Tampilkan postingan dengan label sisi lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sisi lain. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 November 2025

Akhirnya Tiba Juga (Perjalanan S-2)


Hari yang ditunggu akhirnya tiba, bukan sekedar ceremony atau euphoria saja melainkan perwujudan sebuah makna yang sangat dalam.

Kupenuhi janji itu, janji untuk terus melangkah, janji untuk terus belajar walaupun belajar tak semata-mata dengan sekolah formal. Aku memang pernah bermimpi bisa melanjutkan kuliah hingga jenjang S-2 tapi mimpi itu berangsur memudar saat anak-anak satu persatu lahir. Rasanya kok pesimis "ah ga mungkin", "sudahlah buat anak-anak saja nanti". Apa lagi kondisi ekonomi kami yang benar-benar sedang ditahap merintis, rasanya jika dihitung dengan matematika manusia kok nggak masuk akal. Namun ternyata takdir mengamini mimpiku walau bukan melalui jalur beasiswa seperti yang kuimpikan tapi akhirnya aku berkesempatan mengenyam bangku kuliah hingga jenjang S-2. 

Dahulu sebelum menikah aku memang pernah mengutarakan kepada calon suami jika aku masih punya janji dengan kedua orangtuaku untuk melanjutkan kuliah sampai S-1. Alhamdulillah dia tidak keberatan dan nyatanya kini dia yang mendorongku untuk melanjutkan studi hingga S-2. Dia tahu bahwa aku ingin sekali melanjutkan S-2 dengan mengejar bea siswa. Tapi setelah melalui banyak pertimbangan akhirnya suami menyarankan untuk mengambil yang mudah saja dulu. Dalam artian proses pendaftarannya tidak terlalu sulit begitu pula dengan proses kuliahnya karena aku tak perlu khawatir meninggalkan anak-anak. Masalah biaya suami menenangkanku bahwa nanti dipikir bersama, insya allah ada rejekinya. Gampang nanti kalau kesempatan beasiswa itu masih ada, kalau memang rejeki insyaallah nggak akan kemana. Okelah akhirnya kuputuskan mengambil jalur tugas belajar tanpa diberhentikan dengan konsekuensi biaya pendidikan ditanggung sendiri.

Saat itu suami sudah memberi lampu hijau, saat itu pula kesempatan seperti langsung menarikku. Alhamdulillah mulai dari semester satu hingga semester tiga akhirnya bisa terlalui walau harus gali lubang tutup lubang yang penting pas butuh pas ada. Ketemu teman-teman yang baik, dosen-dosen yang baik pula walau kadang tugasnya bikin nggak nafsu makan.  Tiga semester kemarin yang nano-nano rasanya. Kuliah online sambil diiringi backsound 3 "ajudanku" bahkan kadang sampai ketiduran saking capeknya. Kuliah offline sesekali waktu bareng teman-teman. Ngerjain tugas, presentasi yang diselingi oleh majelis ghibah yang suka ghibahin diri sendiri. Hingga akhirnya selesai juga sampai sidang tesis. Yang terpenting segala daya upaya yang sudah dikerahkan baik tenaga, pikiran, waktu dan tentunya biaya terbayar sudah.  

Diluar materi kuliah secara formal, banyak pelajaran berharga yang aku dapat selama tiga semester kemarin termasuk bagaimana menemukan kembali diriku. Insyaallah ini semua akan jadi bekalku dalam menjalankan peranku sebagai istri dan juga ibu yang lebih baik lagi. Karena bagiku pendidikan tinggi tidak semata-mata hanya untuk karir semata karena karir tertinggiku saat ini ya menjadi ibu dari ketiga calon manusia hebat pada masanya nanti. Ini sekaligus menjawab pertanyaan teman-temanku "ngapain kamu kuliah lagi katanya mau pensiun dini?". 

Suami dan anak-anak tentunya jadi saksi hidup bagaimana perjuanganku, kerelaan mereka  berbagi waktu yang aku habiskan untuk kembali belajar. Bapak dan ibu yang selalu siap sedia membantu saat aku harus menitipkan anak-anak sejenak. Rasanya masih nggak percaya aku bisa melaluinya.

Apapun pendapat, komentar ataupun nyinyiran netijen aku bodo amat. Semua ini aku yang jalani jadi selain donatur dilarang mengatur. Sekali lagi alhamdulillah aku bisa menyelesaikan apa yang sudah aku mulai, tentunya ini tak akan mudah tanpa dukungan support system yang baik. 

Selasa, 08 April 2025

Ramadhan, Jeruk Keprok dan Efisiensi Lebaran

Assalamualaikum semuanya....

Kami dari keluarga besar G. ADI S. family menghaturkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 H. Kami juga mohon dimaafkan atas segala salah dan khilaf baik dalam tutur kata atau tingkah laku kami dalam berinteraksi dan bermuamalah selama ini.


Untung teknologi sudah semakin canggih, kami yang nggak sempet bikin foto lebaran sudah dibuatkan oleh AI (hasil utak atik anak gadis). 

Bagaimana kabar puasa ramadhan kemarin?
Satu bulan yang terasa sangat singkat bagiku. Dulu saat masih kecil puasa sehari saja rasanya kok lama banget, mungkin itu juga yang dirasakan anak-anak. Tapi setelah kini aku menjadi orang tua kok rasanya jadi cepet, mungkin karena sudah terbiasa juga. Apa pun dan bagaimana pun rasa puasa ramadahan tahun ini semoga ada jejak baik yang tertinggal pada diri kita masing-masing. Alhamdulillah kakak-kakak tahun ini puasanya lancar semua dan kabar bahagianya puasa kali ini jadi puasa ramadhan pertama anak gadisku harus "bolong", sekarang kamu sudah baligh tanggung jawabmu sudah makin besar. Putri soloku juga alhamdulillah tahun ini lebih mudah untuk dibangunin sahur dan puasanya hanya bolong 2 hari karena harus ke dokter gigi. Sedangkang bujang bontot nampaknya masih berat untuk dilatih puasa. Pencapaian besarku adalah ga ada drama kesiangan sahur dan ga ada sahur pake indomie goreng alias bener-bener sebisa mungkin ga masak mie instan, hampir 90 % aku sempat masak untuk menu berbuka dan sahur sisanya ya karena beberapa kali makan diluar dan anak-anak minta pesan makanan online.

Ada apa dengan "Jeruk Keprok"?
Bagi penggemar drakor mungkin akan langsung paham dengan "jeruk keprok" yang aku maksud. Yap, serial drama yang lagi hits When Life Give You Tangerines yang menceritakan tentang kehidupan tokoh Oh Ae-sun dan Yang Gwan-sik. Drakor yang berlatar belakang kehidupan mulao tahun 60an dan benar-benar mengisahkan kehidupan rakyat pada umumnya bukan keluarga CEO yang penuh dengan kemewahan membuat drama ini terasa sangat related dengan kehidupan para penontonnya. Sosok Gwan-sik yang kini jadi sosok suami idaman tak ayal membuat para penontonya berkhayal bisa menemukan jodoh seperti Yang Gwan-sik. Aku yang bukan penggemar drakor akut jujur sangat setuju jika drama ini memang benar-benar keren. Emosi penonton dibuat naik turun, entah sudah berapa lembar tisue habis selama menonton drama ini. Pastinya banyak pelajaran yang disampaikan sepanjang alur drama ini dan semoga para penonton juga bisa mengambil pelajaran tersebut tak hanya menangis sesenggukan saja. Semoga siapa pun yang sudah menonton drama ini bisa lebih menghargai orang tua kita, pasangan kita, orang-orang disekitar kita dan kehidupan yang telah Allah berikan pada kita walau rasanya se-asam jeruk keprok tapi tinggal bagaimana kita menjalaninya, menerimanya sehingga jeruk keprok yang asam bisa jadi manis dan menyegarkan.

Lebaran dan efisiensi
Tak bisa dipungkiri kata-kata efisiensi yang digembor-gemborkan pemerintah nyatanya cukup berpengaruh juga dengan tradisi lebaran tahun ini. Menurut aku pribadi lebaran kali ini tak seramai biasanya, beberapa teman juga mengakuinya bahwa ada penurunan omset di lebaran tahun ini walau ada juga yang mengalami kenaikan. Tapi itulah hidup tak selamanya akan sama kadang naik kadang turun, kadang ramai kadang sepi. Kami sendiri bulan puasa ini full tidak ada penjualan dari kebun karena memang belum panen, memang belum rejekinya. Meski tak semeriah biasanya tapi alhamdulillah lebaran tahun ini aku dan anak-anak bisa ikut mudik ke Kota Udang menengok tanah kelahiranku setelah bertahun-tahun lebaran akhirnya tim dapur umum ikut mudik. Terima kasih buat  Pak Pres yang sudah mengijinkan dan mau jagain Eyang di rumah. Semoga lebaran tahun depan bisa berkumpul dengan lebih banyak lagi saudara sehingga anak-anak juga bisa lebih mengenal silsilah keluarga ayah dan bunda.

Semoga semunya sehat selalu, kini saatnya kembali makaryo semoga kita semua diberi panjang umur, rezeki yang berlimpah dan kembali bertemu dengan bulan ramadahan dan syawal tahun depan. Aamiin

Jumat, 14 Maret 2025

Life Begins at 40?

Mungkin kita sering atau pernah mendengar istilah "Life Begins at 40" lantas apa sebenarnya makna dari istilah tersebut?

Dikutip dari laman kompas.com (25/02/2021) menurut seorang psikolog Astrid WEN istilah itu sebenarnya untuk memberi dukungan atau semangat kepada seseorang yang memasuki "kepala 4". Namun di sisi lain ungkapan tersebut juga sebagai gambaran bahwa seseorang diusia 40 tahun sudah memasuki jenjang yang stabil dan matang, baik secara emosional maupun finansial. Jika dilihat dari karakter pada usia ini seseorang akan lebih mantap dengan dirinya, begitu pula dengan finansial, karier ataupun relasi yang dibangunnya.

Menurut pakar psikolog Elizabet B. Hurlock  masa dewasa awal atau early adulthood terbentang sejak tercapainya kematangan secara hukum sampai kira-kira usia 40 tahun. Selanjutnya adalah masa setengah baya atau midle age yang umumnya dimulai pada usia 40 tahun dan berakhir pada usia 60 tahun. Dan akhirnya, masa tua atau old age dimulai sejak terakhirnya masa setengah baya sampai seseorang meninggal. 

Sedangkan dalam Islam usia 40 tahun dianggap usia yang istimewa, dalam sebuah kajian pernah disampaikan bahwa usia 40 ini menandakan kematangan akal, fisik dan spiritual. Usia ini juga menjadi momentum untuk meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Seseorang dengan usia 40 tahun dipandang sebagai pribadi yang istimewa serta memiliki kedewasaan atau kematangan dalam berpikir maupun bersikap.

Dan saat ini aku sedang melangkah menuju kesana, menuju gerbang usia kepala 4. Rasanya diri ini menolak tua karena sejujurnya aku masih merasa muda apalagi jika bersama rekan-rekan yang memang usianya masih jauh dibawahku. Tapi aku sepenuhnya sadar memang akan tiba juga masa ini dan semoga Allah SWT sampaikan umurku disana dan aku bisa melalui fase kepala 4 dengan menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih mendekat lagi kepada Sang Pencipta Allah SWT.

Hai rekan-rekan kelahiran 86 sudah siapkah kalian memasuki fase baru ini?





Kamis, 13 Maret 2025

Yang Di Semogakan...

Pagi... hari ini 13 ramadhan

Yeay akhirnya nulis lagi di sini, setelah terakhir login awal 2022.

Masih di kantor yang sama tapi kali ini dengan suasana yang berbeda, ada yang datang dan ada yang pergi itu semua sudah sunatullah. Apapun dan bagaimanapun semoga kita bisa mengambil pelajaran dari mereka yang datang dan pergi. Tahun ini mungkin jadi tahun terkahir angka kepala 3 bersandar di deretan usiaku karena tahun depan kepala 4 sudah mulai menyapa. Rasanya kok cepat sekali waktu berlalu tapi yang paling aku syukuri bahwa Allah SWT masih memberiku banyak nikmat hingga detik ini.

13 tahun menjadi seorang istri dan 12 tahun menjadi seorang ibu yang kini diamanahi tiga buah hati yang insya allah soleh solehah. Akupun masih bisa melihat kedua orang tuaku tersenyum bahagai melihat cucu-cucu mereka. Semoga Allah panjangkan usia kami untuk bisa menikmati kebahagiaan ini, semoga Allah mengijinkan kami sebagai anak untuk bisa lebih lama lagi berbakti kepada orang tua, semoga Allah mengijinkan kami sebagai orang tua membersamai anak-anak kami dan menuntaskan kewajiban kami.

Meski dibalik itu semua tetap ada yang sedang tidak baik-baik saja tapi semoga Allah yang akan menjadikannya cukup dan mudah atas kehendakNya. Tahun ini putri sulung kami akan lulus SD jadi fix lengkaplah kami punya tiga anak di TK, SD dan SMP. Teranyata begini ya rasanya jadi orang tua, tapi kami yakin bahwa setiap anak membawa rejekinya masing-masing bahkan terkadang kami sebagi orang tua justru "nebeng" rejekinya anak.

Satu persatu Allah wujudkan mimpi kami, tidak mulus memang tapi disitulah kami memahami arti ikhtiar. Pasrah atau berserah kepada ketetapanNya atas segala upaya yang telah kami lakukan dan doa yang berusaha kami langitkan. Bismillah semoga tahun ini semuanya akan lebih baik lagi, ikhtiar dan doa lebih kenceng lagi dan karunia serta rahmatNya selalu dilimpahkan pada kami. Aamiin
 

Sabtu, 15 Januari 2022

Get Well Soon My Sweety

 



Ini adalah catatan pertamaku di tahun 2022, catatan pertama yang diawali dengan kesedihan. Kesedihan karena tulisan ini aku buat saat sedang menemani putri sulungku yang harus terpaksa di rawat di rumah sakit. Siapapun pasti tak ada yang mau di rawat di rumah sakit, membayangkannya saja enggan, lengan disuntik jarum infus, tiap hari makan makanan rumah sakit yang terasa hambar, dunia rasanya hanya sebatas kamar saja.

Berawal dari hari Senin pagi saat tiba-tiba tanganku bersentuhan dengan putri sulungku yang terasa lebih hangat dari biasanya. Langsung saja kuraba dahi dan lehernya dan memang terasa lebih hangat, untung saja hari itu jadwal dia belajar di rumah. Seperti biasa pagi-pagi anak-anak kubawa ke rumah mbahnya untuk ku tinggal ke kantor kecuali putriku yang nomor dua yang memang harus berangkat sekolah. 

Sore harinya si kakak terlihat mulai lemas, aku hanya memberikannya parasetamol. Aku pikir ini akibat kemarin dia bermain air telalu lama dan mungkin kondisi perut yang kosong jadi masuk angin biasa. Keesokan harinya demam mulai naik turun berkisar diangka 38-39 lebih, akhirnya kami membawanya ke dokter keluarga tapi setelah dua hari tetap belum ada perubahan dan demamnya sempat naik sampai 40 setelah turun hingga 37, 7. Pikiranku mulai kalut, tiga hari demam naik turun biasanya tipes/DBD, malam itu juga kami bawa ke dokter spesialis anak langganan kami dan malam itu juga dokter menyarankan untuk rawat inap saja di rumah sakit. Tangis putriku pecah di ruang praktek dokter, dia menjerit-jerit tidak mau dibwa ke rumah sakit dan ingin pulang saja ke rumah. Namun melihat kondisinya yang sudah makin lemas kami tetap memutuskan untuk membawanya ke IGD. 

Diantar mbah kakung kami menuju IGD terdekat, digendong ayahnya putriku langsung mendapat penanganan di IGD sedangkan aku harus menggendong si bungsu yang tidak mau ditinggal di rumah bersama mbah uti. Terdengar jelas tangisan dan teriakannya dari dalam ruang IGD yang memanggil-manggil diriku. Kutitipkan si bungsu dengan mbah kakakungnya dan segera berlari ke dalam ruang IGD memeluk putriku yang menangis saat akan dipasang jarum infus. Sungguh persaanku bercampur aduk saat itu, rasanya seperti mimpi harus kembali ke tempat itu. Hanya dzikir dan doa yang berusaha terus kupanjatkan semoga semuanya akan segera baik-baik saja.

Sambil menunggu pindah ke ruang perawatan akhirnya kami memutuskan untuk sementara waktu aku yang menemani putriku sedangkan suami pulang dahulu bersama si bungsu dan mbah kakung sekaligus menyiapkan keperluan yang akan dibawa. Malam pertama suami yang menemani di rumah sakit karena si bungsu juga sedang agak demam karena baru saja imunisasi, malam itu untuk pertama kalinya setelah sekian purnama aku mengendarai motor tengah malam pulang  ke rumah. Jalanan yang sepi membuat perasaanku makin tak karuan, lagi-lagi hanya doa dan dzikir yang bisa kulafazkan sepanjang perjalanan berharap badai ini segera berlalu. Aku hanya terus meyakinkan diri bahwa Allah memberikan ujian tak akan melebihi batas kemampuan hamba-Nya.

Dari dugaan awal tipes kini diagnosa dokter beralih ke DBD karena jumlah trombosit yang menurun dari 151 dihari pertama masuk rumah sakit menjadi 134 di hari berikutnya. Dokter berpesan untuk menjaga asupan yang masuk, makanannya agar dihabiskan. Namun saat sehat saja putriku termasuk yang picky eater apalagi kondisi sakit saat ini, rasanya membuatku jadi makin cerewet. Banyak yang menyarankan untuk mengkonsumsi jus jambu dan sari kurma yang kutahu rasanya enak, tapi kenyataannya bagi putriku yang sama sekali tak doyan buah itu bukan hal menyenangkan untuk dilakukan. Jangankan minus jus jambu dan sari kurma, buat ngabisin jatah makan saja butuh perjuangan yang luar biasa.

Diluar itu semua aku sendiri terus berusaha menguatkan diriku sendiri karena aku harus bisa menguatkan putriku. Meski tak kupungkiri ada sisi dimana aku merasa terpuruk melihat kondisi putriku yang lemas seolah tak berdaya, tapi sekali lagi aku harus kuat dihadapan dia. Untuk sementara waktu kedua adiknya kutitipkan bersama kedua orang tuaku karena aku dan suami harus berbagi jadwal untuk menjaga si kakak di rumah sakit.

Semoga Allah segera mengangkat sakitmu nak dan kamu bisa kembali ceria seperti biasanya, bunda kangen lihat kamu yang senang pecicilan dan hobi banget bikin telur omlet buat ngemil bareng adek-adekmu. get well soon sayang


Selasa, 03 Agustus 2021

Why MVC?


 



MVC = Model View Controller
Adapun definisi MVC adalah pola arsitektur pada perancangan perangkat lunak yang berorientasi objek. Tujuan dari MVC adalah untuk memisahkan antara tampilan, data dan proses. Dalam hal ini controller memegang peran utama untuk mengatur alur proses dengan model sebagai data dan view sebagai tampilan.

Why MVC?
  • Organisasi dan struktur kode
  • Pemisahan logic dan tampilan
  • Perawatan kode
  • Implementasi konsep OOP
  • Digunakan oleh banyak Web Application Framework
Untuk lebih jelasnya lagi tentang MVC bisa dilihat pada skema di bawah ini:  



Berikut ini beberapa catatan penting dari apa yang telah kita pelajari sekilas tentang MVC:

Model = Data
    • Representasi Pengetahuan
    • Mengelola Data
    • Logika Bisnis 
View = Tampilan
    • Output, apa yang dilihat oleh user
    • Representasi visual dan model
    • Lapisan presentasi
Controller = Proses
    • Perantara antara model dan view
    • Menangani pemrosesan pada aplikasi
    • Menangani aksi dari user

Untuk penjelasan lebih lengkapnya bisa disimak di channel Web Programming UNPAS tentang MVC

Selamat belajar, tetap semangat dan semoga bermanfaat. Terima kasih

Senin, 02 Agustus 2021

Apa Sih Git dan GitHub?



Setelah postingan sebelumnya saya menulis tentang roadmap seorang web developer. Kali ini saya akan menuliskan dan membahas salah satu komponen dari roadmap tersebut.

Saya akan menulis tentang Git daan GitHub, yang mana saya sendiri juga baru berkenalan dengan aplikasi ini. Jadi di sini kita sama-sama belajar saja karena saya hanya akan berbagi dari apa yang telah dan sedang saya pelajari.

Sebelumnya saya tekankan di sini bahwa Git dan GitHub adalah dua hal yang berbeda dan terpisah, jadi kita bisa menggunakan aplikasi tersebut secara terpisah atau bahasa lainnya tidak harus digunakan secara bersamaan.

Version Control System (VCS)

Ada yang harus kita pelajari terlebih dahulu sebelum mengenal Git dan GitHub yaitu Version Control System (VCS). VCS biasa disebut juga source code management adalah sistem yang mengelola perubahan dari sebuah dokumen. Dokumen tersebut bisa berupa source code atau program komputer, website atau informasi lainnya. Apa sih latar belakang atau alasan kenapa kita perlu menggunakan VCS?

Beberapa hal yang menjadi alasan atau latar belakang mengapa diperlukannya VCS antara lain:

1. Bagaimana melacak history perubahan pada suatu dokumen?

2. Bagaimana untuk membuat version file  misal dari sebuah program yang kita buat?

3. Bagaimana agar satu dokumen dapat dikerjakan secara tim atau kolaborasi anatara beberapa orang secara bersamaan?

4. Bagaimana jika kita ingin berbagi source code atau opensource dari program yang kita buat?


Untuk itu kita butuh sebuah Version Control System (VCS):

- Sebuah sistem yang menyimpan (rekaman/ snpashot) perubahan pada sebuah file/ source code

- Memungkinkan untuk bekerja secara berkolaborasi dengan lebih baik

- Kita dapat mengetahui siapa yang melakukan perubahan dan kapan perubahan tersebut dilakukan

- Memungkinkan kita untuk kembali pada perubahan sebelumnya atau ke keadaan sebelum perubahan (chekout)


Macam-macam VCS:

- GIT

- Subversion

- Mercurial

- CVS


GIT

Sekarang kita coba mengenal lebih dekat apa itu Git. Git adalah sebuah VCS terdistribusi untuk mengelola file dalam folder yang disebut repo/ repository. Penjelasan atau keterangan lebih lengkapnya mungkin bisa dibaca di halaman wikipedia tentang Git.

Pada Git kita akan bekerja dalam folder yang disebut repository/ repo. Riwayat perubahan yang terjadi pada file yang kita simpan dalam repo akan disimpan dengan sebuah commit dengan menggunakan sebuah penanda unik yang disebut hash. 

Secara singkatnya dapat kita katakan bahwa 1 commit = 1 snapshot = 1 perubahan = 1 hash


GitHub

Sekarang kita akan coba mengenal tentang GitHub, adalah sebuah website layanan cloud untuk menyimpan/ mengelola project/source code. di GitHub kita bisa melakukan apa yang ada di GIT tapi bedanya semuanya dilakukan secara online. Penjelasan atau keterangan lainnya seperti biasa bisa dibaca di wikipedia tentang GitHub

Namun jika di komputer kita diinstal Git maka kita bisa mengirim project yang ada di Git ke GitHub dan juga sebaliknya kita bisa mengambil project yang ada di Git Hub untuk di simpan di Git. Proses tersebut bisa kita lakukan dengan syarat repo yang ada di GitHub kita clone untuk kita simpan di Git sehingga kita bisa bekerja dengan remote. Dengan kata lain kita bisa mengerjakan project kita secara lokal di komputer kita menggunakan Git dan selanjutnya project tersebut bisa kita kirim ke akun GitHub agar bisa dilihat bersama.

Demikian sekilas penjelasan tentang apa itu Gut dan GitHub dari apa yang sedang saya pelajari, penjelasan lengkapnya mungkin bisa dilihat di channel youtube Web Programming UNPAS tentang Git & GitHub

Berikut ini beberapa daftar istilah dari apa yang telah kita pelajari:

- VCS

- Git

- GitHub

- Repo/Repository, folder

- Commit, menyimpan perubahan pada suatu file

- Hash, penanda unik untuk setiap commit

- Checkout, beralih ke commit sebelum perubahan

- Branch, cabang dari sebuah commit

- Merge, menggabungkan beberapa branch

- Remote, sumber yang memeiliki repo untuk bisa melakukan clone

- Clone, membuat repo yang sama di lokal komputer kita (Git) dengan yang ada di GitHub

- Push, mengirim commit

- Pull, mengambil commit


Selamat belajar, tetap semangat dan semoga apa yang saya bagi di sini bisa bermanfaat. Terima kasih



Kamis, 29 Juli 2021

Roadmap Seorang Web Developer (Ternyata Panjang Juga)

Bismillah...

Tulisanku kali ini memang tidak seperti biasanya yang berisi seputar kontemplasi kehidupan tapi ini bukan pertama kalinya aku menulis tentang teknologi informasi yang sesuai dengan latar belakang pendidikanku sebagai alumni Mahasiswa Teknik Informatika.

Sebelumnya apa yang aku tulis ini mungkin sudah banyak di tulis di berbagai media. Tujuan utamaku menuliskannya sebagai bagian dari content di rumah mayaku adalah agar apa yang aku pelajari lebih melekat di ingatan karena jujur aku yang sudah sering kali pelupa. Selai itu dengan menuliskannya di sini bisa menjadi referensi baik bagi aku pribadi atau siapa pun yang kebetulan mampir di rumah mayaku ini.

Baiklah setelah lebih dari sepuluh tahun terjun di dunia kerja yang sebagian besar pekerjaannya justru jauh dari apa yang dulu pernah aku pelajari saat kuliah. Maka kali ini aku ingin kembali merefresh ilmu-ilmu yang sebenarnya juga bisa dimanfaatkan dalam melakukan tugas-tugas kedinasanku.

Kali ini aku ingin kembali mempelajari web programing yang sebetulnya bukan hal baru tapi setelah sekian tahun tak pernah lagi berkutat di sana ternyata sudah teramat jauh dan pesat perkembangan teknologi di dalamnya. Berdasarkan saran dari rekan kantorku maka aku mengikuti sebuah channel youtube Web Programming UNPAS sebagai tutorial dan salah satu referensi dalam belajar. 

Baiklah untuk pertama kita akan belajar dahulu sebenarnya bagaimana sih roadmap (peta jalan) untuk menjadi seorang Web Developer.  Dalam vidionya, Sandika Galih menjelaskan peta jalan seorang Web Developer yang dibuat oleh Kamran Ahmed. Jadi sebelum kita ingin menjadi seorang web developer ada beberapa hal yang seharusnya kita kuasai terlebih dahulu baik untuk front-end atau back-end developer atau keduanya. 

Namun sebelumnya sangat disarankan adalah kita mempelajari bahasa inggris terlebih dahulu karena sebagian besar dokumen/ literatur tentang teknologi informasi adalah menggunakan bahasa inggris. Ini yang jadi PR besar buatku yang masih lemah banget soal bahasa inggris. ayo semangat!

Oke, yang harus kita pelajari:

  1. Git - Version Control
  2. Basic Terminal Usage
  3. Struktur Data (mempelajari perilaku dan membuat type data dari yang primitif hingga kompleks)  Algoritma ( mempelajari problem solving, sebelum  membuat software atau coding sebaiknya problemnya sudah solving/ terselesaikan terlebih dahulu). Sebaiknya pelajari menggunakan Javascript dan Python
  4. GitHub
  5. Licenses (bagaimana membuat lisensi program)
  6. Semantic Versioning (bagaimana membuat version dari program kita)
  7. SSH (bagaiman agar terhubung secara remote ke server)
  8. HTTP/ HTTPS, APIs (web pasti tersimpan di protokol ini)
  9. Design Patterns (YAGNI, KISS, SOLID) bagaimana membuat source code kita simple, efektif dan efisien.
  10. Character Encodings(jika ingin membuat program berskala internasional maka harus mempelajari karakter encoding di berbagai bahasa)
Mungkin itu sepuluh poin penting yang sebaiknya kita pelajari terlebih dahulu sebelum kita mempelajari lebih lanjut web development. Sah-sah saja jika kita ingin langsung mahir coding dan mengembangkan website di berbagai platform. Namun alangkah lebih baik jika dasar atau fundamentalnya dikuatkan terlebih dahulu.

Berbagi pengalaman saja saat awal kuliah dahulu , aku sangat tertarik dengan web development. Pertama kali aku bikin web statis dengan microsoft frontpage tahun 2004 dan terus berlanjut hingga berkenalan dengan php. Namun sayang semuanya terhenti saat memasuki dunia kerja yang membuatku jarang lagi bersentuhan dengan web development. Mungkin karena basic yang belum terlalu aku kuasai betul akhirnya ilmu itu menguap begitu saja. Meski jika kembali direfresh masihlah bisa sedikit-sedikit mengingatnya. Jadi saranku bagi yang baru mulai belajar silahkan untuk memperkuat dulu fundamentalnya dan mempelajari hal-hal yang disebutkan di atas.

Untuk lebih lanjutnya silahkan kunjungi chanel Web Programming UNPAS dan kalian bisa belajar banyak di sana. Selamat belajar dan tetap semangat 😊

Sumber: https://github.com/kamranahmedse/developer-roadmap



Kamis, 29 April 2021

Jujur Aku Masih Trauma

Diawali dengan putri sulungku yang tiba-tiba muntah di sekolah setelah dua kali mulai kembali tatap muka. Untungnya setelah itu kembali belajar di rumah dikarenakan dipakai untuk kelas enam ujian. selag beberapa hari setelah muntah-muntahnya reda lanjut dengan batuk pilek terpaksa kami mebawanya ke dokter keluarga agar tidak berlarut-larut. Alhamdulilah kondisinya sudah mulai membaik dan bisa puasa lagi.

Tak berselang lama ternyata kini giliran bunda dan adik-adiknya yang ketularan batuk pilek. Mendadak peristiwa setahun silam teringat kembali di ingatanku, kurang lebih satu bulan setelah pandemi menyapa daerah kami. Aku harus tiga kali bolak balik rumah sakit, pertama saat melahirkan, kedua saat putri keduaku dirawat dan ketiga saat si bayi harus masuk NICU. Dalam satu bulan aku harus melalui itu semua dan kini saat mereka bertiga kembali sakit disaat bersamaan rasanya aku masih trauma. Terpaksa aku mengambil cuti sementara demi menemani mereka yang ingin selalu bersama bundanya.

Semoga kali ini tak harus seburuk dahulu, sakit disaat pandemi memang membuatku merasakan stigma negatif itu. Semoga lekas sehat anak-anakku sayang sunguh bunda khawatir, semoga kita bisa melalui ini bersama seperti dahulu kala. Aamiin



Senin, 05 April 2021

Aku Akan Terus Menulis

            Sejak kita mulai masuk bangku sekolah pasti kita akan diajari menulis jadi jika ada yang bilang tidak bisa menulis itu rasanya tak mungkin. Menulis dalam artian tak sekedar menuliskan huruf diselembar kertas memang bukan hal baru buatku. Sejak SD aku memang sudah menyukai menulis, aku senang jika awal masuk sekolah setelah liburan panjang karena pasti akan diberi tugas mengarang. Jika teman-temanku masih suka bingung untuk sekedar memenuhi satu halaman folio maka aku bisa mengarang sampai penuh empat halaman folio. Memang tulisan tanganku tak indah dan mungkin masih belum menggunakan kaidah kepenulisan yang benar tapi bagiku yang penting ya tulis saja apa yang aku pikirkan dan rasakan.

            Saat kelas lima SD aku mulai tertarik menulis diary setelah membaca beberapa diary milik Bapak yang masih tersimpan sampai sekarang.  Entah sudah berapa buku diary yang aku punya, tapi saying justru setelah menikah aku jadi jarang menulis diary. Sejak tahun 2006/2007 aku lupa pastinya aku mulai mengenal blog namun sayang blog pertamaku di multiply sudah hangus tak tersisa tanpa sempat kuselamatkan kisah-kisah yang ada disana.

            2009 Sekembaliku dari perantauan ke kampung halaman aku beralih dan membangun kembali tumah mayaku di blogspot.com hingga sekarang. Aku juga sempat bergabung dengan teman-teman Forum Lingkar Pena dan Rumah Baca Asmanadia meski sayang setelah menikah dan disibukan dengan ketiga buah hatiku terpaka harus aku tinggalkan. Sempat juga bergabung dengan Pejuang Literasi dan menghasilkan 3 buah antologi. Meski tak aktif lagi di FLP namun sebentar lagi antologi kedukau bersama FLP Tegal insya allah akan segera rilis. Kemarin bersama 30DWC maka menggenapkan 10 antologiku untuk itu aku bulatkan tekad mengikuti 30 HMBP untuk bisa merilis karya pribadiku yang aku harap bisa menjadi buku solo pertamaku nanti.

            Isi tulisannku memang lebih terkesan curhat dan semacamnya dan akhirnya baru kusadari bahwa ini menjadi self healing buatku dalam menghadapi beraneka persoalan hidup selama ini. Dengan menulis perlahan aku bisa memahami dan memaknai setiap garis takdir yang sempat aku sesali atau hikmah dibalik setiap peristiwa yang harus aku lalui. Aku yang cenderung tak mudah bergaul apalagi jika harus bicara didepan umum, berbicara jujur dihadapan orang tuaku saja buatku butuh usaha keras. Sempat ada yang mengatakan bahwa aku autis karena terlalu asyik dengan  duniaku sendiri. Sempat terpikir apakah aku salah jurusan masuk kuliah di Teknik Informatika tapi kok sukanya nulis yang nggak nyambung sama sekali dengan backgroundku itu.

            Terserah bagaimana pandangan orang tentang diriku yang pasti aku akan tetap menulis apa yang ingin aku tulis. Sekali lagi, ‘If you don’t know who I’m don’t judge me’ aku senang dan menikamati duniaku ini dan aku berusaha tak menyesali apa yang dulu sudah terjadi padaku. Semoga lewat tulisanku ada hikmah yang bisa dipetik oleh siapa pun yang membacanya dan mereka bisa belajar dari apa yang aku alami tanpa arus mengalaminya langsung.  Akan selalu ada makna dibalik setiap peristiwa, untuk itu aku akan terus menulis.

Senin, 28 Desember 2020

Akhirnya Kumenemukanmu (ART)

Alhamdulillah masih bisa diberi kesempatan bertemu dengan hari senin terakhir di tahun 2020 ini. Semoga pekan terakhir di bulan Desember tahun 2020 ini bisa terisi dengan hal-hal yang bermanfaat dan menjadi momentum untuk bisa lebih baik lagi ditahun depan.

Suasana di kantor terasa tidak seramai biasanya karena beberapa ada yang mengambil cuti dan ada pula yang sedang WFH. Aku pun rasanya berat  saat pagi tadi akan meninggalkan anak-anak setelah libur beberapa hari kemarin. Tapi tugas dan tanggung jawabku di kantor tak bisa kutinggalkan begitu saja terlebih tahun ini aku sudah cukup banyak mengambil cuti dikarenakan kehilangan ART.

Tapi hari ini "Akhirnya kumenemukanmu...". Setelah pencarian panjang yang cukup melelahkan (lebay dikit nggak apa ya) akhirnya aku menemukan juga pengasuh untuk anak-anakku. Bismillah setelah berbagai ikhtiar selebihnya kuserahkan semua kepada Allah SWT. Semoga dengan kehadiran pengasuh baru ini bisa membantu meringankan tugasku yang sempat dibackup oleh ibuku. 

Walau sempat galau diawal saat akan mulai mencari pengasuh dimasa pandemi ini tapi insya allah kali ini aku harus yakin karena tak mungkin seterusnya akan merepotkan bapak/ ibuku diusia senjanya. Memang tak dipungkiri sehari saja cucu-cucunya tak berkunjung kerumah maka ibuku pasti langsung menelponku ingin mendengar suara cucu-cucunya. Maka dari itu meski saat ini sudah ada pengasuh anak-anak tetap aku titipkan di rumah orang tuaku sehingga tak kubiarkan anak-anak hanya dengan pengasuh saja, ada mbah uti  dan mbah kung yang ikut mengawasi. 

Untuk ibu bekerja sepertiku ini masalah asisten rumah tangga/ pengasuh memang tak mungkin bisa dihindari dan memang inilah konsekuensi yang harus kita hadapi atas pilihan kita untuk menjadi ibu bekerja. Tak usah merasa berkecil hati atau merasa bersalah atas langkah yang sudah kamu ambil, tak usah pedulikan segala macam omongan nyinyir yang hanya bisa menghakimi tanpa memberi solusi. Bagaimanapun seorang ibu pasti ingin melakukan yang terbaik untuk buah hatinya maka lakukan semampunya jangan pernah memaksakan standar orang lain pada diri kita.

Tetap semangat, tetap bersyukur dan tetap jaga kesehatan. Salam hangat untuk ibu-ibu hebat dimanapun berada.

Di kantor bunda sebelum ada pandemi


Rabu, 18 November 2020

Ikatan Cinta (Kita)

Berawal dari melihat beberapa status whatsapp teman-teman yang seringkali mengunggah sosok ini akhirnya aku pun penasaran. Sosok yang saat ini sedang menjadi idola kaum hawa terutama pecinta sinetron. Aku yang memang jarang bahkan hampir tak suka sinetron, kali ini harus mengakui bahwa aku ikut terhipnotis. 

Tak menampik bahwa sosok Aldebaran yang dibawakan oleh Arya Saloka memang benar-benar seolah nyata dan dibawakan sangat apik. Dipasangkan dengan Amanda Manopo sebagai Andin setiap adegan yang mereka perankan begitu dapet chemistrinya. Eits, sebenarnya aku bukan mau membahas sosok yang mereka perankan atau pun sosok mereka dalam kehidupan nyata karena aku baru tahu mereka setelah menonton sinetron #Ikatan_Cinta ini. Setelah lama absen dari dunia infotaiment aku memang tak hafal artis-artis jaman sekarang, tahunya paling Anjasmara, Teuku Ryan (ketahuan deh angkatan berapa). 

Oke balik lagi ke Ikatan Cinta, jujur aku tertarik dengan alur ceritanya yang terasa real di kehidupan nyata meski ada yang bilang itu drakor banget, okelah mungkin ada bumbu-bumbu. Ibarat masakan kan ga sedep kalau bumbunya kurang, tapi dari alur cerita intinya aku suka banget semoga ga dibuat sesion-sesion selanjutnya yang akhirnya ceritanya jadi tidak karuan. 

Melihat apa yang dialami Andin aku seperti dilemparkan ke beberapa tahun silam dimasa awal-awal pernikahanku, bukan maksud membuka urusan rumah tangga ke publik aku hanya berharap dengan tulisan ini bisa memberikan pelajaran bagi siapa saja yang membacanya. 

Disatukan dalam ikatan cinta (pernikahan) melalui proses perjodohan memang bukan hal mudah meski mungkin ada beberapa pasangan yang tak mengalami kesulitan beradaptasi. Aku yang benar-benar pertama kali mencium tangannya saat Ijab Qobul selesai tak pernah membayangkan akan melalui masa-masa itu semua. Proses adaptasi yang tak semudah membalikan telapak tangan yang tak pelak menimbulkan gesekan-gesekan diantara kami. Karakter suami yang cenderung keras dan cuek sungguh membuatku yang sangat perasa ini nyaris kehabisan air mata (lebay dikit boleh ya). 

Menyatukan dua isi kepala yang berbeda memang tak mudah tapi aku masih yakin itu bisa diselaraskan, berkali-kali aku meminta suamiku merubah sikapnya yang tak aku suka dan berkali-kali itu pula kemarahan suami meledak. Kami yang saat itu masing mengedepankan ego masing-masing seperti sedang ada ring tinju. Aku yang cenderung tak suka keributan lebih memilih diam dan menuliskan semua isi hati di diary, tak jarang aku menulis surat untuk suamiku jika kami sedang marahan karena aku tipe yang tidak bisa bicara langsung yang ada nantinya hanya air mata yang keluar bukan kata-kata. Namun akhirnya kini atas dorongan suami aku belajar untuk bisa bicara langsung jika ada masalah diantara kami, suami yang selalu memotivasiku (memancingku) untuk mau bicara langsung. 

Meski terlihat adem ayem saja tapi kami pun pernah melalui masa paling menakutkan (buatku) sesaat setelah kelahiran putri kedua kami dan rasanya aku tak ingin lagi mengingat-ingat masa itu dan berharap tak akan terulang lagi. Kini suamiku masih tetap dengan karakternya yang keras dan cuek, kami pun masih sering berbeda pendapat namun seiiring berjalannya waktu ketika aku mulai belajar menerima semua takdir-Nya untukku ini, aku merasakan banyak perubahan dalam diri suamiku. Aku berusaha untuk menerima sosok lelaki yang kini sebagai ladang ibadahku seutuhnya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Hal-hal kecil yang mungkin terlihat biasa buat pasangan lain seperti membalas sms/wa, menjawab telpon/ telpon balik justru kini jadi hal yang spesial buatku karena dulu jarang banget dilakukan suamiku, dan masih banyak lagi hal-hal istimewa lainnya yang seiring waktu seperti jadi kejutan indah buatku. Dibalik sosok kerasnya aku yakin suamiku adalah sosok yang sangat penyanyang apalagi sama anak-anak, meski tak pernah terucap oleh kata tapi aku bisa merasakannya disaat dia memelukku.

Karena keras tak bisa dilawan dengan keras, mungkin seperti cerita dalam sinetron kenapa ada sosok istri yang lemah masih mau-maunya ditindas oleh suaminya bahkan sampai ada KDRT (alhamdulillah kalau aku sih ga sampai ada KDRT). Itu bukan hanya cerita sinetron tapi memang sungguh terjadi di kehidupan nyata dan aku pun pernah mengalaminya. Teruntuk para istri yang saat ini sedang berjuang mempertahankan rumah tangganya, yakinlah selama suami kita masih punya iman (masih mau sholat) dan tidak pernah menyuruh kita melakukan hal-hal yang dilarang agama maka teruslah berjuang untuk merengkuh hatinya. Mintalah hanya pada Allah yang Maha Membolak-balik hati hamba-Nya. Jangan pernah menyuruh atau menuntut suami berubah seperti yang kita minta tapi cobalah kita untuk berubah menjadi istri yang lebih baik lagi dengan melakukan hal-hal yang seharusnya seorang istri lakukan pada suaminya. Insya Allah janji Allah itu nyata bagi orang-orang yang sabar, selamat berjuang semoga Allah swt selalu meridhoi Ikatan Cinta kita hingga ke surga-Nya kelak. Aamiin
Ket: Foto diambil saat belum ada si bungsu 😘

Senin, 21 November 2011

Hanya ingin bernagi sedikit hikmah*

Rasanya sudah lama sekali tak bermain kata-kata, dan malam ini Alhamdulillah aku diberi kesempatan berdua dengan "si putih", banyak yang ingin kubagi dengannya dan sebagian sengaja aku tuliskan di note ini dan tentunya blog pribadiku.

Bulan ini sungguh bulan ujian bagi kami khususnya untuk kedua orang tuaku, karena sudah setengah bulan ini kami diberi amanah oleh-Nya untuk merawat mbah putri (Ibu dari bapak) yang mendadak harus dirawat di rumah sakit. Siapapun pasti tak menginginkan itu seenak apapun, rumah sakit tetap jadi tempat yang tidak menyenangkan. Di usianya yang 81 tahun ini pertama kalinya mbah putri harus dirawat di rumah sakit, biasanya kalau beliau sakit hanya mengandalkan obat tradisional atau air (yang sudah didoakan oleh pak ustadz). Satu minggu pertama di rumah sakit sudah sangat terlihat mbah putri sudah tidak betah dengan selang infus yang tertancap ditangan kanannya.

Banyak hikmah yang aku petik selama dua pekan ini, sungguh Allah memang Maha Pembuat Skenario Terbaik. Untuk menghadapi peristiwa ini ternyata Allah telah mempersiapkan skenarionya jauh sebelumnya, mungkin sejak tiga tahun yang lalu. Dimana saat itu tahun 2008 bapak dan ibu berusaha membujukku sebisa mungkin untuk mau kembali kerumah (tinggal dan bekerja di daerah asalku). Setelah melalui diskusi yang tak singkat akhirnya dengan berat hati kulangkahkan kaki kembali ke kampung halaman hanya dengan niat membahagiakan keduanya untuk mendapat ridho-Nya, bukankah ridho Allah ridho orang tua?

Kini dua tahun telah berlalu sejak kepindahanku (2009), dan Allah-pun menyampaikan hikmah itu mengapa aku harus kembali kesini (kerumah). Allah ingin aku mendampingi kedua orang tuaku menghadapi saat-saat berat ini, meski mungkin aku tak bisa banyak membantu merawat mbah putri namun setidaknya keberadaanku bisa memberikan dukungan moril untuk kedua orang tuaku dalam merawat mbah putri. Aku yang dulu sungguh sama sekali takut mengendarai motor, ternyata sekarang harus jadi seksi mondar-mandir selama mbah sakit, aku yang tak pernah ingin jadi perawat ternyata mau tak mau harus belajar mengurus mbah putri (ketika ibu sendiri jatuh sakit). Sungguh sesuatu yang dulu tak aku inginkan ternyata akhirnya kini sangat aku syukuri karena bisa berada dekat dengan kedua orang tuaku. Semoga bagi siapapun yang kini diamanahi untuk berada dekat (merawat) orang tuanya tidak menjadikan itu beban melainkan amanah yang Insyaallah jika dijalani dengan ikhlas semoga menjadi berkah bagi kita.

Ya Allah sungguh hanya Engkau sebaik-baiknya pelindung dan pemberi pertolongan maka kami hanya memohon kepada-Mu atas kesembuhan mbah putri semoga sakitnya ini menjadi penggugur dosa-dosanya dan semoga ini jadi ladang pahala bagi kami anak cucunya untuk bisa merawat beliau dengan sebaik mungkin semampu kami. Semoga Allah selalu memberikan kami kekuatan, kesabaran dan keikhlasan melalui ujian ini sehingga setiap yang kami lakukan bisa menjadi berkah. Amin...

Terima kasih untuk saudara-saudara, teman-teman dan seluruh pihak yang hingga kini memberikan dukungan dan doa bagi kesembuhan mbah putri semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baik pembalasan.

Dan mohon maaf yang sebesar-besarnya untuk teman-teman atau pihak-pihak yang mungkin agak terabaikan selama beberapa pekan ini, semoga aku bisa segera aktif kembali, normal seperti sediakala.

Mohon doanya untuk kesembuhan mbah putri... Terima Kasih.

*)Meluangkan waktu sejenak setelah lama tak menulis, semoga ada hikmah yang bisa dipetik.

Minggu, 25 September 2011

Take Me To Your Heart (MLTR)

Take Me To Your Heart (MLTR)

Hiding from the rain and snow
Trying to forget but I won't let go
Looking at a crowded street
Listening to my own heart beat

So many people all around the world
Tell me where do I find someone like you girl

[Chorus]
Take me to your heart take me to your soul
Give me your hand before I'm old
Show me what love is - haven't got a clue
Show me that wonders can be true

They say nothing lasts forever
We're only here today
Love is now or never
Bring me far away

Take me to your heart take me to your soul
Give me your hand and hold me
Show me what love is - be my guiding star
It's easy take me to your heart

Standing on a mountain high
Looking at the moon through a clear blue sky
I should go and see some friends
But they don't really comprehend

Don't need too much talking without saying anything
All I need is someone who makes me wanna sing
[Chorus]

Sabtu, 03 September 2011

Ini lebaranku, bagaimana Lebaranmu? ^_^

            Alhamdulillah…akhirnya sampai juga di rumah dan bisa menuliskan sedikit pengalaman lebaran kemarin. Jadi teringat saat di bangku SD, hari pertama masuk setelah liburan pasti akan diberi tugas mengarang tentang liburanmu ^^.

            Setelah beberapa tahun terakhir aku merayakan malam lebaran di rumah dan melaksanakan sholat Ied di masjid komplek rumahku, akhirnya tahun ini aku kembali bisa merasakan suasana lebaran di tanah kelahiranku. Sejak kecil aku memang selalu menghabiskan malam lebaran di kampung halaman ibuku ini namun setelah aku kuliah malam lebaran lebih sering dilewatkan di rumah.   Aku sekeluarga brangkat menuju kota udang dua hari sebelum hari raya, kami sengaja memulai perjalanan ba’da subuh agar perjalanan lebih nyaman. Beruntung arah yang kami tuju berlawan dengan arus mudik sehingga kami tak harus mengalami kemacetan seperti yang sering diberitakan di tayangan info mudik.

            Kami sampai di halaman rumah “pusaka” kurang lebih pukul setengah delapan pagi, mengapa dikatakan rumah pusaka karena itu adalah rumah orang tua dari ibuku tapi sekarang yang menempati tinggal Mbah Putri sendiri. Beruntung di dekat rumah pusaka ada rumah om/tante, bude/pade sehingga Mbah Putri tidak terlalu kesepian. Sampai di sana sepertinya orang-orang mulai sibuk membersihkan rumah untuk menyambut lebaran, ada yang menyapu halaman, membersihkan kaca dan sebagainya. Tapi saat kami masuk ke rumah pusaka rasanya lantai yang kami injak sudah lama tak disapu, terasa sekali debu yang menempel.

            Kata Mbah Putri memang sudah lama tak turun hujan dan juga anginnya sedang cukup kencang sehingga debu mudah sekali berterbangan, selain itu bisa dimaklumi juga mungkin tenaga Mbah Putri sudah terlalu tua untuk setiap hari menyapu lantai rumah peninggalan belanda itu. Maka jadilah pagi itu aku dan adikku membantu Mbah Putri menyapu dan mengepel lantai, sedangkan ibu membereskan kamar-kamar kosong yang selama beberapa hari kedepan mungkin akan penuh karena kedatangan anak-anak Mbah Putri lainnya.

            Menjelang hari raya kesibukan di dapur mulai meningkat terlebih setelah lebaran memang akan ada silaturahmi tahunan keluarga besar Mbah Putri dan kali ini giliran ibuku yang bertugas sebagai tuan rumah sehingga ada hal-hal ekstra yang perlu dipersiapkan. Dapur Mbah Putri jadi berubah seperti dapur umum, dapur yang cukup luas namun masih asli dengan lantai dari tanah, tungku dan kompor minyak hanya saja sekarang ada kompor gas juga di sana. Aku yang mendapat tugas menggoreng kerupuk nyaris dehidrasi karena harus berlama-lama di depan kompor (puanaseeeee…) selain itu udara di sana memang panas banget.

            Akhirnya yang dinantipun tiba, malam itu semua perbedaan menyatu dalam gema takbir yang mengagungkan kebesaran Allah SWT. Iring-iringan takbir keliling membuat jalanan desa yang memang tak terlalu lebar jadi macet sejenak, kembang api dan petasan tak henti-hentinya dinyalakan di depan lapangan balai desa dan cukup memekakkan telinga sampai Mbah Putri berkali-kali protes. Ingatanku tiba-tiba seperti ditarik mundur pada belasan tahun silam saat kami (aku dan sepupu2ku) masih kecil dan saat itu masih ada Mbah Kakung, biasanya kami akan  bermain kembang api dan petasan sambil bersembunyi di kebon mangga karena takut dimarahi Mbah Kakung, melihat dan kadang juga ikut serta takbir keliling, membeli jajanan untuk dimakan beramai-ramai sambil menikmati malam takbiran. Aku rindu masa itu, sekarang kami tak bisa berkumpul menikmati malam lebaran bersama lagi karena berbagai alasan namun semoga suatu saat  kebersamaan itu bisa kami rasakan lagi tentunya juga dengan anak-anak kami kelak. Malam itu aku menutup hari dengan iringan takbir yang terus menggema hingga mataku terpejam karena memang rumah Mbah Putri persis di seberang jalan samping masjid.

            Paginya kami semua bersiap untuk mengikuti sholat Ied di lapangan di depan balai desa. Bapak, pade, om dan mas-mas sepupuku sudah berangkat duluan ke masjid. Aku bersama ibu, bude, tante dan adek sepupuku mengambil tempat di lapangan, pagi itu kami hanya berangkat berenam tak seperti dulu saat semuanya kumpul. Sedangkan Mbah Putri sudah berangkat sejak lebih dulu karena sudah disiapkan tempat di dalam masjid oleh teman-teman pengajiannya. Selesai sholat dilanjutkan dengan saling bersalaman, maaf memaafkan atas segala khilaf yang pernah terjadi. Hari itu semua dendam, kebencian, khilaf dan segala kealpaan melebur menjadi satu dan menjelma menjadi kata MAAF. Tak lupa pagi itu kami semua mengunjungi makam keluarga yang terletak tak jauh dari rumah pusaka, di sanalah Mbah Kakung terbaring tenang dalam tidur panjangnya bersama keluarga kami yang lain yang telah lebih dulu menghadap-Nya. Semoga kedatangan kami kesana akan mengingatkan kami bahwa kelak kamipun akan menyusul seperti mereka sehingga kita berusaha untuk mengumpulkan lebih banyak lagi bekal untuk pulang ke kampong akhirat.

            Menjelang siang saudara-saudara yang lain mulai berdatangan, suasana makin ramai karena kini aku punya banyak keponakan dari kakak-kakak sepupuku. Salah satu keponakan yang membuatku jatuh hati adalah Fafa, tingkahnya yang lucu dan wajahnya yang selalu tersenyum membuatku gemas. Ada saja tingkahnya yang baru setiap aku berkunjung ke sana dan kali ini dia sedang ngefans berat dengan lagu Maher Zein yang Insya Allah, bicaranya yang belum jelas jadi lucu saat mengucapkan kata “Insya Allah”. Aku dan adekku berusaha mengabadikan setiap moment selama kami  di sana walau hanya dengan kamera hp dan tentunya semua moment itu telah terekam di memori ingatanku. Menjelang sore semua kegiatan kembali terpusat di dapur menyiapkan masakan untuk acara esok, semua gotong royong membantu dengan apa saja yang bisa dilakukan (terasa sekali kebersamaannya).

            Akhirnya tiba juga saat satu per satu dari kami harus pulang, sebenarnya aku masih ingin berada di sana bersama keponakan-keponakanku namun waktu yang membatasi jua. Aku tahu yang paling sedih saat itu adalah Mbah Putri karena rumah akan kembali sepi yang tersisa tinggal kenangan beberapa hari kemarin. Semoga Allah akan memanjangkan umur kita untuk kembali berjumpa dengan ramadhan-Nya dan juga member kita kesempatan untuk bisa berkumpul kembali dengan sanak family yang mungkin hanya bisa bertemu setahun sekali.

            Saatnya untuk kembali beraktivitas seperti biasa mengejar cita dan cinta yang masih ingin aku raih, semoga nafas Ramadhan dan semangat Idul Fitri terus mengiringi langkah kita. Amin…


Itu cerita Lebaranku, bagaimana dengan Lebaranmu? ^_^

Minggu, 28 Agustus 2011

Sungguh kami akan selalu rindu untuk kembali berjumpa denganmu (Ramadhan)

Serasa baru kemarin aku melangkahkan kaki memasuki kampung ramadhan, merasakan suasana berbeda setelah sebelas bulan berjalan dipanasnya padang kehidupan. Serasa baru kemarin aku melihat masjid dan mushola terasa ramai didatangi mereka yang ingin melaksanakan sholat tarawih berjamaah. Serasa baru kemarin aku merasakan nikmat yang berbeda disahur dan buka pertama. Serasa baru kemarin aku merasakan betapa manisnya dan lezatnya buah kurma saat berbuka. Ah…semuanya serasa baru kemarin dimulai tapi ternyata kini langkah itu sudah hampir sampai di penghujung.

Ramadhan bagiku bagai sebuah persinggahan untuk mendamaikan hati, menyejukkan jiwa dan membangun kembali menara iman kita yang mungkin telah lapuk setelah melewati 11 bulan perjalanan yang melelahkan. Ramadhan, dimana banyak sekali ampunan yang Allah berikan dan banyak sekali pahala yang sediakan untuk kita ambil sebanyak-banyaknya. Ramadhan ibarat oase yang mampu menghilangkan dahaga setelah sekian lama kita berjalan di padang pasir. Ramadhan laksana jalan yang akan membawaku ke titik harapan atas semua doa panjangku untuk semua mimpi-mimpiku. Ramadhan bagaikan sahabat yang setia mengajak dan menemaniku untuk berjumpa dengan-Nya dimalam-malam indah penuh berkah. Ramadhan…sungguh ingin aku lebih lama lagi bersamamu.

Gerbang kemenangan itu sudah terlihat hanya tinggal dalam hitungan langkah kita akan tiba di sana. Namun di sana di luar kampung ramadhan ini gurun yang panas sudah menanti untuk kembali kita lalui. Semoga satu bulan yang teramat singkat ini mampu menjadi amunisi, bisa menjadi bekal kita untuk perjalanan sebelas bulan kedepan. Dan kitapun tak pernah berhenti berdoa untuk terus berharap agar kelak diijinkan kembali berjumpa dengan Ramadhan-Nya. “Ya Allah, istiqomahkan kami agar saat ramadhan berlalu jejaknya masih melekat di qolbu dan takkan terhapus oleh waktu. Sungguh kami akan selalu rindu untuk kembali berjumpa di ramadhan-Mu, menghiasi hari dengan pahala dan ampunan dari-Mu.”

Aku lihat Ramadhan dari kejauhan
Lalau kusapa ia “Hendak kemana?”
Dengan lembut ia berkata “Aku harus pergi, mungkin JAUH dan sangat LAMA. Tolong sampaikan pesanku untuk orang MUKMIN, syawal akan tiba sebentar lagi, ajaklah SABAR untuk menemani hari-hari dukanya, peluklah ISTIQOMAH saat ia kelelahan dalam perjalanan TAQWA, bersandarlah pada TAWADHU saat kesombongan menyerang, mintalah nasehat QUR’AN & SUNAH disetiap masalah yang dihadapi. Sampaikan pula salam dan terima kasih untuknya karena telah menyambutku dengan suka cita dan melepas kepergianku dengan air mata. Kelak akan kusambut ia di SURGA dar pintu AR RAYAN. Selamat meraih pahala terbaik di detik-detik terakhir RAMADHAN.
(sms dari Mb'Dewi, makasih ya…)

Minggu, 14 Agustus 2011

Lezatnya Bakar Sate (Siang Tadi)

Di luar rembulan bersinar sempurna di permadani langit, tak kutemukan setitikpun cahaya bintang di dekatnya. Tak terasa ramadhan sudah separuh perjalanan, semoga kita senantiasa diberi keistiqomahan untuk menyelesaikan perjalanan ini hingga tiba di garis finish dan mendapatkan piala keberkahan di hari kemenangan nanti. Amin

Hari ini ada dua agenda yang sudah tercatat di rencana kegiatan akhir pekanku dan salah satunya adalah agenda bersama teman-teman FLP Tegal untuk kembali mengadakan kegiatan rutin kami yaitu “Bakar Sate”. Karena pada acara Bakar Sate sebelumnya aku berhalangan hadir maka sudah kuniatkan untuk hadir diacara Bakar Sate kali ini.

Bersama seorang teman aku meluncur menuju lokasi acara tepatnya di rumah ketua FLP Tegal yang sejujurnya aku belum tahu lokasi persisnya. Karena sadar kami sudah terlambat aku coba mempercepat laju motorku dengan tetap berhati-hati karena jalanan cukup ramai. Aku mencoba mengingat-ingat nama jalan yang harus kami lalui untuk sampai di lokasi setelah sebelumnya aku menelpon salah seorang teman yang sudah mengetahui lokasi tersebut.

Mendekati daerah yang dimaksud temanku kupelankan laju kendaraan, mataku sesekali melirik ke setiap belokan yang terletak di sebelah kiri jalan yang kami lewati sambil terus mencari nama jalan yang dimaksud namun tak kunjung ku lihat nama jalan itu. “Wah, ini sih kayaknya nyasar…” batinku. Akhirnya kuputuskan berhenti dan kembali menelpon temanku dan ternyata benar temanku salah memberikan nama jalan, kamipun putar balik dan tak terlalu sulit menemukan jalan itu namun perjalanan kami belum selesai.

Sesuai petunjuk temanku kami coba menelusuri jalan yang benar-benar baru pertama kali ini aku lalui dan walhasil gara-gara salah paham melihat posisi papan jalan kami kesasar lagi, putar balik lagi. Sampai di sebuah perempatan aku kembali bingung, akhirnya aku bertanya pada seorang pengendara sepeda yang sedang berhenti namun hasilnya nihil. Untunglah sedang banyak orang diperempatan jalan jadi kami bertanya lagi dengan harapan kali ini bisa memberikan petunjuk. Alhamdulillah kami diberi tahu melalui jalan kecil dekat pinggiran sungai katanya bisa lebih cepat sampai.

Beberapa gang sudah kami lewati tapi perasaanku berkata bahwa kami kembali tersesat, akhirnya aku memutuskan berhenti dan menanyakan pada ibu-ibu yang sedang duduk di teras rumahnya. Memang tak memberikan jawaban memuaskan karena kami hanya disuruh belok kiri mengikuti jalan kecil dan disuruh bertanya lagi sampai di ujung gang. Sesuai petunjuk kamipun bertanya kembali dan diarahkan untuk balik arah dan mengikuti gang kecil yang ditunjukan oleh seorang bapak. Setelah kami ikuti kok ternyata buntuk karena jalan tersebut berujung pada sebuah sekolah, berhenti lagi dan tanya lagi.

Mungkin karena teman kami ini baru pindah sehingga belum terlalu dikenal penduduk sekitar. Aku hampir putus asa mau bertanya kemana lagi, jika ku telpon temanku akupun tak bisa menjelaskan di mana posisiku sekarang (jujur saja aku memang buta arah hehehe). Akhirnya kami melihat seorang anak laki-laki yang sedang membantu orang tuanya memasang lampu dan Alhamdulillah… setelah tujuh kali kesasar dan tujuh kali bertanya pencarian kamipun selesai, anak itu menunjukan rumah yang kami cari. Ternyata rumah itu tak jauh dari tempat kami berhenti dan cukup dekat dengan gang yang tadi kami lewati, seharusnya belok kiri kami belok kanan. “Mungkin ada doa yang kurang sebelum kami berangkat tadi, Ya Allah maafkan kelalaian kami…”. Lebih baik tersesat mencari alamat daripada tersesat di jalan kehidupan, semoga Allah selalu menuntun langkah kita.

Meski terlambat namun aku tak kehilangan inti dari acara hari ini. Selain Bakar Sate acara siang itu diselingi dengan tausiyah ramadhan sehingga terasa lebih bermakna. Aku sendiri tak banyak bicara atau mengomentari karya teman-teman namun aku mencoba mengambil hikmah atau pelajaran dari setiap kisah yang ditulis oleh teman-teman. Dari tulisan-tulisan tersebut sedikit banyak bisa menggambarkan karakter si penulis. Sesuai dengan tema yang diangkat yaitu “Kedasyatan Doa” aku berkesimpulan bahwa doa ibu memang luar biasa, maka berusahalah agar setiap kata yang terucap dari bibir ibu untuk kita adalah kebaikan dan kebaikan.

Diluar baik atau buruknya setiap tulisan yang tadi siang “dibakar”, bagiku semuanya memiliki makna serta hikmahnya masing-masing yang kucoba lekatkan dalam catatan hatiku dan satu yang menarik dari salah satu tulisan tadi siang adalah tentang “Algoritma Kehidupan”. Algoritma, mata kuliah yang sempat bikin aku stress ternyata menjadi istilah menarik saat dianalogikan dalam kehidupan.

Lezatnya Bakar Sate bersama teman-teman FLP Tegal akhirnya diakhiri dengan berkumandangnya adzan sholat ashar. Lelah itu pasti, namun perjalanan tadi siang cukup memberikan asupan gizi tambahan untuk jiwaku serta pengetahuan menulisku dan setidaknya menambah referensiku tentang daerah baru dan jalan-jalan baru (hikmah kesasar).


Selasa, 05 Juli 2011

It's just little story about me (3 Hari di 3 Kota)

3 hari di 3 kota berbeda...


3 hari yang melelahkan namun juga 3 hari yang penuh cerita dan tentunya penuh makna. Dimulai dari kota Tegal, kamis malam kurang lebih jam sembilan malam aku dan adikku meninggalkan kota bahari menuju bumi parahiyangan menggunakan jasa travel langganan kami karena memang barang bawaan kami cukup berat. Perjalanan malam hari memang lebih enak karena waktunya tidur sehingga tak terasa namun saat tiba di daerah sumedang aku terbangun karena sepertinya mobil yang aku tumpangi berhenti. Setelah memulihkan kesadaran dan coba melihat keluar jendela ternyata kondisi jalan cukup macet sehingga mobil harus berhenti meski tak berapa lama akhirnya mobil mulai merangkak maju. Setelah beberapa meter perjalanan Pak sopir dengan lihai memutar balik arah mobil, nampaknya pak sopir tidak sabar dengan kemacetan yang menghambat perjalanan. Tak jauh setelah kami memutar arah kami memasuki sebuah gerbang desa yang jalannya cukup menanjak dengan kondisi jalan yang amat sangat sepi sekali, kanan kiri hanya ada kebun bambu sawah bahkan ada tebing yang agak curam. Kulihat semua penumpang tertidur lelap termasuk adekku, aku yang sudah terlanjur terbangun jadi ikut "menikmati" perjalanan malam itu. Beberapa hal yang membuatku beralasan untuk agak panik adalah pertama kondisi jalan yang sempit dan sepi karena sepanjang perjalanan tak kulihat kendaraan satupun yang lewat, kedua supir yang membawa kami bisa dibilang cukup tua, ketiga penumpang travel sebagian besar perempuan (bagaimana kalau sampai mogok) dalam kondisi jalanan menanjak. Aku hanya bisa berdoa semampuku tanpa pernah bisa memejamkan mata, baru setelah kami kembali menemukan jalan raya aku bisa bernafas lebih lega setidaknya kini kami tidak sendirian lagi, rasanya seperti baru keluar dari tembok labirin. Akhirnya kami tiba di tempat tujuan sekitar pukul setengah empat lewat, terlambat sekitar tiga puluh menit dari biasanya.


Setelah mempersiapkan segalanya yang akan dibawa maka tujuan kami selanjutnya adalah kota hujan, aku kesana hanya untuk mengantar adekku yang ada kepentingan disana. Pukul 12 siang kami sudah siap dan menyempatkan untuk makan siang dahulu dan menjamak sholat dzuhur dan ashar karena perjalanan mungkin akan lama. Jam satu kami sudah siap dipinggir jalan menanti travel yang akan mengantar kami yang ternyata terlambat tigapuluh menit dari waktu yang dijanjikan. Perjalanan yang lebih menyenangkan dari kemarin, kemacetan yang sempat menghadang bisa dilalui tanpa memakan banyak waktu, supir travel yang sangat lihai membawa mobil melaju kencang sepanjang tol Bandung - Bogor. Meski awal-awal perjalanan aku agak mual mungkin karena masuk angin namun setelah istirahat sejenak di tol cikampek semuanya kembali normal, sesekali aku tertidur dan sesekali aku menikmati suasana sepanjang perjalanan. Saat keluar pintu tol Jagorawi kulihat terminal yang dulu terakhir aku kunjungi sekitar lima tahun yang lalu (Terminal Baranangsiang). Aku putuskan untuk tidak melanjutkan tidurku, aku berusaha memutar ingatanku ke lima tahun silam akan jalanan-jalanan yang pernah kulalui di kota yang banyak memiliki pohon-pohon besar ini, jalan yang banyak kulalui dengan berjalan kaki bersama teman-teman dulu saat Gladi di Kandatel Bogor. Setelah mengantar penumpang lainnya akhirnya kami tiba menjelang isya di rumah Bude meski harus nyasar dulu hampir sampai Parung gara-gara aku salah menunjuk jalan (Maaf ya pak sopir...untung pak sopirnya baik jadi ga marah hihihi...^^)


Tugasku kini sudah selesai mengantarkan adikku kini saatnya aku kembali karena memang tak ada hari libur yang mengijinkanku untuk berlama-lama di kota seribu angkot itu. Karena tidak ada kendaraan yang langsung menuju Tegal aku memutuskan pulang ke Tegal dari Jakarta. Setelah mencoba menghubungi beberapa teman akhirnya malam sebelumnya aku memutuskan untuk mampir bermalam dulu di tempat temanku di kawasan Cilandak. Ba'da ashar aku berpamitan dengan bude dan adikku, dengan menggunakan bis tanggung aku sampai di terminal Baranangsiang sekitar pukul empat lewat. Setelah melewati jembatan penyebrangan aku masuk lewat pintu belakang terminal, kuamati satu-persatu tulisan yang tertulis di atas bis yang berjajar di terminal namun tak kutemukan tulisan yang aku cari. "Malu bertanya sesat dijalan" akhirnya aku bertanya pada salah satu petugas peron bis dengan jurusan yang aku cari dan ternyata bis tersebut ada di pintu depan. Langsung saja aku langkahkan kaki secepat mungkin ke pintu depan terminal, benar saja disana ada satu bis berwarna merah (aku lupa nama bisnya) dengan tulisan Bogor-Lebak Bulus via TB Simatupang. Aku duduk dikursi paling depan dekat pintu agar lebih mudah turun dan bisa melihat lebih mudah arah yang aku tuju, tepat setengah lima bis-pun meninggalkan terminal dan sepertinya bis yang aku naiki adalah bis terakhir.

Ba'da maghrib aku tiba memasuki kawasan Cilandak setelah menikamati macetnya tol Bogor-Jakarta disore hari, dengan Bismillah aku memutuskan turun di sebuah perempatan saat kondektur meneriakkan "Cilandak...cilandak..."karena pikirku jika turun di lebak bulus bisa jadi akan bolak-balik. Ternyata benar perkiraanku dari perempatan aku hanya tinggal sekali menumpang angkutan untuk sampai ke tempat temanku di asrama kampus IIP.



Esoknya hari Minggu pagi adalah perjalanan terakhirku, yup perjalanan kembali menuju rumahku. Diantar temanku kami menuju terminal lebak bulus, setelah membeli karcis sebuah bis ekonomi AC aku langsung mencari tempat duduk dan ternyata aku terlambat sehingga harus puas untuk dapat kursi di tengah-tengah (sebenarnya aku lebih suka duduk di depan). Jam delapan lewat bis meninggalkan terminal menuju kota bahari yang membawa penumpang yang mungkin sebagian besar orang Tegal (dilihat dari logat bicara mereka). Perjalanan pulang yang cukup menegangkan 2 kali bis yang kutumpangi mengalami pecah ban di tol cikampek dan hampir lima jam kami terjebak macet di daerah Klampok Brebes yang bener-bener bikin senewen para penumpangnya. Jadilah aku yang seharusnya sampai di terminal Tegal sekitar pukul tiga sore harus mau menerima kenyataan bahwa baru jam delapan malam kami tiba di terminal (12 jam di dalam bis, nikmatnya....). Aku masih belum bisa bernafas lega karena perjalanan kerumah masih panjang apalagi malam hari. Beberapa kali Ibu dan Bapakku yang sedang diluar kota memantau keberadaanku dan menyarankan agar akau tidak usah pulang kerumah melainkan menginap dirumah teman saja namun setelah kupertimbangkan akhirnya aku memilih meminjam motor seorang teman untuk pulang kerumah. Dengan mengumpulkan segenap keberanian dan berbekal bismillah akhirnya kurang lebih dalam tiga puluh menit aku sampai juga dirumah (kalau ga salah saat itu jam sembilan kurang sedikit). Alhamdulillah... Semua hanya karena Allah aku bisa kembali bertemu bantal guling

kesayanganku ^_^



Ini baru sekilas perjalananku kemarin, InsyaAllah dilain kesempatan akan kutuliskan juga hikmah sepanjang perjalanan hasil dari "muhasabah perjalanan". Pastinya kini aku kembali dengan harapan baru akan sebuah kehidupan yang lebih baik setelah kutinggalkan semua risau dan gundahku di sepanjang jejak perjalananku kemarin.

Januari 2026 ( Yuks Mulai Lagi!)

  Apa kabar diriku? Nggak terasa sudah 2026 ya, atau terasa banget perjalanan 2025 kemarin? Gimana berat atau kata anak sekarang "b aja...