Rabu, 18 November 2020
Ikatan Cinta (Kita)
Rabu, 30 September 2020
Mari Saling Menjaga dan Kuatkan Doa
![]() |
| Imun Booster Bunda |
Ternyata udah kurang lebih dua bulan belum menyapa rumahku yang satu ini. Seperti biasa sambil menunggu aplikasi yang lagi lola baiklah kita refreshing sejenak untuk meningkatkan imun.
Sudah setengah tahun pandemi ini menguji kesabaran yang menuntut kita harus bener-bener kuat imun dan juga iman. Entah bagaimana caranya kita pasti punya cara masing-masing untuk tetap stay happy di tengah pandemi ini.
Mengexplore kemampuanku sebagai S.Kom (Sarjana Kompor) merupakan salah satu treatment yang coba kulakukan untuk bisa tetep waras di tengah situasi yang makin panas ini, entah sudah berapa resep yang kucoba. Daripada emak cape ngomel mending uwel-uwel adonan aja, kasihan pipinya si dede sudah kebanyakan diuwel-uwel.
Si kakak yang pernah menegurku "bunda jangan marah-marah, kakak takut", mungkin bunda emang butuh piknik nak tapi jujur hingga tulisan ini kubuat aku masih termasuk yang takut untuk pergi agak jauh apalagi mengajak anak-anak. Aku masih agak trauma saat si baby didiagnosa bronchopnemonia dengan gejala yang mirip sama si copid ini jadi rasanya sebisa mungkin kami akan bertahan untuk tetep stay di rumah aja dulu.
Paling anak-anak wora-wirinya kerumah mbahnya yang berjarak hanya beberapa gang saja atau paling jauh ke "indojuni" depan komplek. Atau kalau mbah atung mau manasin mobil ya ikutan keliling aja. Entah sampai kapan pandemi ini akan mengurung kami, yang pasti mari saling menjaga dan kuatkan doa agar pandemi segera pergi.
*)catatatn sebelum break istirahat
Kamis, 16 Juli 2020
Menggali Mimpi yang Terkubur (Semangat Kakak!)
Dan satu lagi efek setelah nonton jejak rasa dan chenel bung Fiersa, aku lagi coba ngumpulin kembali catatan-catatan kecilku sejak tahun 2008 dulu dan semoga bisa menjadi sebuah buku solo karyaku sendiri sebagai catatan sejarah yang mengabadikan kisahku. Semangat!!!
Selasa, 14 Juli 2020
Jumat, 10 Juli 2020
Sekali Lagi Bunda Belajar Darimu (Guru Kecilku)
Ditemani bekal nasi kotak, secangkir susu jahe dan beberapa potong jintul goreng yang kubawa dari rumah, rasanya jemari ini sudah rindu untuk bertutur.
Sekali lagi aku diingatkan jangan terlalu sering memandang menggunakan kacamata negatif agar mata, hati, dan pikiran pun tak terlalu lelah. Sebagai orang tua kuakui masih terlalu sering memandang dengan kacamata negatif khususnya pada putri sulungku (maafkan bunda sayang...)
Beberapa hari yang lalu tiba-tiba hpku berbunyi, ada panggilan dari ibuku. Dan cerita sederhana itu pun mengalir dari mulut ibuku merayap melalui telingaku dan akhirnya mengendap di hatiku membawa haru yang nyaris membuat mataku berkabut.
Malam harinnya aku pun sengaja menanyakan langsung pada putriku Disti.
" Kakak tadi siang beneran pulang kerumah eyang cuma mau ambil jemuran?"
" Bener, soalnya langitnya mendung banget bun"
" Tapi kalau mau pergi bilang-bilang, kan uti nyariin. Terus bunda kan ga nyuruh kakak ambilin jemuran kan tinggi nanti kalau jatuh giman coba...?"
" Aku udah bilang kok sama atung, terus aku langsung lari aja"
" Ooo, makasih ya sayang" lalu kukecup keningnya.
Pagi itu sebelum ke kantor aku memang menjemur beberapa pakaian yang sudah kucuci dari semalam. Karena kupikir cuaca agak mendung dan rumah seringkali kosong maka kuputuskan untuk meletakan rak jemuran di teras untuk menjemur pakaian-pakaian besar dan hanya jemuran gantung yang aku letakkan ditempat biasa berharap pakaian anak-anak yang kecil bisa cepat kering untuk disetrika nanti malam. Sebelum berangkat aku titip pesan pada suami untuk meminggirkan jemuran gantung jika hujan atau jika ayah akan berangkat. Namun ternyata pesan itu justru sampai pada Disti putri kecilku.
Membayangkan bagaimana caranya menggapai jemuran-jemuran kecil dengan tubuh kecilnya karena jemuran itu cukup tinggi aku gantungkan disamping teras. Saat aku pulang kulihat masih ada bekas bangku kayu dibawah jemuran itu, bagaimana kalau dia jatuh dan tidak ada yang tahu karena rumah dalam keadaan sepi. Membayangkan dia membawa gulungan pakaian yang dipegangnya erat-erat didadanya sambil berjalan tergesa ke rumah mbahnya kareana takut hujan akan mendahuluinya, mungkin jika ada orang yang melihat bisa jadi akan berpikiran ini anak apa habis diusir.
Diusianya yang menginjak 7 tahun, di balik sifat perasa dan cemburunya dan dibalik sifatnya yang seringkali bikin bunda kesal (karena tidak cukup sekali bunda harus "berteriak" untuk bisa meminta bantuanmu) ternyata dia juga bisa memiliki rasa tanggungjawab atas kesadaran diri sendiri. Meski peristiwa ini terlihat sepele tapi bagiku memiliki makna yang dalam dan kembali menyentak batinku agar memandangmu lebih dekat dan lebih dalam lagi. Seolah kau ingin berkata bahwa aku tak semenjengkelkan yang bunda rasa, aku pun bisa diandalkan seperti yang bunda minta tanpa harus banyak kata. Namun bibir kecilmu yang seringkali bungkam jika bunda bertanya telah menyimpan semuanya di tempat terdalam di hatimu. Membuat bunda mengukir prasangka sepihak tanpa tahu isi hatimu.
Terima kasih sayang, sekali lagi bunda belajar darimu guru kecilku.
*)Merenung disela-sela pekerjaan akhir pekan.
Jumat, 19 Juni 2020
Untuk Yang Tersayang (Ke Tiga Buah Hatikku)
Apa yang aku tulis ini hanya sebagai pengingat bahwa kami pernah melalui semua ini tanpa ada tendensi lain selain sebagai catatan kecil kami.
Dan badai pun berlalu meski badai Covid-19 masih saja bergejolak di bumi tercinta ini. Kami baru saja melalui badai kehidupan yang sungguh tak pernah kami sangka akan terjadi dan ini kembali menyadarkan kami bahwa suka dan duka, tawa dan air mata itu bagai dua sisi mata uang yang saling berdekatan dan hanya Allah yang tahu apa yang akan terjadi sedetik kedepan.
25 Februari 2020 kurang lebih pukul sepuluh telah lahir dengan selamat putra ke tiga kami GIBRAN GUNTUR ATHALLAH melalui bedah secar. Syukur alhamdulillah yang tak terkira di usiaku yang sudah berjalan di kepala tiga Allah masih mempercayakan amanah pada kami dengan dikaruniai anak lelaki setelah dua kakak perempuannya. Selama kehamilan saya tidak pernah meminta harus lelaki atau perempuan yang terpenting adalah lahir sehat dan selamat. Kurang lebih 3 hari setelah luka bekas secar kering dan aku bisa berjalan lagi maka diperbolehkan pulang. Alhamdulillah welcome home...
Selang beberapa hari setelah kepulanganku dari rumah sakit ternyata Disti putri pertama kami sakit yang ditandai dengan demam hingga 41 derajat. Meski sempat turun, demam tak kunjung hilang meski begitu putri kami ini memaksa tetap minta masuk sekolah karena saat itu memang sedang PTS. Keinginannya yang kuat akhirnya dengan berat hati kami turuti dengan konsekuensi Ayah harus menugguinya didepan sekolah dan meminta kebijakan wali kelasnya agar Disti bisa mengerjakan tes lebih dahulu dan pulang lebih cepat. Alhamdulillah setelah diperiksakan ke DSA demam berangsur hilang, kurang lebih satu minggu hingga pulih. Alhamdulillah...
Selang beberapa hari ternyata Rania putri kedua kami tiba-tiba demam, dan kami mulai cemas saat demam makin naik tapi dia sama sekali tidak mau minum obat penurun panas. Dia cuma tertidur lemas, tidak mau makan nasi apalagi obat. Perasaanku sudah mulai galau dan akhirnya terjadi juga, kami terpaksa membawanya ke IGD. Setelah diberi cairan infus barulah ada tenaga dan demamnya mulai turun. Diagnosa dokter tipesnya yang dulu kambuh lagi dan harus dirawat inap beberapa hari. Kurang lebih 4 hari setelah demamnya benar-benar turun dan hasil laboraturiumnya bagus maka kami diperbolehkan pulang meski untuk pemulihan masih butuh istirahat beberapa hari di rumah. Alhamdulillah welcome home...
Selang beberapa minggu ternyata badai masih berlanjut, bayi kami yang baru genap berusia satu bulan juga harus bersentuhan dengan selang infus. Awalnya my baby boy tertular bapil dari kakak-kakaknya, seminggu setelah diperiksakan ke dokter anak ternyata lendir akibat bapil yang tidak bisa dikeluarkan masuk ke paru-paru. Dokter mendiagnosa putra bungsu kami terkena Bronkopnemonia (maaf kalau salah tulis), yang gejalanya mirip dengan covid-19. Bagai disambar petir mendengar penjelasan dokter, badanku lemas tapi aku tak boleh jatuh. Malam itu juga dokter merujuk putra kami ke IGD agar bisa segera ditangani dengan tepat. Disituasi pandemi seperti ini dengan diagnosa yang mirip covid-19 membuat pikiranku kacau, sempat terkelebat pikiran-pikiran buruk namun aku kembali meyakinkan diri ini bahwa kami harus tetap berprasangka baik pada takdir-Nya. Aku dan suami saling menguatkan bahwa kami akan bisa melalui ini semua. Jangan bayangkan bagaimana perasaanku melihat bayi mungil tak berdaya dan harus ditusuk jarum, menjalani fototerapi (karena ternyata bilirubinnya tinggi), fisioterapi dan dinebul 3 kali sehari. Kurang lebih satu minggu bayi kami dirawat dan setelah dipastikan tidak demam dan tidak sesak akhirnya dokter mengijinkan kami pulang. Alhamdulillah welcome home...
Dalam kurun waktu satu setengah bulan kami harus menghadapi ujian beruntun yang sungguh menguras tenaga, pikiran dan perasaan. Mungkin ini cara Allah agar kami kembali mendekat pada-Nya, agar kami tak terlalu larut dalam kesenangan dunia. Luka pasca SC ketiga yang katanya lebih sakit dan lebih lama sembuhnya ternyata tak berlaku padaku karena kondisi yang memaksaku untuk segera sembuh dan kuat mendampingi ketiga buah hati kami.
Alhamdulillah meski masih ditengah pandemi sampai tulisan ini aku posting kini ketiganya dalam kedaaan sehat walafiat, semoga kedepan dan seterusnya sehat selalu (Aamiin). Teruntuk ketiga buah hati kami Adistia (7Y 4M), Rania (3Y 9M), Gibran (3M) semoga Allah selalu melindungi kalian dengan sebaik-baik penjagaan dan perlindunganNya. Aamiin
Rabu, 12 Februari 2020
Menjelang Kehadiaran Anggota Baru
Nugget Ayam Homemade (Weekend Kami)
Alhamdulillah dikehamilan ketiga ini emak diberi kekuatan dan ngidam yang lebih berfaedah yaitu demen bebikinan dan kali ini ini setelah ikut harbolnas beli gilingin daging manual (yang murah sih) akhirnya emak berhasil praktekin bikin nuget ayam. Yang bikin tambah semangat adalah Kakak Disti dan Kakak Nia seneng banget bantuin unda bikinnya dan selalu suka dengan hasilnya.
Buat kakak Disti yang pemilih banget dalam hal makanan, nuget ayam homemade ini lumayan membantu emak karena komposisinya ga cuma ayam aja tapi ada sayurannya ada kejunya yang bikin jadi tambah lezat karena ada bumbu cintanya (cieeee).
Berikut ini moment yang sempat terabadikan saat perdana bikin nuget ayam, selanjutnya mah ga pake di poto2, paling buat status wa doank. Biasanya kita bikin hari Sabtu atau Minggu buat stok seminggu kedepan.
![]() |
| untuk selanjutnya kakak lebih suka yang bentuk stik panjang-panjang |
Senin, 30 September 2019
Homemade Butter Cookies (Weekend Kami)
Nemu resep praktis lagi dan alhamdulillah berhasil eksekusi lagi meski hasilnya agak-agak gosong karena harap maklum sudah beberapa hari emak flu berat jadi belum On 100%.
Awalnya yang flu si kakak terus pindah ke bunda, ke adik, ke eyang dan akhirnya kami bertiga berakhir pekan ke dokter keluarga. Cuaca yang sedang puanasssnya ruarrrr biasa bikin kepala tambah cenut-cenut, si adek yang kalau lagi sakit jadi minta emban terus benar-benar bikin flu tambah nikmat. Sungguh nikmat sehat itu luar biasa.
Alhamdulillah setelah dapet obat yang kata dokternya juga bingung kalau ngasih obat buat ibu hamil, minggu pagi kepala emak sudah agak lumayan enteng dan demi memenuhi janji sama bocils mari kita eksekusi resepnya.
Hasilnya cuma dikit dan ga sempet poto-poto karena tadi pagi setelah ditengok ternyata tinggal beberapa biji aja yang tersisa di toples. Mau di foto sepertinya kurang cantik, jadi lebih baik dimakan saja.
Yang mau coba bisa langsung lihat di chanel youtube berikut Resep Butter Cookies.
Happy weekend.... and Happy cooking....
Senin, 23 September 2019
Petit French Rolls (Weekend Kami)
Assalamu'alaiukum...
Alhamdulillah hari ini bisa sempet ngeblog lagi setelah off beberapa pekan. Sebenernya cuma ingin sedikit berbagi resep hasil uji coba kami weekend kemarin.
Berhubung Disti dan Rania ribut aja minta dibikinin roti, secara dah lama bingitz emaknye ga bebikinan, maka baiklah demi kalian bunda akan berjuang melawan kemalasan😜
Dan akhirnya kita nyobain resep baru dari chanelnya cook kafemaru yang berjudul Petit French Roll (intinya mah roti). Alhamdulillah meski bikinnya cukup memakan waktu tapi ngabisinnya ga perlu waktu lama dan itu tandanya anak-anak suka (maaf buat ayah yang ga kebagian). Dari satu resep ternyata cuma jadi 12 biji itu aja sudah dibikin imoetz-imoetz ukurannya. Mungkin nanti harus bikin 2 resep biar bisa kebagian semua (ayah, eyang, atung, uti)
Hari Jumat kita bikin yang sesuai resep tanpa isiin, hanya saja berhubung ga punya unsalted butter kita pake blueband. Hasilnya garing diluar dan lembut didalam, mungkin enak untuk pendamping soup
![]() |
| Ini hasil sesuai resep |
Oke buat yang mau mencoba silahkan, mudah kok. Dan yang penting buat saya anak-anak seneng, anak-anak doyan. Selamat mencoba
Jumat, 16 Agustus 2019
Bunda Aku Cemburu
Malam itu setelah menidurkan Rania lebih cepat karena mungkin terlalu lelah bermain hari itu aku langsung menghampiri Disti di kamarnya. Pikirku mumpung adiknya sudah tidur lebih cepat, aku bisa menemaninya tidur karena biasanya aku menemaninya saat dia sudah terlelap.
Kudapati wajah malam itu tak seceria biasanya, sambil memegang hp bunda mulut manyunnya tiba-tiba berubah menjadi mewek. "Kenapa banyak fotonya dede di hp bunda?" kata-kata itu terlontar dari mulut kakak sambil diiringi isak tangisnya.
Langsung saja kupleluk tubuh kecil itu tanpa banyak berkata-kata, kubelai rambut dan coba kutenangkan hatinya diantara hatiku yang bercampur aduk rasanya malam itu. Kakak cemburu dengan dedek itu kesimpulan yang bisa aku ambil.
Beberapa hari ini memang Rania bangun tidur lebih awal dari kakaknya sepertinya dia tidak mau ketinggalan ikut ke kantor bunda. Sudah dicoba dirayau dan dibujuk dengan berbagai cara tetap tak mempan, daripada harus ada drama dipagi hari akhirnya sampai pada keputusan Rania ikut bunda ke kantor bunda sebentar dan nanti pulang dijemput ayah. Beberapa momen memang aku abadikan di hp, tak terlalu banyak juga sih menurutku namun ternyata itu sudah cukup membuat kakaknya iri hati.
"Waktu belum ada dedek kan kakak juga sering ikut kekantor bunda, terus kakak kan sekarang sudah sekolah jadi gantian dedek yang ikut. Bunda tetep sayang kakak kok" aku berusaha menenangkan Disti yang masih belum berhenti menangis.
"Nanti kapan-kapan kakak ikut lagi ke kantor bunda kalau pas libur ya" ku tatap matanya berusaha meyakinkan bahwa rasa sayang bunda tak berkurang untuknya. Perlahan isak tangisnya mulai mereda meski harus dengan merelakan dia menghapus foto-foto adiknya.
Baiklah ini pelajaran buatku agar bisa bersikap lebih adil lagi meski itu bukan hal yang mudah tapi aku pasti akan berusaha demi kakak. Ini baru dua belum nanti nambah satu lagi.
*Baiklah saatnya jemput kakak sekolah dulu
Januari 2026 ( Yuks Mulai Lagi!)
Apa kabar diriku? Nggak terasa sudah 2026 ya, atau terasa banget perjalanan 2025 kemarin? Gimana berat atau kata anak sekarang "b aja...
-
Siang ini aku mendapat notifikasi di whatsapp grup ternyata ada foto putri keduaku sedang menerima apresiasi dari sekolah atas lomba yang ...
-
Sesuai janji saya di catatan sebelumnya, dicatatan kali ini akan dijelaskan langkah-langkah bagaimana kita memaafkan. Berikut ini ada...
















