Selasa, 12 Januari 2021

WFH Lagi, Kapan Corona Pergi?

Akhirnya WFH lagi, entahlah harus senang atau sedih. Seperti sebelumnya di kantorku mulai kembali menerapkan Work From Home (WFH) sehari di kantor sehari di rumah. Senang karena dengan WFH aku bisa lebih banyak waktu bersama anak-anak di rumah. Sedih karena berarti ini pandemi belum berakhir dan entah sampai kapan. 

Senin kemarin jadwalku WFH dan seperti hari-hari aktif biasanya, anak-anak ku titipkan di rumah orang tuaku dan aku sendiri bekerja di rumah. Setengah hari berjalan aman dan lancar meski kedua putriku mau tetap di rumah tidak mau aku titipkan di rumah mbahnya. Seperti biasa jam dua belas aku istirahat dan menyempatkan untuk menyuapi anakku terutama yang bayi. Jam setengah dua aku mulai membuka laptopku lagi, kali ini laptop kubawa ke rumah orang tuaku aku pikir agar bisa sambil menemani kakak-kakaknya bermain. 

Namun apa daya baru beberapa menit ku mulai mengedit data, putri keduaku mulai menunjukkan tanda-tanda "bahaya". Benarlah ternyata siang itu tingkah manjanya yang ingin mainan masak-masakan bersama bunda praktis membuatku tak bisa melanjutkan pekerjaan kantorku. Tangisnya yang pecah disaat adiknya yang bayi sedang lelap tertidur otomatis membuatku harus berusaha menenangkannya agar tak menambah satu tangisan lagi. Laptop lemot, sinyal internet yang timbul tenggelam dan anak yang mendadak rewel, rasanya perpaduan yang sangat nikmat disiang yang mendung itu.

Jadi teringat 30 hari yang baru saja kulalui, 30 hari menantang diri sendiri untuk rutin menulis tiap hari tanpa tapi dan aku berhasil. Aku berhasil memacu diri untuk bisa lolos tantangan ini meski sempat ragu diawal dan tertatih di beberapa hari terakhir. Ibu bekerja dengan 3 anak yang dua diantaranya balita dan tanpa asisten rumah tangga rasanya sempat tak percaya aku bisa melakukannya. Mencuri-curi waktu diantara rentetan aktivitas untuk bisa sekedar menumpahkan rasa melalui kata-kata itu rasanya ada kepuasan tersendiri di hati. Yap, awal aku menulis memang sebagai bentuk self healing, menghilangkan segala penat dan aneka rasa yang berkecamuk di hati dan pikiranku.

Waktu tersulit bagiku untuk menulis justru saat weekend, sebab saat weekday aku masih bisa menulis di sela-sela jam kantor tanpa terlalu banyak gangguan kecuali ada perkerjaan mendadak yang harus segera diselasaikan. Tapi di rumah, wah rasanya penuh perjuangan untuk bisa sekedar menuliskan kisahku di halaman ig. Dari pekerjaan rumah yang memanggil-manggil ingin disentuh, anak-anak yang minta ditemani bermain, hingga berebutan ponsel dengan anak-anakku. Kenapa nggak ada ART? Bukankah dicatatan sebelumnya aku telah menemukan ART?

Yap, aku memang sudah menemukan ART tapi memang aku pekerjakan di rumah orang tuaku untuk membantu menjaga anak-anakku saat aku di kantor. Sedangkan saat aku libur, ART maka aku liburkan juga. Sejujurnya aku dan suami memang merasa kurang nyaman jika ada "orang lain" di rumah maka dari itu kami memutuskan tak memakai ART di rumah. Jadi semuanya memang ku kerjakan sendiri dibantu suami dan kedua putriku meski lebih banyak bikin riweuhnya tapi yang penting mereka mau belajar membantu bunda menyelesaikan pekerjaan rumah dan menjaga adik bungsunya.

Setiap masa pasti memiliki cerita yang semoga hanya kisah yang indah yang terekam sempurna di ingatan dan kelak akan dirindukan dan selalu indah untuk dikenang.

Jumat, 08 Januari 2021

Biar Kutemukan Makna

Biar Kutemukan Makna

Inilah catatan pertamaku di rumah mayaku di tahun 2021, dua hari terakhir sebelum 30DWC berakhir.

Ya tantangan menulis selama tiga puluh hari yang aku ikuti akan segera berakhir, tak terasa dan ternyata aku bisa untuk konsisten menulis setiap harinya.Walau tak selalu kutulis kisahku di sini, namun kini jejak penaku tak hanya kata-kata di status wa melainkan sebuah cerita atau rangkaian kata yang bermakna.

Meski 30DWC sudah hampir berakhir tapi bagaimana dengan pandemi ini, kapan akan berakhir?
Pertanyaan itu pasti berada di benak setiap orang saat ini baik mereka yang percaya atau pun mereka yang menganggap ini hanya candaan semata. Sudah setahun lebih pandemi akibat penyebaran virus Covid-19 ini melanda negeri kita tercinta dan juga banyak negeri di belahan bumi lainnya. Pastinya banyak cerita meski lebih banyak yang berbalut duka.

Tak usah jauh-jauh memandang, lihatlah saja disekitar kita. Hampir setiap hari suara sirine ambulan memekakan telinga dan menciutkan hati yang mendengarnya. Hampir setiap hari bertebaran berita duka yang mengabarkan kehilangan keluarga atau kawan akibat pandemi ini. Sebenarnya virus yang tak kasat mata ini bukan hanya menyerang tubuh kita namun justru jiwa kita, pikiran kita yang seakan diteror dengan rasa takut, cemas, was-was dan kepanikan yang sejatinya bisa lebih mematikan.

Alhamdulillah hingga detik ini aku masih bertahan, berusaha untuk tetap terus taat menerapkan protokol kesehatan. Mencoba untuk tetap menghindari kerumunan atau sekedar berkumpul dengan kawan-kawan. Maaf, bukan kini aku anti sosial, aku masih keluar rumah, aku masih bekerja, aku masih saling menyapa. Aku hanya sedang berusaha menjaga diriku dan juga keluargaku. Ada putra-putriku yang masih balita dan juga kedua orang tuaku yang mungkin sangat beresiko untuk terkena, maka dari itu aku harus tetap waspada. Karena aku sudah merasakan beratnya berpisah meski itu hanya sejengkal jarak dan sekelebat waktu.

Apakah aku tak lelah?
Apakah aku tak bosan?

Ya, aku pun pernah merasa lelah, aku pun pernah merasa bosan dan jengah dengan semua situasi ini. Tapi hati kembali menuntunku untuk mengimani bahwa inilah takdir yang harus aku lalui, bukan hanya hidup di dunia ini tanpa arti melainkan belajar untuk membaca ayat-ayat ilahi dalam kehidupan ini. Dari saudara-saudara kita yang mungkin saat ini tengah berjuang karena terpapar virus corona, atau dari mereka yang kehilangan orang-orang terkasihnya, banyak pelajaran yang sebenarnya bisa kita ambil. 

Tak harus menunggu kita sendiri yang mengalaminya, berusahalah untuk mengasah hati kita, menempatkan empati dan memandang dengan mata batin kita. Sungguh pandemi ini telah mengajarkan banyak hal pada kita. Tak perlu kujabarkan satu persatu makna yang ada biarkan hati kita menemukan sendiri jawabannya dengan jalan dan kisahnya masing-masing.


*Tetap jaga protokol kesehatan, kuatkan doa Insya Allah kita bisa saling menjaga

Selasa, 29 Desember 2020

Yang Terlaksna Belum Tentu Yang Direncana

      Para penggemar olshop, pernah nggak sih kalian sudah masuk-masukin beraneka macam barang ke dalam keranjang eh ternyata nggak jadi checkout atau yang di checkout bukan barang yang sudah lama mengendap di keranjang melainkan barang yang baru saja masuk ke keranjang?

     Atau mungkin kalian juga pernah mengalami sudah memimpikan ingin membeli sesuatu tapi saat sampai di tempat perbelanjaan justru yang dibeli  barang yang tidak terpikirkan sama sekali?

    Atau juga kalian sudah merencanakan ingin beres-beres rumah hari itu, dalam angan-angan ingin menerapkan metode 'konmari' agar rumah terlihat lebih rapih namun tiba-tiba mendapati tumpukan album foto atau tumpukan diary yang akhirnya justru kenangannya mengalihkan kita dari niatan awal?

      Dari ketiga situasi diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa butuh kekuatan tekad untuk melaksanakan sebuah niat agar tak sekedar menjadi niat semata. Kita bisa saja menginginkan atau merencanakan sesuatu namun jika keinginan itu hanya tersimpan rapi dalam angan-angan tanpa adanya tindakan nyata maka selamanya itu hanya akan menjadi keinginan semata. Selain itu apa yang sudah kita rencanakan dengan sebaik mungkin, belum tentu itu yang akan terjadi. Manusia boleh pandai berencana namun diatas itu ada Allah SWT yang lebih berkuasa atau berkehendak atas segala yang terjadi dengan diri kita. 

    Meskipun begitu bukan berarti kita menjalani hidup ini begitu saja mengikuti takdir-Nya tanpa ada usaha. Ingat bahwa ada takdir yang bisa dirubah, melalui ikhtiar kita, melalui doa-doa kita. Jadi tetaplah rencanakan hidupmu sebaik mungkin, tentukan target dan tujuan yang ingin kamu capai dan juga langkah-langkah yang harus kamu lakukan untuk sampai kesana.

    Perkara hasil biarlah Allah yang urus dengan sebaik-baiknya karena Allah lebih mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya. Mungkin Allah tahu kita hanya menginginkan barang-barang yang ada di keranjang tapi bukan itu yang kita butuhkan melainkan barang yang akhirnya kita checkout-lah yang sebenarnya kita butuhkan.

Senin, 28 Desember 2020

Akhirnya Kumenemukanmu (ART)

Alhamdulillah masih bisa diberi kesempatan bertemu dengan hari senin terakhir di tahun 2020 ini. Semoga pekan terakhir di bulan Desember tahun 2020 ini bisa terisi dengan hal-hal yang bermanfaat dan menjadi momentum untuk bisa lebih baik lagi ditahun depan.

Suasana di kantor terasa tidak seramai biasanya karena beberapa ada yang mengambil cuti dan ada pula yang sedang WFH. Aku pun rasanya berat  saat pagi tadi akan meninggalkan anak-anak setelah libur beberapa hari kemarin. Tapi tugas dan tanggung jawabku di kantor tak bisa kutinggalkan begitu saja terlebih tahun ini aku sudah cukup banyak mengambil cuti dikarenakan kehilangan ART.

Tapi hari ini "Akhirnya kumenemukanmu...". Setelah pencarian panjang yang cukup melelahkan (lebay dikit nggak apa ya) akhirnya aku menemukan juga pengasuh untuk anak-anakku. Bismillah setelah berbagai ikhtiar selebihnya kuserahkan semua kepada Allah SWT. Semoga dengan kehadiran pengasuh baru ini bisa membantu meringankan tugasku yang sempat dibackup oleh ibuku. 

Walau sempat galau diawal saat akan mulai mencari pengasuh dimasa pandemi ini tapi insya allah kali ini aku harus yakin karena tak mungkin seterusnya akan merepotkan bapak/ ibuku diusia senjanya. Memang tak dipungkiri sehari saja cucu-cucunya tak berkunjung kerumah maka ibuku pasti langsung menelponku ingin mendengar suara cucu-cucunya. Maka dari itu meski saat ini sudah ada pengasuh anak-anak tetap aku titipkan di rumah orang tuaku sehingga tak kubiarkan anak-anak hanya dengan pengasuh saja, ada mbah uti  dan mbah kung yang ikut mengawasi. 

Untuk ibu bekerja sepertiku ini masalah asisten rumah tangga/ pengasuh memang tak mungkin bisa dihindari dan memang inilah konsekuensi yang harus kita hadapi atas pilihan kita untuk menjadi ibu bekerja. Tak usah merasa berkecil hati atau merasa bersalah atas langkah yang sudah kamu ambil, tak usah pedulikan segala macam omongan nyinyir yang hanya bisa menghakimi tanpa memberi solusi. Bagaimanapun seorang ibu pasti ingin melakukan yang terbaik untuk buah hatinya maka lakukan semampunya jangan pernah memaksakan standar orang lain pada diri kita.

Tetap semangat, tetap bersyukur dan tetap jaga kesehatan. Salam hangat untuk ibu-ibu hebat dimanapun berada.

Di kantor bunda sebelum ada pandemi


Senin, 21 Desember 2020

Menjadi Tidak Pada Umumnya

 Akhirnya ketemu juga jari ini dengan deretan tuts keyboard dimeja kerjaku, sedari pagi rasanya sudah seperti dikejar-kejar debtcolector aja. Alhamdulillah semua pekerjaan yang sudah kurencanakan dari semalam akhirnya bisa terselesaikan, walau begitu jangan salah masih ada rentetan pekerjaan lain yang sudah menunggu. Yang tak pernah lupa ku minta disetiap akhir sholat semoga kita semua selalu diberi kesehatan terlebih disituasi pandemi saat ini, sehingga semua tugas dan kewajiban kita bisa tetap terlaksana dengan baik.

Seperti halnya tugasku untuk setor tulisan di 30DWC selama tigapuluh hari tanpa jeda semoga bisa tercapai dengan mulus. Sejujurnya bingung juga mau nulis apa bukan karena tak tahu apa yang ingin aku tulis justru karena terlalu banyak hal yang bersliweran dipikiranku yang ingin aku tulis.Baiklah, mari manfaatkan sisa waktu yang tinggal beberapa menit ini sebelum bel pulang berbunyi. 

Pernahkah kita berada disituasi dimana kita merasa berbeda dengan yang lainnya, kita menjadi sosok yang tidak pada umumnya?

Aku pernah, bukan dalam hal sederhana seperti salah kostum atau hal simpel lainnya melainkan berbeda untuk kondisi yang lebih serius. Sejak kecil aku memang berbeda dari kebanyakan anak-anak yang bisa bermain ceria selayaknya anak-anak pada umumnya karena aku yang sedari kecil sudah sakit-sakitan. Mungkin itulah yang menjadi awal hingga akhirnya aku sering berada disituasi yang tidak pada umumnya itu. Memang tak mudah menerima kenyataan kalau kita tidak bisa seperti orang-orang pada umumnya. Butuh keluasan hati dan keikhlasan yang lebih agar kita bisa dengan lapang menerima kondisi itu. 

Dulu saat SMP, saat anak-anak lainnya sedang senang-senangnya bergaya dengan kaos dan jam tangan yang kekinian (pada jamannya dulu) aku hanya bisa menyimpan dalam hati keinginan untuk memiliki seperti apa yang mereka miliki. Tapi aku sadar bahwa tak selamanya keinginan harus terwujud, aku tahu kondisi kedua orang tuaku dan aku bukanlah anak yang bisa memaksakan apa yang aku ingin.

Dan hingga saat ini pun seringkali aku berada pada situasi yang akhirnya membuatku memilih jalan yang berbeda dari kawan-kawanku kebanyakan. Entahlah mungkin takdir sudah menuntun langkahku untuk demikian namun aku tak pernah menyesali itu semua, karena pada akhirnya aku menyadari dari semua itu justru banyak sekali pelajaran berharga yang aku dapatkan. Dan pastinya lagi melatihku untuk terus belajar lebih ikhlas dan lebih lapang dada lagi dalam menerima dan menjalani takdir-Nya.



Kamis, 17 Desember 2020

Nikmati saja dulu


Full mom vs working mom, sudah seringkali dibahas diberbagai media dengan bermacam-macam sudut pandang. Aku tidak akan membahasnya terlalu detail dalam tulisan ini. Aku hanya ingin sekedar berbagi sedikit pengalaman tentang hal itu.

Tak usah berebut mana yang lebih baik, full mom atau pun working mom semuanya punya plus minusnya masing-masing. Kembali lagi itu semua hanya pilihan hidup yang harus dijalani dengan segala konsekuensinya. Seperti hari ini hadir, aku memilih untuk tidak kembali ke kantor dikarenakan diluar hujan deras bercampur angin kencang. Anak-anak pun ingin bundanya tetap di rumah disaat seperti ini. Konsekuensinya aku harus rela kehilangan beberapa persen dari gajiku karena hanya hadir separo hari.

Aku adalah working mom yang sedang galau karena sudah beberapa bulan kehilangan asisten rumah tangga. Anak-anak dengan berat hati kutitipkan pada kedua orangtuaku. Sesaat semuanya masih terkendali, lagipula aku sudah terbiasa menghandle sendiri pekerjaan rumah. Namun situasi mendadak oleng saat mbah uti sakit dan otomatis tidak bisa menjaga anak-anakku seperti biasanya terlebih si bontot yang baru berusia 9 bulan. Beruntung masih ada mbah kung yang selalu jadi idola anak-anakku yang masih bisa dititipi selama aku ke kantor.

Kalau sudah seperti ini rasanya ingin sekali aku mengikuti jejak beberapa kawan yang dengan mantap memilih resign lalu menjadi fulltime mom. Tapi kenyataannya aku belum "seberani" kawan-kawanku. Bukan aku tak yakin atas rezeki yang sudah Allah jaminkan untuk kami. Melainkan inilah pilihan hidupku dengan segala konsekuensi yang harus aku tanggung termasuk masalah ART.

Akhirnya kembali kuyakinkan diri bahwa setiap permasalahan yang hadir pasti sudah lengkap dengan solusinya. Mari nikmati saja dulu segala "keriweuhan" ini. Anggap saja ini episode yang harus kulewati dari Yang Maha Pembuat skenario terbaik. Kelak suatu saat nanti semuanya menjadi indah dalam kenangan.

Rabu, 16 Desember 2020

Tetap Semangat!!!

    Memang Allah akan selalu menguji kesungguhan kita, seberapa kuat keinginan kita, seberpa keras usaha kita untuk mencapai keinginan tersebut meski kembali lagi bahwa takdir Allah yang terbaik untuk kita. Baru saja berjalan beberapa hari program 30DWC ada saja halangan yang seakan membuat semangatku hendak menyusut.

    Satu persatu permasalahan tiba-tiba muncul kepermukaan seperti bakso yang sudah mengambang dan minta diangkat. Sepertinya semua masalah meminta untuk diselesaikan segera yang mau tak mau menyita waktu dan pikiranku. Workload di kantor juga sedang padat-padatnya dan akhirnya daripada pusing kutulis saja semuanya disini untuk setoran tulisan hari ini.

    Take a deep breath again...again...and again...

    Hidup di dunia memang tak akan pernah lepas dari masalah namun dengan adanya masalah hidup akan lebih berasa dan berwarna, tinggal bagaimana kita memanajemen masalah tersebut. Mungkin memang ini sedang saatnya aku diminta untuk belajar lebih sabar lagi dan tak lupa bersyukur atas hari-hari tenang kemarin. Jika memang sesaat harus memacu adrenalin tentunya tak apa, bukankah Allah swt memberi kita masalah pasti sudah satu paket dengan solusinya tinggal bagaimana kita bisa bertemu dengan solusi itu. Allah swt juga sudah membekali kita agar meminta pertolongan-Nya dengan sabar dan sholat, maka lakukan saja sebaik-baiknya tugasmu. Persoalan hasil biar Allah yang mengatur sebaik-baiknya untuk kita.

    Semoga satu persatu persoalan ini menemukan jalan keluarnya dan aku bisa tetap semangat mengikuti dan menyelesaikan 30DWC Jilid 27 ini. Semangat😁



Selasa, 15 Desember 2020

Bunda Aku Cemburu (2)

"Aku rindu bunda" dan pelukan hangat itu mendekapku

"Aku kangen bunda" dan air matanya pun menetes sambil memelukku

"Aku sayang banget sama bunda" dan kecupan hangat itu mendarat di pipiku

"Bunda sayang sama kakak nia?" kalimat itu sering terlontar saat aku memeluknya.

    Dialah gadis kecilku, putri keduaku yang sudah empat tahun menambah warna kehidupan kami. Follower sejati kakaknya yang pengen selalu ngikutin kakaknya kemana saja. Tapi dalam sekejap bisa jadi "lawan" yang tangguh yang membuat kakaknya sebal setengah mati. 

    Si ekstrovert yang selalu bisa mengungkapkan semua yang dia rasakan entah itu gembira atau pun sedih yang dia rasa. Dia yang selalu bisa menjelaskan kronologis setiap peristiwa saat si kakaknya justru memilih diam seribu bahasa. Suaranya yang melengking yang seringkali membuatku menghela nafas karena baru saja menidurkan adiknya yang masih bayi dan akhirnya bangun lagi.

    Si cuek yang sangat perhatian akhir-akhir ini sedang agak baper, semua maunya cuma dengan bunda (lah memang anak bunda ya sayang). Mungkin seperti kakaknya dulu yang sangat cemburu dengan kehadirannya dulu. Kini dia mungkin mulai merasakan hal itu, cemburu dengan kehadiran adiknya yang sudah sembilan hadir manambah keramaian di tengah keluarga kami. Meski tidak sefrontal kakaknya dalam mengungkapkan rasa cemburu itu namun aku bisa melihat ada bias itu dimatanya. 
    
    Dia seperti merasa takut kehilangan bundanya, meski bunda ada di rumah namun dia selalu berkata "kangen bunda". Mungkin ini teguran kembali buatku untuk bisa lebih adil lagi dalam membagi perhatian kepada ketiga buah hatiku agar drama yang dulu tak terulang kembali. Aku harus kembali belajar untuk bisa menghadirkan tak hanya ragaku dihadapan mereka namun seluruh jiwaku agar keberadaanku tak hanya sebatas dalam pandangan mata. Aku sadar aku bukan ibu yang sempurna buat mereka namun yang pasti akan selalu berusaha kulakukan yang terbaik untuk mereka.

Terima kasih karena kau sangat menyayangi bunda yang penuh alpa ini.




Bisa dibaca juga saat si sulung cemburu di Bunda Aku Cemburu

Senin, 14 Desember 2020

Maafkan Bunda

    Siapapun boleh bermimpi dan berharap kelak impian itu bisa menjadi nyata. Bermimpi suatu saat nanti bisa mimiliki pasangan yang ideal, anak-anak yang manis, kehidupan rumah tangga yang harmonis sehingga peran sebagai istri dan ibupun bisa dilakoni dengan sangat manis dan nyaris sempurna (mengapa nyaris? Karena manusia tidak ada yang sempurna). Berbagai literatur maupun seminar mengenai teori berumah tangga, teori parenting dan segala hal yang berhubungan dengan dunia teserbut terasa gurih sekali untuk dilahap. Berharap bisa menjadi bekal yang cukup saat tiba waktunya nanti.

         Namun saat kenyataan berbicara tak semanis impian, saat langkah terasa berat untuk diayunkan, saat dada terasa sesak untuk bernafas dan semuanya menjadi bola salju yang tanpa sadar kita gelindingkan ke arah sang buah hati yang sedang indah-indahnya menikmati dunia. Saat itu sepertinya runtuh sudah semua teori parenting yang pernah saya baca atau dapat dari berbagai seminar. Hingga pada akhirnya hanya sesal yang tersisa bersama air mata. Tapi seorang ibu juga hanyalah manusia biasa yang juga tak lepas dari khilaf dan alpa maka bagi saya sudah sepantasnya seorang ibupun berani untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf pada sang buah hati.

          Berusaha tak ingin menyesali takdir dan berusaha kembali menyadari sepenuhnya bahwa seorang ibu juga manusia biasa dengan segala kelebihan dan kekurangannya yang juga bisa merasa lelah, sedih, kecewa ataupun marah. Mencoba berdamai dengan semua situasi yang ada, belajar lebih ikhlas lagi menerima takdir-Nya. Dan doa sebagai senjata ampuh seorang muslim itu memang benar adanya dan saya yakin dengan doa bukan tak mungkin bisa merubah segalanya. Meski luka yang terpartri di hati belum tentu bisa hilang sepenuhnya semoga permohonan maaf setulus hati bunda bisa menutup lubang dihatimu. Ingatkan bunda jika bunda kembali lupa, semoga kedepannya kita bisa bersama-sama merangkai tawa dan mengeja bahagia yang lebih berwarna dan penuh makna.



*)Catatan spesial untuk sulungku, cinta pertama kami, yang hampir delapan tahun membersamai kami. Semoga pada saatnya nanti kau akan mengerti hikmah dibalik takdir yang telah kita lewati ini dan semoga ini akan menjadikanmu pribadi yang kuat.




Minggu, 13 Desember 2020

Untuk Sebuah Kebaikan


Segala sesuatu tergantung pada niatnya, sebagai seorang muslim kita mungkin sudah sering mendengar hadist tentang niat itu. Bahwasanya kita akan mendapatkan atas apa yang kita niatkan.

Akhir tahun 2018 menjelang awal tahun 2019, seperti biasa aku selalu membuat resolusi tahunan. Tahun itu tidak muluk-muluk aku hanya ingin bisa lebih rajin di dapur. Melihat beberapa teman yang ditengah kesibukannya yang padat namun masih sempat menyajikan menu spesial untuk keluarga sungguh membuatku "iri". Iri kenapa aku tak bisa seperti mereka meski aku sadar kemampuan setiap orang tak bisa disamaratakan.

Sebagai menteri keuangan keluarga tentunya aku harus bisa menjaga kestabilan perekonomian. Kenyataannya membeli makanan matang atau makan diluar jelas jauh lebih boros ketimbang masak sendiri. Maka dengan niat mengamankan kondisi ekonomi maka aku harus menguatkan tekad untuk bisa menjalankan resolusi tersebut.

Kebetulan kami sekeluarga memang doyan ngemil, bahkan dipagi hari suami seringkali melewatkan sarapan pagi namun selalu mencari camilan untuk menemani secangkir kopinya. Walhasil sebisa mungkin selalu kusiapkan walau hanya ubi atau singkong goreng. Pagi-pagi yang biasanya antri di warung sarapan ternyata lebih efisien jika dipakai masak sendiri. Setidaknya dipagi hari aku bisa menyiapkan makanan untuk sampai makan siang nanti. Sehingga saat ku tinggal ke kantor aku sudah tenang tak perlu memikirkan menu makan siang untuk kubawa pulang, lumayan ngirit juga dan pastinya lebih higienis.

Bersamaan dikehamilanku yang ketiga justru aku makin rajin menggeluti hobi lamaku bergelut di dapur. Kedua putriku yang memang suka sekali roti dan sejenisnya akhirnya membuatku suka sekali mengeksplorasi aneka resep roti. Padahal jika diingat-ingat dulu saat masih sekolah, berkali-kali aku membuat roti dan berkali-kali pula aku gagal. Entah kenapa kali ini semuanya terasa lebih mudah dan tentunya mengasyikan.

Sedikit cerita dulu sebelum menikah aku selalu membayangkan  ingin sekali punya rumah dengan dapur impian yang bisa membuat aktivitas memasakku jadi menyenangkan. Dan kenyataannya kini kami sekeluarga masih tinggal di pondok mertua indah, jangankan dapur impian yang ada ibu mertuaku masih suka menggunakan tungku meski sudah ada kompor gas. Namun ternyata aktivitas memasakku tetap menyenangkan, seru dan pastinya membahagiakan. Apalagi jika kedua putriku sudah memuji roti buatan bundanya dan melihat hasil karyaku habis dalam sekejap sepertinya rasa lelahku terbayar tunai. 

Jadi teringat tulisan seorang kawan bahwa bukan seberapa indah dapur kita melainkan sebanyak apa cinta yang kita sajikan untuk keluarga. Tak perlu menunggu punya dapur impian untuk bisa menyajikan menu spesial untuk keluarga, asalkan ada niat masak pakai apa pun jadi.

Tak jauh berbeda maka untuk bisa menulis selama 30 hari berturut-turut pun pasti bisa asalkan ada niat yang kuat untuk melakukannya bagaimana pun kondisinya. 

Teringat seorang kawan yang dahulu menjadi jalanku bertemu dengan salah satu forum kepenulisan. Dia yang kuketahui berprofesi sebagai loper koran ternyata seorang penulis yang karyanya sudah dimuat diberbagai media masa. Kini bukunya baik solo maupun antologi telah terbit ditengah keterbatasan fasilitas menulis yang dia miliki. Dia memanfaatkan warnet dan rental untuk mewujudkan cita-citanya sebagai penulis, dengan sepedanya dia sanggup menempuh jarak puluhan kilometer untuk mewujudkan mimpinya itu. Sungguh sosoknya membuatku malu yang masih seringkali mencari alasan untuk tidak menulis padahal fasilitas yang kumiliki jauh lebih memadai untuk itu.

Semoga di 30DWC ini bisa menjadi resolusi tahunanku untuk bisa kembali rutin menulis sehingga cita-citaku menjadi seorang penulis (yang bisa menerbitkan buku solo) semakin dekat untuk diwujudkan. 

Aku selalu yakin bahwa niat baik insya allah akan diberikan jalan yang baik pula. Maka apa pun jalan yang kita tempuh untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita kita niatkanlah untuk sebuah kebaikan.

*Mari nikmati sepotong pizzanya😘

Sabtu, 12 Desember 2020

Hidup Adalah Pilihan

Hidup adalah pilihan dan aku memilih untuk mencoba menaklukan tantangan ini. Meski diawal langkah terselip rasa ragu namun akhirnya keyakinan memaksaku untuk terus maju dan menjadi bagian dari para fightermenulis di 30DWCJilid27.

Hidup adalah pilihan dan aku memilih untuk menata kembali semua angan, mimpi dan harapan yang terselip disetiap doa-doaku. Sebagai manusia biasa akupun memiliki keinginan dan cita-cita yang tak mustahil untuk diwujudkan. Karena aku percaya there is a will there is a way. Namun dari sekian deret keinginanku tetap ada yang harus diprioritaskan. Perempuan memang dikenal sebagai mahluk multitasking namun kali ini aku sadar betul bahwa tak mungkin untuk duduk di dua kursi. Aku paham betul dengan kapasitasku, rasanya terlalu egois jika semua yang aku inginkan harus bisa tercapai disaat yang bersamaan. Untuk itu aku memilih untuk sejenak rehat dari beberapa komunitas dan memilih untuk left sejenak dari bebera grup wa yang sudah lama aku ikuti.

Hidup adalah pilihan dan aku memilih untuk lebih banyak lagi meluangkan waktu untuk ketiga buah hatiku. Bersamaan dengan kehamilan anak ke tigaku ternyata si mbak yang selama ini ikut membantu di rumah kami juga tengah hamil anak kedua. Sehingga mau tak mau dia harus stop dari pekerjaannya dan aku tak bisa menghalangi itu. Setelah habis masa cutiku sempat dua kali mendapat pengasuh yang baru namun mungkin belum berjodoh dan akhirnya hanya bertahan seumur jagung. Dimasa pandemi yang semakin hari semakin menggila rasanya hatiku makin galau untuk mencari pengasuh baru. Antara butuh dan takut, sebenarnya memang butuh tapi aku juga takut jika nantinya mereka justru menjadi carier bagi keluargaku. Akhirnya aku memilih untuk mengambil kembali semua peran yang pernah aku delegasikan. Meski untuk sementara waktu saat aku ke kantor anak-anak harus kutitipkan di rumah orangtuaku. Beruntung disela-sela jam kerjaku aku masih bisa pulang sejenak untuk menyuapai atau menemani anak-anakku bermain.

Dan itulah jalan yang kupilih kini, dan aku harus siap dengan segala konsekuensinya. Semoga pandemi ini segera berlalu dan semuanya akan kembali normal.




Januari 2026 ( Yuks Mulai Lagi!)

  Apa kabar diriku? Nggak terasa sudah 2026 ya, atau terasa banget perjalanan 2025 kemarin? Gimana berat atau kata anak sekarang "b aja...