Tampilkan postingan dengan label Penting ga penting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penting ga penting. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 April 2021

Aku Akan Terus Menulis

            Sejak kita mulai masuk bangku sekolah pasti kita akan diajari menulis jadi jika ada yang bilang tidak bisa menulis itu rasanya tak mungkin. Menulis dalam artian tak sekedar menuliskan huruf diselembar kertas memang bukan hal baru buatku. Sejak SD aku memang sudah menyukai menulis, aku senang jika awal masuk sekolah setelah liburan panjang karena pasti akan diberi tugas mengarang. Jika teman-temanku masih suka bingung untuk sekedar memenuhi satu halaman folio maka aku bisa mengarang sampai penuh empat halaman folio. Memang tulisan tanganku tak indah dan mungkin masih belum menggunakan kaidah kepenulisan yang benar tapi bagiku yang penting ya tulis saja apa yang aku pikirkan dan rasakan.

            Saat kelas lima SD aku mulai tertarik menulis diary setelah membaca beberapa diary milik Bapak yang masih tersimpan sampai sekarang.  Entah sudah berapa buku diary yang aku punya, tapi saying justru setelah menikah aku jadi jarang menulis diary. Sejak tahun 2006/2007 aku lupa pastinya aku mulai mengenal blog namun sayang blog pertamaku di multiply sudah hangus tak tersisa tanpa sempat kuselamatkan kisah-kisah yang ada disana.

            2009 Sekembaliku dari perantauan ke kampung halaman aku beralih dan membangun kembali tumah mayaku di blogspot.com hingga sekarang. Aku juga sempat bergabung dengan teman-teman Forum Lingkar Pena dan Rumah Baca Asmanadia meski sayang setelah menikah dan disibukan dengan ketiga buah hatiku terpaka harus aku tinggalkan. Sempat juga bergabung dengan Pejuang Literasi dan menghasilkan 3 buah antologi. Meski tak aktif lagi di FLP namun sebentar lagi antologi kedukau bersama FLP Tegal insya allah akan segera rilis. Kemarin bersama 30DWC maka menggenapkan 10 antologiku untuk itu aku bulatkan tekad mengikuti 30 HMBP untuk bisa merilis karya pribadiku yang aku harap bisa menjadi buku solo pertamaku nanti.

            Isi tulisannku memang lebih terkesan curhat dan semacamnya dan akhirnya baru kusadari bahwa ini menjadi self healing buatku dalam menghadapi beraneka persoalan hidup selama ini. Dengan menulis perlahan aku bisa memahami dan memaknai setiap garis takdir yang sempat aku sesali atau hikmah dibalik setiap peristiwa yang harus aku lalui. Aku yang cenderung tak mudah bergaul apalagi jika harus bicara didepan umum, berbicara jujur dihadapan orang tuaku saja buatku butuh usaha keras. Sempat ada yang mengatakan bahwa aku autis karena terlalu asyik dengan  duniaku sendiri. Sempat terpikir apakah aku salah jurusan masuk kuliah di Teknik Informatika tapi kok sukanya nulis yang nggak nyambung sama sekali dengan backgroundku itu.

            Terserah bagaimana pandangan orang tentang diriku yang pasti aku akan tetap menulis apa yang ingin aku tulis. Sekali lagi, ‘If you don’t know who I’m don’t judge me’ aku senang dan menikamati duniaku ini dan aku berusaha tak menyesali apa yang dulu sudah terjadi padaku. Semoga lewat tulisanku ada hikmah yang bisa dipetik oleh siapa pun yang membacanya dan mereka bisa belajar dari apa yang aku alami tanpa arus mengalaminya langsung.  Akan selalu ada makna dibalik setiap peristiwa, untuk itu aku akan terus menulis.

Senin, 29 Maret 2021

Rumah Kita



Tempat seorang anak adalah bersama orangtuanya, tempat seorang istri adalah disisi suaminya. Maka dari itu aku ada disini di rumah mertuaku bersama suami dan anak-anakku.

Pasangan suami istri manapun pasti ingin memiliki kehidupan barunya sendiri. Memiliki rumah sendiri dan menjadi raja dan ratu di rumah itu. Namun tak semua pasangan memiliki kemudahan untuk mewujudkan itu semua dalam sekejap.

Bersyukurlah bagi kalian pasangan yang bisa langsung memulai kehidupan barunya sendiri di istananya sendiri. Namun janganlah berkecil hati bagi kalian yang masih jadi penghuni Pondok Mertua Indah seperti aku ini.

Jangan terlalu hiraukan omongan orang diluar sana yang bilang kita nggak bisa mandiri, masih bergantung dengan orang tua, kerja bertahun-tahun kok nggak bisa punya rumah dan berbagai macam nyinyiran orang diluar sana.

Menuju sepuluh tahun pernikahan kami sengaja aku buat catatan ini hanya sebagai reminder saja dari mindmap yang pernah aku buat diawal pernikahan dan suami pun mengiyakan. Dalam mindmap tersebut memiliki rumah impian memang bukan prioritas utama kami. Bukannya kami tak mau berusaha dan mengandalkan tempat tinggal orangtua kami yang memang masih bisa kami tinggali. Alhamdulillah atas ijin Allah kini kami sudah mulai melangkah kearah sana dengan dibukakan pintu rizki perlahan-lahan. Tapi sekali lagi itu belum menjadi prioritas utama kami, semoga pada saatnya nanti semua akan terwujud dengan indah dan penuh berkah. Aamiin.

Di hari pertama aku menginjakan kaki di rumah ini aku sudah bertekad bahwa aku akan berusaha melakukan apa pun yang membuat suamiku ridho kepadaku termasuk jika dia menginginkan kami tinggal bersama ibunya yang sudah sendiri. Menemaninya menghabiskan sisa waktu diusia senjanya.

Tak jarang aku mendengar celotehan tetangga mengapa kami tak tinggal di rumah orangtuaku saja yang kebetulan memang dekat jaraknya. Apalagi saat anak-anak kami lahir satu persatu, celotehan itu makin sering terdengar baik langsung maupun lewat kabar burung.

Biarlah mereka berceloteh sepuas apa pun, berkomentar seenak mereka tentang rumah tangga kami. Yang terpenting aku tahu pasti setiap langkah yang aku ambil ada ridho suamiku disana. Anak-anakpun senang kok tinggal di rumah eyangnya dan mereka juga tetap sering ke rumah (orangtuaku) meski jarang sekali mau menginap disana.

Beruntung cerita 'seram' mertua vs menantu yang sering dikoar-koarkan orang, tidak menghantui kehidupan rumah tangga kami. Aku dan ibu mertuaku memang tak selalu sepakat dalam setiap hal, namun itu bukan alasan untuk membuat jarak diantara kami bukan?

Selasa, 12 Januari 2021

WFH Lagi, Kapan Corona Pergi?

Akhirnya WFH lagi, entahlah harus senang atau sedih. Seperti sebelumnya di kantorku mulai kembali menerapkan Work From Home (WFH) sehari di kantor sehari di rumah. Senang karena dengan WFH aku bisa lebih banyak waktu bersama anak-anak di rumah. Sedih karena berarti ini pandemi belum berakhir dan entah sampai kapan. 

Senin kemarin jadwalku WFH dan seperti hari-hari aktif biasanya, anak-anak ku titipkan di rumah orang tuaku dan aku sendiri bekerja di rumah. Setengah hari berjalan aman dan lancar meski kedua putriku mau tetap di rumah tidak mau aku titipkan di rumah mbahnya. Seperti biasa jam dua belas aku istirahat dan menyempatkan untuk menyuapi anakku terutama yang bayi. Jam setengah dua aku mulai membuka laptopku lagi, kali ini laptop kubawa ke rumah orang tuaku aku pikir agar bisa sambil menemani kakak-kakaknya bermain. 

Namun apa daya baru beberapa menit ku mulai mengedit data, putri keduaku mulai menunjukkan tanda-tanda "bahaya". Benarlah ternyata siang itu tingkah manjanya yang ingin mainan masak-masakan bersama bunda praktis membuatku tak bisa melanjutkan pekerjaan kantorku. Tangisnya yang pecah disaat adiknya yang bayi sedang lelap tertidur otomatis membuatku harus berusaha menenangkannya agar tak menambah satu tangisan lagi. Laptop lemot, sinyal internet yang timbul tenggelam dan anak yang mendadak rewel, rasanya perpaduan yang sangat nikmat disiang yang mendung itu.

Jadi teringat 30 hari yang baru saja kulalui, 30 hari menantang diri sendiri untuk rutin menulis tiap hari tanpa tapi dan aku berhasil. Aku berhasil memacu diri untuk bisa lolos tantangan ini meski sempat ragu diawal dan tertatih di beberapa hari terakhir. Ibu bekerja dengan 3 anak yang dua diantaranya balita dan tanpa asisten rumah tangga rasanya sempat tak percaya aku bisa melakukannya. Mencuri-curi waktu diantara rentetan aktivitas untuk bisa sekedar menumpahkan rasa melalui kata-kata itu rasanya ada kepuasan tersendiri di hati. Yap, awal aku menulis memang sebagai bentuk self healing, menghilangkan segala penat dan aneka rasa yang berkecamuk di hati dan pikiranku.

Waktu tersulit bagiku untuk menulis justru saat weekend, sebab saat weekday aku masih bisa menulis di sela-sela jam kantor tanpa terlalu banyak gangguan kecuali ada perkerjaan mendadak yang harus segera diselasaikan. Tapi di rumah, wah rasanya penuh perjuangan untuk bisa sekedar menuliskan kisahku di halaman ig. Dari pekerjaan rumah yang memanggil-manggil ingin disentuh, anak-anak yang minta ditemani bermain, hingga berebutan ponsel dengan anak-anakku. Kenapa nggak ada ART? Bukankah dicatatan sebelumnya aku telah menemukan ART?

Yap, aku memang sudah menemukan ART tapi memang aku pekerjakan di rumah orang tuaku untuk membantu menjaga anak-anakku saat aku di kantor. Sedangkan saat aku libur, ART maka aku liburkan juga. Sejujurnya aku dan suami memang merasa kurang nyaman jika ada "orang lain" di rumah maka dari itu kami memutuskan tak memakai ART di rumah. Jadi semuanya memang ku kerjakan sendiri dibantu suami dan kedua putriku meski lebih banyak bikin riweuhnya tapi yang penting mereka mau belajar membantu bunda menyelesaikan pekerjaan rumah dan menjaga adik bungsunya.

Setiap masa pasti memiliki cerita yang semoga hanya kisah yang indah yang terekam sempurna di ingatan dan kelak akan dirindukan dan selalu indah untuk dikenang.

Minggu, 25 September 2011

Take Me To Your Heart (MLTR)

Take Me To Your Heart (MLTR)

Hiding from the rain and snow
Trying to forget but I won't let go
Looking at a crowded street
Listening to my own heart beat

So many people all around the world
Tell me where do I find someone like you girl

[Chorus]
Take me to your heart take me to your soul
Give me your hand before I'm old
Show me what love is - haven't got a clue
Show me that wonders can be true

They say nothing lasts forever
We're only here today
Love is now or never
Bring me far away

Take me to your heart take me to your soul
Give me your hand and hold me
Show me what love is - be my guiding star
It's easy take me to your heart

Standing on a mountain high
Looking at the moon through a clear blue sky
I should go and see some friends
But they don't really comprehend

Don't need too much talking without saying anything
All I need is someone who makes me wanna sing
[Chorus]

Minggu, 14 Agustus 2011

Lezatnya Bakar Sate (Siang Tadi)

Di luar rembulan bersinar sempurna di permadani langit, tak kutemukan setitikpun cahaya bintang di dekatnya. Tak terasa ramadhan sudah separuh perjalanan, semoga kita senantiasa diberi keistiqomahan untuk menyelesaikan perjalanan ini hingga tiba di garis finish dan mendapatkan piala keberkahan di hari kemenangan nanti. Amin

Hari ini ada dua agenda yang sudah tercatat di rencana kegiatan akhir pekanku dan salah satunya adalah agenda bersama teman-teman FLP Tegal untuk kembali mengadakan kegiatan rutin kami yaitu “Bakar Sate”. Karena pada acara Bakar Sate sebelumnya aku berhalangan hadir maka sudah kuniatkan untuk hadir diacara Bakar Sate kali ini.

Bersama seorang teman aku meluncur menuju lokasi acara tepatnya di rumah ketua FLP Tegal yang sejujurnya aku belum tahu lokasi persisnya. Karena sadar kami sudah terlambat aku coba mempercepat laju motorku dengan tetap berhati-hati karena jalanan cukup ramai. Aku mencoba mengingat-ingat nama jalan yang harus kami lalui untuk sampai di lokasi setelah sebelumnya aku menelpon salah seorang teman yang sudah mengetahui lokasi tersebut.

Mendekati daerah yang dimaksud temanku kupelankan laju kendaraan, mataku sesekali melirik ke setiap belokan yang terletak di sebelah kiri jalan yang kami lewati sambil terus mencari nama jalan yang dimaksud namun tak kunjung ku lihat nama jalan itu. “Wah, ini sih kayaknya nyasar…” batinku. Akhirnya kuputuskan berhenti dan kembali menelpon temanku dan ternyata benar temanku salah memberikan nama jalan, kamipun putar balik dan tak terlalu sulit menemukan jalan itu namun perjalanan kami belum selesai.

Sesuai petunjuk temanku kami coba menelusuri jalan yang benar-benar baru pertama kali ini aku lalui dan walhasil gara-gara salah paham melihat posisi papan jalan kami kesasar lagi, putar balik lagi. Sampai di sebuah perempatan aku kembali bingung, akhirnya aku bertanya pada seorang pengendara sepeda yang sedang berhenti namun hasilnya nihil. Untunglah sedang banyak orang diperempatan jalan jadi kami bertanya lagi dengan harapan kali ini bisa memberikan petunjuk. Alhamdulillah kami diberi tahu melalui jalan kecil dekat pinggiran sungai katanya bisa lebih cepat sampai.

Beberapa gang sudah kami lewati tapi perasaanku berkata bahwa kami kembali tersesat, akhirnya aku memutuskan berhenti dan menanyakan pada ibu-ibu yang sedang duduk di teras rumahnya. Memang tak memberikan jawaban memuaskan karena kami hanya disuruh belok kiri mengikuti jalan kecil dan disuruh bertanya lagi sampai di ujung gang. Sesuai petunjuk kamipun bertanya kembali dan diarahkan untuk balik arah dan mengikuti gang kecil yang ditunjukan oleh seorang bapak. Setelah kami ikuti kok ternyata buntuk karena jalan tersebut berujung pada sebuah sekolah, berhenti lagi dan tanya lagi.

Mungkin karena teman kami ini baru pindah sehingga belum terlalu dikenal penduduk sekitar. Aku hampir putus asa mau bertanya kemana lagi, jika ku telpon temanku akupun tak bisa menjelaskan di mana posisiku sekarang (jujur saja aku memang buta arah hehehe). Akhirnya kami melihat seorang anak laki-laki yang sedang membantu orang tuanya memasang lampu dan Alhamdulillah… setelah tujuh kali kesasar dan tujuh kali bertanya pencarian kamipun selesai, anak itu menunjukan rumah yang kami cari. Ternyata rumah itu tak jauh dari tempat kami berhenti dan cukup dekat dengan gang yang tadi kami lewati, seharusnya belok kiri kami belok kanan. “Mungkin ada doa yang kurang sebelum kami berangkat tadi, Ya Allah maafkan kelalaian kami…”. Lebih baik tersesat mencari alamat daripada tersesat di jalan kehidupan, semoga Allah selalu menuntun langkah kita.

Meski terlambat namun aku tak kehilangan inti dari acara hari ini. Selain Bakar Sate acara siang itu diselingi dengan tausiyah ramadhan sehingga terasa lebih bermakna. Aku sendiri tak banyak bicara atau mengomentari karya teman-teman namun aku mencoba mengambil hikmah atau pelajaran dari setiap kisah yang ditulis oleh teman-teman. Dari tulisan-tulisan tersebut sedikit banyak bisa menggambarkan karakter si penulis. Sesuai dengan tema yang diangkat yaitu “Kedasyatan Doa” aku berkesimpulan bahwa doa ibu memang luar biasa, maka berusahalah agar setiap kata yang terucap dari bibir ibu untuk kita adalah kebaikan dan kebaikan.

Diluar baik atau buruknya setiap tulisan yang tadi siang “dibakar”, bagiku semuanya memiliki makna serta hikmahnya masing-masing yang kucoba lekatkan dalam catatan hatiku dan satu yang menarik dari salah satu tulisan tadi siang adalah tentang “Algoritma Kehidupan”. Algoritma, mata kuliah yang sempat bikin aku stress ternyata menjadi istilah menarik saat dianalogikan dalam kehidupan.

Lezatnya Bakar Sate bersama teman-teman FLP Tegal akhirnya diakhiri dengan berkumandangnya adzan sholat ashar. Lelah itu pasti, namun perjalanan tadi siang cukup memberikan asupan gizi tambahan untuk jiwaku serta pengetahuan menulisku dan setidaknya menambah referensiku tentang daerah baru dan jalan-jalan baru (hikmah kesasar).


Selasa, 05 Juli 2011

It's just little story about me (3 Hari di 3 Kota)

3 hari di 3 kota berbeda...


3 hari yang melelahkan namun juga 3 hari yang penuh cerita dan tentunya penuh makna. Dimulai dari kota Tegal, kamis malam kurang lebih jam sembilan malam aku dan adikku meninggalkan kota bahari menuju bumi parahiyangan menggunakan jasa travel langganan kami karena memang barang bawaan kami cukup berat. Perjalanan malam hari memang lebih enak karena waktunya tidur sehingga tak terasa namun saat tiba di daerah sumedang aku terbangun karena sepertinya mobil yang aku tumpangi berhenti. Setelah memulihkan kesadaran dan coba melihat keluar jendela ternyata kondisi jalan cukup macet sehingga mobil harus berhenti meski tak berapa lama akhirnya mobil mulai merangkak maju. Setelah beberapa meter perjalanan Pak sopir dengan lihai memutar balik arah mobil, nampaknya pak sopir tidak sabar dengan kemacetan yang menghambat perjalanan. Tak jauh setelah kami memutar arah kami memasuki sebuah gerbang desa yang jalannya cukup menanjak dengan kondisi jalan yang amat sangat sepi sekali, kanan kiri hanya ada kebun bambu sawah bahkan ada tebing yang agak curam. Kulihat semua penumpang tertidur lelap termasuk adekku, aku yang sudah terlanjur terbangun jadi ikut "menikmati" perjalanan malam itu. Beberapa hal yang membuatku beralasan untuk agak panik adalah pertama kondisi jalan yang sempit dan sepi karena sepanjang perjalanan tak kulihat kendaraan satupun yang lewat, kedua supir yang membawa kami bisa dibilang cukup tua, ketiga penumpang travel sebagian besar perempuan (bagaimana kalau sampai mogok) dalam kondisi jalanan menanjak. Aku hanya bisa berdoa semampuku tanpa pernah bisa memejamkan mata, baru setelah kami kembali menemukan jalan raya aku bisa bernafas lebih lega setidaknya kini kami tidak sendirian lagi, rasanya seperti baru keluar dari tembok labirin. Akhirnya kami tiba di tempat tujuan sekitar pukul setengah empat lewat, terlambat sekitar tiga puluh menit dari biasanya.


Setelah mempersiapkan segalanya yang akan dibawa maka tujuan kami selanjutnya adalah kota hujan, aku kesana hanya untuk mengantar adekku yang ada kepentingan disana. Pukul 12 siang kami sudah siap dan menyempatkan untuk makan siang dahulu dan menjamak sholat dzuhur dan ashar karena perjalanan mungkin akan lama. Jam satu kami sudah siap dipinggir jalan menanti travel yang akan mengantar kami yang ternyata terlambat tigapuluh menit dari waktu yang dijanjikan. Perjalanan yang lebih menyenangkan dari kemarin, kemacetan yang sempat menghadang bisa dilalui tanpa memakan banyak waktu, supir travel yang sangat lihai membawa mobil melaju kencang sepanjang tol Bandung - Bogor. Meski awal-awal perjalanan aku agak mual mungkin karena masuk angin namun setelah istirahat sejenak di tol cikampek semuanya kembali normal, sesekali aku tertidur dan sesekali aku menikmati suasana sepanjang perjalanan. Saat keluar pintu tol Jagorawi kulihat terminal yang dulu terakhir aku kunjungi sekitar lima tahun yang lalu (Terminal Baranangsiang). Aku putuskan untuk tidak melanjutkan tidurku, aku berusaha memutar ingatanku ke lima tahun silam akan jalanan-jalanan yang pernah kulalui di kota yang banyak memiliki pohon-pohon besar ini, jalan yang banyak kulalui dengan berjalan kaki bersama teman-teman dulu saat Gladi di Kandatel Bogor. Setelah mengantar penumpang lainnya akhirnya kami tiba menjelang isya di rumah Bude meski harus nyasar dulu hampir sampai Parung gara-gara aku salah menunjuk jalan (Maaf ya pak sopir...untung pak sopirnya baik jadi ga marah hihihi...^^)


Tugasku kini sudah selesai mengantarkan adikku kini saatnya aku kembali karena memang tak ada hari libur yang mengijinkanku untuk berlama-lama di kota seribu angkot itu. Karena tidak ada kendaraan yang langsung menuju Tegal aku memutuskan pulang ke Tegal dari Jakarta. Setelah mencoba menghubungi beberapa teman akhirnya malam sebelumnya aku memutuskan untuk mampir bermalam dulu di tempat temanku di kawasan Cilandak. Ba'da ashar aku berpamitan dengan bude dan adikku, dengan menggunakan bis tanggung aku sampai di terminal Baranangsiang sekitar pukul empat lewat. Setelah melewati jembatan penyebrangan aku masuk lewat pintu belakang terminal, kuamati satu-persatu tulisan yang tertulis di atas bis yang berjajar di terminal namun tak kutemukan tulisan yang aku cari. "Malu bertanya sesat dijalan" akhirnya aku bertanya pada salah satu petugas peron bis dengan jurusan yang aku cari dan ternyata bis tersebut ada di pintu depan. Langsung saja aku langkahkan kaki secepat mungkin ke pintu depan terminal, benar saja disana ada satu bis berwarna merah (aku lupa nama bisnya) dengan tulisan Bogor-Lebak Bulus via TB Simatupang. Aku duduk dikursi paling depan dekat pintu agar lebih mudah turun dan bisa melihat lebih mudah arah yang aku tuju, tepat setengah lima bis-pun meninggalkan terminal dan sepertinya bis yang aku naiki adalah bis terakhir.

Ba'da maghrib aku tiba memasuki kawasan Cilandak setelah menikamati macetnya tol Bogor-Jakarta disore hari, dengan Bismillah aku memutuskan turun di sebuah perempatan saat kondektur meneriakkan "Cilandak...cilandak..."karena pikirku jika turun di lebak bulus bisa jadi akan bolak-balik. Ternyata benar perkiraanku dari perempatan aku hanya tinggal sekali menumpang angkutan untuk sampai ke tempat temanku di asrama kampus IIP.



Esoknya hari Minggu pagi adalah perjalanan terakhirku, yup perjalanan kembali menuju rumahku. Diantar temanku kami menuju terminal lebak bulus, setelah membeli karcis sebuah bis ekonomi AC aku langsung mencari tempat duduk dan ternyata aku terlambat sehingga harus puas untuk dapat kursi di tengah-tengah (sebenarnya aku lebih suka duduk di depan). Jam delapan lewat bis meninggalkan terminal menuju kota bahari yang membawa penumpang yang mungkin sebagian besar orang Tegal (dilihat dari logat bicara mereka). Perjalanan pulang yang cukup menegangkan 2 kali bis yang kutumpangi mengalami pecah ban di tol cikampek dan hampir lima jam kami terjebak macet di daerah Klampok Brebes yang bener-bener bikin senewen para penumpangnya. Jadilah aku yang seharusnya sampai di terminal Tegal sekitar pukul tiga sore harus mau menerima kenyataan bahwa baru jam delapan malam kami tiba di terminal (12 jam di dalam bis, nikmatnya....). Aku masih belum bisa bernafas lega karena perjalanan kerumah masih panjang apalagi malam hari. Beberapa kali Ibu dan Bapakku yang sedang diluar kota memantau keberadaanku dan menyarankan agar akau tidak usah pulang kerumah melainkan menginap dirumah teman saja namun setelah kupertimbangkan akhirnya aku memilih meminjam motor seorang teman untuk pulang kerumah. Dengan mengumpulkan segenap keberanian dan berbekal bismillah akhirnya kurang lebih dalam tiga puluh menit aku sampai juga dirumah (kalau ga salah saat itu jam sembilan kurang sedikit). Alhamdulillah... Semua hanya karena Allah aku bisa kembali bertemu bantal guling

kesayanganku ^_^



Ini baru sekilas perjalananku kemarin, InsyaAllah dilain kesempatan akan kutuliskan juga hikmah sepanjang perjalanan hasil dari "muhasabah perjalanan". Pastinya kini aku kembali dengan harapan baru akan sebuah kehidupan yang lebih baik setelah kutinggalkan semua risau dan gundahku di sepanjang jejak perjalananku kemarin.

Rabu, 15 Juni 2011

Pilih jalan yang mana???

Banyak jalan menuju roma...pepatah yang mungkin sudah tak asing lagi ditelinga kita. Dan apa yang akan sedikit saya bagi ini masih berkaitan denga pepatah tersebut. sebenarnya sudah lama ingin menuliskan ini namun akhirnya baru malam ini jari-jari saya mau bergerak di atas tuts keyboard.



Sejak beberapa pekan yang lalu sebuah jembatan yang merupakan jalur utama di desa saya sedang mengalami perbaikan total sehingga jalur tersebut harus benar-benar ditutup. Awalnya yang saya tahu hanya satu hanya satu jalur alternatif yang biasa saya lalui selama perbaikan jembatan. Namun kini akhirnya saya benar-benar tahu ada 3 jalur alternatif yang bisa saya lalui untuk menuju ke kantor setiap harinya, sebenarnya tak hanya tiga namun tiga jalur ini yang merupakan jalur tercepat dari semua jalur yang mungkin dilalui. Alternatif pertama adalah melalui sebuah jalan yang membelah pedesaan dan lumayan berliku-liku karena terlalu banyak tikungan. Kondisi jalan lumayan meski tidak sepenuhnya halus namun waktu dan energi yang dibutuhkan lebih banyak alias lebih lama untuk tiba di kantor. Alternatif kedua adalah sebuah jalan baru yang membelah sawah dan kebun tebu, jalan ini memang belum resmi dibuka karena memang belum selesai pengerjaannya. Kondisi jalan sebagian halus namun selebihnya halus bergelombang dan juga masih berbatu kerikil sehingga harus ekstra hati-hati, selain itu kondisi tanah yang kering membuat jalanan ini debunya lumayan juga mengganggu mata dan hidung saya. Alternatif ketiga adalah jalur terpendek yang baru berani saya coba beberapa hari yang lalu karena memang butuh keberanian dan amat sangat ekstra hati-hati. Jalan tersebut merupakan jalur yang dibuat diatas saluran air disebelah jembatan yang sedang diperbaiki, jalur itu dibuat oleh beberapa penduduk sekitar dari anyaman bambu yang disusun menjadi sebuah jalan. Untuk melalui jalan ini para pengendara harus membayar seribu rupiah kepada para "petugas" yang mengatur lalu lintas di atas sasak (nama jalur tersebut). Jadi banyak jalan menuju kantor saya, tinggal pilih mau lewat yang mana semua ada resikonya dan juga keuntungannya.



Seperti itu juga hidup, sebenarnya banyak jalan yang bisa kita tempuh untuk sampai pada sesuatu yang kita impikan, pada sesuatu yang kita inginkan. Ada jalan yang mudah dan kilat, ada jalan yang berliku dan panjang, ada yang jalannya cepat namun medan yang harus dilalui cukup sulit dan ada juga yang jalannya panjang namun semulus jalan tol. Mungkin pilihan pertama sudah pasti yang diinginkan sebagian besar dari kita, jalan yang mudah namun kilat alias kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan dengan cepat dan mudah.



Bersyukurlah jika diantara teman-teman hingga detik ini masih diberi jalan yang mudah dan cepat untuk meraih sesuatu, semoga itu menjadikan kita lebih banyak dan banyak lagi bersyukur. Lalu bagaimana dengan kita yang harus melalui jalan yang panjang dan berliku untuk memperoleh mimpinya dan mendapatkan apa yang diinginkannya? Tetaplah bersyukur! Dari jalan yang panjang itu Allah ingin kita belajar lebih banyak, dari jalan yang sulit itu Allah ingin kita dapat memetik nilai-nilai kehidupan yang berharga. Kita semua dihadapkan pada banyak pilihan jalan hidup yang terkadang sadar atau tidak yang nampak dihadapan kita hanya ada satu jalan, memang dari banyak pilihan itu kita harus memutuskan jalan mana yang akan kita pilih. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi sepanjang perjalanan itu, siapa yang kita temui disepanjang perjalanan itu dan apa yang akan kita dapat diujung jalan nanti apakah sesuai dengan yang kita impikan atau justru jauh dari yang kita inginkan?



Jalan manapun yang kita pilih saat ini semoga adalah jalan terbaik yang Allah swt tunjukkan untuk kita, jalan yang akan

membawa kita pada impian-impian kita, jalan yang akan membawa kita pada keridhoan-Nya. Persiapkan diri untuk berbagai macam resiko yang mungkin terjadi dan siapkan juga menerima "doorprize" dari-Nya disepanjang jalan yang sedang kita lalui ini. Dan pada akhirnya banyak jalan yang bisa kita tempuh menuju tempat akhir kita (kampung akhirat). Ada jalur cepat atau jalur lambat, ada jalur yang aman-aman saja dan mudah dilalui namun ada juga jalur yang sulit serta penuh resiko. Jalur manapun yang kita pilih semoga tujuan kita masih sama yaitu kita bisa dikumpulkan kembali di Firdaus-Nya. Amin



*) Sebuah renungan kecil saat jiwa lelah meniti langkah

Rabu, 16 Juni 2010

Test!

Bismillah....

Lama juga ga update blog-ku yang satu ini, banyak alasan sih (bukan maksud mencari-cari alasan). Sudah beberapa hari ini aku tak terhubung ke internet dan memang beberapa pekan terakhir aku lebih konsen ke multiply.

Bingung mau cerita nulis apa coz sekarang sudah malam dan cuaca di luar hujan mengguyur, yang bikin suasana nampaknya enak buat tidur. I hope kedepannya aku bisa update semua blog-ku dan berencana nambah blog baru.

See u ^_^

Januari 2026 ( Yuks Mulai Lagi!)

  Apa kabar diriku? Nggak terasa sudah 2026 ya, atau terasa banget perjalanan 2025 kemarin? Gimana berat atau kata anak sekarang "b aja...