Kamis, 13 November 2025
Akhirnya Tiba Juga (Perjalanan S-2)
Selasa, 08 April 2025
Ramadhan, Jeruk Keprok dan Efisiensi Lebaran
Assalamualaikum semuanya....
Kami dari keluarga besar G. ADI S. family menghaturkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 H. Kami juga mohon dimaafkan atas segala salah dan khilaf baik dalam tutur kata atau tingkah laku kami dalam berinteraksi dan bermuamalah selama ini.
Rabu, 26 Maret 2025
Catatan Si Insecure (Part 4)
Yuks kita lanjut lagi pembahasan kita kemarin, apa saja sih tanda-tanda insecure?
6. Orang yang betul-betul aneh. Saat sedang baik bisa baik banget tapi tiba-tiba bisa marah-marah nggak jelas ibarat kata mood kita bisa tiba-tiba saja berubah (mood swing) atau orang-orang melihatnya mirip-mirip dengan bipolar. Si Insecure biasanya selera yang aneh, misal saat cuaca panas oarang-orang pesan es teh dia justru pesan kopi panas, saat teman-teman seusianya mengidolakan aktris A dia malah punya idola yang berlawanan. Tak ada orang yang memiliki kesamaan hobi atau kesukaan dengannya, alhasil dia merasa terasing ditengah keramaian. Akupun pernah merasakan hal itu dimana menjadi seorang yang tidak pada umumnya, tapi aku mengambil sisi positifnya bahwa aku tidak mudah terbawa tren atau istilah saat ini FOMO. Dulu saat SMP teman-teman hampir semuanya punya jam G-shock dan kaos dadung, aku justru baru punya kaos itu disaat trennya sudah meredup karena memang tabunganku baru cukup saat itu untuk membelinya dan aku bukan tipe yang mudah meminta ini itu ke ortu. Aku lebih banyak menyukai hal-hal yang tidak banyak orang suka, ternyata membentuk dinding-dinding yang memenjarakan aku dalam imajinasi yang aku buat sendiri bahwa tak ada seorang pun teman yang memiliki mimpi serupa. Aku merasa jadi manusia yang aneh.
7. Mudah berprasangka buruk. Si Insecure memilki pikiran negatif yang lebih cepat muncul ketimbang pikiran positif. mendengar berita buruk apa pun bahkan menonton film saja bisa menimbulkan pikiran-pikiran buruk bahwa hal serupa seolah akan menimpa dirinya. Mungkin kalau anak jaman sekarang bilangnya "lebay". Musibah memang tak dapat diduga kapan datangnya tapi merasa diri selalu dalam ancaman bahaya itu juga bukan hal yang wajar. Si insecure juga bisa dengan mudah menuduh pasangannya dengan beragam prasangka yang belum tentu kebenarannya.
8. Hidup selalu dihantui rasa was-was. Hampir mirip dengan poin sebelumnya si insecure akan selalu merasa was-was akan kehidupannya. Jangan-jangan, kalau-kalau, bisa jadi, boleh jadi dan aneka kalimat pengandaian terus muncul dibenaknya. Dulu saat SD walau aku memiliki otak yang bisa dibilang lumyan encer tapi setiap akan menghadapi tes sumatif aku pasti jatuh sakit, mungkin secara tak sadar pikiranku selalu dihantui apakah aku akan bisa mengerjakan tes nanti? apa aku bisa rangking lagi? Saat akan menapaki jenjang kehidupan berikutnya kita pun jadi dihantu rasa was-was mampukah kita lulus kuliah tepat waktu? bisakah kita dapat pekerjaan yang layak? bisakah kita bertemu jodoh yang kita idamkan dan hidup bahagian seperti kisah dalam dongeng atau justru akan bernasib tragis seperti selebriti-selebriti yang ramai-ramai bercerai? Si insecure jadi benar-benar overthinking.
9. Mudah bersikap defensif. Biasanya si insecure walau bukan orang yang yakin pada dirinya sendiri dia juga agak sulit menerima masukan dari orang lain, hal tersebut karena di dalam dirinya masih terdapat konflik panjang yang belum selesai dan berlapis-lapis masalah yang masih butuh diuraikan. Seringkali karena ingin melindungi diri sendiri yang tak berdaya oleh situasi luar, salah satu mekanismenya adalah bersikap defensif atau cenderung bertahan. Padahal dalam hubungan sosial mengkritik itu akan selalu ada, masukan yang terdengar biasa bagi orang lain bisa terdengar bebeda bagi si insecure. Niat orang lain ingin memberi nasihat atau masukan justru bisa dianggap meremehkan, menyudutkan atau menyalahkan langkah-langkah yang telah diambil.
10. Selalu ingin menyenangkan orang lain. Sisi ini ini sering membuat si insecure tertekan. Walau sering bersebrangan dengan rang lain, merasa was-was dan bersikap defensif si insecure akan mencoba menyenangkan hati orang lain sebanyak mungkin walaupun orang itu belum tentu tepat baginya. harapannya dengan menyenangkan hati orang lain akan mendapat kenyamanan dan rasa aman padahal belum tentu demikian. Ketika ada situasi buruk kecemasan akan meningkat dan untuk mengatasinya si insecure bisa defensif dan menyerang orang lain atau berdiam dan menyenangkan hati orang lain bahkan bisa melakukan keduanya, melelahkan bukan? Aku pernah merasakan hal ini saat berkonflik dengan beberapa teman, mereka mulai menjauhiku dan aku berusaha melakukan banyak hal untuk membuat mereka kembali mau dekat denganku walau nyatanya tetap nihil.
Minggu, 23 Maret 2025
Catatan Si Insecure (Part 1)
Sabtu, 15 Januari 2022
Get Well Soon My Sweety
Ini adalah catatan pertamaku di tahun 2022, catatan pertama yang diawali dengan kesedihan. Kesedihan karena tulisan ini aku buat saat sedang menemani putri sulungku yang harus terpaksa di rawat di rumah sakit. Siapapun pasti tak ada yang mau di rawat di rumah sakit, membayangkannya saja enggan, lengan disuntik jarum infus, tiap hari makan makanan rumah sakit yang terasa hambar, dunia rasanya hanya sebatas kamar saja.
Berawal dari hari Senin pagi saat tiba-tiba tanganku bersentuhan dengan putri sulungku yang terasa lebih hangat dari biasanya. Langsung saja kuraba dahi dan lehernya dan memang terasa lebih hangat, untung saja hari itu jadwal dia belajar di rumah. Seperti biasa pagi-pagi anak-anak kubawa ke rumah mbahnya untuk ku tinggal ke kantor kecuali putriku yang nomor dua yang memang harus berangkat sekolah.
Sore harinya si kakak terlihat mulai lemas, aku hanya memberikannya parasetamol. Aku pikir ini akibat kemarin dia bermain air telalu lama dan mungkin kondisi perut yang kosong jadi masuk angin biasa. Keesokan harinya demam mulai naik turun berkisar diangka 38-39 lebih, akhirnya kami membawanya ke dokter keluarga tapi setelah dua hari tetap belum ada perubahan dan demamnya sempat naik sampai 40 setelah turun hingga 37, 7. Pikiranku mulai kalut, tiga hari demam naik turun biasanya tipes/DBD, malam itu juga kami bawa ke dokter spesialis anak langganan kami dan malam itu juga dokter menyarankan untuk rawat inap saja di rumah sakit. Tangis putriku pecah di ruang praktek dokter, dia menjerit-jerit tidak mau dibwa ke rumah sakit dan ingin pulang saja ke rumah. Namun melihat kondisinya yang sudah makin lemas kami tetap memutuskan untuk membawanya ke IGD.
Diantar mbah kakung kami menuju IGD terdekat, digendong ayahnya putriku langsung mendapat penanganan di IGD sedangkan aku harus menggendong si bungsu yang tidak mau ditinggal di rumah bersama mbah uti. Terdengar jelas tangisan dan teriakannya dari dalam ruang IGD yang memanggil-manggil diriku. Kutitipkan si bungsu dengan mbah kakakungnya dan segera berlari ke dalam ruang IGD memeluk putriku yang menangis saat akan dipasang jarum infus. Sungguh persaanku bercampur aduk saat itu, rasanya seperti mimpi harus kembali ke tempat itu. Hanya dzikir dan doa yang berusaha terus kupanjatkan semoga semuanya akan segera baik-baik saja.
Sambil menunggu pindah ke ruang perawatan akhirnya kami memutuskan untuk sementara waktu aku yang menemani putriku sedangkan suami pulang dahulu bersama si bungsu dan mbah kakung sekaligus menyiapkan keperluan yang akan dibawa. Malam pertama suami yang menemani di rumah sakit karena si bungsu juga sedang agak demam karena baru saja imunisasi, malam itu untuk pertama kalinya setelah sekian purnama aku mengendarai motor tengah malam pulang ke rumah. Jalanan yang sepi membuat perasaanku makin tak karuan, lagi-lagi hanya doa dan dzikir yang bisa kulafazkan sepanjang perjalanan berharap badai ini segera berlalu. Aku hanya terus meyakinkan diri bahwa Allah memberikan ujian tak akan melebihi batas kemampuan hamba-Nya.
Dari dugaan awal tipes kini diagnosa dokter beralih ke DBD karena jumlah trombosit yang menurun dari 151 dihari pertama masuk rumah sakit menjadi 134 di hari berikutnya. Dokter berpesan untuk menjaga asupan yang masuk, makanannya agar dihabiskan. Namun saat sehat saja putriku termasuk yang picky eater apalagi kondisi sakit saat ini, rasanya membuatku jadi makin cerewet. Banyak yang menyarankan untuk mengkonsumsi jus jambu dan sari kurma yang kutahu rasanya enak, tapi kenyataannya bagi putriku yang sama sekali tak doyan buah itu bukan hal menyenangkan untuk dilakukan. Jangankan minus jus jambu dan sari kurma, buat ngabisin jatah makan saja butuh perjuangan yang luar biasa.
Diluar itu semua aku sendiri terus berusaha menguatkan diriku sendiri karena aku harus bisa menguatkan putriku. Meski tak kupungkiri ada sisi dimana aku merasa terpuruk melihat kondisi putriku yang lemas seolah tak berdaya, tapi sekali lagi aku harus kuat dihadapan dia. Untuk sementara waktu kedua adiknya kutitipkan bersama kedua orang tuaku karena aku dan suami harus berbagi jadwal untuk menjaga si kakak di rumah sakit.
Semoga Allah segera mengangkat sakitmu nak dan kamu bisa kembali ceria seperti biasanya, bunda kangen lihat kamu yang senang pecicilan dan hobi banget bikin telur omlet buat ngemil bareng adek-adekmu. get well soon sayang
Kamis, 29 April 2021
Jujur Aku Masih Trauma
Diawali dengan putri sulungku yang tiba-tiba muntah di sekolah setelah dua kali mulai kembali tatap muka. Untungnya setelah itu kembali belajar di rumah dikarenakan dipakai untuk kelas enam ujian. selag beberapa hari setelah muntah-muntahnya reda lanjut dengan batuk pilek terpaksa kami mebawanya ke dokter keluarga agar tidak berlarut-larut. Alhamdulilah kondisinya sudah mulai membaik dan bisa puasa lagi.
Tak berselang lama ternyata kini giliran bunda dan adik-adiknya yang ketularan batuk pilek. Mendadak peristiwa setahun silam teringat kembali di ingatanku, kurang lebih satu bulan setelah pandemi menyapa daerah kami. Aku harus tiga kali bolak balik rumah sakit, pertama saat melahirkan, kedua saat putri keduaku dirawat dan ketiga saat si bayi harus masuk NICU. Dalam satu bulan aku harus melalui itu semua dan kini saat mereka bertiga kembali sakit disaat bersamaan rasanya aku masih trauma. Terpaksa aku mengambil cuti sementara demi menemani mereka yang ingin selalu bersama bundanya.
Semoga kali ini tak harus seburuk dahulu, sakit disaat pandemi memang membuatku merasakan stigma negatif itu. Semoga lekas sehat anak-anakku sayang sunguh bunda khawatir, semoga kita bisa melalui ini bersama seperti dahulu kala. Aamiin
Senin, 05 April 2021
Aku Akan Terus Menulis
Sejak kita mulai masuk bangku sekolah pasti kita akan diajari menulis jadi jika ada yang bilang tidak bisa menulis itu rasanya tak mungkin. Menulis dalam artian tak sekedar menuliskan huruf diselembar kertas memang bukan hal baru buatku. Sejak SD aku memang sudah menyukai menulis, aku senang jika awal masuk sekolah setelah liburan panjang karena pasti akan diberi tugas mengarang. Jika teman-temanku masih suka bingung untuk sekedar memenuhi satu halaman folio maka aku bisa mengarang sampai penuh empat halaman folio. Memang tulisan tanganku tak indah dan mungkin masih belum menggunakan kaidah kepenulisan yang benar tapi bagiku yang penting ya tulis saja apa yang aku pikirkan dan rasakan.
Saat kelas lima
SD aku mulai tertarik menulis diary setelah membaca beberapa diary milik Bapak
yang masih tersimpan sampai sekarang. Entah
sudah berapa buku diary yang aku punya, tapi saying justru setelah menikah aku
jadi jarang menulis diary. Sejak tahun 2006/2007 aku lupa pastinya aku mulai
mengenal blog namun sayang blog pertamaku di multiply sudah hangus tak tersisa
tanpa sempat kuselamatkan kisah-kisah yang ada disana.
2009 Sekembaliku
dari perantauan ke kampung halaman aku beralih dan membangun kembali tumah
mayaku di blogspot.com hingga sekarang. Aku juga sempat bergabung dengan
teman-teman Forum Lingkar Pena dan Rumah Baca Asmanadia meski sayang setelah
menikah dan disibukan dengan ketiga buah hatiku terpaka harus aku tinggalkan.
Sempat juga bergabung dengan Pejuang Literasi dan menghasilkan 3 buah antologi.
Meski tak aktif lagi di FLP namun sebentar lagi antologi kedukau bersama FLP
Tegal insya allah akan segera rilis. Kemarin bersama 30DWC maka menggenapkan 10
antologiku untuk itu aku bulatkan tekad mengikuti 30 HMBP untuk bisa merilis
karya pribadiku yang aku harap bisa menjadi buku solo pertamaku nanti.
Isi tulisannku
memang lebih terkesan curhat dan semacamnya dan akhirnya baru kusadari bahwa
ini menjadi self healing buatku dalam menghadapi beraneka persoalan hidup selama
ini. Dengan menulis perlahan aku bisa memahami dan memaknai setiap garis takdir
yang sempat aku sesali atau hikmah dibalik setiap peristiwa yang harus aku
lalui. Aku yang cenderung tak mudah bergaul apalagi jika harus bicara didepan
umum, berbicara jujur dihadapan orang tuaku saja buatku butuh usaha keras. Sempat
ada yang mengatakan bahwa aku autis karena terlalu asyik dengan duniaku sendiri. Sempat terpikir apakah aku
salah jurusan masuk kuliah di Teknik Informatika tapi kok sukanya nulis yang
nggak nyambung sama sekali dengan backgroundku itu.
Terserah bagaimana
pandangan orang tentang diriku yang pasti aku akan tetap menulis apa yang ingin
aku tulis. Sekali lagi, ‘If you
don’t know who I’m don’t judge me’ aku senang dan menikamati duniaku ini
dan aku berusaha tak menyesali apa yang dulu sudah terjadi padaku. Semoga lewat
tulisanku ada hikmah yang bisa dipetik oleh siapa pun yang membacanya dan
mereka bisa belajar dari apa yang aku alami tanpa arus mengalaminya langsung. Akan selalu ada makna dibalik setiap
peristiwa, untuk itu aku akan terus menulis.
Senin, 29 Maret 2021
Rumah Kita
Tempat seorang anak adalah bersama orangtuanya, tempat seorang istri adalah disisi suaminya. Maka dari itu aku ada disini di rumah mertuaku bersama suami dan anak-anakku.
Pasangan suami istri manapun pasti ingin memiliki kehidupan barunya sendiri. Memiliki rumah sendiri dan menjadi raja dan ratu di rumah itu. Namun tak semua pasangan memiliki kemudahan untuk mewujudkan itu semua dalam sekejap.Bersyukurlah bagi kalian pasangan yang bisa langsung memulai kehidupan barunya sendiri di istananya sendiri. Namun janganlah berkecil hati bagi kalian yang masih jadi penghuni Pondok Mertua Indah seperti aku ini.
Jangan terlalu hiraukan omongan orang diluar sana yang bilang kita nggak bisa mandiri, masih bergantung dengan orang tua, kerja bertahun-tahun kok nggak bisa punya rumah dan berbagai macam nyinyiran orang diluar sana.
Menuju sepuluh tahun pernikahan kami sengaja aku buat catatan ini hanya sebagai reminder saja dari mindmap yang pernah aku buat diawal pernikahan dan suami pun mengiyakan. Dalam mindmap tersebut memiliki rumah impian memang bukan prioritas utama kami. Bukannya kami tak mau berusaha dan mengandalkan tempat tinggal orangtua kami yang memang masih bisa kami tinggali. Alhamdulillah atas ijin Allah kini kami sudah mulai melangkah kearah sana dengan dibukakan pintu rizki perlahan-lahan. Tapi sekali lagi itu belum menjadi prioritas utama kami, semoga pada saatnya nanti semua akan terwujud dengan indah dan penuh berkah. Aamiin.
Di hari pertama aku menginjakan kaki di rumah ini aku sudah bertekad bahwa aku akan berusaha melakukan apa pun yang membuat suamiku ridho kepadaku termasuk jika dia menginginkan kami tinggal bersama ibunya yang sudah sendiri. Menemaninya menghabiskan sisa waktu diusia senjanya.
Tak jarang aku mendengar celotehan tetangga mengapa kami tak tinggal di rumah orangtuaku saja yang kebetulan memang dekat jaraknya. Apalagi saat anak-anak kami lahir satu persatu, celotehan itu makin sering terdengar baik langsung maupun lewat kabar burung.
Biarlah mereka berceloteh sepuas apa pun, berkomentar seenak mereka tentang rumah tangga kami. Yang terpenting aku tahu pasti setiap langkah yang aku ambil ada ridho suamiku disana. Anak-anakpun senang kok tinggal di rumah eyangnya dan mereka juga tetap sering ke rumah (orangtuaku) meski jarang sekali mau menginap disana.
Beruntung cerita 'seram' mertua vs menantu yang sering dikoar-koarkan orang, tidak menghantui kehidupan rumah tangga kami. Aku dan ibu mertuaku memang tak selalu sepakat dalam setiap hal, namun itu bukan alasan untuk membuat jarak diantara kami bukan?
Jodoh-Kehilangan-Kenangan
Jodohku?
Aku percaya bahwa semua yang ada di dunia ini sudah ada jodohnya. Seperti kata Afgan bahwa jodoh pasti bertemu.
Seperti halnya segelas jus alpukat yang kubeli siang ini. Maksud hati ingin membeli di tukang jus depan mini market dekat sekolah putriku ternyata nihil. Kucoba alternatif lain dan ternyata dua kali nihil juga. Tak putus asa akhirnya kucoba berbalik arah, teringat masih ada satu minimarket yang terlewat. Alhamdulillah akhirnya aku berjodoh juga dengan jus alpukat itu.
Tak jauh berbeda antara aku dan 30DWC, dari berbagai macam kelas menulis yang serupa tapi tak sama ternyata hatiku terpaut disini. Semoga inilah jalan jodoh tulisan-tulisanku karena setiap tulisan pasti akan menemukan jodohnya yaitu pembacanya.
Ini kedua kalinya aku ambil bagian dari 30DWC. Seperti dijilid sebelumnya niatan yang pertama yaitu menantang diri, untuk melawan rasa malas(menulis). Ingin jadi penulis ya menulis, jangan hanya sebatas ingin. Selebihnya aku berharap ini bisa menjadi proses menabung dan menggenapkan naskah untuk project buku soloku yang masih harus rela kugantung.
Bismillah semoga aku bisa menyeleasaikan apa yang aku mulai ini. Seperti biasa platform utama yang aku pakai tentunya di instagram yang akan selalu update ke fb dan semoga bisa kembali mengisi rumah mayaku di www.ndeelife.blogspot.com
Semangat untuk teman2 Squad 5 yang belum sempat ku ikuti satu persatu. Semoga tigapuluh hari kedepan kita bisa saling menyemangati, saling melengkapi, saling berbagi ilmu dan pastinya menambah tali silaturahmi.
Setelah setahun lebih, akhirnya siang ini aku berkesempatan 'menculik' kawan baikku yang rasanya sekarang sulit sekali ditemui. Niatan awal kami ingin saling berbincang melepas penat dari padatnya pekerjaan di kantor.
Dengan tetap menerapkan protokol kesehatan akhirnya kami memilih sebuah warung makan yang dekat kantor. Kebetulan siang tadi suasananya tidak terlalu ramai hanya ada beberapa pengunjung. Kami memilih meja diruang paling belakang yang sepi.
Ikan mujaer goreng dan jus jambu menemani obrolan kami siang itu. Namun niat hanyalah niat karena akhirnya apa yang kami bicarakan justru jauh dari apa yang awalnya ingin dicurhatkan.
Berawal dari postingan putriku di ig akhirnya cerita mengalir tentang keponakan kawanku yang belum lama meninggal karena sakit.
Mendengarkan ceritanya aku jadi ikut terhanyut, terlebih usia keponakannya tidak jauh dari usia putriku. Dia menceritakan bagaimana detik-detik menjelang kepulangan keponakan kesayangannya itu.
Bagaimana sang ibu yang berusaha tegar menemani hingga di detik-detik terakhirnya namun akhirnya harus terkena depresi sebab kehilangan yang sangat mendadak itu.
Tak hanya orang tua dan adiknya, kakek nenek, kerabat dan tetangganya pun merasa kehilangan sosok lucu yang soleh itu yang kini sudah menjadi tabungan di akhirat untuk orang tuanya.
Aku memang belum merasakan kehilangan yang seperti itu dan tak berharap itu terjadi. Pasti berat melepas kepergian buah hati tersayang yang sedang lucu-lucunya. Terlalu banyak kenangan yang tersimpan rapi diingatan yang akan selalu membangkitkan kenangan.
Namun sebagai manusia biasa kita harus berdamai dengan takdir sepahit apa pun itu. Mudah memang mengatakannya walau teramat sangat tak mudah menjalankannya. Semoga untuk saudara-saudara kita yang saat ini sedang merasa kehilangan, bisa segera ikhlas dan melepas dengan damai kenangan yang pernah ada. Yakinlah akan ada hikmah dibalik itu semua
Rasa kehilangan hanya akan ada, jika kau pernah merasa memilikinya ~Letto~
Ibarat komputer mungkin hardisk kita sudah terlalu penuh dan butuh didefragment untuk merapikan kembali setiap file kenangan yang ada. Mungkin perlu juga dilakukan disk cleanup untuk menghapus kenangan-kenangan yang tak perlu lagi kita simpan. Namun tak perlu juga kita memformat ingatan kita untuk menghapus semua kenangan yang ada.
Tak bisa dipungkiri setiap kehadiran pasti akan menyisakan kenangan baik manis atau pun pahit. Ada yang kehadirannya memang kita undang untuk hadir dalam kehidupan kita. Ada pula yang kehadirannya muncul tiba-tiba saja tanpa kita sadari kedatangannya.
Ada yang hadirnya hanya singgah sejenak untuk sekedar bertegur sapa. Ada pula yang sekedar berlalu tanpa sempat menyapa. Atau mungkin ada yang hadirnya penuh makna dan meninggalkan banyak kenangan.
Seperti sepiring kue yang datang entah kita beli atau atas pemberian orang dan pergi ke perut kita atau kita berikan ke orang lain, semuanya akan berlalu pada saatnya.
Lalu bagaimana jika yang telah pergi itu datang kembali dan membuat file kenangan yang sudah tersimpan rapi harus dibuka kembali?
Tak masalah jika yang kembali adalah kenangan yang mampu membangkitkan semangat kita. Tak masalah jika yang datang kembali bisa memperpanjang tali silaturahmi yang sempat terputus.
Namun bisa berbahaya jika yang kembali adalah kenangan pahit yang mampu mengacaukan hati dan pikiran kita atau membuat kita berlarut-larut dalam kesedihan. Akan berbahaya pula jika yang datang adalah kenangan tentang sang mantan yang belum bisa sepenuhnya hilang dari ingatan.
Mungkin itulah mengapa lebih baik pacaran setelah menikah, karena kita tak pernah tahu apakah pacar kita adalah jodoh kita. Pacaran bertahun-tahun dengan siapa eh nikahnya dengan siapa. Jangan sampai ada yang gagal move on hanya gara-gara sang mantan.
Jadi sepertinya cukup tepat jika buanglah mantan pada tempatnya, lalu bagaimana dengan yang tak sempat menjadi mantan namun meninggalkan kenangan yang dalam?😜
Selasa, 12 Januari 2021
WFH Lagi, Kapan Corona Pergi?
Akhirnya WFH lagi, entahlah harus senang atau sedih. Seperti sebelumnya di kantorku mulai kembali menerapkan Work From Home (WFH) sehari di kantor sehari di rumah. Senang karena dengan WFH aku bisa lebih banyak waktu bersama anak-anak di rumah. Sedih karena berarti ini pandemi belum berakhir dan entah sampai kapan.
Senin kemarin jadwalku WFH dan seperti hari-hari aktif biasanya, anak-anak ku titipkan di rumah orang tuaku dan aku sendiri bekerja di rumah. Setengah hari berjalan aman dan lancar meski kedua putriku mau tetap di rumah tidak mau aku titipkan di rumah mbahnya. Seperti biasa jam dua belas aku istirahat dan menyempatkan untuk menyuapi anakku terutama yang bayi. Jam setengah dua aku mulai membuka laptopku lagi, kali ini laptop kubawa ke rumah orang tuaku aku pikir agar bisa sambil menemani kakak-kakaknya bermain.
Namun apa daya baru beberapa menit ku mulai mengedit data, putri keduaku mulai menunjukkan tanda-tanda "bahaya". Benarlah ternyata siang itu tingkah manjanya yang ingin mainan masak-masakan bersama bunda praktis membuatku tak bisa melanjutkan pekerjaan kantorku. Tangisnya yang pecah disaat adiknya yang bayi sedang lelap tertidur otomatis membuatku harus berusaha menenangkannya agar tak menambah satu tangisan lagi. Laptop lemot, sinyal internet yang timbul tenggelam dan anak yang mendadak rewel, rasanya perpaduan yang sangat nikmat disiang yang mendung itu.
Jadi teringat 30 hari yang baru saja kulalui, 30 hari menantang diri sendiri untuk rutin menulis tiap hari tanpa tapi dan aku berhasil. Aku berhasil memacu diri untuk bisa lolos tantangan ini meski sempat ragu diawal dan tertatih di beberapa hari terakhir. Ibu bekerja dengan 3 anak yang dua diantaranya balita dan tanpa asisten rumah tangga rasanya sempat tak percaya aku bisa melakukannya. Mencuri-curi waktu diantara rentetan aktivitas untuk bisa sekedar menumpahkan rasa melalui kata-kata itu rasanya ada kepuasan tersendiri di hati. Yap, awal aku menulis memang sebagai bentuk self healing, menghilangkan segala penat dan aneka rasa yang berkecamuk di hati dan pikiranku.
Waktu tersulit bagiku untuk menulis justru saat weekend, sebab saat weekday aku masih bisa menulis di sela-sela jam kantor tanpa terlalu banyak gangguan kecuali ada perkerjaan mendadak yang harus segera diselasaikan. Tapi di rumah, wah rasanya penuh perjuangan untuk bisa sekedar menuliskan kisahku di halaman ig. Dari pekerjaan rumah yang memanggil-manggil ingin disentuh, anak-anak yang minta ditemani bermain, hingga berebutan ponsel dengan anak-anakku. Kenapa nggak ada ART? Bukankah dicatatan sebelumnya aku telah menemukan ART?
Yap, aku memang sudah menemukan ART tapi memang aku pekerjakan di rumah orang tuaku untuk membantu menjaga anak-anakku saat aku di kantor. Sedangkan saat aku libur, ART maka aku liburkan juga. Sejujurnya aku dan suami memang merasa kurang nyaman jika ada "orang lain" di rumah maka dari itu kami memutuskan tak memakai ART di rumah. Jadi semuanya memang ku kerjakan sendiri dibantu suami dan kedua putriku meski lebih banyak bikin riweuhnya tapi yang penting mereka mau belajar membantu bunda menyelesaikan pekerjaan rumah dan menjaga adik bungsunya.
Setiap masa pasti memiliki cerita yang semoga hanya kisah yang indah yang terekam sempurna di ingatan dan kelak akan dirindukan dan selalu indah untuk dikenang.
Senin, 28 Desember 2020
Akhirnya Kumenemukanmu (ART)
Alhamdulillah masih bisa diberi kesempatan bertemu dengan hari senin terakhir di tahun 2020 ini. Semoga pekan terakhir di bulan Desember tahun 2020 ini bisa terisi dengan hal-hal yang bermanfaat dan menjadi momentum untuk bisa lebih baik lagi ditahun depan.
Suasana di kantor terasa tidak seramai biasanya karena beberapa ada yang mengambil cuti dan ada pula yang sedang WFH. Aku pun rasanya berat saat pagi tadi akan meninggalkan anak-anak setelah libur beberapa hari kemarin. Tapi tugas dan tanggung jawabku di kantor tak bisa kutinggalkan begitu saja terlebih tahun ini aku sudah cukup banyak mengambil cuti dikarenakan kehilangan ART.
Tapi hari ini "Akhirnya kumenemukanmu...". Setelah pencarian panjang yang cukup melelahkan (lebay dikit nggak apa ya) akhirnya aku menemukan juga pengasuh untuk anak-anakku. Bismillah setelah berbagai ikhtiar selebihnya kuserahkan semua kepada Allah SWT. Semoga dengan kehadiran pengasuh baru ini bisa membantu meringankan tugasku yang sempat dibackup oleh ibuku.
Walau sempat galau diawal saat akan mulai mencari pengasuh dimasa pandemi ini tapi insya allah kali ini aku harus yakin karena tak mungkin seterusnya akan merepotkan bapak/ ibuku diusia senjanya. Memang tak dipungkiri sehari saja cucu-cucunya tak berkunjung kerumah maka ibuku pasti langsung menelponku ingin mendengar suara cucu-cucunya. Maka dari itu meski saat ini sudah ada pengasuh anak-anak tetap aku titipkan di rumah orang tuaku sehingga tak kubiarkan anak-anak hanya dengan pengasuh saja, ada mbah uti dan mbah kung yang ikut mengawasi.
Untuk ibu bekerja sepertiku ini masalah asisten rumah tangga/ pengasuh memang tak mungkin bisa dihindari dan memang inilah konsekuensi yang harus kita hadapi atas pilihan kita untuk menjadi ibu bekerja. Tak usah merasa berkecil hati atau merasa bersalah atas langkah yang sudah kamu ambil, tak usah pedulikan segala macam omongan nyinyir yang hanya bisa menghakimi tanpa memberi solusi. Bagaimanapun seorang ibu pasti ingin melakukan yang terbaik untuk buah hatinya maka lakukan semampunya jangan pernah memaksakan standar orang lain pada diri kita.
Tetap semangat, tetap bersyukur dan tetap jaga kesehatan. Salam hangat untuk ibu-ibu hebat dimanapun berada.
Selasa, 15 Desember 2020
Bunda Aku Cemburu (2)
Sabtu, 12 Desember 2020
Hidup Adalah Pilihan
Hidup adalah pilihan dan aku memilih untuk mencoba menaklukan tantangan ini. Meski diawal langkah terselip rasa ragu namun akhirnya keyakinan memaksaku untuk terus maju dan menjadi bagian dari para fightermenulis di 30DWCJilid27.
Hidup adalah pilihan dan aku memilih untuk menata kembali semua angan, mimpi dan harapan yang terselip disetiap doa-doaku. Sebagai manusia biasa akupun memiliki keinginan dan cita-cita yang tak mustahil untuk diwujudkan. Karena aku percaya there is a will there is a way. Namun dari sekian deret keinginanku tetap ada yang harus diprioritaskan. Perempuan memang dikenal sebagai mahluk multitasking namun kali ini aku sadar betul bahwa tak mungkin untuk duduk di dua kursi. Aku paham betul dengan kapasitasku, rasanya terlalu egois jika semua yang aku inginkan harus bisa tercapai disaat yang bersamaan. Untuk itu aku memilih untuk sejenak rehat dari beberapa komunitas dan memilih untuk left sejenak dari bebera grup wa yang sudah lama aku ikuti.
Hidup adalah pilihan dan aku memilih untuk lebih banyak lagi meluangkan waktu untuk ketiga buah hatiku. Bersamaan dengan kehamilan anak ke tigaku ternyata si mbak yang selama ini ikut membantu di rumah kami juga tengah hamil anak kedua. Sehingga mau tak mau dia harus stop dari pekerjaannya dan aku tak bisa menghalangi itu. Setelah habis masa cutiku sempat dua kali mendapat pengasuh yang baru namun mungkin belum berjodoh dan akhirnya hanya bertahan seumur jagung. Dimasa pandemi yang semakin hari semakin menggila rasanya hatiku makin galau untuk mencari pengasuh baru. Antara butuh dan takut, sebenarnya memang butuh tapi aku juga takut jika nantinya mereka justru menjadi carier bagi keluargaku. Akhirnya aku memilih untuk mengambil kembali semua peran yang pernah aku delegasikan. Meski untuk sementara waktu saat aku ke kantor anak-anak harus kutitipkan di rumah orangtuaku. Beruntung disela-sela jam kerjaku aku masih bisa pulang sejenak untuk menyuapai atau menemani anak-anakku bermain.
Dan itulah jalan yang kupilih kini, dan aku harus siap dengan segala konsekuensinya. Semoga pandemi ini segera berlalu dan semuanya akan kembali normal.
Rabu, 18 November 2020
Ikatan Cinta (Kita)
Selasa, 13 Januari 2015
Siapa yang menyebabkan aku disini?! (Part 1)*
*)Catatan lama yang baru sempat posting (bersambung......)
Januari 2026 ( Yuks Mulai Lagi!)
Apa kabar diriku? Nggak terasa sudah 2026 ya, atau terasa banget perjalanan 2025 kemarin? Gimana berat atau kata anak sekarang "b aja...
-
Siang ini aku mendapat notifikasi di whatsapp grup ternyata ada foto putri keduaku sedang menerima apresiasi dari sekolah atas lomba yang ...
-
Sesuai janji saya di catatan sebelumnya, dicatatan kali ini akan dijelaskan langkah-langkah bagaimana kita memaafkan. Berikut ini ada...








