih dahulu sebelum mengenal Git dan GitHub yaitu Version Control System (VCS). VCS biasa disebut juga source code management adalah sistem yang mengelola perubahan dari sebuah dokumen. Dokumen tersebut bisa berupa source code atau program komputer, website atau informasi lainnya. Apa sih latar belakang atau alasan kenapa kita perlu menggunakan VCS?

Beberapa hal yang menjadi alasan atau latar belakang mengapa diperlukannya VCS antara lain:

1. Bagaimana melacak history perubahan pada suatu dokumen?

2. Bagaimana untuk membuat version file  misal dari sebuah program yang kita buat?

3. Bagaimana agar satu dokumen dapat dikerjakan secara tim atau kolaborasi anatara beberapa orang secara bersamaan?

4. Bagaimana jika kita ingin berbagi source code atau opensource dari program yang kita buat?


Untuk itu kita butuh sebuah Version Control System (VCS):

- Sebuah sistem yang menyimpan (rekaman/ snpashot) perubahan pada sebuah file/ source code

- Memungkinkan untuk bekerja secara berkolaborasi dengan lebih baik

- Kita dapat mengetahui siapa yang melakukan perubahan dan kapan perubahan tersebut dilakukan

- Memungkinkan kita untuk kembali pada perubahan sebelumnya atau ke keadaan sebelum perubahan (chekout)


Macam-macam VCS:

- GIT

- Subversion

- Mercurial

- CVS


GIT

Sekarang kita coba mengenal lebih dekat apa itu Git. Git adalah sebuah VCS terdistribusi untuk mengelola file dalam folder yang disebut repo/ repository. Penjelasan atau keterangan lebih lengkapnya mungkin bisa dibaca di halaman wikipedia tentang Git.

Pada Git kita akan bekerja dalam folder yang disebut repository/ repo. Riwayat perubahan yang terjadi pada file yang kita simpan dalam repo akan disimpan dengan sebuah commit dengan menggunakan sebuah penanda unik yang disebut hash. 

Secara singkatnya dapat kita katakan bahwa 1 commit = 1 snapshot = 1 perubahan = 1 hash


GitHub

Sekarang kita akan coba mengenal tentang GitHub, adalah sebuah website layanan cloud untuk menyimpan/ mengelola project/source code. di GitHub kita bisa melakukan apa yang ada di GIT tapi bedanya semuanya dilakukan secara online. Penjelasan atau keterangan lainnya seperti biasa bisa dibaca di wikipedia tentang GitHub

Namun jika di komputer kita diinstal Git maka kita bisa mengirim project yang ada di Git ke GitHub dan juga sebaliknya kita bisa mengambil project yang ada di Git Hub untuk di simpan di Git. Proses tersebut bisa kita lakukan dengan syarat repo yang ada di GitHub kita clone untuk kita simpan di Git sehingga kita bisa bekerja dengan remote. Dengan kata lain kita bisa mengerjakan project kita secara lokal di komputer kita menggunakan Git dan selanjutnya project tersebut bisa kita kirim ke akun GitHub agar bisa dilihat bersama.

Demikian sekilas penjelasan tentang apa itu Gut dan GitHub dari apa yang sedang saya pelajari, penjelasan lengkapnya mungkin bisa dilihat di channel youtube Web Programming UNPAS tentang Git & GitHub

Berikut ini beberapa daftar istilah dari apa yang telah kita pelajari:

- VCS

- Git

- GitHub

- Repo/Repository, folder

- Commit, menyimpan perubahan pada suatu file

- Hash, penanda unik untuk setiap commit

- Checkout, beralih ke commit sebelum perubahan

- Branch, cabang dari sebuah commit

- Merge, menggabungkan beberapa branch

- Remote, sumber yang memeiliki repo untuk bisa melakukan clone

- Clone, membuat repo yang sama di lokal komputer kita (Git) dengan yang ada di GitHub

- Push, mengirim commit

- Pull, mengambil commit


Selamat belajar, tetap semangat dan semoga apa yang saya bagi di sini bisa bermanfaat. Terima kasih



Rabu, 15 Juni 2011

Pilih jalan yang mana???

Banyak jalan menuju roma...pepatah yang mungkin sudah tak asing lagi ditelinga kita. Dan apa yang akan sedikit saya bagi ini masih berkaitan denga pepatah tersebut. sebenarnya sudah lama ingin menuliskan ini namun akhirnya baru malam ini jari-jari saya mau bergerak di atas tuts keyboard.



Sejak beberapa pekan yang lalu sebuah jembatan yang merupakan jalur utama di desa saya sedang mengalami perbaikan total sehingga jalur tersebut harus benar-benar ditutup. Awalnya yang saya tahu hanya satu hanya satu jalur alternatif yang biasa saya lalui selama perbaikan jembatan. Namun kini akhirnya saya benar-benar tahu ada 3 jalur alternatif yang bisa saya lalui untuk menuju ke kantor setiap harinya, sebenarnya tak hanya tiga namun tiga jalur ini yang merupakan jalur tercepat dari semua jalur yang mungkin dilalui. Alternatif pertama adalah melalui sebuah jalan yang membelah pedesaan dan lumayan berliku-liku karena terlalu banyak tikungan. Kondisi jalan lumayan meski tidak sepenuhnya halus namun waktu dan energi yang dibutuhkan lebih banyak alias lebih lama untuk tiba di kantor. Alternatif kedua adalah sebuah jalan baru yang membelah sawah dan kebun tebu, jalan ini memang belum resmi dibuka karena memang belum selesai pengerjaannya. Kondisi jalan sebagian halus namun selebihnya halus bergelombang dan juga masih berbatu kerikil sehingga harus ekstra hati-hati, selain itu kondisi tanah yang kering membuat jalanan ini debunya lumayan juga mengganggu mata dan hidung saya. Alternatif ketiga adalah jalur terpendek yang baru berani saya coba beberapa hari yang lalu karena memang butuh keberanian dan amat sangat ekstra hati-hati. Jalan tersebut merupakan jalur yang dibuat diatas saluran air disebelah jembatan yang sedang diperbaiki, jalur itu dibuat oleh beberapa penduduk sekitar dari anyaman bambu yang disusun menjadi sebuah jalan. Untuk melalui jalan ini para pengendara harus membayar seribu rupiah kepada para "petugas" yang mengatur lalu lintas di atas sasak (nama jalur tersebut). Jadi banyak jalan menuju kantor saya, tinggal pilih mau lewat yang mana semua ada resikonya dan juga keuntungannya.



Seperti itu juga hidup, sebenarnya banyak jalan yang bisa kita tempuh untuk sampai pada sesuatu yang kita impikan, pada sesuatu yang kita inginkan. Ada jalan yang mudah dan kilat, ada jalan yang berliku dan panjang, ada yang jalannya cepat namun medan yang harus dilalui cukup sulit dan ada juga yang jalannya panjang namun semulus jalan tol. Mungkin pilihan pertama sudah pasti yang diinginkan sebagian besar dari kita, jalan yang mudah namun kilat alias kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan dengan cepat dan mudah.



Bersyukurlah jika diantara teman-teman hingga detik ini masih diberi jalan yang mudah dan cepat untuk meraih sesuatu, semoga itu menjadikan kita lebih banyak dan banyak lagi bersyukur. Lalu bagaimana dengan kita yang harus melalui jalan yang panjang dan berliku untuk memperoleh mimpinya dan mendapatkan apa yang diinginkannya? Tetaplah bersyukur! Dari jalan yang panjang itu Allah ingin kita belajar lebih banyak, dari jalan yang sulit itu Allah ingin kita dapat memetik nilai-nilai kehidupan yang berharga. Kita semua dihadapkan pada banyak pilihan jalan hidup yang terkadang sadar atau tidak yang nampak dihadapan kita hanya ada satu jalan, memang dari banyak pilihan itu kita harus memutuskan jalan mana yang akan kita pilih. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi sepanjang perjalanan itu, siapa yang kita temui disepanjang perjalanan itu dan apa yang akan kita dapat diujung jalan nanti apakah sesuai dengan yang kita impikan atau justru jauh dari yang kita inginkan?



Jalan manapun yang kita pilih saat ini semoga adalah jalan terbaik yang Allah swt tunjukkan untuk kita, jalan yang akan

membawa kita pada impian-impian kita, jalan yang akan membawa kita pada keridhoan-Nya. Persiapkan diri untuk berbagai macam resiko yang mungkin terjadi dan siapkan juga menerima "doorprize" dari-Nya disepanjang jalan yang sedang kita lalui ini. Dan pada akhirnya banyak jalan yang bisa kita tempuh menuju tempat akhir kita (kampung akhirat). Ada jalur cepat atau jalur lambat, ada jalur yang aman-aman saja dan mudah dilalui namun ada juga jalur yang sulit serta penuh resiko. Jalur manapun yang kita pilih semoga tujuan kita masih sama yaitu kita bisa dikumpulkan kembali di Firdaus-Nya. Amin



*) Sebuah renungan kecil saat jiwa lelah meniti langkah

Selasa, 08 Desember 2009

Sekelumit Aku dan ibuku (part 2)

Maaf ibu aku membuatmu panik…
Pernah suatu ketika kami pulang dari rumah nenek mengendarai sepeda motor tahun 80-an, saat itu usiaku baru beranjak 3 tahun. Tiba – tiba ditengah jalan hujan deras dan ternyata kami lupa membawa jas hujan. Sejenak kami berteduh disebuah rumah di pinggir jalan, hari semakin sore dan hujanpun belum terlihat akan berhenti. Ibu sangat khawatir melihatku yang mulai kedinginan, ibu merasa bersalah karena lupa membawa jas hujan sehingga aku harus ikut hujan – hujanan. Perjalanan masih cukup jauh, meski belum reda tapi hujan sudah tidak terlalu deras. Daripada kemalaman dijalan kami memutuskan melanjutkan perjalanan. Melihatku yang hanya diam tidak merengek sedikitpun, ibu sangat khawatir. Sampai – sampai ibu “membungkusku” hingga berlapis – lapis. Ibu hanya ingin memastikan bahwa aku tidak kedinginan, tak terbayangkan seperti apa rupaku saat itu. Dari mulai jaket, selimut bayi hingga karung goni yang diberikan pemilik rumah tempat kita berteduh, rapat membungkus tubuhku.

Masih di usia tiga tahunku, saat itu hari sudah mulai malam aku mendadak muntah – muntah. Bapak dan ibu panik dan langsung membawaku ke dokter terdekat. Melihat wajahku yang pucat yang hanya diam, ibu semakin kasihan padaku. Begitu namaku dipanggil ibu langsung masuk keruang dokter. Tidak lama setelah dokter memeriksa keadaanku, aku langsung dirujuk untuk dirawat dirumah sakit kabupaten. Saat itu ibu semakin panik melihat anak pertamanya lemah lunglai tak berdaya, usiaku masih balita namun harus merasakan ditusuk jarum infus. Kurang lebih lima hari aku benar – benar terkapar dan lima hari itu pula ibu tak pernah jauh dariku. Ibu tak tega saat melihat suster mengambil sample darah dari tubuh kecilku. Saat melihatku mulai riang kembali itulah saat terindah bagi ibu. Terima kasih ibu telah merawatku.

Tidak hanya berhenti disini, kepanikan yang kubuat masih berlanjut hingga aku duduk dibangku sekolah dasar, “Maafkan eka ibu, lagi – lagi membuatmu panik”. Mungkin karena terlalu sering bepergian jarak jauh menggunakan sepeda motor atau mungkin memang kondisi badanku yang lemah. Saat itu usiaku kurang lebih delapan tahun, dokter mendiagnosa bahwa aku terkena penyakit bronchitis. Penyakit paru – paru basah yang sering kali menyebabkanku sulit untuk bernafas. Setiap kali penyakitku kambuh, nafas bagaikan “mau putus”. Ya, aku nyaris putus asa setiap kali penyakitku kambuh, apakah hidupku masih lama lagi? Ibu yang selalu setia menggosok punggungku agar aku bisa bernafas, ibu yang selalu ada saat aku butuh sesuatu, ibu yang selalu terjaga saat aku tak bisa tidur jika sedang kambuh. Akhirnya setelah berkonsultasi dengan dokter, demi kesembuhan putri tercintanya Bapak dan Ibu memutuskan agar aku dirawat jalan selama 2 tahun. Selama dua tahun hidupku tak pernah putus dari obat karena jika sehari saja aku lupa minum obat maka pengobatan harus dimulai lagi dari awal. Masa – masa yang berat yang membuatku kini paling “takut” minum obat. Saat aku hanya bisa menangis karena tak mau minum obat, dengan lembutnya ibu terus membujukku sampai aku menurut. Alhamdulillah seperti kata dokter, jika tidak ada keturunan maka penyakitku pasti akan sembuh. Karena ibu pula yang sabar merawatku, aku masih bisa “bernafas” hingga saat ini. Terima kasih ibu…^^

Ibu, aku mulai kesal denganmu…
Aku yang mulai beranjak dewasa, aku yang mulai belajar mencari jatidiri, aku yang mulai menemukan duniaku sendiri, aku merasakan ada yang beda pada diriku. Ya, sikap ibu berbeda tidak seperti ibu teman – temanku. Ibu tak selalu memberikan apa yang aku minta, uang saku-ku sangat kecil jika dibandingkan dengan teman – teman, ibu tidak mengerti apa yang aku inginkan. Aku juga ingin seperti teman – temanku, ingin punya kaos dan jam tangan yang lagi tren saat itu. Aku juga ingin nonton konser bareng teman – teman. Aku ingin dapat hadiah saat jadi juara kelas. Aku ingin ini, ingin itu dan macam – macam keinginan yang menurutku masih wajar – wajar saja. Tapi kenapa ibu sulit sekali menuruti keinginanku…

Tanggungjawabku mulai ditambah, aku harus membantu ibu menyelesaikan pekerjaan rumah. Mencuci baju, menyetrika, menyapu, cuci piring bahkan kadang memasak nasi…aku masih ingin bermain ibu! Memang sejak aku SD kelas 6, kami sepakat tidak lagi memakai jasa pembantu rumah tangga, pekerjaan dilakukan bersama, sebagai gantinya aku dan adikku bisa mendapat tambahan uang jajan. Tapi…waktu bermaninku jadi berkurang, waktu nonton tv juga berkurang. Tak jarang aku mengeluh tapi ibu selalu sabar menghadapi keluhanku dan mengatakan bahwa ini semua demi kebaikkanku nanti.

Namun saat aku beranjak dewasa, akhirnya aku sadar bahwa engkau ingin mengajariku banyak pelajaran kehidupan sebagai bekalku kelak dimasa depan. Semuanya engkau lakukan karena engkau sangat menyayangi anak – anakmu. Hal – hal yang dulu pernah membuatku kesal, kini justru aku syukuri. Terima kasih ibu…

Sekelumit Aku dan ibuku (part 1)

Kasih ibu
Kepada beta
Tak terhingga
Sepanjang masa

Hanya memberi
Tak harap kembali
Bagai sang surya
Menyinari dunia

Malaikat itu bernama “Ibu”
Suatu ketika, ada seorang bayi yang siap untuk dilahirkan. Maka, ia bertanya kepada Tuhan. "Ya Tuhan, Engkau akan mengirimku ke bumi. Tapi, aku takut, aku masih sangat kecil dan tak berdaya. “Siapakah nanti yang akan melindungiku disana?".
Tuhanpun menjawab. "Diantara semua malaikat-Ku, Aku akan memilih seorang yang khusus untukmu. Dia akan merawatmu dan mengasihimu. Malaikatmu, akan terus melindungimu, walaupun nyawa yang menjadi taruhannya. Dia, sering akan melupakan kepentinganya sendiri untuk keselamatanmu."

Hening. Kedamaianpun tetap menerpa surga. Namun, suara-suara panggilan dari bumi terdengar sayup-sayup. "Ya Tuhan, aku akan pergi sekarang, tolong, sebutkan nama malaikat yang akan melindungiku...."

Tuhanpun kembali menjawab. "Nama malaikatmu tak begitu penting. Kamu akan memanggilnya dengan sebutan: Ibu..."

~Author Unknown~
(Dikutip dari sebuah catatan di internet)

Beruntung aku dilahirkan dari rahimnya, beruntung aku diberi malaikat seperti dia. Akulah buah perjuangannya antara hidup dan mati, tangisku adalah senyum bahagia baginya. Sejak saat itulah dia berjanji akan memberikan seluruh hidupnya untukku, sejak saat itulah cinta dan kasih sayangnya terus mengalir didalam darahku. Cinta terindah sepanjang zaman, cinta seorang ibu pada anaknya.

Terlahir dengan berat 2,7 kg badanku memang sangat kecil. Meski tidak melalui operasi kelahiranku yang berjalan normal tetap harus menggunakan “alat bantu” yang mengharuskan proses kelahiran dipindahkan dari puskesmas ke rumah sakit. Aku tak bisa membayangkan bagaimana rasanya ibu menahan rasa sakit yang ber jam – jam saat akan melahirkanku. Menurut dokter, melihat proses kelahiranku kemungkinan jika tidak lemah fisik maka aku akan mengalami lemah mental. Mungkin itulah yang membuat kedua orang tuaku terlalu khawatir, terlebih ibu sehingga setiap perkembanganku tak pernah luput dari perhatian ibu. Allah memang sangat sayang padaku karena telah memberiku “malaikat terbaik” yaitu ibuku.

Terima kasih ibu telah mengajariku…
Saat aku mulai belajar hal – hal baru, ibu adalah sekolah pertama bagiku. Dengan sabar dan telaten ibu mengajariku banyak hal. Setiap melihatku bisa melakukan satu hal baru adalah saat - saat paling berharga buat ibu. Saat – saat itulah yang paling dinantikan, melihat perkembanganku yang semakin baik.
Ketika aku mulai belajar berjalan dan kadang terjatuh, aku berusaha merayap dan berjalan lagi namun ku terjatuh lagi tapi ibu selalu ada disampingku seraya berkata
"Selangkah lagi sayang....ayo selangkah lagi sayang…” hingga akhirnya akupun bisa berjalan bahkan berlari menghampirinya yang siap memelukku.
Saat aku berhasil melakukan sesuatu ibu selalu memujiku “Anak ibu memang pinter…” dan akupun tersenyum. Ibu tak pernah marah saat aku mulai rewel dan tak mau melakukan perintahnya, justru kata – kata lembut yang keluar dari mulutnya.
Kini saat kubisa berjalan, berlari dan melakukan banyak hal sendiri, justru terlalu sering aku meninggalkannya disaat ibu membutuhkanku disampingnya. Ibu ingin aku mengantarnya berbelanja tetapi hanya kata maaf yang kuberi karena begitu banyak kesibukan yang menyita. Ibu ingin sejenak mengobrol denganku tapi lagi – lagi hanya kata maaf yang bisa menemani karena aku sudah ada janji rapat dikantor.

Sabtu, 05 Desember 2009

Aku kehilangan hidupku...

5 Desember 2009

Mengapa aku harus kehilangan semuanya setelah semua yang aku susun selama bertahun - tahun?
Tak pernah terpikirkan ini akan terjadi begitu saja disaat aku membutuhkan semua yang telah aku simpan selama ini.

Hampir separuh hidupku hilang, hilang begitu saja tanpa bisa aku kembalikan lagi. Berbagai cara sudah aku coba untuk mengembalikannya tapi apa hasilnya? NIHIL!
Sepertinya kini aku harus kembali memulainya dari nol, benar - benar dari nol. Untuk mengumpulkan kembali yang tersisa dari hidupku. Entah apakah ini kesalahanku atau ketidaksengajaan yang fatal, yang pasti aku sangat kehilangan kehilangan "my life".

Ya "my life", folder catatan perjalanan hidupku selama ini. Catatan hampir seluruh kisah suka dan duka yang telah aku jalani hingga detik ini. Folder sejarah hidupku yang sengaja mulai aku rintis beberapa tahun silam. Folder itu tiba - tiba raib begitu saja dari hardiskku tanpa permisi. Beberapa software recovery telah dicoba namun tetap nihil, hanya foldernya yang kembali namun catatan - catatan itu tetap hilang. Hiks...hiks...

Aku masih ingat dengan jelas kapan terakhir kali aku membukanya. Namun beberapa hari kemudian semuanya telah hilang begitu saja. Semuanya benar - benar tiba - tiba tapi seperti telah diatur sedemikian rupa oleh-Nya. Deretan peristiwa yang terjadi bersamaan dengan hilangnya folder itu seperti saling berkaitan dan teratur rapih. Disaat sebuah moment yang membuatku ingin membuka kembali "my life" justru saat itulah aku kehilangan "my life". Mungkin Allah menginginkanku untuk membuka lembaran baru hidupku.

Kini "my life" telah lahir kembali dengan mimpi dan harapan yang lebih baik dan semoga akan senantiasa menyimpan kisah - kisah yang lebih baik pula dari hidupku (my life) sebelumnya. Biarlah semua yang telah berlalu jadi sejarah dalam hidupku, kini saatnya kususun kembali lembaran - lembaran baru dalam hidupku (my life). Setidaknya masih ada sedikit catatan yang tersisa di blog-ku.

Semoga ku tak akan kehilangan hidupku lagi...^^

Selasa, 17 November 2009

Karena Mimpi Kita Berbeda

Ya aku menyukainya…jauh sebelum akhirnya dia mengenalku. Dia sosok yang diam – diam aku kagumi menjelang ditahun terakhir SMA dulu, sosok yang bagiku terlampau sempurna yang membuatku tak berani menunjukkan siapa diriku. Sampai akhirnya kesempatan itu datang dan sejak saat itulah kami cukup sering berkomunikasi meski hanya melalui sms. Terpisah oleh jarak dan kesibukan yang banyak menyita waktu kami masing – masing, membuat komunikasi kami terputus selama beberapa bulan. Namun lewat seorang teman akhirnya komunikasi kami berjalan kembali. Mungkin sejak saat itulah kesempatanku memang sudah tidak ada.

Dia yang lama tak kuketahui kabarnya, semakin dewasa, matang dan bijaksana. Sikapnya membuat rasa simpatikku terus tumbuh. Tak dapat dipungkiri bahwa dia juga turut andil dalam “perubahan” yang terjadi pada diriku sekarang. Dialah penasehatku, tempat aku bertanya dan belajar banyak hal. Dia memang tak pernah tahu perasaanku sampai akhirnya aku memberanikan diri mengatakan semuanya. Mungkin ada yang bertanya, apa kamu sudah gila? Atau ada yang mencapku tak tahu malu, biarlah…

Saat itu tahun terakhir kuliahku sedangkan dia sudah lulus terlebih dahulu. Setelah memantapkan hati dan berdoa memohon petunjuk-Nya akhirnya kulayangkan juga “email” itu. Sebuah email yang menceritakan semua tentang perasaanku selama ini dan email yang secara tak langsung mengatakan “ijinkan aku menjadi istrimu…”. Mungkin ini terlalu lancang tapi inilah kenyataan yang terjadi, semuanya harus dikatakan. Kurang lebih satu bulan, dia memberikan jawabannya bahwa ia hanya bisa menjadi kakakku saja. Kecewa pasti ada tapi dari caranya menanggapi sikapku justru aku semakin hormat dan simpatik padanya.

Kakak, aku memang anak pertama yang tidak tahu bagaimana rasanya memiliki seorang kakak. Seperti janjiku bahwa tak ingin memutus tali silaturahmi maka aku terima tawarannya, untuk hanya menjadi adik perempuannya saja. Komunikasi kami masih berlanjut, dia tetap menjadi penasehat dan tempatku bertanya. Satu hal yang mungkin tak kusadari atau aku tak mau menyadarinya bahwa ternyata aku masih menyimpan secuil “perasaan itu”, harapan bahwa suatu saat dia bisa berubah pikiran. Entah sengaja atau tidak, diapun “mengenalkanku” pada sahabatnya beberapa waktu sebelum akhirnya harapan itu benar – benar sirna.

Dan beberapa malam yang lalu, dari sahabatnya aku tahu siapa wanita yang akan mendampingnya untuk menggenapkan setengah dien-nya. Alhamdulillah…memang itu yang terlintas pertama kali saat mendengar kabar itu, akhirnya Allah memutuskanku untuk berhenti berharap. Allah menjawab pertanyaanku selama ini tentang siapa sosok wanita yang akan mengisi ruang dihatinya. Sosok wanita sholehah yang Insya Allah kutahu jauh lebih baik dariku dan lebih pantas mendampinginya. Aku pikir semuanya akan biasa saja, bukankah seharusnya aku senang mendengar kakakku akan menikah? Bukankah aku ingin mencintai karena Allah? Bukankah hanya Allah yang patut dicintai melebihi segalanya? Ternyata tidak semudah itu…

Sehari dua hari aku sempat “limbung” seperti kehilangan pijakan. Waktuku banyak dihabiskan diatas hamparan sajadah hanya untuk merenungi mengapa ini harus terjadi? Mengapa aku harus jatuh cinta padanya? Mengapa aku harus mengenalnya? Dan banyak “mengapa” lainnya berkelebat dipikiranku. Akhirnya kutulis lagi sebuah pesan untuknya, bukan untuk mencegahnya menikah melainkan “mengembalikan” sisa perasaan yang kupunya. Meski saat itu masih dengan berat hati, aku tetap mengucapkan selamat dan berharap dia mengundangku ke pernikahannya nanti. Apakah aku sanggup untuk hadir? Lihat saja nanti…

Allah terlalu sayang padaku dan tak tega melihatku terlalu banyak menitikkan air mata. Perlahan Dia bukakan kembali hati dan pikiranku dan menyadarkanku bahwa inilah jalan yang terbaik, meski yang terbaik tak selalu yang terindah. Mungkin bukan aku yang terbaik untuknya dan sebaliknya bukan dia yang terbaik untukku.

Kami punya mimpi masing – masing dan peran yang harus kami lakoni sebagai khalifah dimuka bumi ini. Aku punya segudang mimpi yang masih menanti untuk aku wujudkan, jika dia memilihku mungkin aku harus pergi bersamanya dan meninggalkan semua mimpiku di kota ini. Aku tahu keinginan dan mimpi dia jauh lebih tinggi dari mimpiku dan dia membutuhkan seseorang yang siap menemaninya kapanpun dan dimanapun untuk meraih mimpinya disana, jauh ditempat yang berbeda.

Aku percaya, Allah pasti telah memilihkan seseorang yang tepat untukku. Seseorang yang akan kuajak bersama – sama merajut mimpi dikota ini. Perlahan – lahan membangun mimpi – mimpi itu jadi nyata di tempat yang sederhana ini. Biar dia jalankan perannya disana dan aku jalankan peranku disini bersama pasangan kami masing – masing yang telah Allah pilihkan. Dan semoga dimanapun kami melangkah tujuan kami tetap sama, ridho Allah.

“Untuk kakakku maaf jika selama ini telah merepotkanmu, terima kasih atas semuanya. Kini sudah saatnya adikmu berjalan sendiri, jangan khawatir Allah tak akan membiarkanku sendiri. Berbahagialah dan sambut kehidupanmu yang baru, meski mungkin kita tak lagi bisa berkomunikasi tapi doa dan tali persaudaraan sesama muslim yang akan selalu menghubungkan kita. Tetap saling mendoakan ya….^^”

"Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan tidak memberi karena Allah, maka dia berarti telah sempurna imannya." (Abu Dawud)

Setalah hujan deras, November 2009
Saat luka dan air mata luruh bersama derasnya hujan

Selasa, 13 Oktober 2009

Akhirnya ku bertemu mereka

Minggu, 11 Oktober 2009
Alhamdulillah...Allah telah mempertemukanku dengan mereka, orang - orang hebat yang penuh semangat.
Saat pertama kali memasuki ruangan aula tempat dimana acara "Sarasehan FLP Tegal" akan digelar aku merasakan ada aura berbeda menyergap kedalam relung hatiku. Sebuah suasana yang tak asing yang aku rindukan setelah kurang lebih 2 tahun kumeninggalkan dunia kampus.

Tak terlalu banyak yang hadir namun aku yakin disetiap hati yang membawa mereka berada disana ada semangat dan tekad yang kuat untuk sebuah kebaikan. Kehadiranku disanapun kuanggap sebagai pengisi bahan bakar semangatku yang mulai menipis. Sungguh aku merasa benar - benar beruntung bisa berada disana.

Jika ditilik kembali kebelakang, mungkin inilah hikmah yang ingin Allah tunjukkan padaku setelah sebersit rasa sesal yang pernah kulontarkan dulu atas jalan hidup yang harus aku lewati. Mungkin jika aku tak melewati jalan itu belum tentu aku akan sampai disini.

Doa dan harapku, semoga Allah meridhoi langkahku ini untuk ikut melangkah bersama teman - teman baruku (teman - teman FLP Tegal). Kini ku benar - benar yakin bahwa aku tak pernah sendiri dijalan yang kupilih ini. Selain Allah yang menemani, ada mereka teman - teman yang siap berjuang bersama. Insya Allah...

Sabtu, 05 September 2009

11 Tahun Di rumah itu...

Semua berjalan biasa, kehidupanku sama seperti layaknya anak2 yang lain yang masih suka bermain.

umur enam tahun bapak dan ibu memasukkan aku ke sekolah dasar favorit didesaku

Alhamdulillah berkat bimbingan kedua orang tuaku dan tentunya guruku (ibu Barkah) aku bisa mengikuti pelajaran disekolah dan muncul sebagai bintang kelas. bukan bermaksud sombong aku benar2 bangga saat itu apalagi kedua orang tuaku. Namun seiring dengan naiknya prestasiku aku tumbuh menjadi gadis kecil yang pendiam dan pemalu. aku lebih banyak menghabiskan waktu dirumah untuk belajar atau setidaknya bermain sekolah - sekolahan dengan pembantuku dan beberapa temanku.

Saat aku duduk dikelas tiga SD aku difonis terserang bronchitis. aktifitasku jadi terbatas, karena bapak dan ibu mengurangi waktu bermainku, aku harus lebih banyak istirahat. akibat dari penyakitku badanku susah sekali gemuk, diantara teman – teman sekelas mungkin aku yang berat badannya paling rendah:p


Semenjak pertengahan kelas empat bapak dan ibu memutuskan untuk mengajakku mengikuti terapi pengobatan di rumah sakit selama 2 tahun. saat itu kondisi tubuhku memang semakin parah setiap minggu selalu saja sesak napasku kambuh. jika ingat saat itu aku pernah berpikir bahwa hidupku tidak lama lagi, jujur saat kambuh untuk bisa bernafas saja sangat sulit. yang membuat aku terharu adalah bapak dan ibu tidak pernah putus asa untuk kesembuhanku.


Harapan itu muncul saat dokter (dr. Soetarto RSU Kardinah) mengatakan bahwa jika tidak ada keturunan penyakitku bisa sembuh. Selama kurang lebih 2 tahun aku harus rutin setiap hari meminum obat sesuai resep dokter yang jumlahnya sampai 5 macam besar - besar lagi. untung bapak mengajarkanku meminum obat kapsul/ tablet menggunakan air /pisang jadi aku tidak perlu merasakan pahitnya obat - obat itu T_T. ditanya bosan atau tidak jelas bosan, kadang aku ingin menangis saat tidak bisa menelan obatnya. Aku juga sempat merasa putus asa, namun bapak dan ibu selalu mendukungku, adikku justru senang saat melihat aku minum obat (lucu deh dia).


Waktu kecil bisa dibilang aku itu penyakitan, sampai - sampai aku tidak pernah dijinkan untuk mengikuti kegiatan ekstarkulikuler Pramuka atau kegiatan lain yang butuh banyak tenaga karena takut sakitku kambuh tiba - tiba.

Namun setelah semuanya berlalu dan melihat apa yang sekarang kualami, kisah diatas adalah sedikit ujian dari Allah dan itu tandanya Allah sayang padaku.

Untuk ibu dan bapakku..........eka ga akan pernah lupa tiap detik dimasa - masa itu. Terima kasih telah merawat eka dengan penuh kesabaran dan mengajarkan eka untuk selalu kuat menghadapi cobaan hidup.

**********

Aku yakin sakitku bisa disembuhkan............

Itu yang slalu ada dipikiranku, namun tidak semudah itu. Saat – saat sekolah dasar benar – benar perjuangan buatku, perjuangan untuk bisa sembuh dan perjuangan untuk bisa jadi yang terbaik disekolahku. Ambisiku memang besar, sebesar keinginanku untuk meraih dan mewujudkan apa yang aku inginkan. Ambisiku yang besar sepertinya tidak didukung dengan sifatku, aku adalah anak yang pemalu dan pendiam.


Entah apa penyebabnya memang seperti itu kenyataanya, aku kurang pandai bergaul dan kurang percaya diri. Sebenarnya aku bisa dibilang punya kelebihan diabanding teman – temanku, ya......aku beberapa kali menjadi juara kelas, beberapa kali mewakili sekolah mengikuti lomba hingga ketingkat propinsi, dalam setiap upacara bendera aku selalu ambil bagian menjadi petugas upacara entah menjadi protokol, pembaca UUD ’45 atau menjadi team paduan suara.


Mungkin teman – temanku memandang diriku sebagai orang yang sangat beruntung, dimata mereka aku memang terlihat sempurna namun jauh didalam diri ini ada sisi yang kosong dan rapuh. Aku senang teman – temanku sangat baik padaku, mereka sangat menghargai aku dan tidak ada yang berani bersikap tidak sopan kepadaku. Tapi disisi lain penghargaan teman – teaman kepadaku, aku rasakan sebagai pembuat jarak antara aku dan mereka. Sampai detik itu belum ada keinginanku untuk merubah keadaan, hingga akhir sekolah dasar semunaya berjalan tetap seperti itu.


Oh ya..........akhirnya waktu kelas 5 ibu guru mengijinkanku mengikuti PERSAMI (Perkemahan Sabtu Minggu) untuk memperingati hari Pramuka, saat itu aku senang sekali, akhirnya aku bisa membuktikan pendapat ibu guruku itu salah, yang melarang aku mengikuti kegiatan non-akademik karena dianggap penyakitan.

**********

Sekarng usiaku sudah 12 tahun, sudah gede ya.........^_^

Setelah berjuang di ujian nasional aku lulus juga, walau NEM-ku hanya berada di peringkat empat tapi aku dan teman – teman bisa melanjutkan ke SMP favorit di ibukota kabupaten. Seingatku hanya 9 orang dari sekolahku yang diterima di SMP favorit, memang bisa dibilang anak – anak yang sekolah disana terkenal pintar – pintar.


Dengan diantar pak kusir langganan, waktu itu aku dan 3 orang temanku memberanikan diri untuk datang ke SMP yang kami cita – citakan untuk melihat pengumuman penerimaan siswa baru, siang – siang naik dokar jadi ngantuk deh.......NEMku masih masuk syarat NEM minimal, aku ga henti – hentinya berdoa agar bisa diterima disana. Sebenarnya selain itu adalah SMP favorit alasanku ingin sekolah disana adalah ingin suasana baru, dari TK sampai SD aku sekolah didesa yang sama yang dekat dengan tempat tinggalku. Sekarang aku ingin menjelajahi wilayah baru.


Singkat cerita, alhamdulillah aku diterima di SMP Favorit. Senang, bangga, sekaligus takut campur jadi satu. Senang dan bangga sudah jelas, namun aku juga takut apa nantinya aku mampu menjalaninya. 3 tahun akan aku habiskan disana, akan seperti apa teman – temanku nanti, apa aku bisa jadi juara kelas lagi, apa aku bisa berubah tidak jadi pemalu lagi, apa aku bisa lebih PD lagi. Banyak juga pikiran – pikiran negatif yang nimbrung di kepalaku...... ” ga mudah ya positif thinking........ ”

Masih dirumah itu...

Aku memang sudah tidak terlalu ingat apa yang saja yang terjadi disaat-saat itu namun aku yakin semuanya terasa indah.

Kedua orang tuaku masih sepenuhnya miliku karena hanya aku satu - satunya yang mereka punya. Walau demikian bukan berarti orang tua-ku sangat memanjakanku, tidak...mereka lebih tahu bagaimana cara menyayangiku tanpa harus memanjakanku.


Saat usiaku dua tahun, aku harus menjalani rawat inap di rumah sakit, hari - hari itu memang tidak menyenangkan, dengan infus ditangan dan kondisi tubuh yang lemah aku tidak bisa bermain-main seperti biasanya hanya ibu yang setia menemaniku dirumah sakit karena bapak harus bekerja. Walau saat itu aku masih kecil, aku tidak akan lupa apa yang sudah bapak dan ibu lakukan selama aku dirumah sakit.


Dua tahun lewat... tiga tahun lewat... setiap ulang tahunku bapak dan ibu membelikan baju baru dan mereka memotret aku dengan baju itu. sampai saat ini aku masih menyimpan foto ulang tahunku yang ke-2 dan ke-3. bapak dan ibu memang tidak pernah mengajarkanku untuk mereyakan ulang tahun. Akupun sudah merasa senang dengan membagi kebahagiaan hanya dengan bertiga tanpa ada acara yang meriah.


Empat tahun usiku saat itu... "Ibu eka pengen sekolah..." akhirnya umur 4 tahun ibu memasukanku ke sekolah TK yang memang cukup bagus di daerahku.

Awal yang indah... itu yang aku rasa saat pertama masuk TK dan ternyata dampaknya juga cukup bagus. ibu guru selalu memujiku sebagai murid yang pandai, aku bangga sekali saat itu (anak kecil mana yang ga suka dipuji...^_^).


Walau memiliki banyak teman, aku masih merasa kesepian. aku ingat saat itu ketika bapak dan ibu sedang makan siang, "Pak, Bu... eka pengen punya adek". bapak dan ibu hanya tertawa mendengar ucapanku itu tapi mereka janji akan memberiku adik.


Tepat saat usiaku 5 tahun, bapak dan ibu menepati janjinya. Aku mendapat kado yaitu adek perempuanku yang lucu dan mungil (abis ga keliatan cantik apa ga sih, kan muka bayi sama semua).senang sekali rasanya mulai saat ini aku jadi punya teman bermain. aku ceritakan kesemua temanku kalo aku punya adek baru termasuk sama guru TK-ku ibu Har. Aku di TK selama dua tahun, abis sama gurunya baru boleh masuk SD saat umur 6 tahun aja. Sampai umur 6 tahun aku nikmati masa bermainku yang mungkin belum tentu bisa kurasakan di tahun - tahun berikutnya.


Itulah aku, memang mungkin dimata orang apa yang ku alami tidak spesial tapi semua peristiwa itu memiki arti tersendiri disetiap sudut ingatanku. ^_^

Januari 2026 ( Yuks Mulai Lagi!)

  Apa kabar diriku? Nggak terasa sudah 2026 ya, atau terasa banget perjalanan 2025 kemarin? Gimana berat atau kata anak sekarang "b aja...