Tampilkan postingan dengan label new me. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label new me. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 November 2025

Akhirnya Tiba Juga (Perjalanan S-2)


Hari yang ditunggu akhirnya tiba, bukan sekedar ceremony atau euphoria saja melainkan perwujudan sebuah makna yang sangat dalam.

Kupenuhi janji itu, janji untuk terus melangkah, janji untuk terus belajar walaupun belajar tak semata-mata dengan sekolah formal. Aku memang pernah bermimpi bisa melanjutkan kuliah hingga jenjang S-2 tapi mimpi itu berangsur memudar saat anak-anak satu persatu lahir. Rasanya kok pesimis "ah ga mungkin", "sudahlah buat anak-anak saja nanti". Apa lagi kondisi ekonomi kami yang benar-benar sedang ditahap merintis, rasanya jika dihitung dengan matematika manusia kok nggak masuk akal. Namun ternyata takdir mengamini mimpiku walau bukan melalui jalur beasiswa seperti yang kuimpikan tapi akhirnya aku berkesempatan mengenyam bangku kuliah hingga jenjang S-2. 

Dahulu sebelum menikah aku memang pernah mengutarakan kepada calon suami jika aku masih punya janji dengan kedua orangtuaku untuk melanjutkan kuliah sampai S-1. Alhamdulillah dia tidak keberatan dan nyatanya kini dia yang mendorongku untuk melanjutkan studi hingga S-2. Dia tahu bahwa aku ingin sekali melanjutkan S-2 dengan mengejar bea siswa. Tapi setelah melalui banyak pertimbangan akhirnya suami menyarankan untuk mengambil yang mudah saja dulu. Dalam artian proses pendaftarannya tidak terlalu sulit begitu pula dengan proses kuliahnya karena aku tak perlu khawatir meninggalkan anak-anak. Masalah biaya suami menenangkanku bahwa nanti dipikir bersama, insya allah ada rejekinya. Gampang nanti kalau kesempatan beasiswa itu masih ada, kalau memang rejeki insyaallah nggak akan kemana. Okelah akhirnya kuputuskan mengambil jalur tugas belajar tanpa diberhentikan dengan konsekuensi biaya pendidikan ditanggung sendiri.

Saat itu suami sudah memberi lampu hijau, saat itu pula kesempatan seperti langsung menarikku. Alhamdulillah mulai dari semester satu hingga semester tiga akhirnya bisa terlalui walau harus gali lubang tutup lubang yang penting pas butuh pas ada. Ketemu teman-teman yang baik, dosen-dosen yang baik pula walau kadang tugasnya bikin nggak nafsu makan.  Tiga semester kemarin yang nano-nano rasanya. Kuliah online sambil diiringi backsound 3 "ajudanku" bahkan kadang sampai ketiduran saking capeknya. Kuliah offline sesekali waktu bareng teman-teman. Ngerjain tugas, presentasi yang diselingi oleh majelis ghibah yang suka ghibahin diri sendiri. Hingga akhirnya selesai juga sampai sidang tesis. Yang terpenting segala daya upaya yang sudah dikerahkan baik tenaga, pikiran, waktu dan tentunya biaya terbayar sudah.  

Diluar materi kuliah secara formal, banyak pelajaran berharga yang aku dapat selama tiga semester kemarin termasuk bagaimana menemukan kembali diriku. Insyaallah ini semua akan jadi bekalku dalam menjalankan peranku sebagai istri dan juga ibu yang lebih baik lagi. Karena bagiku pendidikan tinggi tidak semata-mata hanya untuk karir semata karena karir tertinggiku saat ini ya menjadi ibu dari ketiga calon manusia hebat pada masanya nanti. Ini sekaligus menjawab pertanyaan teman-temanku "ngapain kamu kuliah lagi katanya mau pensiun dini?". 

Suami dan anak-anak tentunya jadi saksi hidup bagaimana perjuanganku, kerelaan mereka  berbagi waktu yang aku habiskan untuk kembali belajar. Bapak dan ibu yang selalu siap sedia membantu saat aku harus menitipkan anak-anak sejenak. Rasanya masih nggak percaya aku bisa melaluinya.

Apapun pendapat, komentar ataupun nyinyiran netijen aku bodo amat. Semua ini aku yang jalani jadi selain donatur dilarang mengatur. Sekali lagi alhamdulillah aku bisa menyelesaikan apa yang sudah aku mulai, tentunya ini tak akan mudah tanpa dukungan support system yang baik. 

Kamis, 27 Maret 2025

Catatan Si Insecure (Part 5) Tamat

Alhamdulillah... hari ini terakhir masuk kantor sebelum libur lebaran dan ini juga part terakhir dari Catatan Si Insecure. Setelah kita bahas siapa saja yang berpotensi mengalami insecure, apa saja penyebabnya, bagaimana tanda-tandanya. Di part ini kita akan sama-sama belajar bagaimana keluar dari rasa insecure tersebut, langkah-langkah apa saja untuk mengatasi rasa tersebut.

Sekedar tak pede untuk bicara di depan umum bisa dilatih dengan mengikuti public speaking. Namun jika rasa tak percaya diri itu berasal dari berlapis-lapis kendala psikologis yang telah berlangsung bertahun-tahun, tentu tak cukup hanya dengan kata-kata afirmasi. Ada banyak yang harus dibongkar dari mindset termasuk melatih emosi-emosi negatif agar terkendali lebih baik.

1. Mencintai Diri Sendiri

    God said, "love your enemy." I believe in Him And then I love myself ~Kahlil Gibran~

Musuh terbesar dari seseorang adalah dirinya sendiri. Kita benci diri sendiri lantaran fisik tak semenawan selebriti di televisi, kita benci diri kita lantaran tak pandai bergaul sehingga tak memiliki banyak teman, kita benci diri kita karena tak punya prestasi apa-apa di sekolah dan sederet alasan lain yang sebenarnya hanya perasaan kita saja. Saat kita mencintai seseorang dengan tulus seharusnya cinta itu tanpa syarat termasuk saat mencintai diri sendiri tak harus memiliki syarat berat bahwa diri kita harus sempurna. Coba bercerminlah, amati baik-baik dan temukan hal-hal indah yang telah Allah titipkan pada diri kita, hitunglah jumlah kelebihan yang ada di diri kita dan cintailah kelebihan-kelebihan itu. Yakin deh setiap diri kita itu unik dan pasti setiap manusia memiliki kelebihan yang hanya belum terlihat saja karena tertutup oleh setumpuk rasa tak percaya diri.

2. Berbaik Hati Pada Diri Sendiri

Ada tipe orang yang bisa memanjakan diri sendiri tapi ada pula yang sebaliknya terlalu memikirkan orang lain sampai lupa menyenangkan diri sendiri dan itulah si insecure. Padahal tidak ada salahnya untuk sesekali memanjakan diri atau istilahnya self reward. Aku pun pernah berada di posisi itu apalagi stelah menjadi ibu, kepentingan anak menjadi prioritas melihat pakaian suami atau anak yang sudah mulai lusuh aku sibuk mencarikan yang baru sampai aku tak sadar bahwa dasterku saja sudah mulai lusuh dan robek. Suami juga begitu kadang mau beli celana saja yang memang sudah jadi kebutuhan pokok jika tidak dipaksakan ya ga jadi-jadi, ada saja alasan untuk menunda kebutuhan pribadi anak butuh inilah, ada kebutuhan yang lebih urgent lah. Jadi selagi tak berlebihan dan masih dalam batas wajar tak apalah memberikan self reward untuk diri kita, jika lelah istirahatlah sejenak bolehlah rumah sesekali tak harus selalu rapih yang penting sebagai ibu kita tetap waras.

3. Mencoba Perbanyak Teman

Rasa insecure bisa jadi karena seseorang kurang referensi dalam menimbang sesuatu. Merasa buruk dan kurang di berbagai sisi padahal diluar sana ada yang mungkin lebih buruk dari kita, lebih bodoh tapi mereka tetap pede aja. Memiliki teman dari berbagai jenis atau rentang usia bisa memberikan pengalaman yang lebih beragam. Teman yang lebih tua bisa memberikan pengalaman hidup yang berharga, teman yang lebih muda bisa menularkan semangat dan kreativitasnya. Berteman dengan yang kaya bisa belajar tentang bagaimana mencapai kesuksesan finansial, berteman dengan kalangan menengah kebawah akan membuat kita lebih bersyukur. Bila kita terlalu lama sendiri, terkungkung dalam tembok-tembok imajinasi yang dibangun sendiri bisa jadi rasa insecure akan meningkat karena kita akan lebih fokus hanya dengat maslah pribadi yang ruwet dan rumit.

4. Bergabung Dengan Komunitas

Salah satu penyebab rasa insecure salah satunya karena merasa tidak kompeten, tak memiliki keahlian atau ketrampilan tertentu. Untuk itu ada baiknya dicoba untuk bergabung ke dalm sebuah komunitas tertentu untuk mengasah ketrampilan sesuai dengan minat atau hobi kita. Alhamdulillah aku sendiri sempat bergabung dengan beberapa komunitas menulis yang walau pada akhirnya harus off dulu semuanya karena kesibukan mengurus anak dan pekerjaan di kantor. Dari komunitas tersebut aku jadi lebih bisa mengasah kemampuan menulisku dan bisa menghasilkan karya yang memberikan rasa kepuasan tersendiri. Dari menulis juga bisa menjadi self healing karena memang menulis bisa jadi salah satu terapi untuk merilis semua permasalahan yang sepertinya terlalu ruwet jika hanya dipikirkan saja. Dari komunitas kita juga bisa mendapatkan banyak teman dengan berbagai macam karakter.

5. Belajar Bersosialisasi

Aku termasuk spesies yang tak pandai bersosialisasi, berbeda dengan mereka yang ekstrovert akan mudah berbasa-basi dan berkenalan dengan orang baru. Si insecure yang introvert akan menganggap sebuah siksaan jika disuruh mencari teman dan masuk dalam komunitas, mereka lebih senang duduk berjam-jam sendiri. Mungkin  kita bisa mempelajari bagaimana teknik komunikasi sederhana yang tak perlu meluncurkan banyak kata, mungkin dengan memasang senyum yang ramah, menawarkan tempat duduk, menawarkan perman atau snack. Tapi kita harus siap berlapang dada saat tawaran kita ditolak. Coba datang ke tempat keramaian hanya untuk mengamati bagaimana cara orang bersosialisai/ berinteraksi. Ketrampilan bersosialisasi dengan melibatkan banyak orang akan mengikis sedikit demi sedikit rasa insecure. Rasa dihargai, dibutuhkan, dihormati akan muncul hingga kita menjadi nyaman dan mencintai diri sendiri. 

6. Mencoba Menenangkan Pikiran (Mindfulness)

Pikiran-pikiran negatif yang muncul  dari rasa insecure berasal dari gejolak perasaan yang meledak-ledak. Pikiran-pikiran terkendali yang tiba-tiba muncul, hilang, muncul lagi silih berganti dan tumpang tindih dengan emosi-emosi tak menentu. Saat pikiran tak tenang maka batin pun menjadi tak tenang. Berikut beberapa teknik mindfulness yang bisa dilakukan:

  • Mengambil nafas panjang
  • Mengambil wudhu 
  • Istighfar/ berdzikir
  • Duduk menyendiri sambil bermuhasabah
  • Menulis diary untuk sekedar menumpahkan unek-unek
  • Saat situasi tenang coba berpikir jernih tentang makna hidup dan rancangan ke depan.

Tenangkan pikiran, tarik nafas perlahan, berikan kesempatan diri untuk memulihkan perasaan dan pikiran yang sakit. Pikirkan hal yang positif dan berdiskusi dengan sendiri seperti saat menatap cermin. Hargailah diri sendiri tak perlu terlalu mencemaskan masa depan dan memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi. Syukuri apa yang kita miliki, apa yang sudah Allah SWT berikan. Dengan terciptanya ketenangan kita bisa menyelamatkan diri dari permasalahan baru, dipandu dengan doa kepada Sang Pemilik hidup maka kita bisa merenung dan memutuskan perkara-perkara besar dalam hidup kita.

Mungkin inilah akhir dari catatan Si Insecure, buat yang ingin membaca lebih lengkap catatan ini merujuk dari buku karangan Mbak Sinta Yudisia yang berjudul The New Me Life After Crisis. Semoga bisa menjadi salah satu referensi bagi teman-teman yang sedang mencoba keluar dari rasa insecure. Mari kita keluar dari insecure dan lebih banyak bersyukur 😊


Minggu, 23 Maret 2025

Catatan Si Insecure (Part 1)

Insecure, kata yang kini sudah tak asing lagi ditelinga kita hingga akhirnya mulai banyak pelatihan-pelatihan yang menawarkan cara untuk mengatasi rasa insecure tersebut. Dulu kita mungkin lebih familiar dengan kata "tidak pede" yang memang memiliki kesamaan dengan insecure tapi menurut seorang psikolog makna insecure sendiri  sebenarnya lebih dalam dari sekedar rasa tidak percaya diri.

Secara psikologis ada kondisi-kondisi tertentu dalam diri seseorang yang merasa insecure yang perlu disembuhkan agar tidak menjadi masalah yang berlarut-larut dan menimbulkan persoalan panjang jika tidak segera diselesaikan. 

Rasa takut dikritik, dihina, dimarahi atau semacamnya membuat rasa percaya diri seseorang jadi menguap entah kemana dan itu dapat menghambat perjalanan hidup kedepannya dalam banyak aspek. Lebih buruknya hal tersebut dapat memunculkan pikiran-pikiran buruk atau yang dikenal dengan overthinking terhadap berbagai situasi yang dihadapi. Lingkungan sekitar kita menjadi serba salah, situasinya, orangnya semua tampak salah, padahal hal tersebut bersumber dari rasa insecure dari dalam diri sendiri.

Menurut APA (American Psychology Association) dictionary of psychology, insecure is a feeling of inadequacy, lack of self confidence, and inability to cope; accompanied by general uncertainty and anxiety about one's goal, abilities or relationship with others. Yang dapat diartikan bahwa insecure adalah perasaan tidak mampu, kurang percaya diri, dan ketidakmampuan untuk mengatasi sesuatu; disertai dengan ketidakpastian dan kecemasan umum tentang tujuan, kemampuan, atau hubungan seseorang dengan orang lain.

Jadi sebenarnya insecure adalah perasaan seseorang yang merasa dirinya tidak memiliki kemampuan memadai untuk melakukan sesuatu padahal belum tentu dirinya benar-benar tidak mampu melainkan karena terpenjara dalam perasaannya sendiri, merasa tidak mampu, tidak memiliki kapasitas, tidak percaya diri, tidak sanggup mengatasi masalah.

Mengapa aku menuliskan ini?

Akulah si insecure itu, seorang gadis kecil yang terpenjara dalam rasa ketidakmampuannya, rasa tidak percaya dirinya. Padahal AllahSWT telah menciptakannya dengan begitu unik dengan segala kelebihan yang menyertai tapi  tertutup oleh kelemahan yang dia rasakan. 

Kini aku hanya ingin sedikit berbagi tentang apa yang pernah aku rasakan, setelah melihat bahwa masih ada dan entah seberapa banyak gadis kecil sepertiku yang masih merasa insecure dengan dirinya. Sebagai awal mari tanamkan dalam diri kita bahwa setiap dari diri kita terlahir istimewa.

Sampai bertemu dicatatan selanjutnya, siapa saja sih yang berpotensi terkena rasa insecure?





Januari 2026 ( Yuks Mulai Lagi!)

  Apa kabar diriku? Nggak terasa sudah 2026 ya, atau terasa banget perjalanan 2025 kemarin? Gimana berat atau kata anak sekarang "b aja...