Rabu, 21 Januari 2026

Januari 2026 ( Yuks Mulai Lagi!)


 

Apa kabar diriku?

Nggak terasa sudah 2026 ya, atau terasa banget perjalanan 2025 kemarin? Gimana berat atau kata anak sekarang "b aja"?

Apapun dan bagaimanapun itu mari tetap disyukuri ya apa yang sudah terjadi satu tahun kemarin. Hari-hari yang berat, hari-hari yang melelahkan, hari-hari yang menguras tenaga, hati, pikiran dan emosi itu juga harus tetap disyukuri. Apalagi hari-hari yang menyenangkan, menggembirakan dan membawa kebahagiaan itu wajib disyukuri.

Lalu bagaimana dengan rencana setahun kedepan? Mau lanjutin yang kemarin atau ada resolusi baru nih?

Oke, mari coba tunjukin listnya satu-persatu:

  1. Menempati rumah baru, ini kan rencanamu tahun lalu yang ternyata harus dipending sampai tahun ini kan? Pasti ada rasa kecewa mengingat betapa perjuangannya untuk bisa mewujudkan rumah impian ini. Rumah impian anak-anak yang sudah ingin sekali menempati kamar baru mereka. Tapi yakin saja Allah pasti punya rencana lain yang lebih baik dibalik keinginan yang tertunda ini.
  2. Haji 2025 yang akhirnya dirubah menjadi Daftar Haji 2025 bersama suami tentunya. Rencana ini akhirnya juga harus mundur karena beberapa alasan. Mungkin ini juga ujian seberapa kuat keinginanmu untuk memenuhi panggilan-Nya ke Baitullah. Semoga di tahun 2026 ini rencana ini dimudahkan dan diberikan jalan untuk terwujud. Aamiin
  3. Pelan-pelan mulai kembangkan diri lagi, anak-anak sudah mulai belajar mandiri, ijin suami sudah ditangan kini saatnya kembali mengaktualisasi diri. Perbanyak jejaring, gabung komunitas, upgrade skill dan become the best version of me.
  4. Kalau ini sudah lama banget tapi masih maju mundur cantik. Berani nyetir mobil atung, sayang nih SIM sudah hampir tiga tahun cuma nganggur di dompet.
  5. "Bunda belajar bikin sushi sama gimbab donk", alhamdulillah ini sudah kesampaian di awal tahun tinggal diasah lagi banyakin eksperimen lagi. Biar bocil mau minta makan apa pun, bunda siap buatin. Dari pizza, pasta, sushi roll dan nanti apa lagi.
  6. Satu keinginan simpel tahun ini kamu pengen bisa ganti hp baru kan? Biar lebih support buat rajin-rajin ngonten. Biar makin semangat syukur-syukur bisa dapat income dari sana.
  7. Dari enam poin diatas semuanya gaada artinya kalau Allah SWT tidak berkenan. Menginjak kepala empat jangan lupa memperbaiki ibadah. Semoga Allah beri kekuatan dan kemantapan hati agar bisa merutinkan tahajud dan puasa senin-kamis (memulai ini memang butuh effort besar). Oya Dhuhanya dibenerin lagi jangan bolong-bolong. Sesibuk apapun kamu yang butuh semua itu, dan jangan lupa kekuatan doa di setiap sujudmu karena hanya Allah SWT Maha Berkehendak atas segalanya.
Nggak usah banyak-banyak dulu yang penting pelan-pelan diikhtiarkan, semoga Allah mengijinkan dan memudahkan semua usahamu. Tidak mudah memang tapi masih mungkin dilakukan, berat sih tapi yakin kalau Allah sudah berkenan tidak ada yang tidak mungkin. Yuks Bismillah 😊

Rabu, 17 Desember 2025

Ibu Harus Tetap Asyik Walau Dunia Terus Berisik


Alhamdulillah beberapa hari lalu saya berkesempatan mengikuti sebuah kajian muslimah yang diadakan oleh Ikakatan Notaris Indonesia IPPAT Pengda Kab. Tegal.  Acara hari itu diisi oleh Bubu Tika yang merupakan salah satu Duta Kesehatan Mental Dandiah. Sebenarnya sudah lama saya ingin mengikuti event yang diisi oleh Bubu Tika tapi sayang waktunya yang selalu disaat jam kantor. Jadi kemarin suatu rezeki karena acara pas libur kantor yang alhamdulillah tidak ada halangan sehingga saya bisa berada di sana ditemani putri saya yang kedua karena tugas negara yang tidak bisa ditinggalkan menjemput anak sekolah sehingga saya meminta ijin pada panitia untuk membawa serta putri saya.

Disini saya ingin berbagi sedikit tentang hasil kajian kemarin yang pastinya relate sekali dengan kita para ibu yang isi kepalanya selalu berisik, mulai dari urusan domestik hingga urusan "luar negeri". Sebenarnya apa saja sih yang bikin berisik dan bagaimana menghadapi dunia yang berisik ini. Berikut ini rangkuman yang sudah coba saya buat.

Apa saja yang bikin berisik:

  • Komentar orang, seperti yang kita tahu komentar netijen selalu lebih pedas ketimbang cabe setan. Baik itu komentar netijen di dunia maya atau komentar tetangga di dunia nyata. Yang bahaya komentar-komentar itu sering memakan banyak resource pikiran kita.
  • Tsunami informasi, sebenarnya bagus jika kita tahu banyak informasi tapi sesuatu jika berlebihan juga jadinya kurang bagus. Ibarat kita makan makanan yang masuk kemulut baiknya sendok demi sendok lalu kemudian kita cerna begitu juga informasi. Jika informasi yang masuk ke otak datang bertubi-tubi secara bersamaan maka akan kebanjiran informasi seperti air bah yang datang tiba-tiba.
  • Tuntutan sosial, seringkali menuntut kita dengan berbagai macam hal yang sebenarnya tidak harus kita penuhi hanya untuk memuaskan ekspektasi manusia.
  • Kekacauan di rumah, ini jelas sekali jadi sumber keberisikan para ibu-ibu di rumah. Anak-anak yang berteriak-teriak, kondisi rumah yang berantakan dan segala macam tetek bengeknya.
  • Pekerjaan kantor, bagi ibu bekerja entah itu bekerja secara formal di kantor maupun non formal (tidak di kantor) tugas atau beban pekerjaan bisa menjadi salah satu sumber keberisikan yang seringkali terbawa sampai rumah. Untuk itu kita perlu menetapkan boundaries agar pekerjaan kantor tidak menambah keberisikan di rumah
  • Berita negatif, seperti berita bencana alam, kasus kriminal sampai kasus perceraian artis pasti menambah berisik isi kepala kita terlebih bagi si overthingking. Berita-berita negatif bisa menimbulkan gangguan kecemasan tersendiri yang bahkan bisa membuat kita lupa bahwa ada Allah sebaik-baik penolong dan pelindung.
Di era medsos memang tak bisa dipungkiri kita hidup seperti di dua dunia, dunia nyata dan dunia maya. Bahayanya jika kita lebih nyaman dan lebih sering mementingkan persepsi orang di dunia maya ketimbang didunia nyata. Media sosial seharusnya jangan mempengaruhi kita melainkan kita yang mempengaruhi melalui media sosial.

Berikut ini beberapa tips yang dibagikan oleh Bubu Tika:
  1. Puasa Medsos, ini memang penting dan saya sudah merasakan dampaknya. Dulu saya pernah detoks fb sampai satu tahun lebih rasanya bikin lebih nyaman toh dulu kita biasa hidup tanpa medsos.
  2. Audit Medsos, kita tidak wajib memiliki akun disemua platform media sosial cukup pilih sesuai kebutuhan saja.
  3. Memilih satu model, tidak harus semua model kita pelajari. Misal model parenting, dari sekian banyak model parenting maka cukup pilih satu tapi betul-betul dipelajari tidak usah semua dipelajari tapi akhirnya membuat kita bingung.
  4. Lihat anak, bukan layar. Apa yang ada di media sosial belum tentu sama persis dengan yang ada di dunia nyata. Jangan langsung menjudge kondisi anak kita hanya berdasarkan info yang ada di media sosial.
  5. Tanya Allah dulu AI kemudian. AI memang sudah menjadi budaya di era sekarang hampir banyak lini kehidupan bisa diambil alih oleh AI. Namun kita harus ingat bahwa kita masih punya Allah SWT sebaik-baik penolong dan pelindung yang tak akan pernah bisa tergantikan oleh AI. Jadi jika ada permasalahan hidup yang sedang kita hadapi maka mintalah petunjuk pada Allah SWT bukan pada AI.
  6. Rileks dan optimis, yakinlah setiap anak terlahir dengan membawa fitrah terbaik dan dipertemukan dengan orang tua terbaiknya. Jika ibarat perangkat komputer bagaimanapun kondisi anak kita, Allah paling tahu bahwa kitalah orang tua yang paling kompatible.
  7. Mohon kebaikan pada Qolbu. Jangan pernah berhenti untuk memohon ketenangan hati dan kesucian jiwa.
  8. Memohon agar senantiasa besyukur. Bahkan seorang Nabi Sulaiman yang tidak pernah kekurangan apapun selalu berdoa agar diberi ilham untuk bersyukur atas nikmat Allah, mengerjakan amal saleh yang diridai dan dimasukan ke dalam golongan hamba-Nya yang saleh.
Dunia adalah tempat berlelah-lelah dan permainan yang melalaikan, jika ingin beristirahat adalah nanti saat kita bisa masuk ke surga-Nya Allah. Niatkan setiap keinginan di dunia untuk tujuan akhirat agar kita tidak terlenakan oleh dunia yang tidak akan pernah bisa memuaskan nafsu manusia.

Dunia tidak akan berhenti berisik tapi kita bisa mengatur mana-mana yang berhak mengusik pikiran kita, semoga kita tetap menjadi ibu yang paling asyik untuk anak-anak kita.💖😘

Jumat, 12 Desember 2025

Menemukan Kedamaian (di Usia Matang ) Part-2 end

 

    

Sesuai janji saya di catatan sebelumnya, dicatatan kali ini akan dijelaskan langkah-langkah bagaimana kita memaafkan. Berikut ini ada enam tahap pemaafan yang bisa kita lakukan:

  1. Mengakui, mengakui bahwa kita pernah kecewa, kita pernah terluka, kita pernah merasa tersakiti tapi kita yakin bahwa kita bisa sembuh. Mengakui bahwa kita pernah terluka bukanlah merupakan kelemahan melainkan sebuah keberanian. Berani jujur pada diri sendiri bahwa ada luka yang kita miliki tapi kita inginmenyembuhkan luka itu.
  2. Menyadari, menyadari emosi yang kita rasakan. Kita merasa marah, sedih, kecewa dan aneka emosi negatif lainnya itu semua manusiawi. Dengan berusaha menyadari emosi yang kita rasakan kita belajar memahami diri sendiri tanpa menyalahkan diri sendiri. Biarkan diri kita merasakan emosi-emosi itu rasa sakitnya, rasa sedihnya, rasa kecewanya. Jangan menghindar dan berkata seolah kita tidak apa-apa.
  3. Menerima, menerima disini bukan membenarkan melainkan mengakui realitas dan membuka ketenangan batin. Kita tidak bisa mengubah masa lalu tapi kita masih bisa mengubah cara pandang kita terhadap masa lalu tersebut. Kita tidak membenarkan ataupun menormalisasi semua tindakan yang menyebabkan luka tersebut tapi kita berusaha menerima rasa yang ditimbulkan sepahit apapun itu.
  4. Mengalirkan, bagaimana kita mengalirkan emosi yang kita rasakan dengan sehat. Banyak cara yang bisa ditempuh antara lain yang sudah sering saya lakukan selama ini yaitu dengan menulis atau istilah yang sedang tren yaitu journaling. Bisa juga dengancurhat pada orang yang bisa dipercaya, ini harus benar-benardiperhatikan jangan sampai kita bercerita pada orang yang salah yang justru bisa memperparah emosi bukan mengalirkan emosi. Berdoa dan bermunajat, sebagai seorang muslim kita bisa manfaatkan sholat malam minimal sholat lima waktu untuk benar-benar bermunajat kepada Allah SWT pemilik atas segala takdir yang terjadi di muka bumi. Bahwa semua peristiwa yang terjadi semuanya sudah atas kehendak dan ijin-Nya. Dengan kata lain Allah menurunkan ujian itu, membiarkan kita merasakan luka itu karena Allah yakin kita mampu jadi kitapun harus yakin bahwa kita bisa melewati semua ujian itu. Biarkan semua emosi yang sedang kita rasakan mengalir untuk membersihkan hati.
  5. Memaafkan, dengan ini kita memutuskan secara sadar untuk melepaskan dendam. Kita memaafkan bukan berarti kita kalah melainkan memilih bebas dari masa lalu. Camkan dalam hati "Aku memilih damai bukan dendam, aku memilih bebas bukan luka". Maafkan semua yang pernah membuat kita terluka bukan untuk mereka tapi untuk kebaikan diri kita. 
  6. Menemukan cahaya, cahaya muncul saat hati lapang dan penuh kedamaian. Saya pribadi yakin bahwa setiap luka menyimpan pelajaran tentang kekuatan, cinta, kasih dan makna spiritual. Tidak ada satupun peristiwa yang terjadi melainkan ada maksud Tuhan yang ingin disampaikan. Seperti dalam Surat Al-Baqarah ayat 286 bahwa Allah tidak menguji hamba-Nya di luar kesanggupan, jadi seperih apapun luka itu seberat apapun ujian itu kita pasti sanggup dan bisa melaluinya.
Kembali lagi seperti yang saya katakan pada catatan sebalumnya bahwa memafkan bukan tujuan instan melainkan sebuah perjalan "long journey" menuju sebuah penerimaan seutuhnya dan itu adalah salah satu bentuk "self love" rasa kasih untuk diri sendiri. Siapa lagi yang akan mencintai diri kita kalau bukan kita sendiri. Jangan siksa dan rusak diri kita dengan menggenggam dan menyimpan luka seumur hidup kita. Selamat memaafkan, selamat menyayangi diri kita dan selamat memukan cahaya dibalik luka💖💖💖

Senin, 08 Desember 2025

Menemukan Kedamaian (di Usia Matang) - Part 1

Menjelang akhir tahun, menuju kepala empat pastinya banyak sekali peristiwa yang sudah kulalui. Entah sudah berapa banyak luka yang telah menggores hati ini aku tak bisa menghitungnya. Bukannya mau menyimpan dendam tapi nyatanya bekas luka itu tak bisa begitu saja terhapus, nyatanya episode menyakitkan itu masih jelas terlintas dalam ingatan. Namun aku sadar bahwa semua orang pasti punya luka dan aku tak mau menghabiskan sisa waktuku untuk menyimpan semua luka itu. Aku sadar di usia yang semakin matang aku harus bisa meregulasi emosiku, aku harus lebih bisa berdamai dengan keadaan semenyakitkan apapun itu, aku harus lebih menyayangi diriku dengan tidak merusaknya dengan hal-hal negatif. Akupun memutuskan untuk memaafkan semua yang pernah membuatku terluka

Mengapa harus memaafkan?

Setiap orang pasti pernah punya luka dalam hidupnya tetapi dengan memaafkan bisa membantu menata hati agar hidup dimasa kini terasa lebih ringan dan bermakna. Semakin matang usia memang seharusnya kita semakin paham bahwa memaafkan adalah jalan menuju kedamaian. Menerima membuka ruang agar hati tidak lagi dipenuhi penolakan dan amarah, penerimaan membawa ketenangan batin. Memaafkan berarti kita memilih damai bukan dendam dan memilih bebas dari beban masa lalu bukan terikat luka masa lalu.

Bagaimana cara kita memaafkan?

Dalam terapi memaafkan yang pernah saya ikuti ada beberapa tahap yang bisa kita lakukan untuk bisa memaafkan, yaitu:

  1. Mengakui (saya pernah terluka)
  2. Menyadari (emosi yang dirasakan)
  3. Menerima (bukan membenarkan)
  4. Mengalirkan (emosi dengan sehat)
  5. Memaafkan
  6. Menemukan Cahaya

Memaafkan bukan tujuan instan melainkan sebuah perjalanan menuju penerimaan dan itu merupakan salah satu bentuk self love. Ditulisan selanjutnya nanti kita bahas satu persatu tahapan di atas. Mari kita terus berproses dan bertumbuh bersama menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Kamis, 27 November 2025

Bukan Kompetisi (Anak Bukan Pemuas Ego Orang Tua)

 


"Seneng ya anaknya nurut-nurut ga kaya anakku bandel banget"

"Ih anaknya pinter-pinter, pasti orang tuanya bangga. Coba anakku bisa seperti itu"

Siapa sih orang tua yang tidak ingin punya anak pintar, penurut, berprestasi dan sederet hal membanggakan lainnya. Tapi ingat bahwa itu semua butuh proses yang tak instan, butuh pengorbanan yang mungkin tak pernah orang lain tahu.

Salah seorang teman dari putriku mengaku bahwa dia merasa tertekan dan sering menangis sendiri di kamar. Dia tinggal bersama kakeknya karena orang tuanya harus bekerja di luar kota, kakeknya sangat keras mendidiknya seolah semua harus sempurna, tidak boleh ada nilai jelek, selalu ada hukuman disetiap kegagalan. Bisa dibayangkan seperti apa perasaan dia menjalani hidup seperti itu.

Dilain kesempatan aku pernah melihat sendiri seorang ibu dengan nada keras memarahi anaknya yang mungkin baru berusia sekitar 8/9 tahun. Saat itu si anak baru saja keluar dari ruangan selesai mengikuti lomba, sambil membahas satu persatu soal si ibu terlihat geram jika melihat jawaban si anak salah. Sampai terlontar kata-kata "Kamu bodoh banget sih, soal segampang ini aja masa nggak bisa!". Tak pelak si anak yang mungkin sedari tadi sudah menahan air matanya akhirnya terlihat menangis sesenggukan sambil terus berusaha mengusap air mata yang jatuh. Aku yang melihat adegan itu rasanya kok miris sekali, di depan umum saja sang ibu berani memarahinya seperti itu bagaimana jika di rumah.

Seorang anak tak pernah meminta lahir ke dunia ini, kitalah yang memintanya hadir. Saat dia hadir sejuta harapan dan mimpi-mimpi seolah langsung dibebankan kepadanya. Tak salah jika memanjatkan beribu doa dengan harapan terbaik untuk sang buah hati tapi jangan pernah lupa bahwa doa saja tak cukup. Harus ada ikhtiar yang dijalani, harus ada usaha dan proses berulang yang dilakukan untuk bisa mewujudkan harapan-harapan itu, tidak bisa instan, 

Memang ada beberapa anak yang dikaruniai kelebihan sedari lahir tapi yakinlah dia juga pasti punya kekurangan. Intinya sebagai orang tua kita harus siap menerima kehadirannya dengan segala kelebihan dan kekurangan yang melekat pada diri anak kita. Tak usahlah banding-bandingkan mereka dengan anak-anak lain. Jangan terlalu menuntut mereka dengan setumpuk mimpi yang bisa jadi itu adalah mimpi-mimpi kita yang dahulu belum tercapai. Jangan korbankan anak hanya untuk memuaskan ego kita sebagai orang tua. 

Setiap anak lahir dengan garis takdirnya masing-masing. Biarkan mereka melalui prosesnya secara alami tanpa dipaksakan, biarkan mereka merasakan sakitnya jatuh/ gagal, biarkan mereka belajar bagaimana caranya bangkit dari kegagalan. Setiap anak memiliki momentumnya masing-masing, tak harus sama dengan anak lainnya. Mendidik anak bukanlah kompetisi siapa yang paling hebat, melainkan proses panjang yang harus dijalani dengan penuh kesabaran dan rasa syukur. Sabar sebesar apapun kesulitan yang dihadapi dan bersyukur sekecil apapun hasil yang telah dicapai.

Kita sebagai orang tua cukup mendampinginya, memfasilitasi sebisa yang kita mampu, menasehati dan memberi masukan tanpa menghakimi. Yakinlah bahwa setiap anak itu hebat, tugas kita mendampingi mereka menemukan kehebatannya itu. Hebat yang memang murni lahir dari dalam dirinya, bukan semata-mata menuruti kemauan kita orang tuanya.

Mari kita sama-sama belajar memperbaiki diri kita sebagai orang tua sebelum memperbaiki anak kita. Catatan ini bukan untuk menggurui tapi sebagai refleksi dan juga pengingat diri agar mau terus berbenah menjadi lebih baik lagi. Semangat 😊

Selasa, 25 November 2025

Tak Sekedar Kompetisi, Menyiapkan Mental Ayah Bunda Sebelum Ananda Bertanding


 

Siang ini aku mendapat notifikasi di whatsapp grup ternyata ada foto putri keduaku sedang menerima apresiasi dari sekolah atas lomba yang diikuti beberapa waktu lalu. Ini menjadi momen pertamanya memperoleh penghargaan atas prestasinya. Semoga ini bisa menjadi motivasi untuk mau belajar lebih giat lagi dan tak lekas berpuas diri untuk terus menjadi yang lebih baik.

Berbicara soal kompetisi, sejujurnya beberapa kali mendampingi anak-anak mengikuti perlombaan/ kompetisi memberiku pelajaran tersendiri. Setiap kali anakku maju ke ajang kompetisi apapun itu aku selalu berusaha meyakinkan bahwa ini murni keinginan mereka bukan semata memuaskan ego kami orang tuanya. 

Dalam setiap perlombaan pasti ada menang dan kalah dan kita harus mempersiapkan keduanya. Jika menang jangan sombong, jika kalah jangan berputus asa. Kalimat tersebut memang mudah diucapkan tapi realisasinya tak semudah itu. Sebagai orang tua kita harus lebih siap dengan kondisi apapun itu sebelum kita mempersiapkan kondisi anak-anak. Beberapa kali aku melihat orang tua yang marah-marah karena anaknya tidak menang lomba hanya karena kesalahan kecil, mungkin mereka merasa sudah melakukan persiapan dengan sangat matang.

Untuk itu sebagai orang tua seharusnya kita bisa lebih dulu mempersiapkan mental kita sebelum mental anak kita. Bisa jadi perlombaan yang diikuti oleh anak hanya sebagai pelampiasan ego kita atau ambisi masa lalu kita yang belum tercapai sehingga tanpa sadar kita memaksakannya pada anak. Apapun hasilnya seharusnya kita bisa tetap jadi tempat kembali yang nyaman, jangan menghakiminya atau bahkan melimpahkan kesalahan atas kekalahan pada mereka. Anak-anak juga pasti kecewa saat mereka kalah dalam perlombaan, jangan tambah rasa kecewanya dengan penolakan dari kita orang tuanya. 

Aku pribadi selalu menekankan bahwa menang lomba itu bonus yang penting kalian sudah menang melawan rasa malas dalam diri untuk berlatih. Jika kalah berarti masih ada yang perlu diperbaiki dan agar mereka juga tau bahwa ada langit di atas langit sehingga tak selalu merasa jadi yang paling hebat. Yakinlah disetiap kekalahan sejatinya banyak pelajaran yang bisa diambil dan disetiap kemenangan ada tanggungjawab besar yang harus dipikul.

Pastinya jangan pernah lelah untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan (Fastabiqul khairat)


Kamis, 13 November 2025

Akhirnya Tiba Juga (Perjalanan S-2)


Hari yang ditunggu akhirnya tiba, bukan sekedar ceremony atau euphoria saja melainkan perwujudan sebuah makna yang sangat dalam.

Kupenuhi janji itu, janji untuk terus melangkah, janji untuk terus belajar walaupun belajar tak semata-mata dengan sekolah formal. Aku memang pernah bermimpi bisa melanjutkan kuliah hingga jenjang S-2 tapi mimpi itu berangsur memudar saat anak-anak satu persatu lahir. Rasanya kok pesimis "ah ga mungkin", "sudahlah buat anak-anak saja nanti". Apa lagi kondisi ekonomi kami yang benar-benar sedang ditahap merintis, rasanya jika dihitung dengan matematika manusia kok nggak masuk akal. Namun ternyata takdir mengamini mimpiku walau bukan melalui jalur beasiswa seperti yang kuimpikan tapi akhirnya aku berkesempatan mengenyam bangku kuliah hingga jenjang S-2. 

Dahulu sebelum menikah aku memang pernah mengutarakan kepada calon suami jika aku masih punya janji dengan kedua orangtuaku untuk melanjutkan kuliah sampai S-1. Alhamdulillah dia tidak keberatan dan nyatanya kini dia yang mendorongku untuk melanjutkan studi hingga S-2. Dia tahu bahwa aku ingin sekali melanjutkan S-2 dengan mengejar bea siswa. Tapi setelah melalui banyak pertimbangan akhirnya suami menyarankan untuk mengambil yang mudah saja dulu. Dalam artian proses pendaftarannya tidak terlalu sulit begitu pula dengan proses kuliahnya karena aku tak perlu khawatir meninggalkan anak-anak. Masalah biaya suami menenangkanku bahwa nanti dipikir bersama, insya allah ada rejekinya. Gampang nanti kalau kesempatan beasiswa itu masih ada, kalau memang rejeki insyaallah nggak akan kemana. Okelah akhirnya kuputuskan mengambil jalur tugas belajar tanpa diberhentikan dengan konsekuensi biaya pendidikan ditanggung sendiri.

Saat itu suami sudah memberi lampu hijau, saat itu pula kesempatan seperti langsung menarikku. Alhamdulillah mulai dari semester satu hingga semester tiga akhirnya bisa terlalui walau harus gali lubang tutup lubang yang penting pas butuh pas ada. Ketemu teman-teman yang baik, dosen-dosen yang baik pula walau kadang tugasnya bikin nggak nafsu makan.  Tiga semester kemarin yang nano-nano rasanya. Kuliah online sambil diiringi backsound 3 "ajudanku" bahkan kadang sampai ketiduran saking capeknya. Kuliah offline sesekali waktu bareng teman-teman. Ngerjain tugas, presentasi yang diselingi oleh majelis ghibah yang suka ghibahin diri sendiri. Hingga akhirnya selesai juga sampai sidang tesis. Yang terpenting segala daya upaya yang sudah dikerahkan baik tenaga, pikiran, waktu dan tentunya biaya terbayar sudah.  

Diluar materi kuliah secara formal, banyak pelajaran berharga yang aku dapat selama tiga semester kemarin termasuk bagaimana menemukan kembali diriku. Insyaallah ini semua akan jadi bekalku dalam menjalankan peranku sebagai istri dan juga ibu yang lebih baik lagi. Karena bagiku pendidikan tinggi tidak semata-mata hanya untuk karir semata karena karir tertinggiku saat ini ya menjadi ibu dari ketiga calon manusia hebat pada masanya nanti. Ini sekaligus menjawab pertanyaan teman-temanku "ngapain kamu kuliah lagi katanya mau pensiun dini?". 

Suami dan anak-anak tentunya jadi saksi hidup bagaimana perjuanganku, kerelaan mereka  berbagi waktu yang aku habiskan untuk kembali belajar. Bapak dan ibu yang selalu siap sedia membantu saat aku harus menitipkan anak-anak sejenak. Rasanya masih nggak percaya aku bisa melaluinya.

Apapun pendapat, komentar ataupun nyinyiran netijen aku bodo amat. Semua ini aku yang jalani jadi selain donatur dilarang mengatur. Sekali lagi alhamdulillah aku bisa menyelesaikan apa yang sudah aku mulai, tentunya ini tak akan mudah tanpa dukungan support system yang baik. 

Selasa, 08 April 2025

Ramadhan, Jeruk Keprok dan Efisiensi Lebaran

Assalamualaikum semuanya....

Kami dari keluarga besar G. ADI S. family menghaturkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 H. Kami juga mohon dimaafkan atas segala salah dan khilaf baik dalam tutur kata atau tingkah laku kami dalam berinteraksi dan bermuamalah selama ini.


Untung teknologi sudah semakin canggih, kami yang nggak sempet bikin foto lebaran sudah dibuatkan oleh AI (hasil utak atik anak gadis). 

Bagaimana kabar puasa ramadhan kemarin?
Satu bulan yang terasa sangat singkat bagiku. Dulu saat masih kecil puasa sehari saja rasanya kok lama banget, mungkin itu juga yang dirasakan anak-anak. Tapi setelah kini aku menjadi orang tua kok rasanya jadi cepet, mungkin karena sudah terbiasa juga. Apa pun dan bagaimana pun rasa puasa ramadahan tahun ini semoga ada jejak baik yang tertinggal pada diri kita masing-masing. Alhamdulillah kakak-kakak tahun ini puasanya lancar semua dan kabar bahagianya puasa kali ini jadi puasa ramadhan pertama anak gadisku harus "bolong", sekarang kamu sudah baligh tanggung jawabmu sudah makin besar. Putri soloku juga alhamdulillah tahun ini lebih mudah untuk dibangunin sahur dan puasanya hanya bolong 2 hari karena harus ke dokter gigi. Sedangkang bujang bontot nampaknya masih berat untuk dilatih puasa. Pencapaian besarku adalah ga ada drama kesiangan sahur dan ga ada sahur pake indomie goreng alias bener-bener sebisa mungkin ga masak mie instan, hampir 90 % aku sempat masak untuk menu berbuka dan sahur sisanya ya karena beberapa kali makan diluar dan anak-anak minta pesan makanan online.

Ada apa dengan "Jeruk Keprok"?
Bagi penggemar drakor mungkin akan langsung paham dengan "jeruk keprok" yang aku maksud. Yap, serial drama yang lagi hits When Life Give You Tangerines yang menceritakan tentang kehidupan tokoh Oh Ae-sun dan Yang Gwan-sik. Drakor yang berlatar belakang kehidupan mulao tahun 60an dan benar-benar mengisahkan kehidupan rakyat pada umumnya bukan keluarga CEO yang penuh dengan kemewahan membuat drama ini terasa sangat related dengan kehidupan para penontonnya. Sosok Gwan-sik yang kini jadi sosok suami idaman tak ayal membuat para penontonya berkhayal bisa menemukan jodoh seperti Yang Gwan-sik. Aku yang bukan penggemar drakor akut jujur sangat setuju jika drama ini memang benar-benar keren. Emosi penonton dibuat naik turun, entah sudah berapa lembar tisue habis selama menonton drama ini. Pastinya banyak pelajaran yang disampaikan sepanjang alur drama ini dan semoga para penonton juga bisa mengambil pelajaran tersebut tak hanya menangis sesenggukan saja. Semoga siapa pun yang sudah menonton drama ini bisa lebih menghargai orang tua kita, pasangan kita, orang-orang disekitar kita dan kehidupan yang telah Allah berikan pada kita walau rasanya se-asam jeruk keprok tapi tinggal bagaimana kita menjalaninya, menerimanya sehingga jeruk keprok yang asam bisa jadi manis dan menyegarkan.

Lebaran dan efisiensi
Tak bisa dipungkiri kata-kata efisiensi yang digembor-gemborkan pemerintah nyatanya cukup berpengaruh juga dengan tradisi lebaran tahun ini. Menurut aku pribadi lebaran kali ini tak seramai biasanya, beberapa teman juga mengakuinya bahwa ada penurunan omset di lebaran tahun ini walau ada juga yang mengalami kenaikan. Tapi itulah hidup tak selamanya akan sama kadang naik kadang turun, kadang ramai kadang sepi. Kami sendiri bulan puasa ini full tidak ada penjualan dari kebun karena memang belum panen, memang belum rejekinya. Meski tak semeriah biasanya tapi alhamdulillah lebaran tahun ini aku dan anak-anak bisa ikut mudik ke Kota Udang menengok tanah kelahiranku setelah bertahun-tahun lebaran akhirnya tim dapur umum ikut mudik. Terima kasih buat  Pak Pres yang sudah mengijinkan dan mau jagain Eyang di rumah. Semoga lebaran tahun depan bisa berkumpul dengan lebih banyak lagi saudara sehingga anak-anak juga bisa lebih mengenal silsilah keluarga ayah dan bunda.

Semoga semunya sehat selalu, kini saatnya kembali makaryo semoga kita semua diberi panjang umur, rezeki yang berlimpah dan kembali bertemu dengan bulan ramadahan dan syawal tahun depan. Aamiin

Kamis, 27 Maret 2025

Catatan Si Insecure (Part 5) Tamat

Alhamdulillah... hari ini terakhir masuk kantor sebelum libur lebaran dan ini juga part terakhir dari Catatan Si Insecure. Setelah kita bahas siapa saja yang berpotensi mengalami insecure, apa saja penyebabnya, bagaimana tanda-tandanya. Di part ini kita akan sama-sama belajar bagaimana keluar dari rasa insecure tersebut, langkah-langkah apa saja untuk mengatasi rasa tersebut.

Sekedar tak pede untuk bicara di depan umum bisa dilatih dengan mengikuti public speaking. Namun jika rasa tak percaya diri itu berasal dari berlapis-lapis kendala psikologis yang telah berlangsung bertahun-tahun, tentu tak cukup hanya dengan kata-kata afirmasi. Ada banyak yang harus dibongkar dari mindset termasuk melatih emosi-emosi negatif agar terkendali lebih baik.

1. Mencintai Diri Sendiri

    God said, "love your enemy." I believe in Him And then I love myself ~Kahlil Gibran~

Musuh terbesar dari seseorang adalah dirinya sendiri. Kita benci diri sendiri lantaran fisik tak semenawan selebriti di televisi, kita benci diri kita lantaran tak pandai bergaul sehingga tak memiliki banyak teman, kita benci diri kita karena tak punya prestasi apa-apa di sekolah dan sederet alasan lain yang sebenarnya hanya perasaan kita saja. Saat kita mencintai seseorang dengan tulus seharusnya cinta itu tanpa syarat termasuk saat mencintai diri sendiri tak harus memiliki syarat berat bahwa diri kita harus sempurna. Coba bercerminlah, amati baik-baik dan temukan hal-hal indah yang telah Allah titipkan pada diri kita, hitunglah jumlah kelebihan yang ada di diri kita dan cintailah kelebihan-kelebihan itu. Yakin deh setiap diri kita itu unik dan pasti setiap manusia memiliki kelebihan yang hanya belum terlihat saja karena tertutup oleh setumpuk rasa tak percaya diri.

2. Berbaik Hati Pada Diri Sendiri

Ada tipe orang yang bisa memanjakan diri sendiri tapi ada pula yang sebaliknya terlalu memikirkan orang lain sampai lupa menyenangkan diri sendiri dan itulah si insecure. Padahal tidak ada salahnya untuk sesekali memanjakan diri atau istilahnya self reward. Aku pun pernah berada di posisi itu apalagi stelah menjadi ibu, kepentingan anak menjadi prioritas melihat pakaian suami atau anak yang sudah mulai lusuh aku sibuk mencarikan yang baru sampai aku tak sadar bahwa dasterku saja sudah mulai lusuh dan robek. Suami juga begitu kadang mau beli celana saja yang memang sudah jadi kebutuhan pokok jika tidak dipaksakan ya ga jadi-jadi, ada saja alasan untuk menunda kebutuhan pribadi anak butuh inilah, ada kebutuhan yang lebih urgent lah. Jadi selagi tak berlebihan dan masih dalam batas wajar tak apalah memberikan self reward untuk diri kita, jika lelah istirahatlah sejenak bolehlah rumah sesekali tak harus selalu rapih yang penting sebagai ibu kita tetap waras.

3. Mencoba Perbanyak Teman

Rasa insecure bisa jadi karena seseorang kurang referensi dalam menimbang sesuatu. Merasa buruk dan kurang di berbagai sisi padahal diluar sana ada yang mungkin lebih buruk dari kita, lebih bodoh tapi mereka tetap pede aja. Memiliki teman dari berbagai jenis atau rentang usia bisa memberikan pengalaman yang lebih beragam. Teman yang lebih tua bisa memberikan pengalaman hidup yang berharga, teman yang lebih muda bisa menularkan semangat dan kreativitasnya. Berteman dengan yang kaya bisa belajar tentang bagaimana mencapai kesuksesan finansial, berteman dengan kalangan menengah kebawah akan membuat kita lebih bersyukur. Bila kita terlalu lama sendiri, terkungkung dalam tembok-tembok imajinasi yang dibangun sendiri bisa jadi rasa insecure akan meningkat karena kita akan lebih fokus hanya dengat maslah pribadi yang ruwet dan rumit.

4. Bergabung Dengan Komunitas

Salah satu penyebab rasa insecure salah satunya karena merasa tidak kompeten, tak memiliki keahlian atau ketrampilan tertentu. Untuk itu ada baiknya dicoba untuk bergabung ke dalm sebuah komunitas tertentu untuk mengasah ketrampilan sesuai dengan minat atau hobi kita. Alhamdulillah aku sendiri sempat bergabung dengan beberapa komunitas menulis yang walau pada akhirnya harus off dulu semuanya karena kesibukan mengurus anak dan pekerjaan di kantor. Dari komunitas tersebut aku jadi lebih bisa mengasah kemampuan menulisku dan bisa menghasilkan karya yang memberikan rasa kepuasan tersendiri. Dari menulis juga bisa menjadi self healing karena memang menulis bisa jadi salah satu terapi untuk merilis semua permasalahan yang sepertinya terlalu ruwet jika hanya dipikirkan saja. Dari komunitas kita juga bisa mendapatkan banyak teman dengan berbagai macam karakter.

5. Belajar Bersosialisasi

Aku termasuk spesies yang tak pandai bersosialisasi, berbeda dengan mereka yang ekstrovert akan mudah berbasa-basi dan berkenalan dengan orang baru. Si insecure yang introvert akan menganggap sebuah siksaan jika disuruh mencari teman dan masuk dalam komunitas, mereka lebih senang duduk berjam-jam sendiri. Mungkin  kita bisa mempelajari bagaimana teknik komunikasi sederhana yang tak perlu meluncurkan banyak kata, mungkin dengan memasang senyum yang ramah, menawarkan tempat duduk, menawarkan perman atau snack. Tapi kita harus siap berlapang dada saat tawaran kita ditolak. Coba datang ke tempat keramaian hanya untuk mengamati bagaimana cara orang bersosialisai/ berinteraksi. Ketrampilan bersosialisasi dengan melibatkan banyak orang akan mengikis sedikit demi sedikit rasa insecure. Rasa dihargai, dibutuhkan, dihormati akan muncul hingga kita menjadi nyaman dan mencintai diri sendiri. 

6. Mencoba Menenangkan Pikiran (Mindfulness)

Pikiran-pikiran negatif yang muncul  dari rasa insecure berasal dari gejolak perasaan yang meledak-ledak. Pikiran-pikiran terkendali yang tiba-tiba muncul, hilang, muncul lagi silih berganti dan tumpang tindih dengan emosi-emosi tak menentu. Saat pikiran tak tenang maka batin pun menjadi tak tenang. Berikut beberapa teknik mindfulness yang bisa dilakukan:

  • Mengambil nafas panjang
  • Mengambil wudhu 
  • Istighfar/ berdzikir
  • Duduk menyendiri sambil bermuhasabah
  • Menulis diary untuk sekedar menumpahkan unek-unek
  • Saat situasi tenang coba berpikir jernih tentang makna hidup dan rancangan ke depan.

Tenangkan pikiran, tarik nafas perlahan, berikan kesempatan diri untuk memulihkan perasaan dan pikiran yang sakit. Pikirkan hal yang positif dan berdiskusi dengan sendiri seperti saat menatap cermin. Hargailah diri sendiri tak perlu terlalu mencemaskan masa depan dan memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi. Syukuri apa yang kita miliki, apa yang sudah Allah SWT berikan. Dengan terciptanya ketenangan kita bisa menyelamatkan diri dari permasalahan baru, dipandu dengan doa kepada Sang Pemilik hidup maka kita bisa merenung dan memutuskan perkara-perkara besar dalam hidup kita.

Mungkin inilah akhir dari catatan Si Insecure, buat yang ingin membaca lebih lengkap catatan ini merujuk dari buku karangan Mbak Sinta Yudisia yang berjudul The New Me Life After Crisis. Semoga bisa menjadi salah satu referensi bagi teman-teman yang sedang mencoba keluar dari rasa insecure. Mari kita keluar dari insecure dan lebih banyak bersyukur 😊


Rabu, 26 Maret 2025

Catatan Si Insecure (Part 4)

 Yuks kita lanjut lagi pembahasan kita kemarin, apa saja sih tanda-tanda insecure?

6. Orang yang betul-betul aneh. Saat sedang baik bisa baik banget tapi tiba-tiba bisa marah-marah nggak jelas ibarat kata mood kita bisa tiba-tiba saja berubah (mood swing) atau orang-orang melihatnya mirip-mirip dengan bipolar. Si Insecure biasanya selera yang aneh, misal saat cuaca panas oarang-orang pesan es teh dia justru pesan kopi panas, saat teman-teman seusianya mengidolakan aktris A dia malah punya idola yang berlawanan. Tak ada orang yang memiliki kesamaan hobi atau kesukaan dengannya, alhasil dia merasa terasing ditengah keramaian. Akupun pernah merasakan hal itu dimana menjadi seorang yang tidak pada umumnya, tapi aku mengambil sisi positifnya bahwa aku tidak mudah terbawa tren atau istilah saat ini FOMO. Dulu saat SMP teman-teman hampir semuanya punya jam G-shock dan kaos dadung, aku justru baru punya kaos itu disaat trennya sudah meredup karena memang tabunganku baru cukup saat itu untuk membelinya dan aku bukan tipe yang mudah meminta ini itu ke ortu. Aku lebih banyak menyukai hal-hal yang tidak banyak orang suka, ternyata membentuk dinding-dinding yang memenjarakan aku dalam imajinasi yang aku buat sendiri bahwa tak ada seorang pun teman yang memiliki mimpi serupa. Aku merasa jadi manusia yang aneh.

7. Mudah berprasangka buruk. Si Insecure memilki pikiran negatif yang lebih cepat muncul ketimbang pikiran positif. mendengar berita buruk apa pun bahkan menonton film saja bisa menimbulkan pikiran-pikiran buruk bahwa hal serupa seolah akan menimpa dirinya. Mungkin kalau anak jaman sekarang bilangnya "lebay". Musibah memang tak dapat diduga kapan datangnya tapi merasa diri selalu dalam ancaman bahaya itu juga bukan hal yang wajar. Si insecure juga bisa dengan mudah menuduh pasangannya dengan beragam prasangka yang belum tentu kebenarannya. 

8. Hidup selalu dihantui rasa was-was. Hampir mirip dengan poin sebelumnya si insecure akan selalu merasa was-was akan kehidupannya. Jangan-jangan, kalau-kalau, bisa jadi, boleh jadi dan aneka kalimat pengandaian terus muncul dibenaknya. Dulu saat SD walau aku memiliki otak yang bisa dibilang lumyan encer tapi setiap akan menghadapi tes sumatif aku pasti jatuh sakit, mungkin secara tak sadar pikiranku selalu dihantui apakah aku akan bisa mengerjakan tes nanti? apa aku bisa rangking lagi? Saat akan menapaki jenjang kehidupan berikutnya kita pun jadi dihantu rasa was-was mampukah kita lulus kuliah tepat waktu? bisakah kita dapat pekerjaan yang layak? bisakah kita bertemu jodoh yang kita idamkan dan hidup bahagian seperti kisah dalam dongeng atau justru akan bernasib tragis seperti selebriti-selebriti yang ramai-ramai bercerai? Si insecure jadi benar-benar overthinking.

9. Mudah bersikap defensif. Biasanya si insecure walau bukan orang yang yakin pada dirinya sendiri dia juga agak sulit menerima masukan dari orang lain, hal tersebut karena di dalam dirinya masih terdapat konflik panjang yang belum selesai dan berlapis-lapis masalah yang masih butuh diuraikan. Seringkali karena ingin melindungi diri sendiri yang tak berdaya oleh situasi luar, salah satu mekanismenya adalah bersikap defensif atau cenderung bertahan. Padahal dalam hubungan sosial mengkritik itu akan selalu ada, masukan yang terdengar biasa bagi orang lain bisa terdengar bebeda bagi si insecure. Niat orang lain ingin memberi nasihat atau masukan justru bisa dianggap meremehkan, menyudutkan atau menyalahkan langkah-langkah yang telah diambil.

10. Selalu ingin menyenangkan orang lain. Sisi ini ini sering membuat si insecure tertekan. Walau sering bersebrangan dengan rang lain, merasa was-was dan bersikap defensif si insecure akan mencoba menyenangkan hati orang lain sebanyak mungkin walaupun orang itu belum tentu tepat baginya. harapannya dengan menyenangkan hati orang lain akan mendapat kenyamanan dan rasa aman padahal belum tentu demikian. Ketika ada situasi buruk kecemasan akan meningkat dan untuk mengatasinya si insecure bisa defensif dan menyerang orang lain atau berdiam dan menyenangkan hati orang lain bahkan bisa melakukan keduanya, melelahkan bukan? Aku pernah merasakan hal ini saat berkonflik dengan beberapa teman, mereka mulai menjauhiku dan aku berusaha melakukan banyak hal untuk membuat mereka kembali mau dekat denganku walau nyatanya tetap nihil.

Jika digambarkan memang isi pikiran si insecure bisa seruwet itu, ibarat tak mudah diuraikan. Tapi yakinlah setiap maslah pasti ada jalan keluarnya dan si insecure insyaallah bisa kok keluar dari keruwetan yang sebenarnya dia ciptakan sendiri. Okey selanjutnya kita bahas lagi langkah-langkah yang bisa kita lakukan untuk mengatasi rasa insecure ini. Yang mau berkomentar dipersilahkan ya😊




Selasa, 25 Maret 2025

Catatan Si Insecure (Part 3)

Hari ini aku update lebih siang karena memang kemarin laptop aku tinggal di kantor. Baiklah hari ini kita akan bahas  mengenai apa saja sih tanda-tanda insecure. Ada banyak tanda-tanda yang bisa kita jadikan petunjuk bahwa seseorang terindikasi insecure dan diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Merasa diri tak berharga, apakah kita termasuk orang yang membenci diri sendiri? Aku pernah! Saat duduk di bangku sekolah dasar aku pernah membenci diriku sendiri. Aku yang pemalu, aku yang penyakitan, aku yang nggak pedean, aku si upik abu karena merasa fisikku yang dibawah rata-rata. Alhamdulillah Allah masih menyelamatkanku dengan memberiku kecerdasan yang bisa dibilang di atas rata-rata temanku saat itu. Tapi satu hal itu saja tak cukup membuatku untuk menghilangkan begitu saja rasa benci itu. Sampai aku pernah berpikir kalau saja aku tidak pintar mungkin tidak akan ada yang mau berteman denganku. Merasa diri tak memiliki nilai, tak berharga, tak pantas dicintai ternyata adalah ciri khas dari rasa insecure.
  2. Membandingkan (semua orang bahagia kecuali aku). Setiap orang pasti memiliki persepsi dan tolok ukur masing-masing tentang kebahagiaan. Yang berkembang di pikiran kita pada umumnya bahagia adalah jika memiliki fisik rupawan yang membuat banyak orang tertarik, memiliki harta berlimpah sehingga bisa membeli apapun yang diinginkan, memiliki otak yang cerdas dan segudang prestasi. Akupun pernah dalam situasi ini meski aku tahu bahwa kita harus mensyukuri apapun yang telah Allah berikan. Saat rumah tangga sedang dalam konflik, melihat teman-teman yang bahagia dengan keluarganya membuatku pernah protes kepada Tuhan "Apakah aku nggak berhak bahagia?!". Saat itu diri ini benar-benar merasa paling merana dan menjadi orang yang paling menderita. Ternyata sangat suka membanding-bandingkan antara diri sendiri dengan orang lain adalah ciri khas dari insecurity yang merasa tak pernah puas.
  3. Sering membuat situasi runyam. Pernah dengar istilah orang yang hadirnya tak menggenapkan kepergiannya pun tak menjanjikan? Kita mungkin pernah mempunyai teman yang kehadirannya hanya bikin bete dan sangat tidak diharapkan karena kehadirannya hanya membuat orang marah dan sebal. Setiap dia posting di grup whatsapp seringnya tidak ada yang merespon. Ketika terjadi situasi-situasi yang tidak mengenakan atau ada teman-temannya yang marah maka dia kan langsung merasa bersalah dan  berpikiran bahwa dialah penyebab situasi buruk itu terjadi padahal belum tentu. Si insecure akan selalu merasa bersalah atas peristiwa atau perilaku buruk yang terjadi disekitarnya. 
  4. Takut jika orang tau siapa aku sebenarnya (mereka akan membenciku). Pernah nggak kita merasa takut jika orang lain mengetahui keburukan kita? Seorang pendakwah yang biasa terlihat dengan pakaian syar'i dan menyandang gelar ustadz dengan perilaku serta tutur kata yang lemah lembut akan mewanti-wanti jangan sampai orang luar tahu kalau sebenarnya dia mudah sekali marah kalau di rumah. Seorang motivator atau penasehat pernikahan yang ternyata rumah tangganya sendiri sedang diujung tanduk maka dia akan merasa insecure jika orang-orang di luar tahu kondisi rumah tangga dia sebenarnya. Si insecure seringkali menjadi people pleasure dengan merasa lebih baik menampilkan hal-hal baik saja di depan umum dan mengikuti apa saja yang membuat orang-orang disekitarnya senang.
  5. Merasa tidak ada yang bisa memahami apa yang terjadi pada diri dan hidupnya. Pernah nggak kita melontarkan pertanyaan "kenapa sih nggak ada satu pun orang yang mengerti permasalahanku?" Si insecure seringkali menuduh orang-orang tak memahami dirinya berikut dengan kecemasan-kecemasan yang menghantuinya. Ingin menceritakan dan menumpahkan semua keluh kesahnya tapi seolah tak ada yang mau mendengar. Sekalinya ada yang mau mendengar, paling hanya menanggapi sekenanya atau memberi kata-kata motivasi sekedarnya padahal yang diinginkan lebih dari itu.
Sebenarnya masih ada beberapa poin lainnya, nanti kita sambung lagi di lain kesempatan, buat yang mau sharing silahkan ya... terima kasih😊



Januari 2026 ( Yuks Mulai Lagi!)

  Apa kabar diriku? Nggak terasa sudah 2026 ya, atau terasa banget perjalanan 2025 kemarin? Gimana berat atau kata anak sekarang "b aja...