Selasa, 04 Maret 2014

Dua puluh delapan tahun (tua juga ya....:D)


Alhamdulillah....
Walau jatah ngontrakku di bumi Allah ini makin berkurang tapi aku masih harus bersyukur karena masih diberi kesempatan menikmati umurku yang kalau dihitung-hitung sudah sampai di angka 28 (dah tue juga ya....) Biar makin tua tapi semangat harus tetap muda karena jujur aku juga masih merasa muda hehehe... Dan kado di miladku kali ini adalah "mba" yang ikut bantu-bantu dirumahku resmi mengundurkan diri hiks...hiks..hiks... (harus cari mba baru nih :( )

Aku hanya berharap disisa usiaku yang entah jatahnya sampai kapan, aku masih bisa bermanfaat bagi orang-orang dan lingkungan sekitarku, aamiin. Terlebih untuk keluarga kecilku, semoga aku bisa jadi istri yang salehah untuk suamiku, semoga aku bisa jadi ibu yang baik untuk anakku dan juga tetap bisa jadi anak yang berbakti pada kedua orang tuaku, aamiin.

Selain hari ini miladku, hari ini juga tepat dua tahun pernikahanku dengan lelaki yang kini aku panggil 'ayah disti'. Dua tahun waktu yang masih terlalu singkat untuk menguji bahtera kita dalam mengarungi samudra kehidupan berumahtangga. Dua tahun yang tidak selalu mulus, meski ada duka dan air mata namun suka dan tawa juga selalu mengiringi langkah kami. Dan beberapa bulan terakhir ini aku amat sangat bersyukur, di kondisi sulit yang sedang kami lalui bersama justru mendorong perubahan terhadap sikap kami yang insyaallah menuju ke arah yang positif, berharap kami bisa istiqomah, aamiin.

Apapun yang terjadi hari ini, semoga allah tak pernah mencabut rasa syukur dari hati kami dan selalu menanamkan rasa sabar dalam hati kami. Satu lagi target di tahun ini, berharap skripsiku bisa selesai dan bisa lulus tahun ini. Aamiin (dalm banget nih yang ini....)

Senin, 24 Februari 2014

Harapan itu...

"Sejujurnya, pas masih single, bayangan tentang berkeluarga adalah: jalan-jalan dengan suami dan anak kecil yang manis dan lucu ke tempat-tempat wisata dalam dan luar negeri lalu berfoto seru-seruan serta melakukan hal lainnya yang keren-keren seperti yang tergambar dalam iklan-iklan di media. Atau jalan-jalan di mal sambil dorong-dorong stroller dengan anak yang duduk manis."

Paragraf diatas adalah sepenggal dari sebuah catatan yang aku baca di http://mommiesdaily.com kenapa paragraf itu aku cuplik karena saat pertama kali aku baca paragraf itu aku langsung kena banget karena dulu seperti itulah bayangan atau pemikiranku tentang berkeluarga, ku akui memang pemikiran yang sangat sempit sekali :D tapi siapa sih yang tidak menginginkannya.

Dan saat ini setelah aku memasuki fase itu, fase dimana sekarang aku tak sendiri lagi, ada suami dan putri kecil kami dalam sebuah keluarga kecil yang baru aku jalani hampir 2 tahun (beberapa hari lagi). Berkeluarga tidaklah seperti yang aku bayangkan justru mungkin jauh dari yang pernah aku bayangkan, lantas menyesalkah aku?

Tidak! Dengan mantap kata itu aku ucapkan. Jujur meski diawal pernikahan diriku sempat 'kaget' menghadapi dan menemui berbagai kenyataan yang diluar dugaan tentang kehiduapan berkeluarga tapi kini aku mulai bisa bersahabat dengan setiap keadaan yang aku jalani sekarang dan selalu berusaha menyiapkan mental menghadapi kenyataan-kenyataan lain yang akan hadir yang mungkin diluar dugaan. Apalagi saat ini sudah ada putri kecil kami yang jadi kekuatanku untuk terus berjuang.

Bagiku kini berkeluarga adalah bagaimana menghadirkan senyum bahagia ditengah-tengah keluarga kecil kami, bagaimana membawa bahagia di hati keluarga kecilku dan berusaha terus menanamkan sabar dan syukur agar terus tertanam dalam hati kami. Meski semuanya kulakukan hanya dengan cara yang sederhana karena bahagia itu sederhana kok.

Namun satu yang aku makin yakin setelah berkeluarga adalah bahwa Allah adalah Maha Adil dan Allah tidak akan memberi cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Biarlah apa yang dulu aku bayangkan tentang berkeluarga tetap ada sebagai harapan yang hanya atas ijin Allah SWT kelak harapan itu bisa jadi nyata, disamping harapan yang utama yaitu bisa dikumpulkan kembali dengan keluargaku tak hanya di dunia melainkan diakhirat kelak. Aamiin...



Teringat sms dan catatan dari seorang teman:

Aku minta kepada Allah setangkai bunga segar, Allah memberiku kaktus berduri .. 
Aku minta kepada Allah hewan mungil nan cantik, Allah memberiku ulat berbulu .. 
Aku sedih, kecewa dan bertanya tanya .. Betapa tidak adilnya Allah kepadaku. 
Namun seiring dengan berjalannya waktu .. Kaktus itu berbunga indah .. bahkan sangat indah. Dan ulat berbulu itu tumbuh dan berubah, menjadi kupu kupu yang amat cantik .. 
Inilah jalan Allah .. Semua indah pada waktunya .. 
Allah tidak memberi apa yang kita inginkan, Tapi Allah memberi apa yang kita butuhkan.. 
Subhanallah. ALLAH tidak pernah menjanjikan bahwa langit itu selalu biru... 
Bunga selalu mekar dan mentari selalu bersinar.... 
Tapi ketahuilah bahwa ALLAH selalu memberi pelangi disetiap badai...
Senyum di setiap air mata..,berkah disetiap cobaan dan jawaban di setiap do'a... 
Janganlah pernah menyerah....teruslah berjuang...... 
Hidup bukanlah satu tujuan..,melainkan perjalanan..... Nikmatilah.......... 

Selasa, 18 Februari 2014

Demam Lagi (Semoga baik-baik saja, Aamiin....)

Semalam, kurang lebih jam setengah duabelas disti terbangun dan seperti biasa kalau malam dia bangun tanda minta "mimi" atau ngompol. Tapi waktu aku usap keningnya kok agak hangat, apa tanganku yang dingin atau memang Disti sedang demam? Dan ternyata setelah kupastikan kembali Disti sepertinya demam.
Siang tadi waktu istirahat kantor, aku pulang sebentar seperti biasa dan melihat kondisi Disti. Badannya masih demam, setelah diukur sam 38,6 C sementara hanya kau beri paracetamol dan badannya aku balur dengan bawang yang dicampur minyak telon. Sekarang aku nggak mau buru-buru ke dokter, kasihan kalau Disti harus keseringan dikasih antibiotik, semoga sore nanti kondisi Disti sudah membaik, sehat ya sayang.....



Ini kedua kalinya Disti mengalami demam sejak dia lahir sampai usia 1 tahun, dan setelah browsing di internet aku dapat beberapa artikel kesehatan berkaitan dengan demam, siapa tahu bermanfaat juga bagi ibu-ibu baru seperti aku ini. Silahkan disimak ^_^

sumber: http://ummushofiyya.wordpress.com

TANGANI DEMAM SECARA BIJAK
Demam merupakan suatu kondisi yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orangtua yang khawatir ketika buah hatinya terserang demam. Tak jarang, orangtua mengambil jalan pintas dengan mengandalkan obat penurun panas tiap kali anaknya mengalami demam. Padahal, tidak setiap kondisi peningkatan suhu serta merta perlu segera ditangani dengan obat. Untuk itu, perlu kiranya kita mengenal lebih dekat tentang demam, supaya kita bisa berlaku bijak dalam menyikapinya.

Demam, Bukanlah Penyakit
Banyak orang yang masih beranggapan bahwa demam merupakan penyakit. Maka tidak heran jika orangtua merasa sudah melakukan hal yang benar ketika memberikan obat penurun panas tiap kali suhu tubuh anaknya meningkat. Padahal, demam bukanlah penyakit yang bisa langsung sembuh hanya dengan pemberian obat penurun panas. Demam hanyalah gejala yang muncul untuk menginformasikan bahwa ada sesuatu yang “tidak beres” di dalam tubuh. Oleh karena itu, demam tentu tidak bisa diatasi hanya dengan menurunkannya saja, namun harus dicari dan diatasi apa yang sebenarnya menyebabkan munculnya demam tersebut. Demam pada anak umumnya disebabkan oleh batuk, pilek, radang tengorokan, diare (mencret), infeksi telinga tengah, dan penyakit akibat infeksi bakteri, virus atau kuman lainnya. Demam juga dapat disebabkan oleh dehidrasi (kekurangan cairan), kelainan darah, atau anak berada di tempat yang sangat panas.


Demam, Banyak Manfaatnya?
Demam seringkali dianggap sebagai penyakit sehingga terkesan merugikan dan menyusahkan. Padahal, sebenarnya  banyak sekali manfaat demam bagi tubuh kita. Demam merupakan respon tubuh terhadap kuman, bakteri, atau virus yang masuk ke dalam tubuh. Ketika kuman, bakteri, atau virus masuk ke tubuh kita, sel-sel darah putih dalam tubuh memproduksi hormon interleukin yang kemudian berjalan ke otak untuk memberi perintah kepada hypothalamus (pusat pengatur suhu di otak) agar menaikkan suhu tubuh. Hal ini terjadi karena dengan suhu tubuh yang tinggi, sistem pertahanan tubuh akan meningkat dan lebih mampu memerangi infeksi. Demam juga bermanfaat karena dapat menurunkan kadar zat besi dalam tubuh, padahal kuman membutuhkan zat besi untuk hidup dan berkembang. Mekanisme ini dapat melemahkan kuman penyebab infeksi. Manfaat demam yang lain adalah dapat meningkatkan produksi interferon dan bahan antivirus lainnya dalam rangka melawan virus yang masuk ke tubuh kita.
 

Jangan Berlebihan Mengonsumsi Obat
Secara umum, demam yang terjadi pada bayi dan anak kebanyakan disebabkan oleh infeksi virus yang bisa sembuh sendiri. Sehingga biasanya obat penurun panas tidak diperlukan, kecuali jika suhu tubuhnya terus meningkat. Beberapa orangtua seringkali terlalu cepat memutuskan untuk memberikan obat pada anaknya. Baru panas sedikit saja, orangtua sudah buru-buru meminumkan obat penurun panas. Padahal, ada aturan dalam meminumkan obat penurun panas. Obat penurun panas hanya diperlukan ketika suhu tubuh memang sudah mencapai 38,5°C atau lebih. Orangtua tidak perlu khawatir ketika anak mengalami demam tapi masih aktif, lincah, dan tetap doyan makan. Adakalanya tubuh mampu mengatasi, sehingga demam bisa turun dengan sendirinya tanpa penggunaan obat sama sekali. Selain batasan suhu tubuh, orangtua juga harus memperhatikan waktu pemberian. Obat penurun panas seperti parasetamol misalnya, hanya boleh diberikan dengan selang waktu 6 jam. Jika sangat terpaksa, boleh memberikannya dengan selang waktu 4 jam. Seringkali, orangtua yang tidak faham, langsung saja meminumkan parasetamol lagi padahal baru 2 jam yang lalu anak sudah minum parasetamol. Akibatnya, dalam sehari anak meminum penurun panas berkali-kali hanya karena orangtua khawatir suhu tubuh buah hatinya tidak kunjung turun. Padahal, selama penyebab demamnya belum teratasi, demam akan muncul lagi begitu efek obat penurun panasnya hilang. Biasanya, parasetamol berefek 30 menit setelah pemberian sampai 2 jam kemudian. Selain parasetamol, obat penurun panas yang biasanya diberikan adalah ibuprofen. Satu hal yang perlu diingat, sebaiknya menghindari penggunaan aspirin untuk menurunkan panas pada anak, karena dikhawatirkan muncul efek samping yang berat.
 

Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Banyak hal yang sebenarnya bisa kita lakukan ketika anak mengalami demam. Tindakan sederhana ini bisa dilakukan di rumah dan insya Allah bermanfaat dalam menangani demam anak kita:

  • Ukur suhu tubuh anak menggunakan termometer setiap 4 jam sekali. Pengukuran bisa dilakukan di ketiak, mulut, telinga, atau dubur. Jangan hanya mengandalkan rabaan telapak tangan pada permukaan tubuh anak, karena bisa jadi teraba hangat tapi sebenarnya suhu tubuh anak sudah sangat tinggi.
  • Hindarkan anak dari pakaian tebal, jaket, atau selimut, karena justru akan mempersulit hilangnya panas dari tubuh anak kita. Ganti pakaian anak dengan pakaian yang tipis, longgar, dan nyaman dipakai.
  • Berikan anak lebih banyak cairan (air minum, jus buah, kuah sayur), supaya tidak terjadi dehidrasi atau kekurangan cairan. Pada bayi atau anak yang masih menyusu, berikan ASI sesering mungkin.
  • Usahakan agar anak mau makan. Suapi anak dengan makanan yang dia sukai dan tentunya pilih yang mudah dicerna.
  •  Beri kesempatan anak untuk beristirahat dengan tenang. Istirahat yang cukup sangat diperlukan untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang lemah.
  • Ciptakan kondisi yang sejuk di sekitar anak, dan hindarkan udara atau hawa panas dari anak kita. Pastikan ruangan anak dalam keadaan bersih dan sirkulasi udaranya lancar. Jika perlu, ganti sprei dan sarung bantal-guling dengan yang bersih,
  • Jika suhu tubuh anak sangat panas, kompres dengan air hangat pada bagian kening, ketiak leher, dan lipatan paha. Hindarkan mengompres dengan air dingin, hal ini akan menyebabkan tubuh makin menggigil untuk menaikkan suhunya karena mengira suhu di luar tubuhnya lebih dingin. Jika kondisi anak masih memungkinkan (tidak dalam kondisi yang sangat lemah), bisa juga dengan merendam anak pada ember atau bak yang sudah diisi dengan air hangat.
  • Waspadai terjadinya kejang, apalagi jika sebelumnya anak pernah kejang ketika demam. Segera turunkan demam anak, jangan sampai peningkatan suhu tubuh tersebut memicu terjadinya kejang. Namun orangtua tidak perlu khawatir berlebihan, mengingat kejadian demam yang sampai menyebabkan kejang sangat jarang.
  • Berikan obat penurun panas jika suhu tubuh anak mencapai 38,5°C atau lebih, dan anak kelihatan rewel atau tidak nyaman. Untuk itu, perlu kiranya orangtua mempunyai persediaan obat penurun panas di kotak obat. Pemberian obat penurun panas harus sesuai dengan dosis yang dianjurkan dokter. Dosis obat pada anak lebih tepat jika dihitung dengan berpatokan pada berat badan (bukan usia). Oleh karena itu, tanyakan dosis obat pada dokter atau apoteker sebelum meminumkannya pada anak.

Tetap Tenang dan Jangan Panik
Meskipun nampaknya sepele, demam pada anak bisa membuat orangtua panik. Kurangnya pengetahuan tentang demam membuat orangtua langsung saja membawa anak ke dokter, padahal banyak hal yang bisa dilakukan dalam menghadapi demam. Menolong anak sesegera mungkin ketika terjadi demam merupakan cara yang terbaik. Bahkan, seringkali penanganan yang tepat dapat mempercepat pemulihan kondisi anak. Paling tidak, orangtua bisa memantau perkembangan kondisi anak dan membuat anak merasa lebih nyaman. Jika dalam waktu 3 hari demam belum membaik atau anak kelihatan sangat lemah, segera bawa ke tempat pelayanan kesehatan terdekat. Ceritakan kondisi anak sedetail mungkin pada dokter yang memeriksa, seperti kapan mulai demam, apakah demamnya naik turun atau demam tinggi yang hanya turun ketika diberi obat penurun panas, apakah disertai muntah atau mimisan, apakah anak diare atau justru sulit buang air besar. Informasi dari orangtua sangat bermanfaat bagi dokter dalam menegakkan diagnosis dan menentukan pilihan terapi. Semoga penjelasan tentang demam ini bermanfaat dan bisa menambah pengetahuan kita dalam menjaga kesehatan keluarga.
 

Penulis: dr. Avie Andriyani (dimuat di majalah As Sunnah edisi 12/XIV/1432H/2011M)
Referensi:

Jumat, 07 Februari 2014

Mulai Lagi, Bismillah....

Bismillah...

Setelah terakhir kali (November 2011), maka mulai hari ini (7 Pebruari 2014) tepat 1 tahun usia putri cantik kami, InsyaAllah aku akan mulai kembali menghiasi halaman ini dengan cerita-cerita khususnya tentang keluarga kecil kami. Semoga setiap peristiwa dapat tertuang dalam untaian kata menjadi cerita yang sarat makna dan layak untuk dikenang.

Selamat Ulang Tahun Disti Sayang.....
Semoga usiamu semakin berkah, cepat besar dan jadi anak yang solehah. Tambah cantik, tambah pinter, sehat selalu dan pastinya jadi kebanggaan Ayah dan Bunda

Senin, 21 November 2011

Hanya ingin bernagi sedikit hikmah*

Rasanya sudah lama sekali tak bermain kata-kata, dan malam ini Alhamdulillah aku diberi kesempatan berdua dengan "si putih", banyak yang ingin kubagi dengannya dan sebagian sengaja aku tuliskan di note ini dan tentunya blog pribadiku.

Bulan ini sungguh bulan ujian bagi kami khususnya untuk kedua orang tuaku, karena sudah setengah bulan ini kami diberi amanah oleh-Nya untuk merawat mbah putri (Ibu dari bapak) yang mendadak harus dirawat di rumah sakit. Siapapun pasti tak menginginkan itu seenak apapun, rumah sakit tetap jadi tempat yang tidak menyenangkan. Di usianya yang 81 tahun ini pertama kalinya mbah putri harus dirawat di rumah sakit, biasanya kalau beliau sakit hanya mengandalkan obat tradisional atau air (yang sudah didoakan oleh pak ustadz). Satu minggu pertama di rumah sakit sudah sangat terlihat mbah putri sudah tidak betah dengan selang infus yang tertancap ditangan kanannya.

Banyak hikmah yang aku petik selama dua pekan ini, sungguh Allah memang Maha Pembuat Skenario Terbaik. Untuk menghadapi peristiwa ini ternyata Allah telah mempersiapkan skenarionya jauh sebelumnya, mungkin sejak tiga tahun yang lalu. Dimana saat itu tahun 2008 bapak dan ibu berusaha membujukku sebisa mungkin untuk mau kembali kerumah (tinggal dan bekerja di daerah asalku). Setelah melalui diskusi yang tak singkat akhirnya dengan berat hati kulangkahkan kaki kembali ke kampung halaman hanya dengan niat membahagiakan keduanya untuk mendapat ridho-Nya, bukankah ridho Allah ridho orang tua?

Kini dua tahun telah berlalu sejak kepindahanku (2009), dan Allah-pun menyampaikan hikmah itu mengapa aku harus kembali kesini (kerumah). Allah ingin aku mendampingi kedua orang tuaku menghadapi saat-saat berat ini, meski mungkin aku tak bisa banyak membantu merawat mbah putri namun setidaknya keberadaanku bisa memberikan dukungan moril untuk kedua orang tuaku dalam merawat mbah putri. Aku yang dulu sungguh sama sekali takut mengendarai motor, ternyata sekarang harus jadi seksi mondar-mandir selama mbah sakit, aku yang tak pernah ingin jadi perawat ternyata mau tak mau harus belajar mengurus mbah putri (ketika ibu sendiri jatuh sakit). Sungguh sesuatu yang dulu tak aku inginkan ternyata akhirnya kini sangat aku syukuri karena bisa berada dekat dengan kedua orang tuaku. Semoga bagi siapapun yang kini diamanahi untuk berada dekat (merawat) orang tuanya tidak menjadikan itu beban melainkan amanah yang Insyaallah jika dijalani dengan ikhlas semoga menjadi berkah bagi kita.

Ya Allah sungguh hanya Engkau sebaik-baiknya pelindung dan pemberi pertolongan maka kami hanya memohon kepada-Mu atas kesembuhan mbah putri semoga sakitnya ini menjadi penggugur dosa-dosanya dan semoga ini jadi ladang pahala bagi kami anak cucunya untuk bisa merawat beliau dengan sebaik mungkin semampu kami. Semoga Allah selalu memberikan kami kekuatan, kesabaran dan keikhlasan melalui ujian ini sehingga setiap yang kami lakukan bisa menjadi berkah. Amin...

Terima kasih untuk saudara-saudara, teman-teman dan seluruh pihak yang hingga kini memberikan dukungan dan doa bagi kesembuhan mbah putri semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baik pembalasan.

Dan mohon maaf yang sebesar-besarnya untuk teman-teman atau pihak-pihak yang mungkin agak terabaikan selama beberapa pekan ini, semoga aku bisa segera aktif kembali, normal seperti sediakala.

Mohon doanya untuk kesembuhan mbah putri... Terima Kasih.

*)Meluangkan waktu sejenak setelah lama tak menulis, semoga ada hikmah yang bisa dipetik.

Minggu, 25 September 2011

Take Me To Your Heart (MLTR)

Take Me To Your Heart (MLTR)

Hiding from the rain and snow
Trying to forget but I won't let go
Looking at a crowded street
Listening to my own heart beat

So many people all around the world
Tell me where do I find someone like you girl

[Chorus]
Take me to your heart take me to your soul
Give me your hand before I'm old
Show me what love is - haven't got a clue
Show me that wonders can be true

They say nothing lasts forever
We're only here today
Love is now or never
Bring me far away

Take me to your heart take me to your soul
Give me your hand and hold me
Show me what love is - be my guiding star
It's easy take me to your heart

Standing on a mountain high
Looking at the moon through a clear blue sky
I should go and see some friends
But they don't really comprehend

Don't need too much talking without saying anything
All I need is someone who makes me wanna sing
[Chorus]

Jumat, 23 September 2011

Telah Terbit......!!!!!!^^

Alhamdulillah....setelah melewati penantian yang tak sejenak, buku ini terbit juga. Semoga bisa menambah khasanah literasi di tanah air dan selamat menikmati. ^^

Telah terbit di LeutikaPrio!!!






















Judul : TUGU

Penulis : Dian Nafi, dkk

Tebal : iv + 102 hlmn

Harga : Rp. 28.800,-

ISBN : 978-602-225-099-9

Sinopsis:

Mozaik, paradoks, satir kehidupan berkelit kelindan melingkupi kita. Tertulis dalam rahasia langit yang sering tak terbaca. Pencarian dan perjalanan dalam usaha menemukan diri sendiri, entah sendiri entah bersama, kadang sangat melelahkan. Kadang sangat menakjubkan. Berbagai pengalaman dan tempaan cobaan membuat kita tiada takut lagi menumpahkan resah dan pertanyaan-pertanyaan. Lalu menikmati dan bertualang dengan segala ombak badainya. Demi untuk mencari jawabnya. Demikian terus menerus, tak berkesudahan. Mungkin demikianlah hidup yang sesungguhnya. Yang seharusnya. Tiga belas cerpen dalam Kumcer TUGU ini membawa kita melalui jalan yang berkelok, berundak, menanjak, terjun, bergelombang. Mungkin menuju TUGU. Penemuan terhebat. Penemuan atas diri sendiri. Penaklukan atas diri sendiri.



*Ps : Buku ini sudah bisa dipesan sekarang via website www.leutikaprio.com, inbox Fb dengan subjek PESAN BUKU, atau SMS ke 0821 38 388 988. Untuk pembelian minimal Rp 90.000,- GRATIS ONGKIR seluruh Indonesia. Met Order, all!!

Sabtu, 03 September 2011

Ini lebaranku, bagaimana Lebaranmu? ^_^

            Alhamdulillah…akhirnya sampai juga di rumah dan bisa menuliskan sedikit pengalaman lebaran kemarin. Jadi teringat saat di bangku SD, hari pertama masuk setelah liburan pasti akan diberi tugas mengarang tentang liburanmu ^^.

            Setelah beberapa tahun terakhir aku merayakan malam lebaran di rumah dan melaksanakan sholat Ied di masjid komplek rumahku, akhirnya tahun ini aku kembali bisa merasakan suasana lebaran di tanah kelahiranku. Sejak kecil aku memang selalu menghabiskan malam lebaran di kampung halaman ibuku ini namun setelah aku kuliah malam lebaran lebih sering dilewatkan di rumah.   Aku sekeluarga brangkat menuju kota udang dua hari sebelum hari raya, kami sengaja memulai perjalanan ba’da subuh agar perjalanan lebih nyaman. Beruntung arah yang kami tuju berlawan dengan arus mudik sehingga kami tak harus mengalami kemacetan seperti yang sering diberitakan di tayangan info mudik.

            Kami sampai di halaman rumah “pusaka” kurang lebih pukul setengah delapan pagi, mengapa dikatakan rumah pusaka karena itu adalah rumah orang tua dari ibuku tapi sekarang yang menempati tinggal Mbah Putri sendiri. Beruntung di dekat rumah pusaka ada rumah om/tante, bude/pade sehingga Mbah Putri tidak terlalu kesepian. Sampai di sana sepertinya orang-orang mulai sibuk membersihkan rumah untuk menyambut lebaran, ada yang menyapu halaman, membersihkan kaca dan sebagainya. Tapi saat kami masuk ke rumah pusaka rasanya lantai yang kami injak sudah lama tak disapu, terasa sekali debu yang menempel.

            Kata Mbah Putri memang sudah lama tak turun hujan dan juga anginnya sedang cukup kencang sehingga debu mudah sekali berterbangan, selain itu bisa dimaklumi juga mungkin tenaga Mbah Putri sudah terlalu tua untuk setiap hari menyapu lantai rumah peninggalan belanda itu. Maka jadilah pagi itu aku dan adikku membantu Mbah Putri menyapu dan mengepel lantai, sedangkan ibu membereskan kamar-kamar kosong yang selama beberapa hari kedepan mungkin akan penuh karena kedatangan anak-anak Mbah Putri lainnya.

            Menjelang hari raya kesibukan di dapur mulai meningkat terlebih setelah lebaran memang akan ada silaturahmi tahunan keluarga besar Mbah Putri dan kali ini giliran ibuku yang bertugas sebagai tuan rumah sehingga ada hal-hal ekstra yang perlu dipersiapkan. Dapur Mbah Putri jadi berubah seperti dapur umum, dapur yang cukup luas namun masih asli dengan lantai dari tanah, tungku dan kompor minyak hanya saja sekarang ada kompor gas juga di sana. Aku yang mendapat tugas menggoreng kerupuk nyaris dehidrasi karena harus berlama-lama di depan kompor (puanaseeeee…) selain itu udara di sana memang panas banget.

            Akhirnya yang dinantipun tiba, malam itu semua perbedaan menyatu dalam gema takbir yang mengagungkan kebesaran Allah SWT. Iring-iringan takbir keliling membuat jalanan desa yang memang tak terlalu lebar jadi macet sejenak, kembang api dan petasan tak henti-hentinya dinyalakan di depan lapangan balai desa dan cukup memekakkan telinga sampai Mbah Putri berkali-kali protes. Ingatanku tiba-tiba seperti ditarik mundur pada belasan tahun silam saat kami (aku dan sepupu2ku) masih kecil dan saat itu masih ada Mbah Kakung, biasanya kami akan  bermain kembang api dan petasan sambil bersembunyi di kebon mangga karena takut dimarahi Mbah Kakung, melihat dan kadang juga ikut serta takbir keliling, membeli jajanan untuk dimakan beramai-ramai sambil menikmati malam takbiran. Aku rindu masa itu, sekarang kami tak bisa berkumpul menikmati malam lebaran bersama lagi karena berbagai alasan namun semoga suatu saat  kebersamaan itu bisa kami rasakan lagi tentunya juga dengan anak-anak kami kelak. Malam itu aku menutup hari dengan iringan takbir yang terus menggema hingga mataku terpejam karena memang rumah Mbah Putri persis di seberang jalan samping masjid.

            Paginya kami semua bersiap untuk mengikuti sholat Ied di lapangan di depan balai desa. Bapak, pade, om dan mas-mas sepupuku sudah berangkat duluan ke masjid. Aku bersama ibu, bude, tante dan adek sepupuku mengambil tempat di lapangan, pagi itu kami hanya berangkat berenam tak seperti dulu saat semuanya kumpul. Sedangkan Mbah Putri sudah berangkat sejak lebih dulu karena sudah disiapkan tempat di dalam masjid oleh teman-teman pengajiannya. Selesai sholat dilanjutkan dengan saling bersalaman, maaf memaafkan atas segala khilaf yang pernah terjadi. Hari itu semua dendam, kebencian, khilaf dan segala kealpaan melebur menjadi satu dan menjelma menjadi kata MAAF. Tak lupa pagi itu kami semua mengunjungi makam keluarga yang terletak tak jauh dari rumah pusaka, di sanalah Mbah Kakung terbaring tenang dalam tidur panjangnya bersama keluarga kami yang lain yang telah lebih dulu menghadap-Nya. Semoga kedatangan kami kesana akan mengingatkan kami bahwa kelak kamipun akan menyusul seperti mereka sehingga kita berusaha untuk mengumpulkan lebih banyak lagi bekal untuk pulang ke kampong akhirat.

            Menjelang siang saudara-saudara yang lain mulai berdatangan, suasana makin ramai karena kini aku punya banyak keponakan dari kakak-kakak sepupuku. Salah satu keponakan yang membuatku jatuh hati adalah Fafa, tingkahnya yang lucu dan wajahnya yang selalu tersenyum membuatku gemas. Ada saja tingkahnya yang baru setiap aku berkunjung ke sana dan kali ini dia sedang ngefans berat dengan lagu Maher Zein yang Insya Allah, bicaranya yang belum jelas jadi lucu saat mengucapkan kata “Insya Allah”. Aku dan adekku berusaha mengabadikan setiap moment selama kami  di sana walau hanya dengan kamera hp dan tentunya semua moment itu telah terekam di memori ingatanku. Menjelang sore semua kegiatan kembali terpusat di dapur menyiapkan masakan untuk acara esok, semua gotong royong membantu dengan apa saja yang bisa dilakukan (terasa sekali kebersamaannya).

            Akhirnya tiba juga saat satu per satu dari kami harus pulang, sebenarnya aku masih ingin berada di sana bersama keponakan-keponakanku namun waktu yang membatasi jua. Aku tahu yang paling sedih saat itu adalah Mbah Putri karena rumah akan kembali sepi yang tersisa tinggal kenangan beberapa hari kemarin. Semoga Allah akan memanjangkan umur kita untuk kembali berjumpa dengan ramadhan-Nya dan juga member kita kesempatan untuk bisa berkumpul kembali dengan sanak family yang mungkin hanya bisa bertemu setahun sekali.

            Saatnya untuk kembali beraktivitas seperti biasa mengejar cita dan cinta yang masih ingin aku raih, semoga nafas Ramadhan dan semangat Idul Fitri terus mengiringi langkah kita. Amin…


Itu cerita Lebaranku, bagaimana dengan Lebaranmu? ^_^

Minggu, 28 Agustus 2011

Sungguh kami akan selalu rindu untuk kembali berjumpa denganmu (Ramadhan)

Serasa baru kemarin aku melangkahkan kaki memasuki kampung ramadhan, merasakan suasana berbeda setelah sebelas bulan berjalan dipanasnya padang kehidupan. Serasa baru kemarin aku melihat masjid dan mushola terasa ramai didatangi mereka yang ingin melaksanakan sholat tarawih berjamaah. Serasa baru kemarin aku merasakan nikmat yang berbeda disahur dan buka pertama. Serasa baru kemarin aku merasakan betapa manisnya dan lezatnya buah kurma saat berbuka. Ah…semuanya serasa baru kemarin dimulai tapi ternyata kini langkah itu sudah hampir sampai di penghujung.

Ramadhan bagiku bagai sebuah persinggahan untuk mendamaikan hati, menyejukkan jiwa dan membangun kembali menara iman kita yang mungkin telah lapuk setelah melewati 11 bulan perjalanan yang melelahkan. Ramadhan, dimana banyak sekali ampunan yang Allah berikan dan banyak sekali pahala yang sediakan untuk kita ambil sebanyak-banyaknya. Ramadhan ibarat oase yang mampu menghilangkan dahaga setelah sekian lama kita berjalan di padang pasir. Ramadhan laksana jalan yang akan membawaku ke titik harapan atas semua doa panjangku untuk semua mimpi-mimpiku. Ramadhan bagaikan sahabat yang setia mengajak dan menemaniku untuk berjumpa dengan-Nya dimalam-malam indah penuh berkah. Ramadhan…sungguh ingin aku lebih lama lagi bersamamu.

Gerbang kemenangan itu sudah terlihat hanya tinggal dalam hitungan langkah kita akan tiba di sana. Namun di sana di luar kampung ramadhan ini gurun yang panas sudah menanti untuk kembali kita lalui. Semoga satu bulan yang teramat singkat ini mampu menjadi amunisi, bisa menjadi bekal kita untuk perjalanan sebelas bulan kedepan. Dan kitapun tak pernah berhenti berdoa untuk terus berharap agar kelak diijinkan kembali berjumpa dengan Ramadhan-Nya. “Ya Allah, istiqomahkan kami agar saat ramadhan berlalu jejaknya masih melekat di qolbu dan takkan terhapus oleh waktu. Sungguh kami akan selalu rindu untuk kembali berjumpa di ramadhan-Mu, menghiasi hari dengan pahala dan ampunan dari-Mu.”

Aku lihat Ramadhan dari kejauhan
Lalau kusapa ia “Hendak kemana?”
Dengan lembut ia berkata “Aku harus pergi, mungkin JAUH dan sangat LAMA. Tolong sampaikan pesanku untuk orang MUKMIN, syawal akan tiba sebentar lagi, ajaklah SABAR untuk menemani hari-hari dukanya, peluklah ISTIQOMAH saat ia kelelahan dalam perjalanan TAQWA, bersandarlah pada TAWADHU saat kesombongan menyerang, mintalah nasehat QUR’AN & SUNAH disetiap masalah yang dihadapi. Sampaikan pula salam dan terima kasih untuknya karena telah menyambutku dengan suka cita dan melepas kepergianku dengan air mata. Kelak akan kusambut ia di SURGA dar pintu AR RAYAN. Selamat meraih pahala terbaik di detik-detik terakhir RAMADHAN.
(sms dari Mb'Dewi, makasih ya…)

Minggu, 14 Agustus 2011

Lezatnya Bakar Sate (Siang Tadi)

Di luar rembulan bersinar sempurna di permadani langit, tak kutemukan setitikpun cahaya bintang di dekatnya. Tak terasa ramadhan sudah separuh perjalanan, semoga kita senantiasa diberi keistiqomahan untuk menyelesaikan perjalanan ini hingga tiba di garis finish dan mendapatkan piala keberkahan di hari kemenangan nanti. Amin

Hari ini ada dua agenda yang sudah tercatat di rencana kegiatan akhir pekanku dan salah satunya adalah agenda bersama teman-teman FLP Tegal untuk kembali mengadakan kegiatan rutin kami yaitu “Bakar Sate”. Karena pada acara Bakar Sate sebelumnya aku berhalangan hadir maka sudah kuniatkan untuk hadir diacara Bakar Sate kali ini.

Bersama seorang teman aku meluncur menuju lokasi acara tepatnya di rumah ketua FLP Tegal yang sejujurnya aku belum tahu lokasi persisnya. Karena sadar kami sudah terlambat aku coba mempercepat laju motorku dengan tetap berhati-hati karena jalanan cukup ramai. Aku mencoba mengingat-ingat nama jalan yang harus kami lalui untuk sampai di lokasi setelah sebelumnya aku menelpon salah seorang teman yang sudah mengetahui lokasi tersebut.

Mendekati daerah yang dimaksud temanku kupelankan laju kendaraan, mataku sesekali melirik ke setiap belokan yang terletak di sebelah kiri jalan yang kami lewati sambil terus mencari nama jalan yang dimaksud namun tak kunjung ku lihat nama jalan itu. “Wah, ini sih kayaknya nyasar…” batinku. Akhirnya kuputuskan berhenti dan kembali menelpon temanku dan ternyata benar temanku salah memberikan nama jalan, kamipun putar balik dan tak terlalu sulit menemukan jalan itu namun perjalanan kami belum selesai.

Sesuai petunjuk temanku kami coba menelusuri jalan yang benar-benar baru pertama kali ini aku lalui dan walhasil gara-gara salah paham melihat posisi papan jalan kami kesasar lagi, putar balik lagi. Sampai di sebuah perempatan aku kembali bingung, akhirnya aku bertanya pada seorang pengendara sepeda yang sedang berhenti namun hasilnya nihil. Untunglah sedang banyak orang diperempatan jalan jadi kami bertanya lagi dengan harapan kali ini bisa memberikan petunjuk. Alhamdulillah kami diberi tahu melalui jalan kecil dekat pinggiran sungai katanya bisa lebih cepat sampai.

Beberapa gang sudah kami lewati tapi perasaanku berkata bahwa kami kembali tersesat, akhirnya aku memutuskan berhenti dan menanyakan pada ibu-ibu yang sedang duduk di teras rumahnya. Memang tak memberikan jawaban memuaskan karena kami hanya disuruh belok kiri mengikuti jalan kecil dan disuruh bertanya lagi sampai di ujung gang. Sesuai petunjuk kamipun bertanya kembali dan diarahkan untuk balik arah dan mengikuti gang kecil yang ditunjukan oleh seorang bapak. Setelah kami ikuti kok ternyata buntuk karena jalan tersebut berujung pada sebuah sekolah, berhenti lagi dan tanya lagi.

Mungkin karena teman kami ini baru pindah sehingga belum terlalu dikenal penduduk sekitar. Aku hampir putus asa mau bertanya kemana lagi, jika ku telpon temanku akupun tak bisa menjelaskan di mana posisiku sekarang (jujur saja aku memang buta arah hehehe). Akhirnya kami melihat seorang anak laki-laki yang sedang membantu orang tuanya memasang lampu dan Alhamdulillah… setelah tujuh kali kesasar dan tujuh kali bertanya pencarian kamipun selesai, anak itu menunjukan rumah yang kami cari. Ternyata rumah itu tak jauh dari tempat kami berhenti dan cukup dekat dengan gang yang tadi kami lewati, seharusnya belok kiri kami belok kanan. “Mungkin ada doa yang kurang sebelum kami berangkat tadi, Ya Allah maafkan kelalaian kami…”. Lebih baik tersesat mencari alamat daripada tersesat di jalan kehidupan, semoga Allah selalu menuntun langkah kita.

Meski terlambat namun aku tak kehilangan inti dari acara hari ini. Selain Bakar Sate acara siang itu diselingi dengan tausiyah ramadhan sehingga terasa lebih bermakna. Aku sendiri tak banyak bicara atau mengomentari karya teman-teman namun aku mencoba mengambil hikmah atau pelajaran dari setiap kisah yang ditulis oleh teman-teman. Dari tulisan-tulisan tersebut sedikit banyak bisa menggambarkan karakter si penulis. Sesuai dengan tema yang diangkat yaitu “Kedasyatan Doa” aku berkesimpulan bahwa doa ibu memang luar biasa, maka berusahalah agar setiap kata yang terucap dari bibir ibu untuk kita adalah kebaikan dan kebaikan.

Diluar baik atau buruknya setiap tulisan yang tadi siang “dibakar”, bagiku semuanya memiliki makna serta hikmahnya masing-masing yang kucoba lekatkan dalam catatan hatiku dan satu yang menarik dari salah satu tulisan tadi siang adalah tentang “Algoritma Kehidupan”. Algoritma, mata kuliah yang sempat bikin aku stress ternyata menjadi istilah menarik saat dianalogikan dalam kehidupan.

Lezatnya Bakar Sate bersama teman-teman FLP Tegal akhirnya diakhiri dengan berkumandangnya adzan sholat ashar. Lelah itu pasti, namun perjalanan tadi siang cukup memberikan asupan gizi tambahan untuk jiwaku serta pengetahuan menulisku dan setidaknya menambah referensiku tentang daerah baru dan jalan-jalan baru (hikmah kesasar).


Selasa, 05 Juli 2011

It's just little story about me (3 Hari di 3 Kota)

3 hari di 3 kota berbeda...


3 hari yang melelahkan namun juga 3 hari yang penuh cerita dan tentunya penuh makna. Dimulai dari kota Tegal, kamis malam kurang lebih jam sembilan malam aku dan adikku meninggalkan kota bahari menuju bumi parahiyangan menggunakan jasa travel langganan kami karena memang barang bawaan kami cukup berat. Perjalanan malam hari memang lebih enak karena waktunya tidur sehingga tak terasa namun saat tiba di daerah sumedang aku terbangun karena sepertinya mobil yang aku tumpangi berhenti. Setelah memulihkan kesadaran dan coba melihat keluar jendela ternyata kondisi jalan cukup macet sehingga mobil harus berhenti meski tak berapa lama akhirnya mobil mulai merangkak maju. Setelah beberapa meter perjalanan Pak sopir dengan lihai memutar balik arah mobil, nampaknya pak sopir tidak sabar dengan kemacetan yang menghambat perjalanan. Tak jauh setelah kami memutar arah kami memasuki sebuah gerbang desa yang jalannya cukup menanjak dengan kondisi jalan yang amat sangat sepi sekali, kanan kiri hanya ada kebun bambu sawah bahkan ada tebing yang agak curam. Kulihat semua penumpang tertidur lelap termasuk adekku, aku yang sudah terlanjur terbangun jadi ikut "menikmati" perjalanan malam itu. Beberapa hal yang membuatku beralasan untuk agak panik adalah pertama kondisi jalan yang sempit dan sepi karena sepanjang perjalanan tak kulihat kendaraan satupun yang lewat, kedua supir yang membawa kami bisa dibilang cukup tua, ketiga penumpang travel sebagian besar perempuan (bagaimana kalau sampai mogok) dalam kondisi jalanan menanjak. Aku hanya bisa berdoa semampuku tanpa pernah bisa memejamkan mata, baru setelah kami kembali menemukan jalan raya aku bisa bernafas lebih lega setidaknya kini kami tidak sendirian lagi, rasanya seperti baru keluar dari tembok labirin. Akhirnya kami tiba di tempat tujuan sekitar pukul setengah empat lewat, terlambat sekitar tiga puluh menit dari biasanya.


Setelah mempersiapkan segalanya yang akan dibawa maka tujuan kami selanjutnya adalah kota hujan, aku kesana hanya untuk mengantar adekku yang ada kepentingan disana. Pukul 12 siang kami sudah siap dan menyempatkan untuk makan siang dahulu dan menjamak sholat dzuhur dan ashar karena perjalanan mungkin akan lama. Jam satu kami sudah siap dipinggir jalan menanti travel yang akan mengantar kami yang ternyata terlambat tigapuluh menit dari waktu yang dijanjikan. Perjalanan yang lebih menyenangkan dari kemarin, kemacetan yang sempat menghadang bisa dilalui tanpa memakan banyak waktu, supir travel yang sangat lihai membawa mobil melaju kencang sepanjang tol Bandung - Bogor. Meski awal-awal perjalanan aku agak mual mungkin karena masuk angin namun setelah istirahat sejenak di tol cikampek semuanya kembali normal, sesekali aku tertidur dan sesekali aku menikmati suasana sepanjang perjalanan. Saat keluar pintu tol Jagorawi kulihat terminal yang dulu terakhir aku kunjungi sekitar lima tahun yang lalu (Terminal Baranangsiang). Aku putuskan untuk tidak melanjutkan tidurku, aku berusaha memutar ingatanku ke lima tahun silam akan jalanan-jalanan yang pernah kulalui di kota yang banyak memiliki pohon-pohon besar ini, jalan yang banyak kulalui dengan berjalan kaki bersama teman-teman dulu saat Gladi di Kandatel Bogor. Setelah mengantar penumpang lainnya akhirnya kami tiba menjelang isya di rumah Bude meski harus nyasar dulu hampir sampai Parung gara-gara aku salah menunjuk jalan (Maaf ya pak sopir...untung pak sopirnya baik jadi ga marah hihihi...^^)


Tugasku kini sudah selesai mengantarkan adikku kini saatnya aku kembali karena memang tak ada hari libur yang mengijinkanku untuk berlama-lama di kota seribu angkot itu. Karena tidak ada kendaraan yang langsung menuju Tegal aku memutuskan pulang ke Tegal dari Jakarta. Setelah mencoba menghubungi beberapa teman akhirnya malam sebelumnya aku memutuskan untuk mampir bermalam dulu di tempat temanku di kawasan Cilandak. Ba'da ashar aku berpamitan dengan bude dan adikku, dengan menggunakan bis tanggung aku sampai di terminal Baranangsiang sekitar pukul empat lewat. Setelah melewati jembatan penyebrangan aku masuk lewat pintu belakang terminal, kuamati satu-persatu tulisan yang tertulis di atas bis yang berjajar di terminal namun tak kutemukan tulisan yang aku cari. "Malu bertanya sesat dijalan" akhirnya aku bertanya pada salah satu petugas peron bis dengan jurusan yang aku cari dan ternyata bis tersebut ada di pintu depan. Langsung saja aku langkahkan kaki secepat mungkin ke pintu depan terminal, benar saja disana ada satu bis berwarna merah (aku lupa nama bisnya) dengan tulisan Bogor-Lebak Bulus via TB Simatupang. Aku duduk dikursi paling depan dekat pintu agar lebih mudah turun dan bisa melihat lebih mudah arah yang aku tuju, tepat setengah lima bis-pun meninggalkan terminal dan sepertinya bis yang aku naiki adalah bis terakhir.

Ba'da maghrib aku tiba memasuki kawasan Cilandak setelah menikamati macetnya tol Bogor-Jakarta disore hari, dengan Bismillah aku memutuskan turun di sebuah perempatan saat kondektur meneriakkan "Cilandak...cilandak..."karena pikirku jika turun di lebak bulus bisa jadi akan bolak-balik. Ternyata benar perkiraanku dari perempatan aku hanya tinggal sekali menumpang angkutan untuk sampai ke tempat temanku di asrama kampus IIP.



Esoknya hari Minggu pagi adalah perjalanan terakhirku, yup perjalanan kembali menuju rumahku. Diantar temanku kami menuju terminal lebak bulus, setelah membeli karcis sebuah bis ekonomi AC aku langsung mencari tempat duduk dan ternyata aku terlambat sehingga harus puas untuk dapat kursi di tengah-tengah (sebenarnya aku lebih suka duduk di depan). Jam delapan lewat bis meninggalkan terminal menuju kota bahari yang membawa penumpang yang mungkin sebagian besar orang Tegal (dilihat dari logat bicara mereka). Perjalanan pulang yang cukup menegangkan 2 kali bis yang kutumpangi mengalami pecah ban di tol cikampek dan hampir lima jam kami terjebak macet di daerah Klampok Brebes yang bener-bener bikin senewen para penumpangnya. Jadilah aku yang seharusnya sampai di terminal Tegal sekitar pukul tiga sore harus mau menerima kenyataan bahwa baru jam delapan malam kami tiba di terminal (12 jam di dalam bis, nikmatnya....). Aku masih belum bisa bernafas lega karena perjalanan kerumah masih panjang apalagi malam hari. Beberapa kali Ibu dan Bapakku yang sedang diluar kota memantau keberadaanku dan menyarankan agar akau tidak usah pulang kerumah melainkan menginap dirumah teman saja namun setelah kupertimbangkan akhirnya aku memilih meminjam motor seorang teman untuk pulang kerumah. Dengan mengumpulkan segenap keberanian dan berbekal bismillah akhirnya kurang lebih dalam tiga puluh menit aku sampai juga dirumah (kalau ga salah saat itu jam sembilan kurang sedikit). Alhamdulillah... Semua hanya karena Allah aku bisa kembali bertemu bantal guling

kesayanganku ^_^



Ini baru sekilas perjalananku kemarin, InsyaAllah dilain kesempatan akan kutuliskan juga hikmah sepanjang perjalanan hasil dari "muhasabah perjalanan". Pastinya kini aku kembali dengan harapan baru akan sebuah kehidupan yang lebih baik setelah kutinggalkan semua risau dan gundahku di sepanjang jejak perjalananku kemarin.

Januari 2026 ( Yuks Mulai Lagi!)

  Apa kabar diriku? Nggak terasa sudah 2026 ya, atau terasa banget perjalanan 2025 kemarin? Gimana berat atau kata anak sekarang "b aja...