Tampilkan postingan dengan label Kata mereka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kata mereka. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Desember 2025

Ibu Harus Tetap Asyik Walau Dunia Terus Berisik


Alhamdulillah beberapa hari lalu saya berkesempatan mengikuti sebuah kajian muslimah yang diadakan oleh Ikakatan Notaris Indonesia IPPAT Pengda Kab. Tegal.  Acara hari itu diisi oleh Bubu Tika yang merupakan salah satu Duta Kesehatan Mental Dandiah. Sebenarnya sudah lama saya ingin mengikuti event yang diisi oleh Bubu Tika tapi sayang waktunya yang selalu disaat jam kantor. Jadi kemarin suatu rezeki karena acara pas libur kantor yang alhamdulillah tidak ada halangan sehingga saya bisa berada di sana ditemani putri saya yang kedua karena tugas negara yang tidak bisa ditinggalkan menjemput anak sekolah sehingga saya meminta ijin pada panitia untuk membawa serta putri saya.

Disini saya ingin berbagi sedikit tentang hasil kajian kemarin yang pastinya relate sekali dengan kita para ibu yang isi kepalanya selalu berisik, mulai dari urusan domestik hingga urusan "luar negeri". Sebenarnya apa saja sih yang bikin berisik dan bagaimana menghadapi dunia yang berisik ini. Berikut ini rangkuman yang sudah coba saya buat.

Apa saja yang bikin berisik:

  • Komentar orang, seperti yang kita tahu komentar netijen selalu lebih pedas ketimbang cabe setan. Baik itu komentar netijen di dunia maya atau komentar tetangga di dunia nyata. Yang bahaya komentar-komentar itu sering memakan banyak resource pikiran kita.
  • Tsunami informasi, sebenarnya bagus jika kita tahu banyak informasi tapi sesuatu jika berlebihan juga jadinya kurang bagus. Ibarat kita makan makanan yang masuk kemulut baiknya sendok demi sendok lalu kemudian kita cerna begitu juga informasi. Jika informasi yang masuk ke otak datang bertubi-tubi secara bersamaan maka akan kebanjiran informasi seperti air bah yang datang tiba-tiba.
  • Tuntutan sosial, seringkali menuntut kita dengan berbagai macam hal yang sebenarnya tidak harus kita penuhi hanya untuk memuaskan ekspektasi manusia.
  • Kekacauan di rumah, ini jelas sekali jadi sumber keberisikan para ibu-ibu di rumah. Anak-anak yang berteriak-teriak, kondisi rumah yang berantakan dan segala macam tetek bengeknya.
  • Pekerjaan kantor, bagi ibu bekerja entah itu bekerja secara formal di kantor maupun non formal (tidak di kantor) tugas atau beban pekerjaan bisa menjadi salah satu sumber keberisikan yang seringkali terbawa sampai rumah. Untuk itu kita perlu menetapkan boundaries agar pekerjaan kantor tidak menambah keberisikan di rumah
  • Berita negatif, seperti berita bencana alam, kasus kriminal sampai kasus perceraian artis pasti menambah berisik isi kepala kita terlebih bagi si overthingking. Berita-berita negatif bisa menimbulkan gangguan kecemasan tersendiri yang bahkan bisa membuat kita lupa bahwa ada Allah sebaik-baik penolong dan pelindung.
Di era medsos memang tak bisa dipungkiri kita hidup seperti di dua dunia, dunia nyata dan dunia maya. Bahayanya jika kita lebih nyaman dan lebih sering mementingkan persepsi orang di dunia maya ketimbang didunia nyata. Media sosial seharusnya jangan mempengaruhi kita melainkan kita yang mempengaruhi melalui media sosial.

Berikut ini beberapa tips yang dibagikan oleh Bubu Tika:
  1. Puasa Medsos, ini memang penting dan saya sudah merasakan dampaknya. Dulu saya pernah detoks fb sampai satu tahun lebih rasanya bikin lebih nyaman toh dulu kita biasa hidup tanpa medsos.
  2. Audit Medsos, kita tidak wajib memiliki akun disemua platform media sosial cukup pilih sesuai kebutuhan saja.
  3. Memilih satu model, tidak harus semua model kita pelajari. Misal model parenting, dari sekian banyak model parenting maka cukup pilih satu tapi betul-betul dipelajari tidak usah semua dipelajari tapi akhirnya membuat kita bingung.
  4. Lihat anak, bukan layar. Apa yang ada di media sosial belum tentu sama persis dengan yang ada di dunia nyata. Jangan langsung menjudge kondisi anak kita hanya berdasarkan info yang ada di media sosial.
  5. Tanya Allah dulu AI kemudian. AI memang sudah menjadi budaya di era sekarang hampir banyak lini kehidupan bisa diambil alih oleh AI. Namun kita harus ingat bahwa kita masih punya Allah SWT sebaik-baik penolong dan pelindung yang tak akan pernah bisa tergantikan oleh AI. Jadi jika ada permasalahan hidup yang sedang kita hadapi maka mintalah petunjuk pada Allah SWT bukan pada AI.
  6. Rileks dan optimis, yakinlah setiap anak terlahir dengan membawa fitrah terbaik dan dipertemukan dengan orang tua terbaiknya. Jika ibarat perangkat komputer bagaimanapun kondisi anak kita, Allah paling tahu bahwa kitalah orang tua yang paling kompatible.
  7. Mohon kebaikan pada Qolbu. Jangan pernah berhenti untuk memohon ketenangan hati dan kesucian jiwa.
  8. Memohon agar senantiasa besyukur. Bahkan seorang Nabi Sulaiman yang tidak pernah kekurangan apapun selalu berdoa agar diberi ilham untuk bersyukur atas nikmat Allah, mengerjakan amal saleh yang diridai dan dimasukan ke dalam golongan hamba-Nya yang saleh.
Dunia adalah tempat berlelah-lelah dan permainan yang melalaikan, jika ingin beristirahat adalah nanti saat kita bisa masuk ke surga-Nya Allah. Niatkan setiap keinginan di dunia untuk tujuan akhirat agar kita tidak terlenakan oleh dunia yang tidak akan pernah bisa memuaskan nafsu manusia.

Dunia tidak akan berhenti berisik tapi kita bisa mengatur mana-mana yang berhak mengusik pikiran kita, semoga kita tetap menjadi ibu yang paling asyik untuk anak-anak kita.💖😘

Kamis, 03 Desember 2009

JANGAN TAWARKAN KEISENGAN ATAS NAMA TAARUF PADA KAMI...!!!!!

Aku ingin bicara atas nama wanita, terlebih akhwat (kalau boleh sih) tolong untuk para ikhwan (atau yang merasa sebagai muslim)....bgini:

Wanita adalah makhluk yang "sempit akal" mudah terbawa emosi. Terlepas bahwa aku tidak suka pernyataan tersebut, tetapi itulah fakta. Sangat mudah membuat wanita bermimpi. Tolong, berhentilah memberi angan-angan kepada kami. Mungkin kami akan melengos kalau disapa. Atau membuang muka kalau dipuji. Namun, jujur saja, ada perasaan bangga. Bukan suka pada antum (mungkin) namun suka karena diperhatikan "lebih".

Diantara kami, ada golongan Maryam yang pandai menjaga diri. Tetapi tidak semua kami mempunyai hati suci. Jangan antum tawarkan sebuah ikatan bernama ta'aruf bila antum benar-benar belum siap akan konsekuensinya. Sebuah ikatan ilegal yang bisa jadi berumur tak cuma dalam hitungan bulan tetapi menginjak usia tahun, tanpa kepastian kapan akan dilegalkan. Tolong, pahami arti cinta seperti pemahaman Umar Al Faruq: seperti induk kuda yang melangkah hati-hati karena takut menginjak anaknya (afwan, bener ini ya riwayatnya?). Bukan mengajak kami ke bibir neraka. Dengan SMS-SMS mesra, telepon sayang, hadiah-hadiah ungkapan cinta dan kunjungan pemantapan yang dibungkus sebuah label: ta'aruf.

Tolong, kami hanya ingin menjaga diri . Menjaga amal kami tetap tertuju padaNYA.Karena janji Allah itu pasti. Wanita baik hanya diperuntukkan bagi laki-laki baik. Jangan ajak mata kami berzina dengan memandangmu! Jangan ajak telinga kami berzina dengan mendengar pujianmu! Jangan ajak tangan kami berzina dengan menerima hadiah kasih sayangmu! Jangan ajak kaki kami berzina dengan mendatangimu! Jangan ajak hati kami berzina dengan ber-dua-an denganmu! Ada beda persahabatan sebagai saudara, dengan hati yang sudah terjangkiti virus. Beda itu bernama "rasa" dan "pemaknaan". Bukan, bukan seperti itu yang dicontohkan Rasulullah! Antum memang bukan Mush'ab. Antum juga tak se-kualitas Yusuf as. Tetapi antum bukan Arjuna dan tak perlu berlagak seperti Casanova karena Islam sudah punya jalan keluar yang indah. Segeralah menikah atau jauhi wanita dengan puasa!
********************

NASEHAT UNTUK DIRI SAYA PRIBADI...^^

saudariku....sahabatku...ukhti muslimah....,,,,
sungguhpun taaruf bukanlah sebuah permainan....bukan sekedar coba-coba...bukan sekedar perkiraan..."hmm..siapa tau cocok...""hmm...siapa tau jodoh...""siapa tau..."siapa tau...'atau bahkan..." Hmm....lumayanlah...buat hepi-hepian...???????"astaghfirullah....
sungguh...Taaruf itu bukanlah sebuah keisengan seperti itu....!!!!
bagaimana mungkin SATU-SATUNYA JALAN YANG DIHALALKAN OLEH ALLAH...OLEH ISLAM..adalah sebuah permainan iseng...permainan coba-coba...sebuah kesenangan terselubung...??????bagaimana mungkin SATU-SATUNYA JALAN YANG DIHALALKAN OLEH ALLAH...OLEH ISLAM..adalah sebuah permainan iseng...permainan coba-coba...sebuah kesenangan terselubung...??????
bagaimana mungkin suatu upaya untuk menghindari PACARAN...justru tanpa disadari masuk dalam PACARAN tersebut...bagaiaman mungkin sebuah upaya untuk membuahkan suatu yang suci...suatu ikatan yang mahal harganya...sebuah perjanjian agung yakni PERNIKAHAN adalah sebuah lelucon yang bisa dilakukan dengan siapa saja...siapa saja yang mau...siapa saja yang ada...atau sebuah iseng-iseng berhadiah...???????????????

dengan perkataan..."coba ah...sama dia...siapa tau...hehehe..???????!!!!!!!?????????"
TAARUF BUKAN HAL-HAL REMEH TEMEH SEPERTI ITU....!!!!!!!TAARUF ITU SUNGGUH SUCI...!!!sebuah komitmen awal... sungguh bukan hak saya untuk berkata demikian sebenarnya...saya bukan siapa siapa...bahkan saya adalah orang yang sangat sangat awam dengan masalah ini....
tapi...sungguh miris hati saya ketika melihat realita...taaruf seakan jadi sebuah solusi atau jalan lain karena tidak boleh pacaran...!!!akhibatnya...??? taaruf tiada bedanya dengan pacaran...???lalu...??? taaruf adalah pacaran hanya dibungkus dengan "selimut Islami..."????????

jika pacaran yang dibicarakan adalah...(hmm..mungkin ..^^)"sayang...ketemuan yuk..."
jika taaruf..."ukhty...sholat tahajud dulu...??????????"
jika pacaran mengungkapkan perasaan dengan"sayang...aku cinta kamu..."
taaruf ...??"ukhty...sungguh hati ini mencintaimu karena Allah...????"
sms-sms penuh perhatian...tiap hari...tiap jam...telepon-telepon mengobrol kehidupan sehari-hari...chatting..???YANG DIBICARAKAN...??????? hmm..tidak jauh beda tiap hari...!!!

kiranya semuanya telah tau...bahwa wanita adalah fitnah terbesar bagi seorang laki-laki...
namun...saya wanita...dan ukhti pun wanita...tapi kita juga tau...bahwa perhatian laki-laki...kasih sayangnya...sikap melindunginya...kesetiaannya adalah cobaan yang tidak kalah hebatnya bagi seorang wanita...mungkin kami para akhwat pada awalnya akan berkata..."iih...iseng bgt sih...""nyebelin...""ganjen...""TP TP...""ngapain sih ngajak-ngajak taarufan nggak jelas.." TAPI....kita semua juga tau.... cinta itu tumbuh karena terbiasa...
terbiasa dekat...
terbiasa ada...
terbiasa bersama...
terbiasa berantem..hhe..^^
terbiasa saling menyapa...
terbiasa diberi perhatian...
terbiasa saling mengobrol...hmm...

cinta itu teramat bening...saat ini tiada apapun...namun perlahan...tanpa kita sadari...dia sudah menjalar ke seluruh bagian jiwa kita,,,menguasai kita...awalnya mungkin kita akan merasa sebal dengan kehadirannya...terganggu oleh sms-sms isengnya....terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan anehnya....
namun...tanpa kita sadari...saat ia tiada...saat sms tak kunjung tiba...saat telepon tak berdering lama....????akan ada perasaan kehilangan....setiap saat melihat ke HP...menunggu deringnya...setiap saat melongok ke komputer...menunggu onlinenya.....
dan itukah...??? itukah saudariku....??? yang dinamakan dengan..."MENCINTAI KARENA ALLAH...???"itukah...????itukah....?????????

ya akhi...para ikhwan....sungguh hati wanita ini lemah....hati wanita itu mudah terjangkiti virus....
dan bagaimana jika kita telah jatuh cinta...bagaimana ternyata hati kita sudah saling merindu...menginnginkan adanya kebersamaan...merindukan adanya kasih yang tanpa akhir...sementara....KITA BELUM HALAL....!!!!!! DAN MUNGKIN KITA TIDAK AKAN PERNAH JADI HALAL....!!!!!!

sanggupkah engkau pertanggungjawabkan sms-sms mesramu...???sangggupkah engkau pertanggungjawabkan telepon mesramu...???sanggupkah engkau pertanggungjawabkan tangis kami karena mulai merindukanmu...??? mulai berharap padamu...???
Tolong, kami hanya ingin menjaga diri . Menjaga amal kami tetap tertuju padaNYA.Karena janji Allah itu pasti. Wanita baik hanya diperuntukkan laki-laki baik.
Jangan ajak mata kami berzina dengan memandangmu! Jangan ajak telinga kami berzina dengan mendengar pujianmu! Jangan ajak tangan kami berzina dengan menerima hadiah kasih sayangmu! Jangan ajak kaki kami berzina dengan mendatangimu! Jangan ajak hati kami berzina dengan ber-dua-an denganmu!

ya akhi....ikhwan...calon pemimpin kami di masa depan....jika engkau benar-benar serius...mengapa engkau hanya bersembunyi dibalik internetmu...???bersembunyi dibalik HPmu...???bersembunyi dalam kata-katamu...????????
kita sudah lelah dengan semua itu...sungguhpun kita tidak mengharapkan seorang laki-laki BERMENTAL TEMPE...yang hanya berani di dunia maya...yang hanya berani di dunia sms...
dan yang lari dari tanggungjawab setelah merasa tidak cocok....
jika engkau memang sungguh serius...DATANGLAH PADA ORANGTUA KAMI...!!!JAWAB PERTANYAAN KAMI DENGAN LANTANG...!! DIHADAPAN KAMI...!!!!JAWAB PERTANYAAN KAMI SECARA LANGSUNG....!!!!

kami wanita ingin pemimpin yang berani....kami wanita yang ingin menjaga diri...kami wanita yang tidak ingin diberi harapan palsu...janji gombal....kami wanita yang ingin laki-laki yang halal.....DENGARLAH AKHI...KAMI WANITA YANG BERBEDA...!!!!!!
PERNIKAHAN ADALAH KESUCIAN....DAN JALAN MENUJU PERNIKAHAN TENTUNYA HARUS SESUCI PERNIKAHAN ITU PULA...!!!


Aku bukanlah seorang gadis yang cerewet dalam memilih pasangan hidup. Siapalah diriku untuk memilih permata sedangkan aku hanyalah sebutir pasir yang wujud di mana-mana.
Tetapi aku juga punya keinginan seperti wanita solehah yang lain, dilamar lelaki yang bakal dinobatkan sebagai ahli syurga, memimpinku ke arah tujuan yang satu. Tidak perlu kau memiliki wajah setampan Nabi Yusuf Alaihisalam, juga harta seluas perbendaharaan Nabi Sulaiman Alaihisalam, atau kekuasaan seluas kerajaan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, yang mampu mendebarkan hati juataan gadis untuk membuat aku terpikat.

Andainya kaulah jodohku yang tertulis di Lauh Mahfuz, Allah pasti akan menanamkan rasa kasih dalam hatiku juga hatimu. Itu janji Allah. Akan tetapi, selagi kita tidak diikat dengan ikatan yang sah, selagi itu jangan dimubazirkan perasaan itu karena kita masih tidak mempunyai hak untuk begitu. Juga jangan melampaui batas yang telah Allah tetapkan. Aku takut perbuatan-perbuatan seperti itu akan memberi kesan yang tidak baik dalam kehidupan kita kelak.

Permintaanku tidak banyak. Cukuplah engkau menyerahkan seluruh dirimu pada mencari ridha Illahi. Aku akan merasa amat bernilai andai dapat menjadi tiang penyangga ataupun sandaran perjuanganmu. Bahkan aku amat bersyukur pada Illahi kiranya akulah yang ditakdirkan meniup semangat juangmu, mengulurkan tanganku untukmu berpaut sewaktu rebah atau tersungkur di medan yang dijanjikan Allah dengan kemenangan atau syahid itu. Akan kukeringkan darah dari lukamu dengan tanganku sendiri. Itu impianku.
Aku pasti berendam airmata darah, andainya engkau menyerahkan seluruh cintamu kepadaku. Cukuplah kau mencintai Allah dengan sepenuh hatimu karena dengan mencintai Allah, kau akan mencintaiku karena-Nya. Cinta itu lebih abadi daripada cinta biasa. Moga cinta itu juga yang akan mempertemukan kita kembali di syurga….

ATAS NAMA TAARUF...???
MUNGKIN SALAH SEORANG LAKI-LAKI AKAN BERTANYA..." mengapa wanita begitu selektif memilih orang yang akan taaruf.."maka...wanita akan menjawab..
suami kami nanti kelak akan menjadi pemimpin kami...akan kami layani kebutuhannya....akan kami tunggu kehadirannya...akan kami berikan jiwa kami...raga kami....bagaimana mungkin kami lalai dalam memilih calon suami...meski hanya dalam rangka taaruf...??
suami kami nanti akan menjadi pembimbing agama kami...penjaga kami...pelindung kami...bagaimana mungkin kami akan gegabah dalam menentukan pilihan...meski hanya sebatas tukaran biodata..??
mentaati suami kami adalah salah satu jalan kami ke surga...ketaatan pada suami adalah lambang kesholihan kami....bagaimana mungkin kami akan cepat memutuskan siapa pilihan kami meski hanya sebatas kata..."baik saya setuju...taarufan..."
ya akhi....saudaraku...para ikhwan....JANGAN TAWARKAN KEISENGAN ATAS NAMA TAARUF PADA KAMI...!!!!!KETAHUILAH...KAMI ADALAH WANITA YANG BERBEDA...!!!!!
Aku merasa tak pantas mengatakan bahwa aku adalah wanita berbeda.........Tetapi aku ingin belajar.... aku juga ingin menjadi salah satu wanita khusus tersebut...Wanita yg diperuntukkan bagi lelaki yang baik.... Lelaki ahli syurga....Meski seringkali jatuh, aku ingin mencoba untuk bangkit lagi, mencoba lagi......Meski aku berkali2 gagal, namun aku ingin meraihnya...Aku ingin meraihnya...............

Sumber: http://nhiyaa.multiply.com/journal/item/158/taaruf...pacaran_dalam_islam_co-pas

Senin, 07 September 2009

Proses Kreatif Asma Nadia


Lewat dia, saya belajar

Dulu
Saya mengenal dekat, seorang anak perempuan waktu kecil dulu. Usianya sekitar tujuh tahun, dan tidak seperti teman-teman saya umumnya, yang terkenal karena hal-hal lain, sahabat saya ini justru terkenal karena penyakitan. Sungguh ia adalah gudang cukup banyak penyakit; jantung, paru-paru, gegar otak, lalu tumor. Rasanya tidak ada yang beres dalam dirinya, bahkan giginya pun bermasalah, karena tumbuh terlalu banyak dan menyimpang, hingga harus dikawat selama dua tahun, dan dicabut 14 akar.
Anehnya, anak ini tumbuh menjadi pribadi yang supel dan periang. Ia suka menyanyi, dan mulai mencipta lagu di kelas satu SD. Biarpun penyakitan, prestasi belajarnya tinggi, bahkan lebih baik dari pada sebelum kepalanya terbentur.
Sampai sekarang, saya sering menyelami hati anak tsb, heran kenapa dia tidak tumbuh menjadi anak pemurung disebabkan penyakit-penyakitnya yang seabrek tadi. Dari kelas 2 SD sd kelas 3 SMU, sahabat saya ini selalu meraih ranking pertama dan menyabet banyak medali dari sekolah. Orang tuanya tentu sangat bangga. Belakangan ia melanjutkan studi di IPB tanpa tes, alias masuk jalur PMDK waktu itu. Padahal semasa sekolah persemester ia bisa ijin sakit hingga 17 hari, dan tak jarang pingsan.

1992
Belakangan teman saya tsb, mulai rajin menulis. Kegagalan pertama dia dalam kehidupan menurut saya adalah ketika ia terpaksa memenuhi permintaan orang tuanya untuk pindah kuliah, ke jurusan yang lebih ringan, karena kondisi kesehatannya yang makin payah. Dari kabar yang saya dengar, teman tsb mengambil jurusan D2 Bahasa Arab. Ia makin rajin menulis. Teman-teman kuliahnya dulu gembira melihat tulisannya tersebar di media-media. Ia banyak menggoda mereka dengan mencomot nama-nama teman dekat dan satu kos dulu. Nama-nama yang sempat konflik dijadikan tokoh antagonis dalam cerita. Saya meski gembira, tidak bisa menahan diri untuk bertanya, bagaimana ia bisa mulai dekat dengan dunia menulis? Pada saya ia katakan, mungkin karena dunia membaca yang lekat ditumbuhkan ibunya. Setiap menunggu di rumah sakit, ibu sering memilih puasa hanya untuk bisa membelikan beberapa buku dan makan siang bagi teman saya tsb, yang menunggu berjam-jam sebelum dipanggil Memang teman saya tsb hanya berobat di rumah sakit pemerintah, RSCM yang dulu sering diplesetkan menjadi Rumah Sakit Cepat Mati.
2000 - 2003
Setelah sempat vakum beberapa tahun, dan hanya menulis sedikit cerpen dan cerita bersambung, tahun 2000 untuk pertama kalinya buku fiksi pertamanya diterbitkan oleh sebuah penerbit di Bandung. Seri remaja yang lucu dan gaul, Aisyah Putri, yang menceritakan tentang seorang anak SMU yang alim, bernama Aisyah, yang mempunyai 4 orang abang dengan karakter-karakter yang unik.
Dia bilang itu kerinduannya akan sosok abang yang tak ia miliki satupun. Lewat seri remaja yang sekarang telah terbit hingga serial ke empat, dan mendapat sambutan luas, hingga mengalami cetak ulang berkali-kali itu, ia menghidupkan dunia imajinasi-nya sendiri, dimana ia memiliki kehangatan kasih sayang tidak hanya dari satu, tapi empat abang sekaligus. Dus mencoba membaca konflik-konflik yang umum terjadi pada usia-usia transisi itu.
"Sastra seharusnya menghaluskan budi pekerti, sebagaimana dikatakan orang, tapi sastrawan kita tak banyak melirik dunia remaja. Padahal dunia anak-anak muda itulah yang justru paling rawan dan membutuhkan banyak perhatian, dan pelajaran kehidupan. Di satu sisi banyak sastrawan kita yang hidup di awang-awang dan menara gading, merasa bangga dengan membuat karya-karya yang sulit dicerna."
Begitu katanya suatu hari pada saya atas jalur menulis yang dipilihnya.
Setelah itu, 9 buku fiksi remaja lain, terbit tahun 2000, dua diantaranya berupa novel.
Tahun 2001, ia menulis tiga buku. Salah satu bukunya, Rembulan di Mata Ibu, dinobatkan sebagai buku remaja terbaik nasional, dan ia mendapat predikat pengarang terbaik kedua. Tahun berikutnya ia menulis empat buku yang diterbitkan berbagai penerbit, dan kembali meraih predikat sebagai salah satu pengarang terbaik adikarya ikapi.
Ia diundang menghadiri Pertemuan Sastrawan Nusantara di Brunei, dan workshop kepenulsan Novel, yang diadakan Majelis sastra Asia Tenggara (2001)
Tahun 2003 sampai saat ini ia menulis empat buku, salah satunya diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, dan mengalami cetak ulang, tidak sampai sebulan sejak diterbitkan.
Sekarang
Saya bertanya kenapa ia rajin menulis padahal aktivitasnya sebagai ibu dari dua orang anak, dan yayasan sosial yang dipimpinnya cukup menyita waktu.
Dengan begitu sungguh-sungguh, ia menjawab:
"Saya adalah penulis, yang menulis, bukan karena yakin saya berbakat di dunia kepenulisan melainkan karena rasa tanggung jawab yang ditumbuhkan kakak saya yang juga seorang pengarang. Dulu di waktu menulis hanya menjadi hobi dan bukan profesi, kakak tsb mengingatkan saya untuk merasa bertanggungjawab, atas begitu sedikitnya pengarang perempuan di indonesia, dan lebih sedikit lagi yang menulis dengan tujuan mencerahkan, atau meluruskan distorsi informasi yang terjadi."
Hal ini menurutnya telah membuatnya lebih tahan menghadapi kendala-kendala dalam menulis, tidak tergantung pada mood, dan belakangan bisa menulis dalam berbagai situasi. Jelas berbeda jika ia menulis untuk popularitas atau uang belaka. Tanggung jawab itu membuatnya menjadikan menulis sebagai media berjuang (Merah di Jenin---ketika Israel membantai pengungsi Palestina di camp pengungsi Jenin, Meminang Bidadari--- menyoroti fenomena bom syahid di palestina, dan meluruskan siapa yang sebetulnya lebih layak dianggap agresor, Derai Sunyi--- upaya mengangkat kasus pelecehan dan penganiayaan PRT yang sering terjadi, dan tanpa standar hukum yang jelas, Air Mata Biereuen---konflik Aceh yang harusnya lebih dilihat sebagai sebuah tragedi kemanusiaan, ketimbang meributkan siapa yang salah dan siapa yang benar).
Sambil menatap mata saya lurus-lurus, teman tsb kembali melanjutkan,
"Saya adalah penulis yang menulis dengan rasa dan intuisi, dibandingkan
teori-teori sastra yang memang awalnya sama sekali tidak saya miliki. "
Ini telah membantu teman saya tsb untuk tidak terbebani, dan terjebak dalam dikotomi-dikotomi sastra yang berlangsung, tentang sastra populer dan serius. Bahwa yang terpenting bagi penulis adalah menghasilkan karya yang baik.
"Saya adalah penulis, yang hingga detik ini masih sering harus mensugesti diri, dan pura-pura percaya bahwa saya bisa menulis, sebagai bentuk syukur atas kemudahan yang telah Allah berikan."
Saya heran mendengar kalimatnya. Tidak pede bagi sebagian orang, merupakan perasaan yang mengganggu proses berkarya. Itu betul. Tapi di satu sisi, perasaan ini justru membuat teman saya tsb tetap berpijak di bumi dan tidak cepat besar kepala.
Perasaan tidak pede itu membuat teman saya tsb gemar membaca karya-karya yang ramai dibicarakan atau direkomendasikan orang.
Perasaan minder itu juga yang membuatnya tidak berhenti berproses, dan belajar menajamkan observasi yang sebelumnya hanya lewat studi pustaka dan klipping atau internet (Jendela Rara---kerinduan gadis kecil di kolong jembatan untuk memiliki jendela, yang menjaring matahari)
Maka, setiap kali perasaan gamang dan malas menulis, melingkupi hati saya, saya bercermin kepada sahabat saya tsb, dan begitu banyak penulis lain di dunia ini yang melawan keterbatasan, berjuang untuk tetap menulis.
*****

Sabtu, 05 September 2009

Sinta Yudisia dan Kepenulisan

Sedikit berbagi pengalaman mba sinta yudisia dari sebuah milis, semoga bermanfaat. Selamat membaca

======================================================

‘Berhasil’ punya definisi bermacam-macam, secara materi cukup baik
sandang, pangan, papan (plus kebutuhan lain yang tidak termasuk 3 itu
tapi sangat mendesak : kendaraan, laptop, hape!, tabungan). Intinya,
pencapaian materi.

Berhasil ada pula yang mengukurnya dengan waktu.
Pernikahan yang melewati angka 5, 7, dinyatakan berhasil (bagaimanapun
ruwetnya ).
Perusahaan yang melewati angka 5, 7 dinyatakan berhasil apalagi jika
melewati angka 10-15 tahun, sebab konon kabarnya semua krisis termasuk
krisis moneter berulang tiap satu decade.
Pedagang yang bisa tetap eksis dan konsisten dengan produknya 5, 7
bahkan lebih juga akan menuai keberhasilan.

What about writer? Di titik mana ia menyatakan dirinya berhasil?
Ketika bukunya best seller, terjual jutaan copy, bukunya laris manis?
Ketika jumlah buku yang ditulisnya mencapai lebih dari 50 judul?
Ketika bukunya difilmkan? Ketika bukunya meraih banyak penghargaan dan
pujian dari para kritikus dan resensor?

Ada baiknya saya menceritakan histories kenapa saya menulis. Manusia
tidak boleh melupakan sejarah , belajar dari sejarah, mengevaluasi
dari sejarah, bisa menimbang sejauh mana keberhasilan suatu kaum jika
sudah dibandingkan dengan sejarah. Secara teknologi kita memang jauh
lebih maju disbanding jaman untanya Rasul Saw tetapi secara moral kita
bahkan meloncat memasuki zaman Nabi Luth, dan Nabi2 dengan kaum yang
dibinasakan.
Baik, kembali pada histori menulis.
Awalnya, saya jenuh menjadi ibu rumah tangga. Alhamdulillah, saya
punya ibu yang luarbiasa yang selalu bilang “…Sinta, kamu itu punya
potensi! Jadi ibu rumahtangga nggak melulu hanya urusan domestic kan?”
Saya suka menjahit dan memasak kue. Hampir semua baju Inayah –putri I
saya- gaunnya saya buat sendiri. Tiap kali teman-teman lihat mereka
bilang “ bagus banget! Mbak Sinta bikin butik saja.”
Saya bercita-cita punya usaha garment, konveksi, butik, termasuk
mengembangkan kesukaan saya pada patchwork. Saya punya mesin jahit dan
kepekaan untuk mengkombinasikan kain-kain.

Selain hobi menjahit, saya juga hobi bikin kue. Kue-kue saya titipkan
ke pasar dan menghasilkan penghasilan yang luamyan. Saya dan adik
saya, Erisa Kurnia Nanda, berencana bikin toko roti muslimah berlabel
hala karena kami sama-sama suka masak dan makan!

Bikin butik apa toko roti ya?
Baju apa kue?
Pakaian atau makanan?
Nanda tetap suka bikin kue , terkenal enak dan selalu laris manis di
kalangan teman-teman dan tetangga. Ini dilakukannya sambil kuliah dan
kerja, kadang dilakukan ketika malam larut. Sayapun juga begitu, bikin
kue saat anak-anak sudah tidur.

Tapi...saat punya anak 3 saya repot bukan main. Gak bisa bikin baju,
gak bisa bikin kuet. Akhirnya ada mesin ketik nganggur, jadilah saya
corat coret dan ketik mengetik. Tahu nggak cerita saya pada awalnya
yang dikirim ke Annida dan dimuat?
• Langkah Awal, cerita tentang gadis manja yang memulai usaha
• Gaun Biru, cerita seorang ibu rumahtangga yang kepingin bikin gaun
tapi gak punya duit akhirnya bikin dari bahan seprei
• Jalinan Kasih Yang Terkoyak , juara II LMCPI Annida, setting nya
Aceh (saya pernah ikut suami di Medan),dsb

cerita saya nggak jauh-jauh dari kue dan baju!

Mana yang lebih dahulu melaju, itu yang saya pilih!
Ternyata menulis membuat saya kembali mencintai hobi yang sempat agak
lama tertinggal : membaca dan mengkliping koran. Akhirnya saya
meninggalkan cita-cita membuat butik dan bakery, lalu beralih profesi
jadi penulis.

ADA TANTANGANNYA?
Ups, tentu ada.
Saya sudah merintis bisnis jahit menjahit cukup lama demikian pula
modal bikin kue. Memulai menulis dari awal seperti belajar merangkak
lagi. Pertanyaan yang muncul :
1. Saya mau menulis cerita apa? Anak , remaja, dewasa?
2. saya mau bikin cerpen atau novel, atau cerita bersambung?
3. saya mau kirim ke mana sih, media Islam, nasional atau mau
diterbitkan oleh penerbit?

.................dalam perjalanan menulis, ah, bikin kue langsung
sorenya terima duit. Bikin tulisan, kapan terima duitnya? Sebetulnya
saya bakat nulis nggak sih? Setahun, dua tahun nulis, masih mau
diteruskan apa nggak? Apa saya banting stir lagi jadi pengusaha
seperti yang dari dulu saya impikan?


YANG PERTAMA DITULIS .....
Kumpulan Cerpen!
Kenapa?
Karena cerpen-cerpen itu kalau tidak dimuat di majalah atau media
massa, bisa dikumpulkan dan dikirim ke penerbit. Nakal ya! Lagipula,
bikin cerpen aja banyak-banyak 15-20, nanti diedit dan dipilih
penerbit. Sisanya (kadang sisa 5 atau 7) kita tambahin lagi cerpen2
dan dikirim ke penerbit lain.

Kumpulan cerpen yang pertama Cadas Kebencian, buku favorit saya,
diterbitkan MIZAN. Kumcer ini mengokohkan niat bahwa saya MUNGKIN ada
bakat di dunia kepenulisan. Masih mungkin lho...saya masih belum yakin
ternyata;-(

Lalu saya mulai kenal mbak Asma Nadia. Beliau memasangkan dengan mbak
Izzatul Jannah di Gadis Diujung Sajadah. Saya juga mengirimkan
Kuntum-kuntum Bunga, Alhamdulillah diterbitkan oleh FBA Press,
penerbit di Jakarta yang sekarang sudah gulung tikar.

Kapan ya pertama kali nulis? Oya, 2002.
Akhirnya saya getol nulis, kirim kesana kemari, ditolak. Ada yang
diterbitkan dengan revisi dll. Tentang liku2 menulis...nanti saja ya.
Nah, ternyata selama tahun-tahun perjalanan itu saya masih dikejar
pertanyaan : aku ini benar-benar mau menghabiskan umur dengan jadi
penulis atau apa sih? Aku ini sebetulnya mau nulis apaaaa?

Maka jadilah kutu loncat.
Menulis Kumcer.
Menulis cerita remaja.
Menulis cerita anak
Menulis non fiksi
Menulis novel.
Menulis antologi, keroyokan bareng teman-teman.


DI TITIK MANA AKU SEKARANG?

Aku bingung dengan dentitas kepenulisanku lalu bertemulah aku dengan
FLP (anugerah Tuhan untuk bangsa Indonesia –kata Taufik Ismail). Aku
bertemu teman2 FLP Yogya : Ganjar, Jazimah, Iwul, Prima, Lilo, bunda
Kun, mbak Koes, Zen, Aries. Juga teman-teman FLP lain.
Semoga Allah SWT memberkahi Ganjar yang menitipkan pesan yan
gmembakar semangatku :
”......mbak Sinta kayaknya konsen aja di fiksi sejarah. Bagus tuh
nulis di situ.”
Aku memang habis memenangkan lomba GIP sebagai juara I, Singa-singa
di Padang Kekuasaan yang terbit dengan judul Sebuah Janji.
Ucapan Ganjar membakar semangatku. Pertemuan dengan adik2 FLP memacuku.
Ooooh, ternyata jadi penulis itu penting ya?


Aku mulai merasa luwes menulis setelah 3-4 tahun. Pertama kali pindah
ke Surabaya, aku menemukan Lafaz Cinta di Toga Mas. Aku bangga dan
bahagia sekali ketika melihat covernya yang spesial.
Waaah, aku sekarang beneran jadi penulis ya ? (Itu lagi pikiran konyol!)

Pertemuan dengan mbak Helvy di ITS memacu kembali adrenalinku.
”Sinta, Lafaz Cinta mbak Helvi rekomendasikan jadi bahan bacaan anak2
sastra. Tapi kok ceritanya masih dangkal ya? Padahal kamu masih bisa
lebih tajam, lebih dalam menceritakan.”


LEBIH TAJAM, LEBIH DALAM, LEBIH BAGUS...ITU SEPERTI APA?
Semoga Allah SWT memberkahi pula mas Dul Mizan (sekarang dah nggak disana).
”....mbak Sinta coba baca Perempuan Suci –Qaisra Shahraz dan Taj
Mahal-John Shors. Pelajari.”

Aku memburu buku itu di Islamic bookfair. Aku juga menemukan
Samarkand- Amin Malouf dan buku-buku lain. Aku baca berulang-ulang.
Aku tersesap. Aku terpana.

Ow, jadi menceritakan tokoh itu seperti Jahanara dan Isa, seperti
Umar Khayam ya?
Ow, jadi setting tentang Benteng Merah itu penggambarannya seperti itu ya?
Ow, ternyata karakter Umar Khayyam dan Hassan Sabah itu
penggambarannya begitu ya?
Ow, ternyata buat plot, alur itu begitu rumitnya ya?
Ow, konflik Khondamir, Aurangzeb, Dara itu demikian tajam menikam dan
meninggalkan jejak di benak pembaca ya?
Ow, ....ternyata....aku masih jauuuuuh...dari seorang penulis! Aku
masih pembelajar!! Armanusa, Lafaz Cinta, Rival-rival istri dsb
..BELUM APA-APA.

Padahal aku sudah lebih dari 5 tahun menulis, sekarang sudah 7 tahun malah.
Kapan sih aku benar-benar berhasil jadi penulis?


..............7 TAHUN KEMUDIAN
BEP : Break Even Point 3 tahun. Perusahaan normalnya 3 tahun BEP,
artinya modal harus kembali 3 tahun paling lambat . Kalau tidak,
namanya rugi. Harus ganti haluan, harus ganti usaha dan pasar, harus
ganti produk.
3 tahun jadi penulis sudah jadi apa? Royaltinya banyak, bukunya banyak?

7 tahun dari aku mulai memutuskan untuk benar-benar menulis
Alhamdulillah hasil karyaku sudah diterbitkan 40 judul kurang lebih.
Tetapi dari semua, tidak semuanya masterpiece. Lafaz Cinta menurutku
cukup bagus, berikutnya The Road to The Empire dan Reinkarnasi
Alhamdulillah lebih mendapat banyak apresiasi dari teman-teman.
Artinya, 2 karyaku yang beelakangan dinilai cukup bagus bagi khalayak.

Dibandingkan 40 judul yang lain, TRTE & Reinkarnasi memang menguras
semua energiku. Energi doa, energi berpikir, energi kantong (referensi
butuh biaya besar), energi2 yang lain. Apa buu2 ku yang digarap
seenaknya? Tidak juga.

Tapi belajar memang butuh waktu. Belajar membutuhkan kesabaran. Di
atas segalanya belajar membutuhkan keikhlasan. Maka aku teringat
dialogku dengan suamiku suatu hari


”Lafaz Cinta best seller, Mas. Aku diminta menulis yang semacam itu
lagi. Bagaimana?”
”Menurut Inta bagaimana?” (suamiku sampai 15 tahun menikah masih suka
memanggilku dengan nama kecilku –Inta)
” Inta pingin nulis Takudar yang ke 3, sekalipun yang ke 1-2 jeblok
di pasaran.”
”Memang kenapa pingin nulis itu?”
Aku merenung, tiap kali diskusi ini bolak balik menangis.
”...soalnya Inta terkesan sekali sama Takudar, sama kaisar2 Mongolia
yang muslim. Sama Iskandar Beg. Sama Thariq bin Ziyad. Pokoknya sama
para pejuang muslim yang bijaksana dan mulia.”
”Ya sudah, kalau gitu nulis Takudar lagi aja, Takudar 3.”
”Tapi...yang ini belum tentu laku di pasaran. Kalau sekuel Lafaz
Cinta pasti best seller lagi. Royaltinya lumayan. Mas gak papa Inta
gak bisa menyumbang royalti buat keperluan rumahtangga kita?”
“Sudahlah, pakai gaji Mas saja apa adanya. Menulis Takudar saja
sebagai ladang da’wah.”
“Tapi....gak papa Mas? Menulis Takudar setahun, royaltinya belum
tentu, di pasar belum tentu laku. Beranti kalau Inta menulis Takudar
lagi siap-siap 3 tahun ke depan gak punya royalti memadai?”
“Iya..sudah gapapa. Nulis Takudar aja buat da’wah. Urusan nafkah biar
Mas aja, Inta yang penting nulis.”

Begitulah embrio The Road to The Empire dan Reinkarnasi.
Ditulis dengan keringat dan airmata. Airmata karena aku terlanjur
mencintai Takudar, sang pejuang yang rela melawan arus demi
mengobarkan kebenaran. Airmata karena saat aku menulis Takudar lewat
tengah malam, aku berdoa pada Robbku :

“….ya Allah, Kau Maha Tahu, aku menulis Takudar ini karena ingin
menuliskan kebaikan. Ini bukan novel laris yang diminati banyak orang
tetapi Engkau Maha Kaya. Bukan penerbit yang memberiku rezeki melalui
royalti. Engkau yang Memberi Rezeki orang-orang yang berjuang di
jalanMu. Aku minta rezeki padaMu, aku minta uang padaMu, aku minta
bantuan dan kecukupan dariMu.”

Tiap hari aku berdoa :
Ya Allah barakahilah The Road to The Empire. Barakahillah
Reinkarnasi. Bantu aku menyelesaikan sebaik-baiknya naskah Existere
yang tengah kutulis. Jadikan buku-buku hamba barakah, best seller,
mencerahkan bagi siapa saja yang membacanya.
Ya Allah, Bantu aku agar amanah sebagai istri, ibu, penulis,
mahasiswa, ketua FLP Jawa Timur.

Sekarang aku adalah pembelajar.
Aku masih belajar sebagai seraong istri & ibu, aku masih belajar
untuk jadi penulis yang baik, akumasih belajar untuk jadi manager yang
baik, aku masih belajar menjadi manusia yang baik.
Bukankah belajar itu dari buaian sampai liang lahat?

Ramadhan hari ke 5, 1430 H

[Memoar 10 Tahun Pernikahan] Saat Aku dan Kamu Menjadi Kita

  Ternyata aku belum meninggalkan jejak itu disini... Salah satu jejak penaku yang sudah aku simpan bertahun-tahun akhirnya menetas juga men...