Kamis, 16 Juli 2020

Menggali Mimpi yang Terkubur (Semangat Kakak!)

Seperti biasa ditengah SAPK yang tiba-tiba lola (loading lama) jadilah kita close dulu dan geser ke jendela sebelah bermain kata.

Sudah beberapa hari ini aku memang sedang terserang candu, masih nyambung dari postingan sebelumnya aku memang lagi terkena candu chanelnya bung Fiersa. Yup! Fiersa Besari sepertinya sudah membuatku kecanduan dan semoga kecanduan yang positif. Berawal dari nonton Jejak Rasa dari Eiger Adventure entah bagaimana akhirnya aku terus menyusuri jejak bung fiersa di chanel youtube.

Melihat #SebuahJurnal rasanya seperti ikut bertualang mendaki gunung menyusuri lembah (kaya ninja hatori ya). Pokoknya nonton chanel bung Fiersa aku seperti terhipnotis dan ikut larut didalamnya. Diiringi narasi dan obrolan-obrolan santai tapi penuh makna membuat kita tak hanya disuguhi pemandangan alam dan petualangan yang indah namun juga kita seperti diajak memaknai hidup dan menerima diri kita apa adanya. Karena sejatinya setiap orang punya caranya masing-masing untuk memaknai hidup ini.

Dan dari sinilah aku kembali menemukan mimpiku yang mungkin telah lama terkubur dalam kotak angan-angan dan saat ini kembali berusaha untuk kugali lagi dan kubuka lagi kotaknya dan mimpi itu akan kembali aku pasang 5cm dedepanku (siapa hayo pencinta 5cm???). Mimpiku untuk bisa kembali bertualang, mimpiki untuk bisa melahirkan buku (berbagi makna lewat kata), mimpiku mempunyai toko kue. Untuk mimpi yang terakhir sepertinya Allah titipkan juga pada putri pertamaku yang juga pengen sekali bundanya jualan kue dan bikin toko kue saja, semoga kita bisa sama-sama mewujudkan mimpi itu.

Aku yang dulu memang pengen banget bisa naik gunung tapi ga pernah kesampaian karena terhalang restu ibu, cukup bersyukur menemukan chanel ini yang seolah bisa mewakili cita-cita lamaku. Aku juga jadi teringat jaman kuliah dulu yang kerap kali mengikuti kegiatan outbond (ga bisa naik gunung setidaknya mendaki bukit pun jadi). Beberapa kali jadi tim perintis yang harus datang dahuluan mendirikan tenda dan babat alas, beberapa kali ikut survey lokasi dan harus susur sungai sampai setengah harian untuk mecari tracking untuk acara outbond mahasiswa baru, pernah juga tersesat di hutan malam hari mungkin karena terbersit rasa sombong di hati bahwa kita sudah hapal jalannya (makanya jangan pernah sombong). dan aneka pengalaman menarik selama mengikuti outbond dulu.




hanya dapat 2 foto dari facebook itupun karena ditag oleh seorang teman. Sekarang aku lagi coba bongkar-bongkar hardisk lama semoga foto-foto itu masih bisa diselamatkan dan akan aku abadikan di blog ini sebagai kenang-kenangan kalau aku dulu juga pernah bertualang. Dan berharap someday bisa camping lagi bareng suami dan anak-anak.

Dan satu lagi efek setelah nonton jejak rasa dan chenel bung Fiersa, aku lagi coba ngumpulin kembali catatan-catatan kecilku sejak tahun 2008 dulu dan semoga bisa menjadi sebuah buku solo karyaku sendiri sebagai catatan sejarah yang mengabadikan kisahku. Semangat!!!

Jumat, 10 Juli 2020

Sekali Lagi Bunda Belajar Darimu (Guru Kecilku)

Jum'at 10 Juli 2020

Ditemani bekal nasi kotak, secangkir susu jahe dan beberapa potong jintul goreng yang kubawa dari rumah, rasanya jemari ini sudah rindu untuk bertutur.

Sekali lagi aku diingatkan jangan terlalu sering memandang menggunakan kacamata negatif agar mata, hati, dan pikiran pun tak terlalu lelah. Sebagai orang tua kuakui masih terlalu sering memandang dengan kacamata negatif khususnya pada putri sulungku (maafkan bunda sayang...)

Beberapa hari yang lalu tiba-tiba hpku berbunyi, ada panggilan dari ibuku. Dan cerita  sederhana itu pun mengalir dari mulut ibuku merayap melalui telingaku dan akhirnya mengendap di hatiku membawa haru yang nyaris membuat mataku berkabut.

Malam harinnya aku pun sengaja menanyakan langsung pada putriku Disti.
" Kakak tadi siang beneran pulang kerumah eyang cuma mau ambil jemuran?"
" Bener, soalnya langitnya mendung banget bun"
" Tapi kalau mau pergi bilang-bilang, kan uti nyariin. Terus bunda kan ga nyuruh kakak ambilin jemuran kan tinggi nanti kalau jatuh giman coba...?"
" Aku udah bilang kok sama atung, terus aku langsung lari aja"
" Ooo, makasih ya sayang" lalu kukecup keningnya.

Pagi itu sebelum ke kantor aku memang menjemur beberapa pakaian yang sudah kucuci dari semalam. Karena kupikir cuaca agak mendung dan rumah seringkali kosong maka kuputuskan untuk meletakan rak jemuran di teras untuk menjemur pakaian-pakaian besar dan hanya jemuran gantung yang aku letakkan ditempat biasa berharap pakaian anak-anak yang kecil bisa cepat kering untuk disetrika nanti malam. Sebelum berangkat aku titip pesan pada suami untuk meminggirkan jemuran gantung jika hujan atau jika ayah akan berangkat. Namun ternyata pesan itu justru sampai pada Disti putri kecilku.

Membayangkan bagaimana caranya menggapai jemuran-jemuran kecil dengan tubuh kecilnya karena jemuran itu cukup tinggi aku gantungkan disamping teras. Saat aku pulang kulihat masih ada bekas bangku kayu dibawah jemuran itu, bagaimana kalau dia jatuh dan tidak ada yang tahu karena rumah dalam keadaan sepi. Membayangkan dia membawa gulungan pakaian yang dipegangnya erat-erat didadanya sambil berjalan tergesa ke rumah mbahnya kareana takut hujan akan mendahuluinya, mungkin jika ada orang yang melihat bisa jadi akan berpikiran ini anak apa habis diusir.

Diusianya yang menginjak 7 tahun, di balik sifat perasa dan cemburunya dan dibalik sifatnya yang seringkali bikin bunda kesal (karena tidak cukup sekali bunda harus "berteriak" untuk bisa meminta bantuanmu) ternyata dia juga bisa memiliki rasa tanggungjawab atas kesadaran diri sendiri. Meski peristiwa ini terlihat sepele tapi bagiku memiliki makna yang dalam dan kembali menyentak batinku agar memandangmu lebih dekat dan lebih dalam lagi. Seolah kau ingin berkata bahwa aku tak semenjengkelkan yang bunda rasa, aku pun bisa diandalkan seperti yang bunda minta tanpa harus banyak kata. Namun bibir kecilmu yang seringkali bungkam jika bunda bertanya telah menyimpan semuanya di tempat terdalam di hatimu. Membuat bunda mengukir prasangka sepihak tanpa tahu isi hatimu.

Terima kasih sayang, sekali lagi bunda belajar darimu guru kecilku.


*)Merenung disela-sela pekerjaan akhir pekan.

Jumat, 19 Juni 2020

Untuk Yang Tersayang (Ke Tiga Buah Hatikku)

Bismillah...

Apa yang aku tulis ini hanya sebagai pengingat bahwa kami pernah melalui semua ini tanpa ada tendensi lain selain sebagai catatan kecil kami.

Dan badai pun berlalu meski badai Covid-19 masih saja bergejolak di bumi tercinta ini. Kami baru saja melalui badai kehidupan yang sungguh tak pernah kami sangka akan terjadi dan ini kembali menyadarkan kami bahwa suka dan duka, tawa dan air mata itu bagai dua sisi mata uang yang saling berdekatan dan hanya Allah yang tahu apa yang akan terjadi sedetik kedepan.

25 Februari 2020 kurang lebih pukul sepuluh telah lahir dengan selamat putra ke tiga kami GIBRAN GUNTUR ATHALLAH melalui bedah secar. Syukur alhamdulillah yang tak terkira di usiaku yang sudah berjalan di kepala tiga Allah masih mempercayakan amanah pada kami dengan dikaruniai anak lelaki setelah dua kakak perempuannya. Selama kehamilan saya tidak pernah meminta harus lelaki atau perempuan yang terpenting adalah lahir sehat dan selamat. Kurang lebih 3 hari setelah luka bekas secar kering dan aku bisa berjalan lagi maka diperbolehkan pulang. Alhamdulillah welcome home...

Selang beberapa hari setelah kepulanganku dari rumah sakit ternyata Disti putri pertama kami sakit yang ditandai dengan demam hingga 41 derajat. Meski sempat turun, demam tak kunjung hilang meski begitu putri kami ini memaksa tetap minta masuk sekolah karena saat itu memang sedang PTS. Keinginannya yang kuat akhirnya dengan berat hati kami turuti dengan konsekuensi Ayah harus menugguinya didepan sekolah dan meminta kebijakan wali kelasnya agar Disti bisa mengerjakan tes lebih dahulu dan pulang lebih cepat. Alhamdulillah setelah diperiksakan ke DSA demam berangsur hilang, kurang lebih satu minggu hingga pulih. Alhamdulillah...

Selang beberapa hari ternyata Rania putri kedua kami tiba-tiba demam, dan kami mulai cemas saat demam makin naik tapi dia sama sekali tidak mau minum obat penurun panas. Dia cuma tertidur lemas, tidak mau makan nasi apalagi obat. Perasaanku sudah mulai galau dan akhirnya terjadi juga, kami terpaksa membawanya ke IGD. Setelah diberi cairan infus barulah ada tenaga dan demamnya mulai turun. Diagnosa dokter tipesnya yang dulu kambuh lagi dan harus dirawat inap beberapa hari. Kurang lebih 4 hari setelah demamnya benar-benar turun dan hasil laboraturiumnya bagus maka kami diperbolehkan pulang meski untuk pemulihan masih butuh istirahat beberapa hari di rumah. Alhamdulillah welcome home...

Selang beberapa minggu ternyata badai masih berlanjut, bayi kami yang baru genap berusia satu bulan juga harus bersentuhan dengan selang infus. Awalnya my baby boy tertular bapil dari kakak-kakaknya, seminggu setelah diperiksakan ke dokter anak ternyata lendir akibat bapil yang tidak bisa dikeluarkan masuk ke paru-paru. Dokter mendiagnosa putra bungsu kami terkena Bronkopnemonia (maaf kalau salah tulis), yang gejalanya mirip dengan covid-19. Bagai disambar  petir mendengar penjelasan dokter, badanku lemas tapi aku tak boleh jatuh. Malam itu juga dokter merujuk putra kami ke IGD agar bisa segera ditangani dengan tepat. Disituasi pandemi seperti ini dengan diagnosa yang mirip covid-19 membuat pikiranku kacau, sempat terkelebat pikiran-pikiran buruk namun aku kembali meyakinkan diri ini bahwa kami harus tetap berprasangka baik pada takdir-Nya. Aku dan suami saling menguatkan bahwa kami akan bisa melalui ini semua. Jangan bayangkan bagaimana perasaanku melihat bayi mungil tak berdaya dan harus ditusuk jarum, menjalani fototerapi (karena ternyata bilirubinnya tinggi), fisioterapi dan dinebul 3 kali sehari. Kurang lebih satu minggu bayi kami dirawat dan setelah dipastikan tidak demam dan tidak sesak akhirnya dokter mengijinkan kami pulang. Alhamdulillah welcome home...

Dalam kurun waktu satu setengah bulan kami harus menghadapi ujian beruntun yang sungguh menguras tenaga, pikiran dan perasaan. Mungkin ini cara Allah agar kami kembali mendekat pada-Nya, agar kami tak terlalu larut dalam kesenangan dunia. Luka pasca SC ketiga yang katanya lebih sakit dan lebih lama sembuhnya ternyata tak berlaku padaku karena kondisi yang memaksaku untuk segera sembuh dan kuat mendampingi ketiga buah hati kami.

Alhamdulillah meski masih ditengah pandemi sampai tulisan ini aku posting kini ketiganya dalam kedaaan sehat walafiat, semoga kedepan dan seterusnya sehat selalu (Aamiin). Teruntuk ketiga buah hati kami Adistia (7Y 4M),  Rania (3Y 9M), Gibran (3M) semoga Allah selalu melindungi kalian dengan sebaik-baik penjagaan dan perlindunganNya. Aamiin

Rabu, 12 Februari 2020

Menjelang Kehadiaran Anggota Baru


Bismillah...
Sebenarnya sudah luama buanget mau posting moment bahagia ini tapi kenyataannya baru terlaksana justru disaat sudah menjelang persalinan.

Alhamdulillah, kurang lebih sembilan bulan yang lalu Allah swt memberi kami kejutan bahagia untuk keluarga kecil kami. Di usiaku yang 33 tahun ini ternyata Allah masih memberi kepercayaan kepadaku untuk mengandung anak ketiga kami. Ya antara percaya dan tidak setelah melalui pemeriksaan mandiri dan tenaga medis aku dinyatakan positif hamil anak ke-3.

Berita ini pastinya jadi kejutan tak hanya bagi kami tapi tentu bagi keluarga besar kami. 
Kata ibuku "yang lagi diarep-arep adiknya eh yang hamil kakaknya".
Semoga adikku cepet ketularan ya, yang sabar insya Allah akan ada waktunya nanti.

Yang tak kalah terkekejut adalah kedua kakaknya namun dengan reaksi yang berbeda. Jika kakak Nia sangat antusias sekali akan kehadiran adik barunya nanti namun berbeda dengan kakak Disti yang masih galau. Mungkin kakak Disti sudah sekali menjadi kakak dan mungkin juga dia merasa terkalahkan dengan keberadaan adikknya makanya dia agak takut jika ada adik lagi (baiklah ini PR besar buat ayah bunda).

Meski sampai detik ini kami sebagai ayah dan bunda tak pernah sama sekali ada niatan untuk membeda-bedakan tapi mungkin ada khilaf kami yang tanpa disadari membekas di hati anak-anak yang akhirnya membuat mereka merasa dibedakan. Semoga kelak dengan kehadiran anggota keluarga baru kami nanti ini bisa membuat kami sebagai orang tua untuk belajar lebih banyak dan lebih keras lagi. Kalian bertiga akan jadi harta yang sangat berharga bagi kami.

*)Menjelang HPL 10/12 Maret 2020

Nugget Ayam Homemade (Weekend Kami)

Setelah beberapa purnama akhirnya emak bisa update lagi nih blog, mumpung belum cuti panjang.

Alhamdulillah dikehamilan ketiga ini emak diberi kekuatan dan ngidam yang lebih berfaedah yaitu demen bebikinan dan kali ini ini setelah ikut harbolnas beli gilingin daging manual (yang murah sih) akhirnya emak berhasil praktekin bikin nuget ayam. Yang bikin tambah semangat adalah Kakak Disti dan Kakak Nia seneng banget bantuin unda bikinnya dan selalu suka dengan hasilnya.

Buat kakak Disti yang pemilih banget dalam hal makanan, nuget ayam homemade ini lumayan membantu emak karena komposisinya ga cuma ayam aja tapi ada sayurannya ada kejunya yang bikin jadi tambah lezat karena ada bumbu cintanya (cieeee).

Berikut ini moment yang sempat terabadikan saat perdana bikin nuget ayam, selanjutnya mah ga pake di poto2, paling buat status wa doank. Biasanya kita bikin hari Sabtu atau Minggu buat stok seminggu kedepan.




Berhubung pas perdana belum ketemu loyang bongkar pasangnya jadinya cukup pake rantam

untuk selanjutnya kakak lebih suka yang bentuk stik panjang-panjang


Dari 2 dada ayam kota bisa jadi 2 pak nuget ayam yang bisa tahan 1 minggu aja itu sudah untung karena anak-anak ga cuma buat lauk kadang suka buat camilan jadi biasanya ga nyampe seminggu dah sold out

Senin, 30 September 2019

Homemade Butter Cookies (Weekend Kami)


Nemu resep praktis lagi dan alhamdulillah berhasil eksekusi lagi meski hasilnya agak-agak gosong karena harap maklum sudah beberapa hari emak flu berat jadi belum On 100%.

Awalnya yang flu si kakak terus pindah ke bunda, ke adik, ke eyang dan akhirnya kami bertiga berakhir pekan ke dokter keluarga. Cuaca yang sedang puanasssnya ruarrrr biasa bikin kepala tambah cenut-cenut, si adek yang kalau lagi sakit jadi minta emban terus benar-benar bikin flu tambah nikmat. Sungguh nikmat sehat itu luar biasa.

Alhamdulillah setelah dapet obat yang kata dokternya juga bingung kalau ngasih obat buat ibu hamil, minggu pagi kepala emak sudah agak lumayan enteng dan demi memenuhi janji sama bocils mari kita eksekusi resepnya.

Hasilnya cuma dikit dan ga sempet poto-poto karena tadi pagi setelah ditengok ternyata tinggal beberapa biji aja yang tersisa di toples. Mau di foto sepertinya kurang cantik, jadi lebih baik dimakan saja.

Yang mau coba bisa langsung lihat di chanel youtube berikut Resep Butter Cookies.

Happy weekend.... and Happy cooking....

Senin, 23 September 2019

Petit French Rolls (Weekend Kami)



Assalamu'alaiukum...

Alhamdulillah hari ini bisa sempet ngeblog lagi setelah off beberapa pekan. Sebenernya cuma ingin sedikit berbagi resep hasil uji coba kami weekend kemarin.

Berhubung Disti dan Rania ribut aja minta dibikinin roti, secara dah lama bingitz emaknye ga bebikinan, maka baiklah demi kalian bunda akan berjuang melawan kemalasan😜

Dan akhirnya kita nyobain resep baru dari chanelnya cook kafemaru yang berjudul Petit French Roll (intinya mah roti). Alhamdulillah meski bikinnya cukup memakan waktu tapi ngabisinnya ga perlu waktu lama dan itu tandanya anak-anak suka (maaf buat ayah yang ga kebagian). Dari satu resep ternyata cuma jadi 12 biji itu aja sudah dibikin imoetz-imoetz ukurannya. Mungkin nanti harus bikin 2 resep biar bisa kebagian semua (ayah, eyang, atung, uti)

Hari Jumat kita bikin yang sesuai resep tanpa isiin, hanya saja berhubung ga punya unsalted butter kita pake blueband. Hasilnya garing diluar dan lembut didalam, mungkin enak untuk pendamping soup
Ini hasil sesuai resep
Hari Sabtu kita bikin dengan sedikit modifikasi diberi isian. Karena masih punya sisa olesan waktu buat bagelen jadi kita jadiin isi saja dan sisanya kita pake blueband dan meses. Ternyata yang isian gula bawahnya agak gosong karena isiannya meleleh (tapi tetep enak kok) buktinya langsung habis sekejap

Oke buat yang mau mencoba silahkan, mudah kok. Dan yang penting buat saya anak-anak seneng, anak-anak doyan. Selamat mencoba

Jumat, 16 Agustus 2019

Bunda Aku Cemburu


Malam itu setelah menidurkan Rania lebih cepat karena mungkin terlalu lelah bermain hari itu aku langsung menghampiri Disti di kamarnya. Pikirku mumpung adiknya sudah tidur lebih cepat, aku bisa  menemaninya tidur karena biasanya aku menemaninya saat dia sudah terlelap.

Kudapati wajah malam itu tak seceria biasanya, sambil memegang hp bunda mulut manyunnya tiba-tiba berubah menjadi mewek. "Kenapa banyak fotonya dede di hp bunda?" kata-kata itu terlontar dari mulut kakak sambil diiringi isak tangisnya.

Langsung saja kupleluk tubuh kecil itu tanpa banyak berkata-kata, kubelai rambut dan coba kutenangkan hatinya diantara hatiku yang bercampur aduk rasanya malam itu. Kakak cemburu dengan dedek itu kesimpulan yang bisa aku ambil.

Beberapa hari ini memang Rania bangun tidur lebih awal dari kakaknya sepertinya dia tidak mau ketinggalan ikut ke kantor bunda. Sudah dicoba dirayau dan dibujuk dengan berbagai cara tetap tak mempan, daripada harus ada drama dipagi hari akhirnya sampai pada keputusan Rania ikut bunda ke kantor bunda sebentar dan nanti pulang dijemput ayah. Beberapa momen memang aku abadikan di hp, tak terlalu banyak juga sih menurutku namun ternyata itu sudah cukup membuat kakaknya iri hati.

"Waktu belum ada dedek kan kakak juga sering ikut kekantor bunda, terus kakak kan sekarang sudah sekolah jadi gantian dedek yang ikut. Bunda tetep sayang kakak kok" aku berusaha menenangkan Disti yang masih belum berhenti menangis.

"Nanti kapan-kapan kakak ikut lagi ke kantor bunda kalau pas libur ya" ku tatap matanya berusaha meyakinkan bahwa rasa sayang bunda tak berkurang untuknya. Perlahan isak tangisnya mulai mereda meski harus dengan merelakan dia menghapus foto-foto adiknya.

Baiklah ini pelajaran buatku agar bisa bersikap lebih adil lagi meski itu bukan hal yang mudah tapi aku pasti akan berusaha demi kakak. Ini baru dua belum nanti nambah satu lagi.

*Baiklah saatnya jemput kakak sekolah dulu 

Senin, 15 Juli 2019

Hari Pertamaku [Anakku sudah SD]



Bismillahirrahmanirrahim...
Hari ini akhirnya kakak Disti resmi menjadi siswi sekolah dasar, kami sepakat memilih SD Negeri yang berjarak tidak terlalu jauh dari kantor bunda agar lebih efektif dan efisien dalam saat antar jemput kakak.
Sejak semalam memang sudah diniatkan untuk tidur lebih cepat agar tidak kesiangan di hari pertamanya sedangkan adiknya memang dibuat tidur lebih malam agar bangun agak siang sehingga tidak ada drama kelayu minta ikut kakanya sekolah. Alhamdulillah rencana bunda bisa tereksekusi dengan lancar jadi kakak dan bunda hari ini tidak ada yang telat.
Kesan pertama alhamdulillah dilihat dari wajahnya dia sangat senang apalagi bertemu beberapa teman baru dan teman-teman lama yang sebagian kakak kelas dia saat TK maupun di TPQ sehingga bunda tidak terlalu khawatir. Semoga selanjutnya kakak bisa bersosisialisasi lebih baik lagi terutama dengan teman-teman barunya. 
Meski hari pertama banyak orang tua yang mengantar dan menunggui anandanya sampai jam pulang, alhamdulillah kakak sudah bisa ditinggal dan bunda jemput saat jam pulang. Insya Allah kakak sudah bisa mandiri ya, bunda yakin Insya Allah kakak bisa.

Suer melihat kakak masuk SD jadi berasa tambah tua aja ya tapi semoga semangat masih tetap muda biar bisa terus semangat membersamai kalian solehah-solehahnya bunda hingga tuntas tugas kami sebagai orang tua. Insya Allah Ayah dan Bunda akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu.

Semoga Allah memudahkan langkahmu dalam menuntut ilmu. Aamiin 

Selasa, 25 Juni 2019

My Trip My Adventure (Semangat untuk perjalanan selanjutnya)

Seperti biasa disela-sela padatnya beban kerja yang lagi penuh deadline ini sejenak 'mencuri waktu' untuk merefresh otak ini biar ga buntu 😁

Hanya ingin sedikit berbagi cerita tentang perjalanan kemarin, setidaknya nitip nyimpen cerita untuk someday bisa dikenang lagi saat anak-anak sudah gede nanti.

Perjalanan yang sebenarnya antara sudah direncanakan dan tidak. Direncanakan karena memang sudah diagendakan dari sebelum bulan puasa untuk bisa menghadiri hajat salah satu saudara kami, Mba Nunung putri dari Pakde Nono (Kakak dari ibuku). Dari awal saya memang sudah merencanakan perjalanan dengan kereta api karena anak sulungku yang mabok darat kalau naik mobil. Selain itu mbah atung dan mbah uti sudah berangkat terlebih dahulu untuk menghadiri hajatan juga di Bogor dan langsung mendarat di Cirebon, so kita ga bisa nebeng deh.πŸ˜›

Mendekati hari H tiba-tiba si Kakak bilang nggak mau ikut ke Cirebon karena takut mabok dikarenakan kami harus naik kereta dari Stasiun Tegal bukan dari Stasiun Slawi yang otomatis dari rumah ke Stasiun Tegal harus menggunakan Grab/ Gocar dan buat dia membayangkannya saja sudah bikin mual. Berkali-kali aku tanya lagi jawaban si Kakak tetap sama TIDAK! "Aku di rumah aja sama Eyang sama Ayah", baiklah bunda tak bisa memaksa.

H-1 aku pesan tiket untuk satu orang karena si dedek belum masuk hitungan. Karena si dedek tidak mabok kendaraan rencana kita naik angkot saja menuju stasiun (lumayan buat ngirit ongkos)😜.

Manusia berencana namun lagi dan lagi Allah-lah Yang Maha Berkehendak. Hari Jum'at sepulang kantor yang rencananya kita mau langsung berangkat terpaksa harus di pending karena si Kakak tiba-tiba mewek minta ikut (piye iki nok ayu...). Ayah yang sedang tidak di rumah langsung di telpon dan setelah melalui obrolan singkat jadilah kesepakatan coba dulu cari tiketnya tapi dengan sangat terpaksa Ayah tidak bisa ikut karena terlalu mendadak dan sudah banyak janji dengan pelanggan (eman-eman nolak rejeki)πŸ˜€. Sempat terpikir untuk membatalkan perjalanan ini tapi jujur aku juga kangen dengan tanah kelahiranku. Baiklah mau gimana lagi karena rencana sebelumnya memang ayah dan kakak tidak ikut namun ternyata yang terjadi rencana lain lagi.

"Kakak siapin baju-baju yang mau dibawa, bunda coba ke indomart dulu nyari tiket" belum sempat duduk apalagi ganti pakaian aku langsung meluncur ke indomart terdekat dan ternyata tiket hanya bisa dipesan paling lama H-1 (tidak bisa hari H). Diparkiran aku coba berpikir alternatif lain, 'aha...aku ada ide (seperti kata rania). Langsung ku telpon teman yang kemungkinan masih di kantor dan minta tolong dipesankan tiket satu lagi, meski sempat lola servernya alhamdulillah akhirnya kursi sebelah masih aman (rejeki anak solehah). Oke fix mari kita kita berangkat (emak rempong dengan 1 balita, 1 anak-anak, 1 travel bag, 1 sling bag).

Satu lagi teman ku minta bantuannya untuk pesan taxi online karena hp-ku yang antik tidak ada aplikasi begituanπŸ˜…. Ayah pun datang sesaat sebelum taxi online datang. Setelah pamit cium tangan tapi ga sempat cipika-cipiki kami pun berangkat, tak lupa ayah mengingatkan sudah bawa kantong kresek belum untuk jaga-jaga barangkali si Kakak mabok. Dengan berani kakak masuk dan duduk manis dalam mobil sambil terus memang kresek, beberapa kali aku suruh tiduran saja tapi tidak mau walau akhirnya tiduran juga hingga sampai stasiun. Berbeda dengan si kakak, si dedek malah ngoceh terus sepanjang perjalanan.

Pintu peron baru akan dibuka pukul 13.00 masih ada waktu sekitar setengah jam dan aku berpikir bagaimana agar anak-anak tak bosan menunggu. Ternyata kalian memang manis banyak cara untuk menghilangkan bosan meski bunda harus ikut 'olah raga' karena si dedek yang ga mau diem, takut-takut ntar nyemplung direl bahaya kan.

Alhamdulillah kereta Tegal Express yang kami naikki mulai jalan perlahan pukul 13.50 dan tiba dengan selamat pukul 15.05. Sepanjang perjalanan tidak ada bosannya mereka berceloteh, apa aja yang dilihat tak luput dari komentarnya terutama si dedek. Sampai-sampai penumpang yang duduk di depan kami akhirnya pindah kursi karena berisik kali ya...😁 Berbekal Roti O dan air minum yang dibawa dari rumah mereka cukup menikmati perjalanan menjelang sore itu. Dan yang agak rempong saat kami harus masuk ke toilet bertiga karena si Kakak minta pipis, karena tak mungkin meninggalkan si dedek sendirian di tempat duduk.

Sampai di stasiun Prujakan Cirebon langsung menyerbu indomart karena mamak baru sadar kalau belum makan siang dan belum ganti baju juga (masih pakai pakaian yang tadi dipakai ke kantor).
Setelah meminta tolong pada pelayan indomart untuk memesankan taxi online akhirnya perjalanan kami berlanjut diantara macetnya kota Cirebon. Seperti biasa si kakak tidur hingga sampai tujuan sedangkan si dedek ngoceh sepanjang jalan.

Akhirnya kami sampai juga....
Setelah sempat putar arah karena terhalang layos orang hajatan kami sampai juga disambut mabah atung dan saudara lainnya dan "KEJUTAN!" (kakak jadi ikut). Meski pada bilang rempong amat, kok berani sih, cape-cape amat mending ga jadi pergi atau kok tega bener sih ayahnya nggak ikutan atau komentar lain apalah. Buatku sendiri perjalanan ini seperti membangkitkan kembali semangatku untuk melakukan perjalanan-perjalanan lainnya entah itu sendiri, bareng bocils aja atu komplit dengan ayah juga. Semoga ayah bunda diparingi lancar rejekine biar bisa ngajak kakak dan dedek jalan-jalan lagi bahkan lebih jauh lagi (mungkin sampai ke tanah suci). Aamiin

Oya satu lagi dua jempol buat kakak yang sudah bisa menaklukan rasa takutnya, ayo kak semangat kakak pasti bisa ga mabokan biar kita bisa jadi traveler.😍
"Nda keretanya mana sih?", yang ga sabar mo naik kereta


Maen sama Mbak Kiyan (kata dedek)


*)Terima kasih buat Ayah yang sudah kasih ijin, buat Om Tamrin yang sudah bantu pesenin tiket dan Tante Dewi yang sudah pesenin taxi online.

Januari 2026 ( Yuks Mulai Lagi!)

  Apa kabar diriku? Nggak terasa sudah 2026 ya, atau terasa banget perjalanan 2025 kemarin? Gimana berat atau kata anak sekarang "b aja...