Tampilkan postingan dengan label Kisahku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisahku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 November 2025

Tak Sekedar Kompetisi, Menyiapkan Mental Ayah Bunda Sebelum Ananda Bertanding


 

Siang ini aku mendapat notifikasi di whatsapp grup ternyata ada foto putri keduaku sedang menerima apresiasi dari sekolah atas lomba yang diikuti beberapa waktu lalu. Ini menjadi momen pertamanya memperoleh penghargaan atas prestasinya. Semoga ini bisa menjadi motivasi untuk mau belajar lebih giat lagi dan tak lekas berpuas diri untuk terus menjadi yang lebih baik.

Berbicara soal kompetisi, sejujurnya beberapa kali mendampingi anak-anak mengikuti perlombaan/ kompetisi memberiku pelajaran tersendiri. Setiap kali anakku maju ke ajang kompetisi apapun itu aku selalu berusaha meyakinkan bahwa ini murni keinginan mereka bukan semata memuaskan ego kami orang tuanya. 

Dalam setiap perlombaan pasti ada menang dan kalah dan kita harus mempersiapkan keduanya. Jika menang jangan sombong, jika kalah jangan berputus asa. Kalimat tersebut memang mudah diucapkan tapi realisasinya tak semudah itu. Sebagai orang tua kita harus lebih siap dengan kondisi apapun itu sebelum kita mempersiapkan kondisi anak-anak. Beberapa kali aku melihat orang tua yang marah-marah karena anaknya tidak menang lomba hanya karena kesalahan kecil, mungkin mereka merasa sudah melakukan persiapan dengan sangat matang.

Untuk itu sebagai orang tua seharusnya kita bisa lebih dulu mempersiapkan mental kita sebelum mental anak kita. Bisa jadi perlombaan yang diikuti oleh anak hanya sebagai pelampiasan ego kita atau ambisi masa lalu kita yang belum tercapai sehingga tanpa sadar kita memaksakannya pada anak. Apapun hasilnya seharusnya kita bisa tetap jadi tempat kembali yang nyaman, jangan menghakiminya atau bahkan melimpahkan kesalahan atas kekalahan pada mereka. Anak-anak juga pasti kecewa saat mereka kalah dalam perlombaan, jangan tambah rasa kecewanya dengan penolakan dari kita orang tuanya. 

Aku pribadi selalu menekankan bahwa menang lomba itu bonus yang penting kalian sudah menang melawan rasa malas dalam diri untuk berlatih. Jika kalah berarti masih ada yang perlu diperbaiki dan agar mereka juga tau bahwa ada langit di atas langit sehingga tak selalu merasa jadi yang paling hebat. Yakinlah disetiap kekalahan sejatinya banyak pelajaran yang bisa diambil dan disetiap kemenangan ada tanggungjawab besar yang harus dipikul.

Pastinya jangan pernah lelah untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan (Fastabiqul khairat)


Sabtu, 05 September 2009

Di rumah itu kisahku dimulai.........

Di rumah itu kisahku dimulai.........

Rumah kecil tipe 36 yang sederhana. disana hanya ada 1 ruang, 2 kamar tidur dan 1 kamar mandi. 1 ruang disekat menjadi dua ruangan menggunakan bufet sederhana 1 sebagai ruang tamu dan satu sebagai ruang makan. di ruang tamu ada sofa kecil dan meja tamu, sedangkan diruang makan hanya ada selembar tikar yang biasa kami gunakan untuk makan bersama.

di dekat kamar mandi ada dua buah kompr minyak dan 1 lemari makan, maksud hati sebagai dapur walau sebenarnya tak layak disebut dapur.

Aku memang tidak dilahirkan dirumah itu namun dirumah itulah aku dibesarkan dan disanalah kisah perjalanan hidupku dimulai. Saat aku berusia satu tahun kami bertiga (bapak, ibu, dan aku) memutuskan untuk menjadikan rumah itu sebagai istana kami. Istana kecil namun didalamnya penuh kebahagiaan.

Walau semuanya serba terbatas dan seadanya, aku merasa senang karena ada bapak dan ibu disampingku. oh ya satu lagi kurang lebih satu tahun kami menempati rumah it tanpa adanya listrik maklum saja tempat kami tinggal adalah komplek perumahan baru yang belum terpasang jaringan listrik, saat itu tahun 1987. Jadilah setiap menjelang malam bapak dan ibu menyalakan lampu tempel sebagai penerang, dibelakang rumah kamipun masih ditumbuhi ilalang dan baru beberapa rumah yang ditempati dan itu pun terpencar - pencar.

Saat paling aku sukai yaitu ketika waktu makan dan waktu mandi. Saat tiba waktu makan aku akan membantu ibu menyiapkan tikar dan peralatan makan walau kadang sering dilarang karena takut malah piring dan gelasnya yang pecah. Saat tiba waktu mandi sore aku dan bapak akan memompa air yang bagiku itu menyenangkan karena aku akan bergelayut di tangkai besi pompa sambil bapak terus memompa air.

Allah memang Maha Adil, keadaan terus membaik sampai ketika adikku lahir semuanya sudah lebih baik ketimbang saat pertama kali kami datang. Sekarang rumah kami sudah memiliki dapur dan ruang makan dan tentunya meja makan bukan tikar lagi ^_^

Januari 2026 ( Yuks Mulai Lagi!)

  Apa kabar diriku? Nggak terasa sudah 2026 ya, atau terasa banget perjalanan 2025 kemarin? Gimana berat atau kata anak sekarang "b aja...