Tampilkan postingan dengan label otw40. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label otw40. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 November 2025

Akhirnya Tiba Juga (Perjalanan S-2)


Hari yang ditunggu akhirnya tiba, bukan sekedar ceremony atau euphoria saja melainkan perwujudan sebuah makna yang sangat dalam.

Kupenuhi janji itu, janji untuk terus melangkah, janji untuk terus belajar walaupun belajar tak semata-mata dengan sekolah formal. Aku memang pernah bermimpi bisa melanjutkan kuliah hingga jenjang S-2 tapi mimpi itu berangsur memudar saat anak-anak satu persatu lahir. Rasanya kok pesimis "ah ga mungkin", "sudahlah buat anak-anak saja nanti". Apa lagi kondisi ekonomi kami yang benar-benar sedang ditahap merintis, rasanya jika dihitung dengan matematika manusia kok nggak masuk akal. Namun ternyata takdir mengamini mimpiku walau bukan melalui jalur beasiswa seperti yang kuimpikan tapi akhirnya aku berkesempatan mengenyam bangku kuliah hingga jenjang S-2. 

Dahulu sebelum menikah aku memang pernah mengutarakan kepada calon suami jika aku masih punya janji dengan kedua orangtuaku untuk melanjutkan kuliah sampai S-1. Alhamdulillah dia tidak keberatan dan nyatanya kini dia yang mendorongku untuk melanjutkan studi hingga S-2. Dia tahu bahwa aku ingin sekali melanjutkan S-2 dengan mengejar bea siswa. Tapi setelah melalui banyak pertimbangan akhirnya suami menyarankan untuk mengambil yang mudah saja dulu. Dalam artian proses pendaftarannya tidak terlalu sulit begitu pula dengan proses kuliahnya karena aku tak perlu khawatir meninggalkan anak-anak. Masalah biaya suami menenangkanku bahwa nanti dipikir bersama, insya allah ada rejekinya. Gampang nanti kalau kesempatan beasiswa itu masih ada, kalau memang rejeki insyaallah nggak akan kemana. Okelah akhirnya kuputuskan mengambil jalur tugas belajar tanpa diberhentikan dengan konsekuensi biaya pendidikan ditanggung sendiri.

Saat itu suami sudah memberi lampu hijau, saat itu pula kesempatan seperti langsung menarikku. Alhamdulillah mulai dari semester satu hingga semester tiga akhirnya bisa terlalui walau harus gali lubang tutup lubang yang penting pas butuh pas ada. Ketemu teman-teman yang baik, dosen-dosen yang baik pula walau kadang tugasnya bikin nggak nafsu makan.  Tiga semester kemarin yang nano-nano rasanya. Kuliah online sambil diiringi backsound 3 "ajudanku" bahkan kadang sampai ketiduran saking capeknya. Kuliah offline sesekali waktu bareng teman-teman. Ngerjain tugas, presentasi yang diselingi oleh majelis ghibah yang suka ghibahin diri sendiri. Hingga akhirnya selesai juga sampai sidang tesis. Yang terpenting segala daya upaya yang sudah dikerahkan baik tenaga, pikiran, waktu dan tentunya biaya terbayar sudah.  

Diluar materi kuliah secara formal, banyak pelajaran berharga yang aku dapat selama tiga semester kemarin termasuk bagaimana menemukan kembali diriku. Insyaallah ini semua akan jadi bekalku dalam menjalankan peranku sebagai istri dan juga ibu yang lebih baik lagi. Karena bagiku pendidikan tinggi tidak semata-mata hanya untuk karir semata karena karir tertinggiku saat ini ya menjadi ibu dari ketiga calon manusia hebat pada masanya nanti. Ini sekaligus menjawab pertanyaan teman-temanku "ngapain kamu kuliah lagi katanya mau pensiun dini?". 

Suami dan anak-anak tentunya jadi saksi hidup bagaimana perjuanganku, kerelaan mereka  berbagi waktu yang aku habiskan untuk kembali belajar. Bapak dan ibu yang selalu siap sedia membantu saat aku harus menitipkan anak-anak sejenak. Rasanya masih nggak percaya aku bisa melaluinya.

Apapun pendapat, komentar ataupun nyinyiran netijen aku bodo amat. Semua ini aku yang jalani jadi selain donatur dilarang mengatur. Sekali lagi alhamdulillah aku bisa menyelesaikan apa yang sudah aku mulai, tentunya ini tak akan mudah tanpa dukungan support system yang baik. 

Jumat, 14 Maret 2025

Life Begins at 40?

Mungkin kita sering atau pernah mendengar istilah "Life Begins at 40" lantas apa sebenarnya makna dari istilah tersebut?

Dikutip dari laman kompas.com (25/02/2021) menurut seorang psikolog Astrid WEN istilah itu sebenarnya untuk memberi dukungan atau semangat kepada seseorang yang memasuki "kepala 4". Namun di sisi lain ungkapan tersebut juga sebagai gambaran bahwa seseorang diusia 40 tahun sudah memasuki jenjang yang stabil dan matang, baik secara emosional maupun finansial. Jika dilihat dari karakter pada usia ini seseorang akan lebih mantap dengan dirinya, begitu pula dengan finansial, karier ataupun relasi yang dibangunnya.

Menurut pakar psikolog Elizabet B. Hurlock  masa dewasa awal atau early adulthood terbentang sejak tercapainya kematangan secara hukum sampai kira-kira usia 40 tahun. Selanjutnya adalah masa setengah baya atau midle age yang umumnya dimulai pada usia 40 tahun dan berakhir pada usia 60 tahun. Dan akhirnya, masa tua atau old age dimulai sejak terakhirnya masa setengah baya sampai seseorang meninggal. 

Sedangkan dalam Islam usia 40 tahun dianggap usia yang istimewa, dalam sebuah kajian pernah disampaikan bahwa usia 40 ini menandakan kematangan akal, fisik dan spiritual. Usia ini juga menjadi momentum untuk meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Seseorang dengan usia 40 tahun dipandang sebagai pribadi yang istimewa serta memiliki kedewasaan atau kematangan dalam berpikir maupun bersikap.

Dan saat ini aku sedang melangkah menuju kesana, menuju gerbang usia kepala 4. Rasanya diri ini menolak tua karena sejujurnya aku masih merasa muda apalagi jika bersama rekan-rekan yang memang usianya masih jauh dibawahku. Tapi aku sepenuhnya sadar memang akan tiba juga masa ini dan semoga Allah SWT sampaikan umurku disana dan aku bisa melalui fase kepala 4 dengan menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih mendekat lagi kepada Sang Pencipta Allah SWT.

Hai rekan-rekan kelahiran 86 sudah siapkah kalian memasuki fase baru ini?





Januari 2026 ( Yuks Mulai Lagi!)

  Apa kabar diriku? Nggak terasa sudah 2026 ya, atau terasa banget perjalanan 2025 kemarin? Gimana berat atau kata anak sekarang "b aja...