Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 November 2025

Tak Sekedar Kompetisi, Menyiapkan Mental Ayah Bunda Sebelum Ananda Bertanding


 

Siang ini aku mendapat notifikasi di whatsapp grup ternyata ada foto putri keduaku sedang menerima apresiasi dari sekolah atas lomba yang diikuti beberapa waktu lalu. Ini menjadi momen pertamanya memperoleh penghargaan atas prestasinya. Semoga ini bisa menjadi motivasi untuk mau belajar lebih giat lagi dan tak lekas berpuas diri untuk terus menjadi yang lebih baik.

Berbicara soal kompetisi, sejujurnya beberapa kali mendampingi anak-anak mengikuti perlombaan/ kompetisi memberiku pelajaran tersendiri. Setiap kali anakku maju ke ajang kompetisi apapun itu aku selalu berusaha meyakinkan bahwa ini murni keinginan mereka bukan semata memuaskan ego kami orang tuanya. 

Dalam setiap perlombaan pasti ada menang dan kalah dan kita harus mempersiapkan keduanya. Jika menang jangan sombong, jika kalah jangan berputus asa. Kalimat tersebut memang mudah diucapkan tapi realisasinya tak semudah itu. Sebagai orang tua kita harus lebih siap dengan kondisi apapun itu sebelum kita mempersiapkan kondisi anak-anak. Beberapa kali aku melihat orang tua yang marah-marah karena anaknya tidak menang lomba hanya karena kesalahan kecil, mungkin mereka merasa sudah melakukan persiapan dengan sangat matang.

Untuk itu sebagai orang tua seharusnya kita bisa lebih dulu mempersiapkan mental kita sebelum mental anak kita. Bisa jadi perlombaan yang diikuti oleh anak hanya sebagai pelampiasan ego kita atau ambisi masa lalu kita yang belum tercapai sehingga tanpa sadar kita memaksakannya pada anak. Apapun hasilnya seharusnya kita bisa tetap jadi tempat kembali yang nyaman, jangan menghakiminya atau bahkan melimpahkan kesalahan atas kekalahan pada mereka. Anak-anak juga pasti kecewa saat mereka kalah dalam perlombaan, jangan tambah rasa kecewanya dengan penolakan dari kita orang tuanya. 

Aku pribadi selalu menekankan bahwa menang lomba itu bonus yang penting kalian sudah menang melawan rasa malas dalam diri untuk berlatih. Jika kalah berarti masih ada yang perlu diperbaiki dan agar mereka juga tau bahwa ada langit di atas langit sehingga tak selalu merasa jadi yang paling hebat. Yakinlah disetiap kekalahan sejatinya banyak pelajaran yang bisa diambil dan disetiap kemenangan ada tanggungjawab besar yang harus dipikul.

Pastinya jangan pernah lelah untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan (Fastabiqul khairat)


Selasa, 08 April 2025

Ramadhan, Jeruk Keprok dan Efisiensi Lebaran

Assalamualaikum semuanya....

Kami dari keluarga besar G. ADI S. family menghaturkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 H. Kami juga mohon dimaafkan atas segala salah dan khilaf baik dalam tutur kata atau tingkah laku kami dalam berinteraksi dan bermuamalah selama ini.


Untung teknologi sudah semakin canggih, kami yang nggak sempet bikin foto lebaran sudah dibuatkan oleh AI (hasil utak atik anak gadis). 

Bagaimana kabar puasa ramadhan kemarin?
Satu bulan yang terasa sangat singkat bagiku. Dulu saat masih kecil puasa sehari saja rasanya kok lama banget, mungkin itu juga yang dirasakan anak-anak. Tapi setelah kini aku menjadi orang tua kok rasanya jadi cepet, mungkin karena sudah terbiasa juga. Apa pun dan bagaimana pun rasa puasa ramadahan tahun ini semoga ada jejak baik yang tertinggal pada diri kita masing-masing. Alhamdulillah kakak-kakak tahun ini puasanya lancar semua dan kabar bahagianya puasa kali ini jadi puasa ramadhan pertama anak gadisku harus "bolong", sekarang kamu sudah baligh tanggung jawabmu sudah makin besar. Putri soloku juga alhamdulillah tahun ini lebih mudah untuk dibangunin sahur dan puasanya hanya bolong 2 hari karena harus ke dokter gigi. Sedangkang bujang bontot nampaknya masih berat untuk dilatih puasa. Pencapaian besarku adalah ga ada drama kesiangan sahur dan ga ada sahur pake indomie goreng alias bener-bener sebisa mungkin ga masak mie instan, hampir 90 % aku sempat masak untuk menu berbuka dan sahur sisanya ya karena beberapa kali makan diluar dan anak-anak minta pesan makanan online.

Ada apa dengan "Jeruk Keprok"?
Bagi penggemar drakor mungkin akan langsung paham dengan "jeruk keprok" yang aku maksud. Yap, serial drama yang lagi hits When Life Give You Tangerines yang menceritakan tentang kehidupan tokoh Oh Ae-sun dan Yang Gwan-sik. Drakor yang berlatar belakang kehidupan mulao tahun 60an dan benar-benar mengisahkan kehidupan rakyat pada umumnya bukan keluarga CEO yang penuh dengan kemewahan membuat drama ini terasa sangat related dengan kehidupan para penontonnya. Sosok Gwan-sik yang kini jadi sosok suami idaman tak ayal membuat para penontonya berkhayal bisa menemukan jodoh seperti Yang Gwan-sik. Aku yang bukan penggemar drakor akut jujur sangat setuju jika drama ini memang benar-benar keren. Emosi penonton dibuat naik turun, entah sudah berapa lembar tisue habis selama menonton drama ini. Pastinya banyak pelajaran yang disampaikan sepanjang alur drama ini dan semoga para penonton juga bisa mengambil pelajaran tersebut tak hanya menangis sesenggukan saja. Semoga siapa pun yang sudah menonton drama ini bisa lebih menghargai orang tua kita, pasangan kita, orang-orang disekitar kita dan kehidupan yang telah Allah berikan pada kita walau rasanya se-asam jeruk keprok tapi tinggal bagaimana kita menjalaninya, menerimanya sehingga jeruk keprok yang asam bisa jadi manis dan menyegarkan.

Lebaran dan efisiensi
Tak bisa dipungkiri kata-kata efisiensi yang digembor-gemborkan pemerintah nyatanya cukup berpengaruh juga dengan tradisi lebaran tahun ini. Menurut aku pribadi lebaran kali ini tak seramai biasanya, beberapa teman juga mengakuinya bahwa ada penurunan omset di lebaran tahun ini walau ada juga yang mengalami kenaikan. Tapi itulah hidup tak selamanya akan sama kadang naik kadang turun, kadang ramai kadang sepi. Kami sendiri bulan puasa ini full tidak ada penjualan dari kebun karena memang belum panen, memang belum rejekinya. Meski tak semeriah biasanya tapi alhamdulillah lebaran tahun ini aku dan anak-anak bisa ikut mudik ke Kota Udang menengok tanah kelahiranku setelah bertahun-tahun lebaran akhirnya tim dapur umum ikut mudik. Terima kasih buat  Pak Pres yang sudah mengijinkan dan mau jagain Eyang di rumah. Semoga lebaran tahun depan bisa berkumpul dengan lebih banyak lagi saudara sehingga anak-anak juga bisa lebih mengenal silsilah keluarga ayah dan bunda.

Semoga semunya sehat selalu, kini saatnya kembali makaryo semoga kita semua diberi panjang umur, rezeki yang berlimpah dan kembali bertemu dengan bulan ramadahan dan syawal tahun depan. Aamiin

Kamis, 27 Maret 2025

Catatan Si Insecure (Part 5) Tamat

Alhamdulillah... hari ini terakhir masuk kantor sebelum libur lebaran dan ini juga part terakhir dari Catatan Si Insecure. Setelah kita bahas siapa saja yang berpotensi mengalami insecure, apa saja penyebabnya, bagaimana tanda-tandanya. Di part ini kita akan sama-sama belajar bagaimana keluar dari rasa insecure tersebut, langkah-langkah apa saja untuk mengatasi rasa tersebut.

Sekedar tak pede untuk bicara di depan umum bisa dilatih dengan mengikuti public speaking. Namun jika rasa tak percaya diri itu berasal dari berlapis-lapis kendala psikologis yang telah berlangsung bertahun-tahun, tentu tak cukup hanya dengan kata-kata afirmasi. Ada banyak yang harus dibongkar dari mindset termasuk melatih emosi-emosi negatif agar terkendali lebih baik.

1. Mencintai Diri Sendiri

    God said, "love your enemy." I believe in Him And then I love myself ~Kahlil Gibran~

Musuh terbesar dari seseorang adalah dirinya sendiri. Kita benci diri sendiri lantaran fisik tak semenawan selebriti di televisi, kita benci diri kita lantaran tak pandai bergaul sehingga tak memiliki banyak teman, kita benci diri kita karena tak punya prestasi apa-apa di sekolah dan sederet alasan lain yang sebenarnya hanya perasaan kita saja. Saat kita mencintai seseorang dengan tulus seharusnya cinta itu tanpa syarat termasuk saat mencintai diri sendiri tak harus memiliki syarat berat bahwa diri kita harus sempurna. Coba bercerminlah, amati baik-baik dan temukan hal-hal indah yang telah Allah titipkan pada diri kita, hitunglah jumlah kelebihan yang ada di diri kita dan cintailah kelebihan-kelebihan itu. Yakin deh setiap diri kita itu unik dan pasti setiap manusia memiliki kelebihan yang hanya belum terlihat saja karena tertutup oleh setumpuk rasa tak percaya diri.

2. Berbaik Hati Pada Diri Sendiri

Ada tipe orang yang bisa memanjakan diri sendiri tapi ada pula yang sebaliknya terlalu memikirkan orang lain sampai lupa menyenangkan diri sendiri dan itulah si insecure. Padahal tidak ada salahnya untuk sesekali memanjakan diri atau istilahnya self reward. Aku pun pernah berada di posisi itu apalagi stelah menjadi ibu, kepentingan anak menjadi prioritas melihat pakaian suami atau anak yang sudah mulai lusuh aku sibuk mencarikan yang baru sampai aku tak sadar bahwa dasterku saja sudah mulai lusuh dan robek. Suami juga begitu kadang mau beli celana saja yang memang sudah jadi kebutuhan pokok jika tidak dipaksakan ya ga jadi-jadi, ada saja alasan untuk menunda kebutuhan pribadi anak butuh inilah, ada kebutuhan yang lebih urgent lah. Jadi selagi tak berlebihan dan masih dalam batas wajar tak apalah memberikan self reward untuk diri kita, jika lelah istirahatlah sejenak bolehlah rumah sesekali tak harus selalu rapih yang penting sebagai ibu kita tetap waras.

3. Mencoba Perbanyak Teman

Rasa insecure bisa jadi karena seseorang kurang referensi dalam menimbang sesuatu. Merasa buruk dan kurang di berbagai sisi padahal diluar sana ada yang mungkin lebih buruk dari kita, lebih bodoh tapi mereka tetap pede aja. Memiliki teman dari berbagai jenis atau rentang usia bisa memberikan pengalaman yang lebih beragam. Teman yang lebih tua bisa memberikan pengalaman hidup yang berharga, teman yang lebih muda bisa menularkan semangat dan kreativitasnya. Berteman dengan yang kaya bisa belajar tentang bagaimana mencapai kesuksesan finansial, berteman dengan kalangan menengah kebawah akan membuat kita lebih bersyukur. Bila kita terlalu lama sendiri, terkungkung dalam tembok-tembok imajinasi yang dibangun sendiri bisa jadi rasa insecure akan meningkat karena kita akan lebih fokus hanya dengat maslah pribadi yang ruwet dan rumit.

4. Bergabung Dengan Komunitas

Salah satu penyebab rasa insecure salah satunya karena merasa tidak kompeten, tak memiliki keahlian atau ketrampilan tertentu. Untuk itu ada baiknya dicoba untuk bergabung ke dalm sebuah komunitas tertentu untuk mengasah ketrampilan sesuai dengan minat atau hobi kita. Alhamdulillah aku sendiri sempat bergabung dengan beberapa komunitas menulis yang walau pada akhirnya harus off dulu semuanya karena kesibukan mengurus anak dan pekerjaan di kantor. Dari komunitas tersebut aku jadi lebih bisa mengasah kemampuan menulisku dan bisa menghasilkan karya yang memberikan rasa kepuasan tersendiri. Dari menulis juga bisa menjadi self healing karena memang menulis bisa jadi salah satu terapi untuk merilis semua permasalahan yang sepertinya terlalu ruwet jika hanya dipikirkan saja. Dari komunitas kita juga bisa mendapatkan banyak teman dengan berbagai macam karakter.

5. Belajar Bersosialisasi

Aku termasuk spesies yang tak pandai bersosialisasi, berbeda dengan mereka yang ekstrovert akan mudah berbasa-basi dan berkenalan dengan orang baru. Si insecure yang introvert akan menganggap sebuah siksaan jika disuruh mencari teman dan masuk dalam komunitas, mereka lebih senang duduk berjam-jam sendiri. Mungkin  kita bisa mempelajari bagaimana teknik komunikasi sederhana yang tak perlu meluncurkan banyak kata, mungkin dengan memasang senyum yang ramah, menawarkan tempat duduk, menawarkan perman atau snack. Tapi kita harus siap berlapang dada saat tawaran kita ditolak. Coba datang ke tempat keramaian hanya untuk mengamati bagaimana cara orang bersosialisai/ berinteraksi. Ketrampilan bersosialisasi dengan melibatkan banyak orang akan mengikis sedikit demi sedikit rasa insecure. Rasa dihargai, dibutuhkan, dihormati akan muncul hingga kita menjadi nyaman dan mencintai diri sendiri. 

6. Mencoba Menenangkan Pikiran (Mindfulness)

Pikiran-pikiran negatif yang muncul  dari rasa insecure berasal dari gejolak perasaan yang meledak-ledak. Pikiran-pikiran terkendali yang tiba-tiba muncul, hilang, muncul lagi silih berganti dan tumpang tindih dengan emosi-emosi tak menentu. Saat pikiran tak tenang maka batin pun menjadi tak tenang. Berikut beberapa teknik mindfulness yang bisa dilakukan:

  • Mengambil nafas panjang
  • Mengambil wudhu 
  • Istighfar/ berdzikir
  • Duduk menyendiri sambil bermuhasabah
  • Menulis diary untuk sekedar menumpahkan unek-unek
  • Saat situasi tenang coba berpikir jernih tentang makna hidup dan rancangan ke depan.

Tenangkan pikiran, tarik nafas perlahan, berikan kesempatan diri untuk memulihkan perasaan dan pikiran yang sakit. Pikirkan hal yang positif dan berdiskusi dengan sendiri seperti saat menatap cermin. Hargailah diri sendiri tak perlu terlalu mencemaskan masa depan dan memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi. Syukuri apa yang kita miliki, apa yang sudah Allah SWT berikan. Dengan terciptanya ketenangan kita bisa menyelamatkan diri dari permasalahan baru, dipandu dengan doa kepada Sang Pemilik hidup maka kita bisa merenung dan memutuskan perkara-perkara besar dalam hidup kita.

Mungkin inilah akhir dari catatan Si Insecure, buat yang ingin membaca lebih lengkap catatan ini merujuk dari buku karangan Mbak Sinta Yudisia yang berjudul The New Me Life After Crisis. Semoga bisa menjadi salah satu referensi bagi teman-teman yang sedang mencoba keluar dari rasa insecure. Mari kita keluar dari insecure dan lebih banyak bersyukur 😊


Rabu, 26 Maret 2025

Catatan Si Insecure (Part 4)

 Yuks kita lanjut lagi pembahasan kita kemarin, apa saja sih tanda-tanda insecure?

6. Orang yang betul-betul aneh. Saat sedang baik bisa baik banget tapi tiba-tiba bisa marah-marah nggak jelas ibarat kata mood kita bisa tiba-tiba saja berubah (mood swing) atau orang-orang melihatnya mirip-mirip dengan bipolar. Si Insecure biasanya selera yang aneh, misal saat cuaca panas oarang-orang pesan es teh dia justru pesan kopi panas, saat teman-teman seusianya mengidolakan aktris A dia malah punya idola yang berlawanan. Tak ada orang yang memiliki kesamaan hobi atau kesukaan dengannya, alhasil dia merasa terasing ditengah keramaian. Akupun pernah merasakan hal itu dimana menjadi seorang yang tidak pada umumnya, tapi aku mengambil sisi positifnya bahwa aku tidak mudah terbawa tren atau istilah saat ini FOMO. Dulu saat SMP teman-teman hampir semuanya punya jam G-shock dan kaos dadung, aku justru baru punya kaos itu disaat trennya sudah meredup karena memang tabunganku baru cukup saat itu untuk membelinya dan aku bukan tipe yang mudah meminta ini itu ke ortu. Aku lebih banyak menyukai hal-hal yang tidak banyak orang suka, ternyata membentuk dinding-dinding yang memenjarakan aku dalam imajinasi yang aku buat sendiri bahwa tak ada seorang pun teman yang memiliki mimpi serupa. Aku merasa jadi manusia yang aneh.

7. Mudah berprasangka buruk. Si Insecure memilki pikiran negatif yang lebih cepat muncul ketimbang pikiran positif. mendengar berita buruk apa pun bahkan menonton film saja bisa menimbulkan pikiran-pikiran buruk bahwa hal serupa seolah akan menimpa dirinya. Mungkin kalau anak jaman sekarang bilangnya "lebay". Musibah memang tak dapat diduga kapan datangnya tapi merasa diri selalu dalam ancaman bahaya itu juga bukan hal yang wajar. Si insecure juga bisa dengan mudah menuduh pasangannya dengan beragam prasangka yang belum tentu kebenarannya. 

8. Hidup selalu dihantui rasa was-was. Hampir mirip dengan poin sebelumnya si insecure akan selalu merasa was-was akan kehidupannya. Jangan-jangan, kalau-kalau, bisa jadi, boleh jadi dan aneka kalimat pengandaian terus muncul dibenaknya. Dulu saat SD walau aku memiliki otak yang bisa dibilang lumyan encer tapi setiap akan menghadapi tes sumatif aku pasti jatuh sakit, mungkin secara tak sadar pikiranku selalu dihantui apakah aku akan bisa mengerjakan tes nanti? apa aku bisa rangking lagi? Saat akan menapaki jenjang kehidupan berikutnya kita pun jadi dihantu rasa was-was mampukah kita lulus kuliah tepat waktu? bisakah kita dapat pekerjaan yang layak? bisakah kita bertemu jodoh yang kita idamkan dan hidup bahagian seperti kisah dalam dongeng atau justru akan bernasib tragis seperti selebriti-selebriti yang ramai-ramai bercerai? Si insecure jadi benar-benar overthinking.

9. Mudah bersikap defensif. Biasanya si insecure walau bukan orang yang yakin pada dirinya sendiri dia juga agak sulit menerima masukan dari orang lain, hal tersebut karena di dalam dirinya masih terdapat konflik panjang yang belum selesai dan berlapis-lapis masalah yang masih butuh diuraikan. Seringkali karena ingin melindungi diri sendiri yang tak berdaya oleh situasi luar, salah satu mekanismenya adalah bersikap defensif atau cenderung bertahan. Padahal dalam hubungan sosial mengkritik itu akan selalu ada, masukan yang terdengar biasa bagi orang lain bisa terdengar bebeda bagi si insecure. Niat orang lain ingin memberi nasihat atau masukan justru bisa dianggap meremehkan, menyudutkan atau menyalahkan langkah-langkah yang telah diambil.

10. Selalu ingin menyenangkan orang lain. Sisi ini ini sering membuat si insecure tertekan. Walau sering bersebrangan dengan rang lain, merasa was-was dan bersikap defensif si insecure akan mencoba menyenangkan hati orang lain sebanyak mungkin walaupun orang itu belum tentu tepat baginya. harapannya dengan menyenangkan hati orang lain akan mendapat kenyamanan dan rasa aman padahal belum tentu demikian. Ketika ada situasi buruk kecemasan akan meningkat dan untuk mengatasinya si insecure bisa defensif dan menyerang orang lain atau berdiam dan menyenangkan hati orang lain bahkan bisa melakukan keduanya, melelahkan bukan? Aku pernah merasakan hal ini saat berkonflik dengan beberapa teman, mereka mulai menjauhiku dan aku berusaha melakukan banyak hal untuk membuat mereka kembali mau dekat denganku walau nyatanya tetap nihil.

Jika digambarkan memang isi pikiran si insecure bisa seruwet itu, ibarat tak mudah diuraikan. Tapi yakinlah setiap maslah pasti ada jalan keluarnya dan si insecure insyaallah bisa kok keluar dari keruwetan yang sebenarnya dia ciptakan sendiri. Okey selanjutnya kita bahas lagi langkah-langkah yang bisa kita lakukan untuk mengatasi rasa insecure ini. Yang mau berkomentar dipersilahkan ya😊




Selasa, 25 Maret 2025

Catatan Si Insecure (Part 3)

Hari ini aku update lebih siang karena memang kemarin laptop aku tinggal di kantor. Baiklah hari ini kita akan bahas  mengenai apa saja sih tanda-tanda insecure. Ada banyak tanda-tanda yang bisa kita jadikan petunjuk bahwa seseorang terindikasi insecure dan diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Merasa diri tak berharga, apakah kita termasuk orang yang membenci diri sendiri? Aku pernah! Saat duduk di bangku sekolah dasar aku pernah membenci diriku sendiri. Aku yang pemalu, aku yang penyakitan, aku yang nggak pedean, aku si upik abu karena merasa fisikku yang dibawah rata-rata. Alhamdulillah Allah masih menyelamatkanku dengan memberiku kecerdasan yang bisa dibilang di atas rata-rata temanku saat itu. Tapi satu hal itu saja tak cukup membuatku untuk menghilangkan begitu saja rasa benci itu. Sampai aku pernah berpikir kalau saja aku tidak pintar mungkin tidak akan ada yang mau berteman denganku. Merasa diri tak memiliki nilai, tak berharga, tak pantas dicintai ternyata adalah ciri khas dari rasa insecure.
  2. Membandingkan (semua orang bahagia kecuali aku). Setiap orang pasti memiliki persepsi dan tolok ukur masing-masing tentang kebahagiaan. Yang berkembang di pikiran kita pada umumnya bahagia adalah jika memiliki fisik rupawan yang membuat banyak orang tertarik, memiliki harta berlimpah sehingga bisa membeli apapun yang diinginkan, memiliki otak yang cerdas dan segudang prestasi. Akupun pernah dalam situasi ini meski aku tahu bahwa kita harus mensyukuri apapun yang telah Allah berikan. Saat rumah tangga sedang dalam konflik, melihat teman-teman yang bahagia dengan keluarganya membuatku pernah protes kepada Tuhan "Apakah aku nggak berhak bahagia?!". Saat itu diri ini benar-benar merasa paling merana dan menjadi orang yang paling menderita. Ternyata sangat suka membanding-bandingkan antara diri sendiri dengan orang lain adalah ciri khas dari insecurity yang merasa tak pernah puas.
  3. Sering membuat situasi runyam. Pernah dengar istilah orang yang hadirnya tak menggenapkan kepergiannya pun tak menjanjikan? Kita mungkin pernah mempunyai teman yang kehadirannya hanya bikin bete dan sangat tidak diharapkan karena kehadirannya hanya membuat orang marah dan sebal. Setiap dia posting di grup whatsapp seringnya tidak ada yang merespon. Ketika terjadi situasi-situasi yang tidak mengenakan atau ada teman-temannya yang marah maka dia kan langsung merasa bersalah dan  berpikiran bahwa dialah penyebab situasi buruk itu terjadi padahal belum tentu. Si insecure akan selalu merasa bersalah atas peristiwa atau perilaku buruk yang terjadi disekitarnya. 
  4. Takut jika orang tau siapa aku sebenarnya (mereka akan membenciku). Pernah nggak kita merasa takut jika orang lain mengetahui keburukan kita? Seorang pendakwah yang biasa terlihat dengan pakaian syar'i dan menyandang gelar ustadz dengan perilaku serta tutur kata yang lemah lembut akan mewanti-wanti jangan sampai orang luar tahu kalau sebenarnya dia mudah sekali marah kalau di rumah. Seorang motivator atau penasehat pernikahan yang ternyata rumah tangganya sendiri sedang diujung tanduk maka dia akan merasa insecure jika orang-orang di luar tahu kondisi rumah tangga dia sebenarnya. Si insecure seringkali menjadi people pleasure dengan merasa lebih baik menampilkan hal-hal baik saja di depan umum dan mengikuti apa saja yang membuat orang-orang disekitarnya senang.
  5. Merasa tidak ada yang bisa memahami apa yang terjadi pada diri dan hidupnya. Pernah nggak kita melontarkan pertanyaan "kenapa sih nggak ada satu pun orang yang mengerti permasalahanku?" Si insecure seringkali menuduh orang-orang tak memahami dirinya berikut dengan kecemasan-kecemasan yang menghantuinya. Ingin menceritakan dan menumpahkan semua keluh kesahnya tapi seolah tak ada yang mau mendengar. Sekalinya ada yang mau mendengar, paling hanya menanggapi sekenanya atau memberi kata-kata motivasi sekedarnya padahal yang diinginkan lebih dari itu.
Sebenarnya masih ada beberapa poin lainnya, nanti kita sambung lagi di lain kesempatan, buat yang mau sharing silahkan ya... terima kasih😊



Minggu, 23 Maret 2025

Catatan Si Insecure (Part 1)

Insecure, kata yang kini sudah tak asing lagi ditelinga kita hingga akhirnya mulai banyak pelatihan-pelatihan yang menawarkan cara untuk mengatasi rasa insecure tersebut. Dulu kita mungkin lebih familiar dengan kata "tidak pede" yang memang memiliki kesamaan dengan insecure tapi menurut seorang psikolog makna insecure sendiri  sebenarnya lebih dalam dari sekedar rasa tidak percaya diri.

Secara psikologis ada kondisi-kondisi tertentu dalam diri seseorang yang merasa insecure yang perlu disembuhkan agar tidak menjadi masalah yang berlarut-larut dan menimbulkan persoalan panjang jika tidak segera diselesaikan. 

Rasa takut dikritik, dihina, dimarahi atau semacamnya membuat rasa percaya diri seseorang jadi menguap entah kemana dan itu dapat menghambat perjalanan hidup kedepannya dalam banyak aspek. Lebih buruknya hal tersebut dapat memunculkan pikiran-pikiran buruk atau yang dikenal dengan overthinking terhadap berbagai situasi yang dihadapi. Lingkungan sekitar kita menjadi serba salah, situasinya, orangnya semua tampak salah, padahal hal tersebut bersumber dari rasa insecure dari dalam diri sendiri.

Menurut APA (American Psychology Association) dictionary of psychology, insecure is a feeling of inadequacy, lack of self confidence, and inability to cope; accompanied by general uncertainty and anxiety about one's goal, abilities or relationship with others. Yang dapat diartikan bahwa insecure adalah perasaan tidak mampu, kurang percaya diri, dan ketidakmampuan untuk mengatasi sesuatu; disertai dengan ketidakpastian dan kecemasan umum tentang tujuan, kemampuan, atau hubungan seseorang dengan orang lain.

Jadi sebenarnya insecure adalah perasaan seseorang yang merasa dirinya tidak memiliki kemampuan memadai untuk melakukan sesuatu padahal belum tentu dirinya benar-benar tidak mampu melainkan karena terpenjara dalam perasaannya sendiri, merasa tidak mampu, tidak memiliki kapasitas, tidak percaya diri, tidak sanggup mengatasi masalah.

Mengapa aku menuliskan ini?

Akulah si insecure itu, seorang gadis kecil yang terpenjara dalam rasa ketidakmampuannya, rasa tidak percaya dirinya. Padahal AllahSWT telah menciptakannya dengan begitu unik dengan segala kelebihan yang menyertai tapi  tertutup oleh kelemahan yang dia rasakan. 

Kini aku hanya ingin sedikit berbagi tentang apa yang pernah aku rasakan, setelah melihat bahwa masih ada dan entah seberapa banyak gadis kecil sepertiku yang masih merasa insecure dengan dirinya. Sebagai awal mari tanamkan dalam diri kita bahwa setiap dari diri kita terlahir istimewa.

Sampai bertemu dicatatan selanjutnya, siapa saja sih yang berpotensi terkena rasa insecure?





Kamis, 13 Maret 2025

Yang Di Semogakan...

Pagi... hari ini 13 ramadhan

Yeay akhirnya nulis lagi di sini, setelah terakhir login awal 2022.

Masih di kantor yang sama tapi kali ini dengan suasana yang berbeda, ada yang datang dan ada yang pergi itu semua sudah sunatullah. Apapun dan bagaimanapun semoga kita bisa mengambil pelajaran dari mereka yang datang dan pergi. Tahun ini mungkin jadi tahun terkahir angka kepala 3 bersandar di deretan usiaku karena tahun depan kepala 4 sudah mulai menyapa. Rasanya kok cepat sekali waktu berlalu tapi yang paling aku syukuri bahwa Allah SWT masih memberiku banyak nikmat hingga detik ini.

13 tahun menjadi seorang istri dan 12 tahun menjadi seorang ibu yang kini diamanahi tiga buah hati yang insya allah soleh solehah. Akupun masih bisa melihat kedua orang tuaku tersenyum bahagai melihat cucu-cucu mereka. Semoga Allah panjangkan usia kami untuk bisa menikmati kebahagiaan ini, semoga Allah mengijinkan kami sebagai anak untuk bisa lebih lama lagi berbakti kepada orang tua, semoga Allah mengijinkan kami sebagai orang tua membersamai anak-anak kami dan menuntaskan kewajiban kami.

Meski dibalik itu semua tetap ada yang sedang tidak baik-baik saja tapi semoga Allah yang akan menjadikannya cukup dan mudah atas kehendakNya. Tahun ini putri sulung kami akan lulus SD jadi fix lengkaplah kami punya tiga anak di TK, SD dan SMP. Teranyata begini ya rasanya jadi orang tua, tapi kami yakin bahwa setiap anak membawa rejekinya masing-masing bahkan terkadang kami sebagi orang tua justru "nebeng" rejekinya anak.

Satu persatu Allah wujudkan mimpi kami, tidak mulus memang tapi disitulah kami memahami arti ikhtiar. Pasrah atau berserah kepada ketetapanNya atas segala upaya yang telah kami lakukan dan doa yang berusaha kami langitkan. Bismillah semoga tahun ini semuanya akan lebih baik lagi, ikhtiar dan doa lebih kenceng lagi dan karunia serta rahmatNya selalu dilimpahkan pada kami. Aamiin
 

Jumat, 08 Januari 2021

Biar Kutemukan Makna

Biar Kutemukan Makna

Inilah catatan pertamaku di rumah mayaku di tahun 2021, dua hari terakhir sebelum 30DWC berakhir.

Ya tantangan menulis selama tiga puluh hari yang aku ikuti akan segera berakhir, tak terasa dan ternyata aku bisa untuk konsisten menulis setiap harinya.Walau tak selalu kutulis kisahku di sini, namun kini jejak penaku tak hanya kata-kata di status wa melainkan sebuah cerita atau rangkaian kata yang bermakna.

Meski 30DWC sudah hampir berakhir tapi bagaimana dengan pandemi ini, kapan akan berakhir?
Pertanyaan itu pasti berada di benak setiap orang saat ini baik mereka yang percaya atau pun mereka yang menganggap ini hanya candaan semata. Sudah setahun lebih pandemi akibat penyebaran virus Covid-19 ini melanda negeri kita tercinta dan juga banyak negeri di belahan bumi lainnya. Pastinya banyak cerita meski lebih banyak yang berbalut duka.

Tak usah jauh-jauh memandang, lihatlah saja disekitar kita. Hampir setiap hari suara sirine ambulan memekakan telinga dan menciutkan hati yang mendengarnya. Hampir setiap hari bertebaran berita duka yang mengabarkan kehilangan keluarga atau kawan akibat pandemi ini. Sebenarnya virus yang tak kasat mata ini bukan hanya menyerang tubuh kita namun justru jiwa kita, pikiran kita yang seakan diteror dengan rasa takut, cemas, was-was dan kepanikan yang sejatinya bisa lebih mematikan.

Alhamdulillah hingga detik ini aku masih bertahan, berusaha untuk tetap terus taat menerapkan protokol kesehatan. Mencoba untuk tetap menghindari kerumunan atau sekedar berkumpul dengan kawan-kawan. Maaf, bukan kini aku anti sosial, aku masih keluar rumah, aku masih bekerja, aku masih saling menyapa. Aku hanya sedang berusaha menjaga diriku dan juga keluargaku. Ada putra-putriku yang masih balita dan juga kedua orang tuaku yang mungkin sangat beresiko untuk terkena, maka dari itu aku harus tetap waspada. Karena aku sudah merasakan beratnya berpisah meski itu hanya sejengkal jarak dan sekelebat waktu.

Apakah aku tak lelah?
Apakah aku tak bosan?

Ya, aku pun pernah merasa lelah, aku pun pernah merasa bosan dan jengah dengan semua situasi ini. Tapi hati kembali menuntunku untuk mengimani bahwa inilah takdir yang harus aku lalui, bukan hanya hidup di dunia ini tanpa arti melainkan belajar untuk membaca ayat-ayat ilahi dalam kehidupan ini. Dari saudara-saudara kita yang mungkin saat ini tengah berjuang karena terpapar virus corona, atau dari mereka yang kehilangan orang-orang terkasihnya, banyak pelajaran yang sebenarnya bisa kita ambil. 

Tak harus menunggu kita sendiri yang mengalaminya, berusahalah untuk mengasah hati kita, menempatkan empati dan memandang dengan mata batin kita. Sungguh pandemi ini telah mengajarkan banyak hal pada kita. Tak perlu kujabarkan satu persatu makna yang ada biarkan hati kita menemukan sendiri jawabannya dengan jalan dan kisahnya masing-masing.


*Tetap jaga protokol kesehatan, kuatkan doa Insya Allah kita bisa saling menjaga

Rabu, 18 Juni 2014

Karena setiap Rumah Tangga memiliki ujiannya masing-masing.

Orang jawa bilang hidup itu memang  'sawang sinawang' tak jarang mata kita memandang bahwa rumput tetangga nampak lebih hijau walau ternyata setelah kita 'dekati' tidak tampak seperti yang kita pandang dari kejauhan.

Bicara soal kehidupan khususnya kehidupan berumah tangga, saya yakin rumah tangga manapun pasti memiliki ujiannya masing-masing. Mungkin jika kita melihat sekitar kita saudara-saudara atau sahabat-sahabat kita ada yang kehidupan rumah tangganya terlihat harmonis sekali sehingga membuat kita 'iri' atau justru ada yang sebaliknya hingga membuat kita ikut mengelus dada jika mendengar curhat-curhat yang menyedihkan tentang kehidupan berumah tangga.

Ibarat masakan, permasalahan-permasalahan yang muncul dalam hidup berumahtangga adalah bumbu penyedap asalkan jangan terlalu banyak yang tentunya tidak baik untuk kesehatan bukan? Apapun permasalahan yang sedang kita hadapi semoga bisa menjadi penguat pondasi rumah tangga kita. Setiap permasalahan yang hadir adalah ujian yang harus kita lewati dan saat kita mampu melewatinya berarti kita sudah 'lulus' satu ujian lagi dan siap untuk 'naik kelas'. Semakin tinggi kelasnya tentu akan semakin sulit unjiannya jadi jangan pernah berhenti belajar mangambil makna dari setiap peristiwa yang kita alami sebagai bekal melewati ujian selanjutnya.

Tak saya pungkiri kehidupan rumah tangga sayapun tak lepas dari masalah dengan 'level' yang berbeda-beda namun yang selalu menjadi kekutan bagi saya dan suami adalah bahwa ada senyum putri kecil kami yang selalu ingin kami jaga sehingga tak ada alasan bagi kami untuk 'menyerah' pada masalah. Satu pelajaran lagi yang kini saya ambil setelah menikah adalah bagaimana kita memanajemen masalah tersebut termasuk kepada siapa saja kita layak menceritakan permasalahan yang sedang kita hadapi atau istilah kerennya CURHAT. Kini saya lebih hati-hati lagi memilih teman curhat dan memilah lagi sebatas mana hal yang pantas dicurhatkan jangan sampai atas nama curhat kita justru membeberkan 'aib' rumah tangga kita. Satu-satunya tempat curhat paling aman adalah Allah SWT, dalam sujud-sujud kita, doa-doa kita, curhatlah sepuasnya dan pasti Allah akan berikan jawabannya walau mungkin tidak detik itu juga. Sejak menikahpun kini saya sudah sangat jarang update status di social media (facebook). Saya  pribadi juga sangat jarang menceritakan masalah rumah tangga kami walau pada orang tua sendiri satu alasan yang pasti saya tak ingin mereka ikut sedih memikirkan masalah kami apalagi mereka juga sudah cukup kami repotkan untuk membantu mengasuh putri kecil kami.

Untuk saudara-suadara dan sahabat-sahabat saya yang sudah menikah saya hanya ingin saling mendoakan semoga kita mampu menjaga amanah besar yang sudah Allah berikan kepada kita kita, ikatan pernikahan yang suci, rumah tangga yang penuh cinta dan anak-anak yang kini jadi penghias hari-hari kita hingga kelak kita mampu mempertanggungjawabkannya diakhirat nanti. Dan untuk saudara-saudara dan sahabat-sahabatku yang belum menikah, jangan pernah takut untuk menikah.

Badai pasti berlalu...
Yakinlah bahwa Allah tak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuan hamba-Nya, jangan pernah berhenti berharap pada-Nya terus kawal setiap ikhtiar kita dengan doa. Insyaallah biduk rumah tangga kita akan mampu melewati setiap ujian-Nya hingga final (saat maut memisahkan). Aamiin

Senin, 21 November 2011

Hanya ingin bernagi sedikit hikmah*

Rasanya sudah lama sekali tak bermain kata-kata, dan malam ini Alhamdulillah aku diberi kesempatan berdua dengan "si putih", banyak yang ingin kubagi dengannya dan sebagian sengaja aku tuliskan di note ini dan tentunya blog pribadiku.

Bulan ini sungguh bulan ujian bagi kami khususnya untuk kedua orang tuaku, karena sudah setengah bulan ini kami diberi amanah oleh-Nya untuk merawat mbah putri (Ibu dari bapak) yang mendadak harus dirawat di rumah sakit. Siapapun pasti tak menginginkan itu seenak apapun, rumah sakit tetap jadi tempat yang tidak menyenangkan. Di usianya yang 81 tahun ini pertama kalinya mbah putri harus dirawat di rumah sakit, biasanya kalau beliau sakit hanya mengandalkan obat tradisional atau air (yang sudah didoakan oleh pak ustadz). Satu minggu pertama di rumah sakit sudah sangat terlihat mbah putri sudah tidak betah dengan selang infus yang tertancap ditangan kanannya.

Banyak hikmah yang aku petik selama dua pekan ini, sungguh Allah memang Maha Pembuat Skenario Terbaik. Untuk menghadapi peristiwa ini ternyata Allah telah mempersiapkan skenarionya jauh sebelumnya, mungkin sejak tiga tahun yang lalu. Dimana saat itu tahun 2008 bapak dan ibu berusaha membujukku sebisa mungkin untuk mau kembali kerumah (tinggal dan bekerja di daerah asalku). Setelah melalui diskusi yang tak singkat akhirnya dengan berat hati kulangkahkan kaki kembali ke kampung halaman hanya dengan niat membahagiakan keduanya untuk mendapat ridho-Nya, bukankah ridho Allah ridho orang tua?

Kini dua tahun telah berlalu sejak kepindahanku (2009), dan Allah-pun menyampaikan hikmah itu mengapa aku harus kembali kesini (kerumah). Allah ingin aku mendampingi kedua orang tuaku menghadapi saat-saat berat ini, meski mungkin aku tak bisa banyak membantu merawat mbah putri namun setidaknya keberadaanku bisa memberikan dukungan moril untuk kedua orang tuaku dalam merawat mbah putri. Aku yang dulu sungguh sama sekali takut mengendarai motor, ternyata sekarang harus jadi seksi mondar-mandir selama mbah sakit, aku yang tak pernah ingin jadi perawat ternyata mau tak mau harus belajar mengurus mbah putri (ketika ibu sendiri jatuh sakit). Sungguh sesuatu yang dulu tak aku inginkan ternyata akhirnya kini sangat aku syukuri karena bisa berada dekat dengan kedua orang tuaku. Semoga bagi siapapun yang kini diamanahi untuk berada dekat (merawat) orang tuanya tidak menjadikan itu beban melainkan amanah yang Insyaallah jika dijalani dengan ikhlas semoga menjadi berkah bagi kita.

Ya Allah sungguh hanya Engkau sebaik-baiknya pelindung dan pemberi pertolongan maka kami hanya memohon kepada-Mu atas kesembuhan mbah putri semoga sakitnya ini menjadi penggugur dosa-dosanya dan semoga ini jadi ladang pahala bagi kami anak cucunya untuk bisa merawat beliau dengan sebaik mungkin semampu kami. Semoga Allah selalu memberikan kami kekuatan, kesabaran dan keikhlasan melalui ujian ini sehingga setiap yang kami lakukan bisa menjadi berkah. Amin...

Terima kasih untuk saudara-saudara, teman-teman dan seluruh pihak yang hingga kini memberikan dukungan dan doa bagi kesembuhan mbah putri semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baik pembalasan.

Dan mohon maaf yang sebesar-besarnya untuk teman-teman atau pihak-pihak yang mungkin agak terabaikan selama beberapa pekan ini, semoga aku bisa segera aktif kembali, normal seperti sediakala.

Mohon doanya untuk kesembuhan mbah putri... Terima Kasih.

*)Meluangkan waktu sejenak setelah lama tak menulis, semoga ada hikmah yang bisa dipetik.

Januari 2026 ( Yuks Mulai Lagi!)

  Apa kabar diriku? Nggak terasa sudah 2026 ya, atau terasa banget perjalanan 2025 kemarin? Gimana berat atau kata anak sekarang "b aja...