Senin, 12 Maret 2018

5 Tahun Si Kakak

Selalu berusaha menulis di antara jeda waktu dari satu tugas ke tugas selanjutnya. Sembari menunggu hasil koreksi SK untuk dasar eksekusi tugas selanjutnya mari kita merangkai huruf, sambil ditemani alunan piano The Best of Yiruma (entah kok lagi demen sama ni instrumen).

Ni aku kasih linknya buat yang pengin ikutan denger The Best of Yiruma

 
Hanya ingin menulis tentang si kakak yang hari ini sedang kurang enak badan, mungkin radangnya kambuh kebanyakan makan yang aneh-aneh karena kakak memang agak sulit diatur soal makanan. Banyak ga doyannya tapi susah juga dilarangnya.

Ga kerasa si kakak sudah lulus Balita, jadinya nanti sore sudah ga ikut posyandu lagi ya kak, kata si kakak "nanti ga dapet jajan donk..."

Sudah hampir satu tahun si kakak menjalani hari-hari sebagai murid TK di sebuah taman pendidikan anak usia dini. Karena keinginan sekolah atas permintaan sendiri, si kakak semangat sekali meski sakit bahkan saat hujan deras dan banjir pun si kakak tetep minta berangkat sekolah. Dan alhamdulillah sekarang kakak sudah mulai bisa membantu bunda agar bunda tidak telat ke kantor. Jadi anak rajin ya sayang....

Entah memang mungkin ini sedang masanya, rasanya kok si kakak lagi 'mainin' tombol emosi bunda. Bunda cuma bisa inhale... exhale... meski kadang akhirnya lepas kendali juga (maafin bunda ya sayang). Bunda sedang merindukan si kakak yang manis, semoga kelak engkau mengerti bahwa bunda bersikap seperti itu bukan karena tak sayang. 

Saat melihatmu tertawa lepas rasanya 'bombong' hati ini, semoga tawamu selalu membawa keceriaan di hari-hari kami. Dan adikmu pun selalu senang jika bermain denganmu hingga apapun tingkahmu selalu berusaha ditiru adikmu. Semoga kelak si kakak bisa jadi teladan yang baik untuk adik-adikmu kelak. Aamiin

Wajahmu yang kata orang mirip banget sama bunda, berarti si kakak mirip juga sama uti, kapan2 nanti kita upload foto 3 generasi ya. Siapapun orang tuanya pasti akan memuji anaknya dan bunda tak pernah bosan memuji saat memandang wajah imutmu yang manis.

 
Semoga kapanpun, dimanapun kakak berada Allah selalu melindungi dan menjaga kakak dengan sebaik-baik perlindungan-Nya. Keberkahan selalu menyertai setiap jengkal usiamu sehingga dimanapun kau berada selalu bisa memberikan manfaat seperti arti nama belakangmu.

Suatu saat jika kakak menemukan tulisan bunda ini semoga kakak sudah mengerti akan maksud sikap bunda selama ini yang mungkin terlalu keras (disiplin)dalam mendidikmu. Semua karena bunda sayang kamu, meski kamu anak perempuan kamu juga harus jadi perempuan yang kuat lebih kuat dari bunda. Kita tak akan pernah tahu sampai kapan bunda bisa terus membersamimu, semoga Allah beri kesempatan itu lebih lama lagi karena bunda ingin melihat gadis manisku tumbuh.

*)Selamat ulang tahun yang ke lima, semoga makin berkah usiamu.
Februari 2018

Senin, 30 Oktober 2017

Sungguh Nikmat Sehat Itu (Sehat selalu ya nak...)

Syukur alhamdulillah yang tak terhingga, entahlah mungkin itu yang bisa aku lakukan saat ini dan memang sudah seharusnya.

Setelah berbagai karunia yang Allah berikan dan juga rentetan ujian yang datang menyapa, sungguh nikmat masih diberi kesempatan menghirup udara-Nya.

Setelah nikmat sehat yang Allah SWT berikan selama ini maka beberapa bulan terakhir ini aku dan keluarga kecilku sedang benar-benar diingatkan tentang betapa indah nikmat sehat itu. Setelah sakit flu, batuk, pilek, demam yang seperti maen "ping-pong" alias muter bergantian si kakak , si dedek, bunda, ayah sampe atung dan uti juga ikutan maka puncaknya beberapa hari yang lalu si kakak difonis dokter untuk segera dirawat inap dirumah sakit.

Sepulang sekolah si kakak yang  badannya tiba-tiba terasa anget (seperti demam) membuatku agak galau untuk kembali kekantor tapi uti meyakinkanku dan terpaksa kutinggalkan kakak yang sudah pulas tidur siang. Di kantor beberapa kali aku telpon mbah uti  menanyakan kondisi kakak yang ternyata masih demam. Malam hari demam si kakak makin naik mencapai angka 39 padahal sudah diminumi parasetamol. Paginya demam tak beranjak dari angka 39, aku yang biasanya tidak terlalu cemas karena demam 39 sudah biasa buat si kakak tapi melihat kakak yang tak seceria biasanya dan nampak lemas sekali akhirnya aku memutuskan membawa si kakak ke dokter spesialis anak.

Setengah sembilan sampai disana kami dapat nomor urut 12 dan baru saja sampai kakak mengeluh mual, langsung aku lari ke kamar mandi sambil menggendong si kakak yang akhirnya baru saja mau masuk kamar mandi sudah keburu muntah. Walhasil selendang, baju kakak dan kerudungku kotor terkena muntahan. Karena tak membawa persediaan ganti akhirnya ayah aku minta pulang mengambil perlengkapan ganti si kakak. Dan saat ayah pulang sekali lagi kakak muntah, saat itu perasaanku campur aduk tak karuan. Sambil menanti antrian akhirnya si kakak tertidur dipangkuanku dan akhirnya kurang lebih jam setengah dua belas nama si kakak di panggil. Kami masuk dan duduk dihadapan pak dokter yang langsung memeriksa si kakak dan ketika kembali diukur suhunya dokter langsung menyuruh opname karena sudah diatas 40 derajat. Lemesss...

Yang aku takutkan akhirnya harus kuhadapi juga, air mata yang nyaris menetes harus kutahan sekuatnya. Sambil berusaha menenangkan kakak yang mungkin sudah tak karuan rasanya. Setelah dokter menyiapkan pengantar ke rumah sakit kami langsung pulang menyiapkan pakaian seadanya dan meluncur ke rumah sakit diantar atung dan uti. (Kebetulan ayah ada janji yang harus ditepati jadi kuyakinkan bahwa aku bisa sendiri asal setelahnya segera ke rumah sakit).

Si kakak yang baru pertama kali diinfus jelas saja ketakukan dan menangis saat akan disuntik, aku terus berusaha meyakinkan kakak bahwa ini demi kesembuhan kakak. Dari IGD akhirnya si kakak di pindahkan ke ruang perawatan kelas III (kelas I jatah kami saat itu penuh). Semalaman kakak menangis terus minta pulang, demamnya naik turun hingga menghabiskan 1 botol infus parasetamol. Alhamdulillah siangnya kami bisa pindah ke ruang Kelas I  sehingga kakak bisa istirahat lebih nyaman. Namun seenak apapun dirumah sakit ya tetep lebih enak dirumah sendiri, si kakak terus merengek minta pulang katanya kangen dedek (padahal kalo dirumah ribut aja), katanya ga suka makanan di rumah sakit dan macem2 alesan lainnya, intinya si kakak pengen pulang.

Alhamdulillah, akhirnya setelah 3 hari dokter mengijinkan si kakak pulang dengan catatan harus jaga makanan dan tidak usah berangkat sekolah dahulu.

Dan hari ini sudah beberapa hari si kakak kembali ke rumah dan sepertinya sedang mulai 'kemaruk' mudah2an seterusnya nafsu makannya bisa bertambah. Dan yang terpenting untuk kalian berdua putri kesayangan bunda semoga Allah selalu karuaniakan kalian kesehatan yang barokah. Sehat selalu ya sayang, yang lalu biarlah menjadi pelajaran kita bersama semoga kedepannya semua akan lebih baik lagi. Aamiin....




*) Sehat-sehat dan akur selalu ya sayang (Adistia 4y8m, Rania 1y1m) 

Selasa, 19 September 2017

Sesaat Yang Selalu Memberikan Semangat....

Kurang lebih masih ada duapuluh menit lagi sebelum bel pulang (16.15), alhamdulillah target untuk hari ini 80% sudah terselesaikan sisanya karena masalah teknis yang memang diluar wewenang dan kuasaku untuk bisa segera menyelesaikannya.

Sedikit ingin berbagi lewat coretan sore ini tentang ceritaku hari ini, cerita bersama teman-teman Asma Nadia. Semenjak kuliah di tingkat awal buku-buku Mbak Asma Nadia sudah mencuri perhatianku dan lewat buku "Jangan Jadi Muslimah Nyebelin" tulisan Mbak Asma makin menyihirku. Namun hingga saat ini buku favoritku masih pada "Catatan Hati Disetiap Sujudku", buku yang walau sudah lecek tapi akan selalu punya tempat khusus terlebih saat aku butuh motivasi menjalani hidup yang tak selalu seindah yang kita impikan.

Dan hari ini lewat info dari Sarah (anggota RBA Tegal) yang kebetulan bersekolah di SMA N 1 Slawi, kami berkesempatan bertatap muka kembali dengan Mbak Asma setelah kurang lebih 2 tahun lalu kami terakhir bertemu di acara serupa. Mbak Asma terlihat semakin cantik dan tetap terlihat enerjik, berbeda dengan diriku yang setelah dilihat di foto terlihat 'kucel' karena memang aku yang selalu tanpa make-up. Alhamdulillah RBA Tegal mendapat rejeki dari Mbak Asma, Sarah diminta memilih sendiri buku-buku baru yang belum ada di RBA Tegal untuk bisa menambah koleksi di rak kami. Kami juga sempat berfoto meski harus sabar mengantri dengan adek-adek SMA yang juga antri ingin berfoto (jadi berasa masih SMA heeee).

Tak banyak yang kami bicarakan karena saya tahu betapa padatnya jadwal Mbak Asma Nadia. Meski hanya bertegur sapa sekedar menanyakan kabar dan obrolan singkat kami namun jabat tangan dan peluk hangat dari Mbak Asma selalu bisa membangkitkan 'semangatku' yang sering kali timbul tenggelam. Semangat untuk bisa menelurkan buku solo, bukan sekedar buku namun tiap detail katanya syarat makna dan pastinya bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.

Siang itu aku menbeli satu novel Mbak Asma "Jilbab Traveler Love Sparks In Korea" selain aku suka filmya karena tokoh dalam novel itu sama dengan nama putri keduaku RANIA. Semoga Allah SWT mendengar doa bunda suatu saat nanti seperti tokoh dalam novel tersebut RANIA bisa mewakili mata bunda yang belum sempat menjelajahi kebesaran ciptaan Allah diseluruh belahan bumi Allah yang luas ini. Semoga kelak Kakak Disti dan Dedek Rania bisa saling menguatkan untuk bisa mewujudkan mimpi-mimpi ayah dan bunda yang mungkin belum Allah jadikan nyata saat ini.

Menulis mencatatkan sejarah, semoga lewat blog ini pula someday anak-anakku bisa lebih mengenal siapa bundanya. Seorang ibu biasa yang ingin menjadikan anak-anaknya luar biasa, ibu biasa yang terus berusaha menjaga nyala mimpinya meski angin kencang terus menerus ingin memadamkannya.

Dahulu aku pernah jadi bagian sejarahnya
Special tanda tangan buku-buku baru untuk RBA Tegal

Untuk Rania-ku (jangan lupa ajakin ayah, bunda dan kakak Disti ya....)

Alhandulillah sempat mengambil kenang-kenangan.


*)Jelang sore (04.10 WIB), dan mbah uti sudah sms suruh cepet pulang karena sudah 'kelempohen' jagain Rania yang lagi aktif-aktifnya.

Selasa, 12 September 2017

Cerita Siang Ini...

Tidak seperti biasanya, hari ini saat istirahat siang aku tidak pulang kerumah karena tadi pagi sudah ijin untuk berangkat lebih siang karena menemani si kakak imunisasi MMR di sekolah. Jadilah siang ini mencari teman makan siang dan rejeki silaturahmi hari ini adalah dengan Mbak Dewi yang memang sudah lama juga kita tidak bersua.

Selepas makan siang kami berbincang sejenak sambil menikmati panas matahari menjelang sore di teras kantor dengan berbagai topik pembicaraan yang "campur aduk" dan tidak bisa aku jabarkan disini.

Sedikit yang ingin aku bagi dari perbincangan kami siang ini, yang sebenarnya jadi pengingat bagi diri kami sendiri. Benarlah jika dosa itu 'berbau' maka tidak akan ada orang yang mau melakukan dosa, siapa sih yang mau deket2 dengan orang yang 'bau'. Mungkin sampai detik ini tak bisa dibayangkan seperti apa baunya diriku karena aku yakin baik sadar atau tidak telah banyak dosa yang aku lakukan. Sebaik apapun seseorang dalam pandangan kita pasti ada setitik noda padanya entah dalam sikapnya atau tuturnya. Hanya atas kebesaran dan kebaikan Allah SWT saja yang telah menutupi aib kita dengan hanya menampakan kebaikan-kebaikan yang ada dalam diri kita. Janganlah merasa paling bersih, paling suci, paling tak berdosa karena kita bukan manusia sempurna yang tanpa cela.

Semoga Allah selalu menjaga kita dengan sebaik-baik penjagaan dan perlindungan-Nya, selalu menuntun langkah kita dijalan yang diridhoi-Nya, dan mengampuni segala dosa-dosa kita. Aamiin


*)curhat siang sambil nungguin SAPK yang error sehat kembali ^_^


Rabu, 06 September 2017

My Love My Family (Spesial Rania Azhifa Haidah)

Alhamdulillah.... syukur yang tak terhingga masih bisa dibangunkan pagi ini dalam keadaan sehat walafiat, masih bisa menghirup udara-Nya yang segar GRATIS, masih bisa melihat senyum-senyum kecilku menyambut pagi.

Apa yang aku tulis sebenarnya hanya dalam rangka menyempatkan menuangkan ide agar tak beku didalam otak saja dan agar akupun tak lupa caranya menulis. Meski entah kapan cita-cita untuk bisa menyatukan seluruh tulisanku dalam sebuah buku bisa terwujud yang penting tetap terus menulis (keep writing).

Setelah menelusuri jejak tulisan dalam blog ini ternyata ada yang kurang, aku belum pernah menceritakan khusus tentang si kecil RANIA. Semua foto dan memory yang ada hampir seluruhnya masih bercerita tentang si kakak DISTI.

RANIA AZHIFA HAIDAH (Semoga kelak engkau menjadi ratu (menjadi pemimpin besar) yang salehah, jujur dan adil) itulah harapan kami atas kelahiranmu di malam 7 September 2016 melalui operasi SC karena bunda tak merasakan tanda-tanda apapun akan kelahiranmu hingga melewati HPL. Tangismu pecah malam itu dokter mengatakan bayi perempuan yang cantik dengan berat 3,6kg panjang 49cm, jika tak salah ingat sekitar pukul sepuluh malam dan cukup kaget juga karena dulu kakakmu tak seberat itu. Sejenak bunda menciummu sebelum kita dipisahkan sementara dan tak bisa dibendung air mata haru itupun mengalir begitu saja. "Ya Allah...sekarang Engkau tambah lagi amanah yang harus aku pegang, semoga engkau berikan aku kemampuan untuk menjaga amanah-Mu ini".

Pagi hari pasca operasi bunda meminta Ayah untuk segera membawamu ke ruang perawatan karena ASI bunda sudah menantimu, Alhamdulillah rasanya nikmat sekali bisa langsung menyusuimu walau dengan susah payah karena posisi tangan masih diinfus dan untuk miring apalagi duduk bunda masih susah. Sejak hari itu dan hingga hari ini kita terus membangun bonding yang kuat lewat ASI, 6 bulan pertama yang penuh perjuangan untuk bisa memberimu ASIX dan selanjutnya perjuangan untuk bisa mempersiapkan MPASI terbaik setiap pagi sebelum bunda ke kantor. Maafkan bunda jika tidak bisa seperti ibu-ibu yang lain yang sangat kreatif dan sempat membuatkan MPASI yang variatif. Melihatmu makan dengan lahap tumbuh sehat dan ceria saja sudah membuat bunda sangat bersyukur.

Tak terasa kini usiamu sudah hampir 1 tahun, 12 bulan yang benar-benar terasa singkat. Senyumu, tawamu, ceriamu, tangismu dan segala tingkah lakumu memberikan lebih banyak warna dalam hidup kami. Ayah, Bunda dan Kakak semua sayang Rania begitupun Rania pasti sangat menyayangi kami. Dilihat betapa senangnya jika bermain dengan si kakak meski terkadang si kakak acuh padamu, betapa berbinarnya matamu setiap kali melihat bunda pulang, suaramu yang jelas sekali memanggil "ayah" setiap menyambut ayah pulang. Tak peduli kerikil, onak duri ataupun airmata yang sudah tumpah namun kini kita hanya perlu bersyukur atas segala nikmat dan karunia-Nya yang telah menyatukan kita (Ayah, Bunda, Kakak, Dedek).

Teruntuk putri kecil kami, adik kecil kami yang sedang terus belajar melangkahkan kaki kecilnya, semoga langkah pertamamu ini kelak akan menjadi awal dari ribuan, jutaan bahkan milyaran langkahmu nanti menjelajahi bumi Allah ini. Semoga Allah memberkahi usiamu...(kesayangan ayah, bunda dan kakak).



#curhatsiang
#tentangrania
#mylovemyfamily

Kamis, 24 Agustus 2017

Jangan Pernah Merasa Paling....


Kurang lebih tiga puluh menit lagi waktuku menjemput kakak pulang sekolah, beberapa pekerjaan sudah saya selesaikan tinggal minta asmanan (tanda tangan) atasan. Tapi hati, pikiran dan jari-jari ini terlanjur terbawa emosi tak bisa menahan diri untuk tidak menari diatas keyboard memainkan kata-kata syarat makna.

Tadi sekitar jam sepuluhan saya diajak oleh teman-teman kantor takziah kerumah seorang teman (penjahit langganan kami) yang baru saja ditinggal oleh suaminya. Seperti biasa, rasanya tak percaya jika mendengar kabar kematian mendadak seperti ini karena memang belum lama ini saya bolak balik kesana menanyakan jahitan saya. Usia yang terbilang masih cukup muda, dia harus ikhlas ditinggal oleh suami selama-lamanya dan harus kuat untuk terus melanjutkan hidup bersama 2 orang buah hatinya. Dia tidak boleh terlalu lama larut dalam kesedihan karena masih ada karyawan-karyawan yang menggantungkan hidupnya dari usaha menjahitnya. Semoga Allah berikan beliau kekuatan dan keikhlasan menjalani roda kehidupan selanjutnya dan semoga suaminya (alm) diampuni segala dosa dan diterima segala amal perbuatannya, aamiin

Mendengar sendiri kabar kematian mendadak selalu membuat ciut hati ini, bukan ingin berprasangka buruk terhadap takdir-Nya terkadang saya berpikir bagaimana jika peristiwa ini menimpa saya, siapkah? Namun umur, kematian memang misteri Ilahi dan kita siap tidak siap harus siap menghadapi saat itu, entah kita dulu yang harus berpulang atau orang-orang terdekat kita (ga kuat membayangkannya...). Selain berita duka itu, saya juga baru mendengar cerita dari seorang teman tentang kondisi keluarganya yang ternyata tidak seperti apa yang kita lihat dan akhirnya disatu sisi membuat saya lebih bersyukur.

Seperti judul tulisan ini, "Jangan Pernah Merasa Paling...". Jangan pernah kita merasa paling merana, paling sedih, paling tidak beruntung didunia ini karena jika kita mau melihat lebih dekat lagi masih banyak sahabat, saudara atau orang-orang hidupnya jauh lebih "menderita" dari kita maka bersyukurlah selalu atas apapun kondisi kita. Jangan pernah kita merasa paling hebat, paling sukses, paling beruntung, karena diatas langit masih ada langit dan kesenangan itu justru ujian yang 'terselubung' yang seringkali membuat kita terlena (semoga tidak membuat kita takabur).

Saya menulis ini juga sebagai selfreminder karena sayapun pernah "merasa paling..." Alhamdulillah Allah mempertemukan saya dengan orang-orang, sahabat dan saudara yang akhirnya bisa mengingatkan dan menyadarkan saya agar tak pernah "merasa paling...". Juga dengan lelaki yang sudah 5 tahun lebih ini kami berjalan bersama, darinya saya belajar banyak hal agar jangan pernah "merasa paling...". Lelaki yang keras, cuek, namun dibalik sikap keras dan cueknya saya tahu dia sangat menyayangi kami, disitulah saya tahu bahwa sayang tak harus diungkapkan dengan kata-kata. Saya yang pernah merasa paling...kini bersyukur atas takdir yang sudah saya lewati hingga detik ini, atas skenario yang sudah Allah tuliskan.

Maka benarlah saat kita diberi nikmat bersyukurlah, saat diberi ujian bersabarlah, selalu libatkan Allah SWT disetiap langkah kita disetiap hembusan nafas kita sehingga kita tak pernah merasa paling... Karena setiap orang memiliki ujiannya masing-masing.

#curhatsiang
#selfreminder
#breakdulu

Jumat, 04 Agustus 2017

Sehat Selalu Sayang.... (Saat Kakak Sakit))

Assalamu'alaikkum.... Selamat Pagi.... Salam Sejahtera

Alhamdulillah hari ini kakak Disti sudah mulai sekolah lagi meski jujur saya masih agak khawatir tapi teriring doa untuk sang buah hati semoga Allah menjaga kakak dengan sebaik-baik penjagaan dan perlindungan-Nya. Aamiin

Disela entrian Kenaikan Gaji Berkala yang harus segera di proses (sementara KP rehat dulu) emak cuma pengen curhat aja. Siapapun tak ada yang menginginkan sakit termasuk Kakak yang sudah hampir seminggu ini kurang enak body mungkin karena sedang perubahan cuaca dan kondisi tubuh yang tidak terlalu fit jadilah  tubuhnya yang protes. Terakhir kakak mengeluh telinganya sakit setelah 2 hari akhirya emak bawa ke THT dan ternyata ada infeksi disaluran telinga tengah dan dokter bilang JANGAN MINUM ES! Dan kalau kakak sakit jadilah emak yang pusing tujuh keliling karena kakak susah pake banget kalau disuruh minum obat, yang ada prosesi minum obat hampir selalu disertai drama air mata dan lebih ekstrim lagi seperti adegan 'penjagalan'.

Pagi ini sengaja kakak tak dibangunkan pagi-pagi karena udara terasa dingin sekali, emak nganterin dedek dulu kerumah atung/ uti baru setelah itu balik lagi kerumah mengurus perlengkapan kakak kesekolah. Selesai mandi, ganti pakaian dan sarapan maka sampailah pada adegan minum obat. Raut wajah kakak langsung berubah dia minta diambilin air putih sebelum minum obat,  "berdoa dulu sayang, Ya Allah semoga kakak cepet sempuh dan ga sakit sakit lagi" (doa yang dulu saat aku kecil sering aku ucapkan sebelum minum obat). Obat (syrup manis) sudah siap disendok mulut kakak sudah terbuka obat pun masuk namun selang beberapa detik obatpun dimuntahkan lagi kata kakak ga enak, sembari mewek "nda, ga usah minum obat lagi".

Masya Allah....paringi sabar... kapan sembuhnya kalau setiap minum obat mesti begini? Dengan nada sedikit meninggi "Kakak mau sembuh ga? Kakak sayang bunda kan? Nurut dong kalau diobati, bunda pengen kakak sembuh". Akhirnya saya putuskan menjauh sejenak kedalam dan membiarkan kakak sendiri diteras sambil memandangi tetesan obat yang dia muntahkan tadi.

Dan emakpun mengantar kakak kesekolah sambil menghela napas sabar...sabar...sabar... "nanti siang minum obat lagi ya kakak karena tadi keluar semua harusnya minum lagi nanti malam" dan kakak hanya diam dengan raut wajah datar. Yang membuatku agak tenang adalah senyum diwajah kakak saat aku tinggalkan dia disekolah sambil melambaikan tangan kakak tersenyum dengan mata yang bersianar. Semoga sehat selalu ya kakak, sungguh berharga nikmat sehat itu syukur alhamdulillah atas nikmat sehat selama ini.



Itulah drama emak pagi ini, terima kasih sudah mau dengerin curhat emak
*)Jum'at berkah, disela-sela jam kantor diantara tumpukan berkas

Kamis, 27 Juli 2017

Ini Rezeki Saya (Tak melulu soal materi)

Bismillah...

Lagi-lagi ngeblog karena bete nungguin SAPK yang katanya lagi "maentenis" atau "mantenan" entah sampe kapan yang imbasnya kerjaan kantor jadi terpending hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Okelah kita tinggalkan SAPK dulu dan mari coret-coret sejenak sambil menanti waktu pulang yang kurang beberapa menit lagi. Sebenarnya sudah lama ingin sekali menuliskan hal ini, ide yang sudah cukup sering berseliweran dikepala. Tidak jauh-jauh temanya masih seputar rezeki, tema yang sering diangkat dan ga habis dibahas.

Yakinlah bahwa rezeki tak akan pernah tertukar dan Allah sudah menjamin rezeki setiap mahluknya, percaya deh. Kita saja yang seringkali tidak sadar kalau sudah dicukupkan rezekinya, depenuhi kebutuhannya karena dalam pikiran kita yang namanya rezeki masih seputar MATERI padahal tidak sesempit itu.

Dan bagi saya pribadi yang saat ini masih tinggal bersama mertua dan dekat dengan orang tua, itu juga sebuah rezeki dari Allah bagi saya. Meski ada yang bilang 'kapan mandirinya kalau nempel orang tua terus?' tapi peduli amat toh tidak merugikan mereka juga. Mengapa saya katakan rezeki karena tinggal dekat dengan ortu saya bisa lebih tenang menitipkan anak-anak (meski ada rewang) saat saya harus kekantor. Mau beli rumah sendiri juga memang belum mampu, mau jadi kontraktor masih banyak pertimbangan. Mungkin ini rezeki yang Allah berikan buat saya dan keluarga karena saya belum mampu untuk menggaji pengasuh yang eksklusif menjaga penuh anak-anak dari pagi sampai sore saya pulang kantor dan membereskan semua pekerjaan rumah saya. Saya hanya berusaha mengambil sisi positifnya saja daripada mengambil hati omongan orang yang tidak ada habisnya kalau diikuti.

Buat teman-teman yang mungkin senasib, masih tinggal dengan orang tua atau ikut di pondok mertua indah (heeee....) santai saja ini rezeki kita, ini kesempatan kita. Jangan hanya "numpang urip" dan ngrepotin ortu tapi berusahalah sebisa dan semampu kita untuk menyenangkan mereka tak melulu dengan materi tapi buatlah hati orang tua 'bahagia' sehingga mereka ridho dengan kita dan semoga itu menjadi jalan kemudahan bagi kita untuk bisa kelak hidup diistana sendiri.

Seperti kata kakak Disti yang sudah mulai bilang pengen punya "Rumah Impian" bunda juga pengen sayang, semoga Allah mendengar doa dan melihat usaha kita. Insya allah...



Selasa, 18 Juli 2017

Ngepost lagi...ngepost dulu...Jumpa lagi ^_^

Assalamu'alaikum.... Pa kabar semua?

Huwaaaaa ternyata sudah luama buangetzzz yo diriku tak berbagi tulisan 'dirumah' mungilku ini. Tulisan terakhirku masih seputar si manis Adistia yang sekarang sudah jadi si Kakak lho. Alhamdulillah 7 September 2016 yang lalu diriku resmi bergelar Mahmud (mamah muda) dengan 2 balita. Adistia Azkadina Mufidah dan Rania Azhifa Haidah, dua bidadari kecil yang akan menghiasi hari-hariku dengan senyum, canda, tawa, air mata dan bahagia. Sudah 10 bulan aku menjalani nano-nanonya punya dua balita. Selalu rempong dipagi hari terlebih saat khadimat tidak ada, namun someday aku pasti bakal kangen masa-masa ini.

Mulai 17 Juli 2017 kemarin si Kakak resmi jadi anak sekolahan, akhirnya jadi juga sekolah TK. Awal sekolah yang sempat aku khawatirkan alhamdulillah tidak terjadi semuanya masih aman terkendali. Ga ada insiden menangis mau ditinggal kekantor dan mogok ga mau sekolah, si Kakak justru antusias sekali dan bilang "bun, besok sekolah lagi ya".

Sembari nunggu aplikasi SAPK yang lemodddddd bingitzzzzz daripada gondok sendiri mending mengunjungi rumahku yang lama sepi. Semoga kedepan bisa berbagi lagi dengan lebih banyak cerita, yang mungkin ga penting sih bagi kalian tapi bagiku inilah sejarahku kelak yang mungkin bisa dinikmati oleh anak cucuku nanti dan mereka tahu bahwa aku ada. :)










Selasa, 29 Desember 2015

Loooooooooongggggggg Weekend, 4 hari bersama Disti

Alhamdulillah, pekan kemarin sempat merasakan long weekend yang lumayan panjang. Libur 4 hari yang cukup berarti buatku pribadi dan tentunya untuk putri kecilku. Melihat di medsos dan BBM memang sebagain besar mengisi liburan dengan bertamasya ke tempat-tempat wisata. Namun aku pribadi memilih liburan yang lain bersama Disti tentunya, walau kita ga piknik kemana-mana tapi tetap asyik ya sayang....

Lihat Kelinci di RBA

Bantuin Bunda Beres-beres buku di RBA

Nunggu hujan re di Masjid Agung Slawi

Hari pertama, aku sudah membuat agenda dengan beberapa teman-teman relawan RBA Tegal untuk membereskan dan menata ulang buku-buku di rumah baca RBA yang ternyata banyak juga. Antara sedih dan senang buku-buku yang ada di rak sudah banyak yang kumal itu tanda sering dibaca. Walau sampai saat ini kami hanya buka dua kali dalam sepekan yaitu hari Jum'at dan Sabtu namun antusias anak-anak untuk datang ke RBA masih cukup besar. Disti yang memang senang dengan kesibukan juga turut ambil bagian membantu menata buku di rak dan mengambilkan buku yang akan dilabeli. Disti juga senang karena di RBA juga ada kelinci dan kucing persia yang kata Disti "Nda, kucingnya lucu gendut cantik". Dari pukul 9 pagi kami terpaksa mengakhiri kegiatan hari itu pukul 3 karena cuaca yang mulai tampak mendung. Tak mau langsung pulang Disti minta jalan-jalan ke Masjid Agung katanya "sholat dulu nda". Sampai di Masjid Agung Slawi ternyata pas sekali adzan ashar, lanjut kami berdua sholat berjamaah dengan jamaah lain yang kebetulan hari itu cukup ramai. Selesai sholat Disti minta foto-foto tapi eh ternyata hujan datang tiba-tiba. Akhirnya satu jam lebih kami berteduh di teras masjid, untung saja masih ramai orang-orang. Hujan tak kunjung berhenti, aku yang khawatir bagaimana kami pulang nanti jika hujan tak kunjung reda sedangkan Disti asyik saja berjalan-jalan di teras masjid dengan riang. Alhamdulillah sekitar jam 5 hujan agak reda, aku langsung berlari ke parkiran mengambil jas hujan dan helm untuk Disti. Dan hari itu tercapai juga kenginginan Disti untuk pake jas hujan barunya walau akhirnya dia tertidur dijalan karena lelah dan memeng belum tidur siang.

Jemurin buku yang habis kehujanan kemarin

Ayo susun yang tinggi

Kamar baru dede 

Hari kedua, aku memang sudah mengagendakan untuk silturahmi ke beberapa teman ya walau hasilnya nihil semua karena sedang pada liburan tapi tak apalah yang penting sudah diniatkan untuk silaturahmi. Dilanjut memenuhi keinginan Disti yang pengen punya kamar sendiri seperti kamar Diva. Kami berdua bergotong royong menyulap ruang kecil dibelakang lemari bufet menjadi kamar kecil untuk Disti dan betapa senangnya wajah kecilku melihat kamarnya walau bukan kamar betulan. Kita sama-sama berdoa ya nak semoga ayah bunda diberi rizki untuk bisa punya rumah sendiri, aamiinnn
Sorenya dilanjut lagi ke RBA untuk menyelesaiakan beberapa buku yang belum diberi label dan lanjut deh foto-foto di Masjid Agung dan tugu teh poci. Kata Disti "Dede ceneng nda" alhamdulillah....
Narsis di Masjid Agung


Narsis di Tugu Poci



Hasil karya Chef Disti

Hari ketiga kami memutuskan untuk dirumah saja dan waktunya cooking class dengan resep sederhana yang aku dapat dari facebook. Kue kentang goreng yanag dibentuk smile dan Disti suka banget. Walau kata ayah rasanya ga asin ga manis tapi yang penting Disti suka. DAn akhirnya ayah dan eyang juga ikut makan kok. Buatku sendiri yang penting bagaimana proses membuatnya yang buat Disti itu sangat menyenangkan. Awalnya aku mau mengajak Disti membuat Playdough tapi karena aku bilang itu ga bisa dimakan makanya Disti ga mau dan ngajak bikin kue aja. Malamnya kami diajak ayah ke Taman Rakyat deh dan senangnya Disti kalau sudah naik odong-odong di "aun-aun".

Serius nonton TV di rumah Mbah (dirumah ga ada TV sih)

Hari keempat dan hari terakhir, kita kerumah mbah yang memang kebetukan sepi ditinggal ke Cirebon. Aku memang dititipi untuk menjaga dan membersihkan rumah mbah dan baru sempat dihari libur terakhir ini deh.

Sebenarnya kita diajak mbah ke Cirebon tapi kasihan ninggalin ayah lama-lama karena memang ayah sedang sibuk mengurus lahan yang ga bisa ditinggal. Walau liburan tidak piknik ke tempat wisata tapi yang penting adalah kualitas liburan itu tetap ada bersama putri kecilku dan mumpung liburan puas-puasin deh slonjor dirumah, abaikan sejenak tumpukan pakaian kotor dan piring kotor di belakang. Selama Disti masih melek ya aku usahakan untuk bermain dengan Disti apalagi waktu sehari ayahnya dirumah Disti tampak bahagia sekali. Maafkan kami sayang yang sudah banyak mencuri waktu kebersamaan kita. Nanti kalau bunda libur lagi dan ada rejeki kita main-main lagi ke jogja mall dan alun-alun trasa (dua tempat favorit Disti).

Kamis, 17 Desember 2015

Maafkan Bunda Sayang...


Hufttttt *Take a deep breath


Seperti orang berlari rasanya ingin berhenti sejenak dan menghela nafas panjang. Sudah hampir dua bulan ini workload dikantor memang sedang tinggi dan sudah hampir dua bulan ini aku juga harus lembur, biasanya jam 4 aku sudah bisa ada dirumah kini tak jarang hingga maghrib aku baru bisa menjemput Disti dirumah mbahnya. Hari Sabtu yang biasanya libur kini aku juga harus tetap berangkat untuk menyelesaikan pekerjaan dikantor.

Dan imbasnya akupun menuai protes dari putri kecilku. Hari Sabtu dimana biasanya kita menghabiskan waktu seharian bersama walau sekedar guling-guling dikasur, kini hari Sabtu dia harus kembali aku titipkan dirumah mbah. Disti jadi mogok makan dan manjanya minta ampun, kalau aku dirumah dia maunya bunda selalu always disisinya nggak boleh ngapa-ngapain. Aku menyadari sikapnya itu wajar, dia menuntut perhatian dan waktuku bersamanya yang jika dihitung memang sangat sedikit sekali. Pagi hari jam 7 Disti sudah aku antar kerumah mbahnya dan maghrib baru aku jemput, jadi tuntas waktu kebersamaan kita kurang lebih cuma 5 jam. Dua jam sebelum aku kekantor itupun disambi menemaniku memasak dan beberes segala keperluan dipagi hari dan 3 jam sebelum Disti tidur. Maafkan bunda sayang...

Akhirnya untuk menjawab protes putri kecilku beberapa hari ini setiap istirahat siang aku usahakan untuk bisa pulang kerumah sekedar menyuapinya dan langsung kembali ke kantor. Hari Sabtu sebelum berangkat aku mengajak Disti jalan-jalan dulu atau seperti minggu kemarin akhirnya Disti ikut menemaniku lembur di kantor karena mbahnya sedang ada acara. Tapi waktu dijemput mbahnya untuk pulang eh malah mogok mintanya pulang sama bunda saja pake jas hujan. Alhasil pulang lembur disti 'kubungkus' dengan jaket dan kugendong sambil dibungkus jas hujan menerabas hujan, sampe dirumah ternyata sudah merem aja digendonganku. Maafkan bunda sayang...

Adistia Azkadina Mufidah yang kini mintanya di panggil dede Mufidah ternyata sudah besar dan makin pintar saja dibalik badannya yang kecil mungil. Bunda kadang sering 'kelabakan' kalau sudah 'bernegosiasi' denganmu. Sebentar lagi usiamu mengainjak tiga tahun dan alhamdulillah dirimu sudah terbiasa mandiri. Sudah pintar makan sendiri, pake baju sendiri, pake sepatu sendiri bahkan sudah bisa membantu bunda mengerjakan pekerjaan rumah. Sebelum tidur bunda senang mendengarmu bercerita tentang aktivitasmu seharian bersama mbah. Kata-katamu dan pemikiranmu seringkali diluar yang ayah dan bunda perkirakan. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, sehat selalu sayang semoga kamu menjadi anak yang salihah dan menjadi amalan ayah dan bunda yang tak terputus saat kami sudah menghadap-Nya. Aamiin.

*) Catatan siang sembari menikmati bekal makan siang

Januari 2026 ( Yuks Mulai Lagi!)

  Apa kabar diriku? Nggak terasa sudah 2026 ya, atau terasa banget perjalanan 2025 kemarin? Gimana berat atau kata anak sekarang "b aja...