Senin, 23 November 2020

Menanti Sebuah Jawaban (hasil tes swab)


Mendengar semakin banyak rekan sejawat yang terkonfirmasi positif covid-19 rasanya kok hati makin miris. Apalagi sedang menanti hasil swab yang tak kunjung keluar, rasanya seperti menanti hasil ujian (lulus atau tidak). 

Berawal dari suami salah satu rekan sejawat yang meninggal dunia dan dinyatakan terkonfirmasi covid-19 maka sepekan yang lalu dilakukan swab masal di kantor untuk memastikan kondisi kami semua. Meski agak takut juga tapi ini kesempatan karena mumpung difasilitasi dari kantor, tau sendiri berapa biaya yang harus dikeluarkan jika swab mandiri. 

Sebenarnya yang aku takutkan karena di rumah aku berdampingan dengan balita dan lansia yang semuanya termasuk kategori rentan. Setiap keluar dan kembali ke rumah yang terpikirkan adalah apakah kondisiku benar-benar steril, meski aku selalu berusaha untuk menjaga 3M.

Semoga penantian ini terjawab dengan manis meski aku pun harus siap dengan kemungkinan terburuk. Kelak masa ini akan jadi sejarah untuk anak cucu bahwa kami pernah melalui masa bersejarah ini, masa yang pasti akan selalu terkenang.

*)Gambar hanya pemanis saja

Rabu, 18 November 2020

Ikatan Cinta (Kita)

Berawal dari melihat beberapa status whatsapp teman-teman yang seringkali mengunggah sosok ini akhirnya aku pun penasaran. Sosok yang saat ini sedang menjadi idola kaum hawa terutama pecinta sinetron. Aku yang memang jarang bahkan hampir tak suka sinetron, kali ini harus mengakui bahwa aku ikut terhipnotis. 

Tak menampik bahwa sosok Aldebaran yang dibawakan oleh Arya Saloka memang benar-benar seolah nyata dan dibawakan sangat apik. Dipasangkan dengan Amanda Manopo sebagai Andin setiap adegan yang mereka perankan begitu dapet chemistrinya. Eits, sebenarnya aku bukan mau membahas sosok yang mereka perankan atau pun sosok mereka dalam kehidupan nyata karena aku baru tahu mereka setelah menonton sinetron #Ikatan_Cinta ini. Setelah lama absen dari dunia infotaiment aku memang tak hafal artis-artis jaman sekarang, tahunya paling Anjasmara, Teuku Ryan (ketahuan deh angkatan berapa). 

Oke balik lagi ke Ikatan Cinta, jujur aku tertarik dengan alur ceritanya yang terasa real di kehidupan nyata meski ada yang bilang itu drakor banget, okelah mungkin ada bumbu-bumbu. Ibarat masakan kan ga sedep kalau bumbunya kurang, tapi dari alur cerita intinya aku suka banget semoga ga dibuat sesion-sesion selanjutnya yang akhirnya ceritanya jadi tidak karuan. 

Melihat apa yang dialami Andin aku seperti dilemparkan ke beberapa tahun silam dimasa awal-awal pernikahanku, bukan maksud membuka urusan rumah tangga ke publik aku hanya berharap dengan tulisan ini bisa memberikan pelajaran bagi siapa saja yang membacanya. 

Disatukan dalam ikatan cinta (pernikahan) melalui proses perjodohan memang bukan hal mudah meski mungkin ada beberapa pasangan yang tak mengalami kesulitan beradaptasi. Aku yang benar-benar pertama kali mencium tangannya saat Ijab Qobul selesai tak pernah membayangkan akan melalui masa-masa itu semua. Proses adaptasi yang tak semudah membalikan telapak tangan yang tak pelak menimbulkan gesekan-gesekan diantara kami. Karakter suami yang cenderung keras dan cuek sungguh membuatku yang sangat perasa ini nyaris kehabisan air mata (lebay dikit boleh ya). 

Menyatukan dua isi kepala yang berbeda memang tak mudah tapi aku masih yakin itu bisa diselaraskan, berkali-kali aku meminta suamiku merubah sikapnya yang tak aku suka dan berkali-kali itu pula kemarahan suami meledak. Kami yang saat itu masing mengedepankan ego masing-masing seperti sedang ada ring tinju. Aku yang cenderung tak suka keributan lebih memilih diam dan menuliskan semua isi hati di diary, tak jarang aku menulis surat untuk suamiku jika kami sedang marahan karena aku tipe yang tidak bisa bicara langsung yang ada nantinya hanya air mata yang keluar bukan kata-kata. Namun akhirnya kini atas dorongan suami aku belajar untuk bisa bicara langsung jika ada masalah diantara kami, suami yang selalu memotivasiku (memancingku) untuk mau bicara langsung. 

Meski terlihat adem ayem saja tapi kami pun pernah melalui masa paling menakutkan (buatku) sesaat setelah kelahiran putri kedua kami dan rasanya aku tak ingin lagi mengingat-ingat masa itu dan berharap tak akan terulang lagi. Kini suamiku masih tetap dengan karakternya yang keras dan cuek, kami pun masih sering berbeda pendapat namun seiiring berjalannya waktu ketika aku mulai belajar menerima semua takdir-Nya untukku ini, aku merasakan banyak perubahan dalam diri suamiku. Aku berusaha untuk menerima sosok lelaki yang kini sebagai ladang ibadahku seutuhnya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Hal-hal kecil yang mungkin terlihat biasa buat pasangan lain seperti membalas sms/wa, menjawab telpon/ telpon balik justru kini jadi hal yang spesial buatku karena dulu jarang banget dilakukan suamiku, dan masih banyak lagi hal-hal istimewa lainnya yang seiring waktu seperti jadi kejutan indah buatku. Dibalik sosok kerasnya aku yakin suamiku adalah sosok yang sangat penyanyang apalagi sama anak-anak, meski tak pernah terucap oleh kata tapi aku bisa merasakannya disaat dia memelukku.

Karena keras tak bisa dilawan dengan keras, mungkin seperti cerita dalam sinetron kenapa ada sosok istri yang lemah masih mau-maunya ditindas oleh suaminya bahkan sampai ada KDRT (alhamdulillah kalau aku sih ga sampai ada KDRT). Itu bukan hanya cerita sinetron tapi memang sungguh terjadi di kehidupan nyata dan aku pun pernah mengalaminya. Teruntuk para istri yang saat ini sedang berjuang mempertahankan rumah tangganya, yakinlah selama suami kita masih punya iman (masih mau sholat) dan tidak pernah menyuruh kita melakukan hal-hal yang dilarang agama maka teruslah berjuang untuk merengkuh hatinya. Mintalah hanya pada Allah yang Maha Membolak-balik hati hamba-Nya. Jangan pernah menyuruh atau menuntut suami berubah seperti yang kita minta tapi cobalah kita untuk berubah menjadi istri yang lebih baik lagi dengan melakukan hal-hal yang seharusnya seorang istri lakukan pada suaminya. Insya Allah janji Allah itu nyata bagi orang-orang yang sabar, selamat berjuang semoga Allah swt selalu meridhoi Ikatan Cinta kita hingga ke surga-Nya kelak. Aamiin
Ket: Foto diambil saat belum ada si bungsu 😘

Rabu, 30 September 2020

Mari Saling Menjaga dan Kuatkan Doa

 

Imun Booster Bunda

Ternyata udah kurang lebih dua bulan belum menyapa rumahku yang satu ini. Seperti biasa sambil menunggu aplikasi yang lagi lola baiklah kita refreshing sejenak untuk meningkatkan imun.

Sudah setengah tahun pandemi ini menguji kesabaran yang menuntut kita harus bener-bener kuat imun dan juga iman. Entah bagaimana caranya  kita pasti punya cara masing-masing untuk tetap stay happy di tengah pandemi ini. 

Mengexplore kemampuanku sebagai S.Kom (Sarjana Kompor) merupakan salah satu treatment yang coba kulakukan untuk bisa tetep waras di tengah situasi yang makin panas ini, entah sudah berapa resep yang kucoba. Daripada emak cape ngomel mending uwel-uwel adonan aja, kasihan pipinya si dede sudah kebanyakan diuwel-uwel.

Si kakak yang pernah menegurku "bunda jangan marah-marah, kakak takut", mungkin bunda emang butuh piknik nak tapi jujur hingga tulisan ini kubuat aku masih termasuk yang takut untuk pergi agak jauh apalagi mengajak anak-anak. Aku masih agak trauma saat si baby didiagnosa bronchopnemonia dengan gejala yang mirip sama si copid ini jadi rasanya sebisa mungkin kami akan bertahan untuk tetep stay di rumah aja dulu.

Paling anak-anak wora-wirinya kerumah mbahnya yang berjarak hanya beberapa gang saja atau paling jauh ke "indojuni" depan komplek. Atau kalau mbah atung mau manasin mobil ya ikutan keliling aja. Entah sampai kapan pandemi ini akan mengurung kami, yang pasti mari saling menjaga dan kuatkan doa agar pandemi segera pergi.

*)catatatn sebelum break istirahat

Kamis, 16 Juli 2020

Menggali Mimpi yang Terkubur (Semangat Kakak!)

Seperti biasa ditengah SAPK yang tiba-tiba lola (loading lama) jadilah kita close dulu dan geser ke jendela sebelah bermain kata.

Sudah beberapa hari ini aku memang sedang terserang candu, masih nyambung dari postingan sebelumnya aku memang lagi terkena candu chanelnya bung Fiersa. Yup! Fiersa Besari sepertinya sudah membuatku kecanduan dan semoga kecanduan yang positif. Berawal dari nonton Jejak Rasa dari Eiger Adventure entah bagaimana akhirnya aku terus menyusuri jejak bung fiersa di chanel youtube.

Melihat #SebuahJurnal rasanya seperti ikut bertualang mendaki gunung menyusuri lembah (kaya ninja hatori ya). Pokoknya nonton chanel bung Fiersa aku seperti terhipnotis dan ikut larut didalamnya. Diiringi narasi dan obrolan-obrolan santai tapi penuh makna membuat kita tak hanya disuguhi pemandangan alam dan petualangan yang indah namun juga kita seperti diajak memaknai hidup dan menerima diri kita apa adanya. Karena sejatinya setiap orang punya caranya masing-masing untuk memaknai hidup ini.

Dan dari sinilah aku kembali menemukan mimpiku yang mungkin telah lama terkubur dalam kotak angan-angan dan saat ini kembali berusaha untuk kugali lagi dan kubuka lagi kotaknya dan mimpi itu akan kembali aku pasang 5cm dedepanku (siapa hayo pencinta 5cm???). Mimpiku untuk bisa kembali bertualang, mimpiki untuk bisa melahirkan buku (berbagi makna lewat kata), mimpiku mempunyai toko kue. Untuk mimpi yang terakhir sepertinya Allah titipkan juga pada putri pertamaku yang juga pengen sekali bundanya jualan kue dan bikin toko kue saja, semoga kita bisa sama-sama mewujudkan mimpi itu.

Aku yang dulu memang pengen banget bisa naik gunung tapi ga pernah kesampaian karena terhalang restu ibu, cukup bersyukur menemukan chanel ini yang seolah bisa mewakili cita-cita lamaku. Aku juga jadi teringat jaman kuliah dulu yang kerap kali mengikuti kegiatan outbond (ga bisa naik gunung setidaknya mendaki bukit pun jadi). Beberapa kali jadi tim perintis yang harus datang dahuluan mendirikan tenda dan babat alas, beberapa kali ikut survey lokasi dan harus susur sungai sampai setengah harian untuk mecari tracking untuk acara outbond mahasiswa baru, pernah juga tersesat di hutan malam hari mungkin karena terbersit rasa sombong di hati bahwa kita sudah hapal jalannya (makanya jangan pernah sombong). dan aneka pengalaman menarik selama mengikuti outbond dulu.




hanya dapat 2 foto dari facebook itupun karena ditag oleh seorang teman. Sekarang aku lagi coba bongkar-bongkar hardisk lama semoga foto-foto itu masih bisa diselamatkan dan akan aku abadikan di blog ini sebagai kenang-kenangan kalau aku dulu juga pernah bertualang. Dan berharap someday bisa camping lagi bareng suami dan anak-anak.

Dan satu lagi efek setelah nonton jejak rasa dan chenel bung Fiersa, aku lagi coba ngumpulin kembali catatan-catatan kecilku sejak tahun 2008 dulu dan semoga bisa menjadi sebuah buku solo karyaku sendiri sebagai catatan sejarah yang mengabadikan kisahku. Semangat!!!

Jumat, 10 Juli 2020

Sekali Lagi Bunda Belajar Darimu (Guru Kecilku)

Jum'at 10 Juli 2020

Ditemani bekal nasi kotak, secangkir susu jahe dan beberapa potong jintul goreng yang kubawa dari rumah, rasanya jemari ini sudah rindu untuk bertutur.

Sekali lagi aku diingatkan jangan terlalu sering memandang menggunakan kacamata negatif agar mata, hati, dan pikiran pun tak terlalu lelah. Sebagai orang tua kuakui masih terlalu sering memandang dengan kacamata negatif khususnya pada putri sulungku (maafkan bunda sayang...)

Beberapa hari yang lalu tiba-tiba hpku berbunyi, ada panggilan dari ibuku. Dan cerita  sederhana itu pun mengalir dari mulut ibuku merayap melalui telingaku dan akhirnya mengendap di hatiku membawa haru yang nyaris membuat mataku berkabut.

Malam harinnya aku pun sengaja menanyakan langsung pada putriku Disti.
" Kakak tadi siang beneran pulang kerumah eyang cuma mau ambil jemuran?"
" Bener, soalnya langitnya mendung banget bun"
" Tapi kalau mau pergi bilang-bilang, kan uti nyariin. Terus bunda kan ga nyuruh kakak ambilin jemuran kan tinggi nanti kalau jatuh giman coba...?"
" Aku udah bilang kok sama atung, terus aku langsung lari aja"
" Ooo, makasih ya sayang" lalu kukecup keningnya.

Pagi itu sebelum ke kantor aku memang menjemur beberapa pakaian yang sudah kucuci dari semalam. Karena kupikir cuaca agak mendung dan rumah seringkali kosong maka kuputuskan untuk meletakan rak jemuran di teras untuk menjemur pakaian-pakaian besar dan hanya jemuran gantung yang aku letakkan ditempat biasa berharap pakaian anak-anak yang kecil bisa cepat kering untuk disetrika nanti malam. Sebelum berangkat aku titip pesan pada suami untuk meminggirkan jemuran gantung jika hujan atau jika ayah akan berangkat. Namun ternyata pesan itu justru sampai pada Disti putri kecilku.

Membayangkan bagaimana caranya menggapai jemuran-jemuran kecil dengan tubuh kecilnya karena jemuran itu cukup tinggi aku gantungkan disamping teras. Saat aku pulang kulihat masih ada bekas bangku kayu dibawah jemuran itu, bagaimana kalau dia jatuh dan tidak ada yang tahu karena rumah dalam keadaan sepi. Membayangkan dia membawa gulungan pakaian yang dipegangnya erat-erat didadanya sambil berjalan tergesa ke rumah mbahnya kareana takut hujan akan mendahuluinya, mungkin jika ada orang yang melihat bisa jadi akan berpikiran ini anak apa habis diusir.

Diusianya yang menginjak 7 tahun, di balik sifat perasa dan cemburunya dan dibalik sifatnya yang seringkali bikin bunda kesal (karena tidak cukup sekali bunda harus "berteriak" untuk bisa meminta bantuanmu) ternyata dia juga bisa memiliki rasa tanggungjawab atas kesadaran diri sendiri. Meski peristiwa ini terlihat sepele tapi bagiku memiliki makna yang dalam dan kembali menyentak batinku agar memandangmu lebih dekat dan lebih dalam lagi. Seolah kau ingin berkata bahwa aku tak semenjengkelkan yang bunda rasa, aku pun bisa diandalkan seperti yang bunda minta tanpa harus banyak kata. Namun bibir kecilmu yang seringkali bungkam jika bunda bertanya telah menyimpan semuanya di tempat terdalam di hatimu. Membuat bunda mengukir prasangka sepihak tanpa tahu isi hatimu.

Terima kasih sayang, sekali lagi bunda belajar darimu guru kecilku.


*)Merenung disela-sela pekerjaan akhir pekan.

Jumat, 19 Juni 2020

Untuk Yang Tersayang (Ke Tiga Buah Hatikku)

Bismillah...

Apa yang aku tulis ini hanya sebagai pengingat bahwa kami pernah melalui semua ini tanpa ada tendensi lain selain sebagai catatan kecil kami.

Dan badai pun berlalu meski badai Covid-19 masih saja bergejolak di bumi tercinta ini. Kami baru saja melalui badai kehidupan yang sungguh tak pernah kami sangka akan terjadi dan ini kembali menyadarkan kami bahwa suka dan duka, tawa dan air mata itu bagai dua sisi mata uang yang saling berdekatan dan hanya Allah yang tahu apa yang akan terjadi sedetik kedepan.

25 Februari 2020 kurang lebih pukul sepuluh telah lahir dengan selamat putra ke tiga kami GIBRAN GUNTUR ATHALLAH melalui bedah secar. Syukur alhamdulillah yang tak terkira di usiaku yang sudah berjalan di kepala tiga Allah masih mempercayakan amanah pada kami dengan dikaruniai anak lelaki setelah dua kakak perempuannya. Selama kehamilan saya tidak pernah meminta harus lelaki atau perempuan yang terpenting adalah lahir sehat dan selamat. Kurang lebih 3 hari setelah luka bekas secar kering dan aku bisa berjalan lagi maka diperbolehkan pulang. Alhamdulillah welcome home...

Selang beberapa hari setelah kepulanganku dari rumah sakit ternyata Disti putri pertama kami sakit yang ditandai dengan demam hingga 41 derajat. Meski sempat turun, demam tak kunjung hilang meski begitu putri kami ini memaksa tetap minta masuk sekolah karena saat itu memang sedang PTS. Keinginannya yang kuat akhirnya dengan berat hati kami turuti dengan konsekuensi Ayah harus menugguinya didepan sekolah dan meminta kebijakan wali kelasnya agar Disti bisa mengerjakan tes lebih dahulu dan pulang lebih cepat. Alhamdulillah setelah diperiksakan ke DSA demam berangsur hilang, kurang lebih satu minggu hingga pulih. Alhamdulillah...

Selang beberapa hari ternyata Rania putri kedua kami tiba-tiba demam, dan kami mulai cemas saat demam makin naik tapi dia sama sekali tidak mau minum obat penurun panas. Dia cuma tertidur lemas, tidak mau makan nasi apalagi obat. Perasaanku sudah mulai galau dan akhirnya terjadi juga, kami terpaksa membawanya ke IGD. Setelah diberi cairan infus barulah ada tenaga dan demamnya mulai turun. Diagnosa dokter tipesnya yang dulu kambuh lagi dan harus dirawat inap beberapa hari. Kurang lebih 4 hari setelah demamnya benar-benar turun dan hasil laboraturiumnya bagus maka kami diperbolehkan pulang meski untuk pemulihan masih butuh istirahat beberapa hari di rumah. Alhamdulillah welcome home...

Selang beberapa minggu ternyata badai masih berlanjut, bayi kami yang baru genap berusia satu bulan juga harus bersentuhan dengan selang infus. Awalnya my baby boy tertular bapil dari kakak-kakaknya, seminggu setelah diperiksakan ke dokter anak ternyata lendir akibat bapil yang tidak bisa dikeluarkan masuk ke paru-paru. Dokter mendiagnosa putra bungsu kami terkena Bronkopnemonia (maaf kalau salah tulis), yang gejalanya mirip dengan covid-19. Bagai disambar  petir mendengar penjelasan dokter, badanku lemas tapi aku tak boleh jatuh. Malam itu juga dokter merujuk putra kami ke IGD agar bisa segera ditangani dengan tepat. Disituasi pandemi seperti ini dengan diagnosa yang mirip covid-19 membuat pikiranku kacau, sempat terkelebat pikiran-pikiran buruk namun aku kembali meyakinkan diri ini bahwa kami harus tetap berprasangka baik pada takdir-Nya. Aku dan suami saling menguatkan bahwa kami akan bisa melalui ini semua. Jangan bayangkan bagaimana perasaanku melihat bayi mungil tak berdaya dan harus ditusuk jarum, menjalani fototerapi (karena ternyata bilirubinnya tinggi), fisioterapi dan dinebul 3 kali sehari. Kurang lebih satu minggu bayi kami dirawat dan setelah dipastikan tidak demam dan tidak sesak akhirnya dokter mengijinkan kami pulang. Alhamdulillah welcome home...

Dalam kurun waktu satu setengah bulan kami harus menghadapi ujian beruntun yang sungguh menguras tenaga, pikiran dan perasaan. Mungkin ini cara Allah agar kami kembali mendekat pada-Nya, agar kami tak terlalu larut dalam kesenangan dunia. Luka pasca SC ketiga yang katanya lebih sakit dan lebih lama sembuhnya ternyata tak berlaku padaku karena kondisi yang memaksaku untuk segera sembuh dan kuat mendampingi ketiga buah hati kami.

Alhamdulillah meski masih ditengah pandemi sampai tulisan ini aku posting kini ketiganya dalam kedaaan sehat walafiat, semoga kedepan dan seterusnya sehat selalu (Aamiin). Teruntuk ketiga buah hati kami Adistia (7Y 4M),  Rania (3Y 9M), Gibran (3M) semoga Allah selalu melindungi kalian dengan sebaik-baik penjagaan dan perlindunganNya. Aamiin

Rabu, 12 Februari 2020

Menjelang Kehadiaran Anggota Baru


Bismillah...
Sebenarnya sudah luama buanget mau posting moment bahagia ini tapi kenyataannya baru terlaksana justru disaat sudah menjelang persalinan.

Alhamdulillah, kurang lebih sembilan bulan yang lalu Allah swt memberi kami kejutan bahagia untuk keluarga kecil kami. Di usiaku yang 33 tahun ini ternyata Allah masih memberi kepercayaan kepadaku untuk mengandung anak ketiga kami. Ya antara percaya dan tidak setelah melalui pemeriksaan mandiri dan tenaga medis aku dinyatakan positif hamil anak ke-3.

Berita ini pastinya jadi kejutan tak hanya bagi kami tapi tentu bagi keluarga besar kami. 
Kata ibuku "yang lagi diarep-arep adiknya eh yang hamil kakaknya".
Semoga adikku cepet ketularan ya, yang sabar insya Allah akan ada waktunya nanti.

Yang tak kalah terkekejut adalah kedua kakaknya namun dengan reaksi yang berbeda. Jika kakak Nia sangat antusias sekali akan kehadiran adik barunya nanti namun berbeda dengan kakak Disti yang masih galau. Mungkin kakak Disti sudah sekali menjadi kakak dan mungkin juga dia merasa terkalahkan dengan keberadaan adikknya makanya dia agak takut jika ada adik lagi (baiklah ini PR besar buat ayah bunda).

Meski sampai detik ini kami sebagai ayah dan bunda tak pernah sama sekali ada niatan untuk membeda-bedakan tapi mungkin ada khilaf kami yang tanpa disadari membekas di hati anak-anak yang akhirnya membuat mereka merasa dibedakan. Semoga kelak dengan kehadiran anggota keluarga baru kami nanti ini bisa membuat kami sebagai orang tua untuk belajar lebih banyak dan lebih keras lagi. Kalian bertiga akan jadi harta yang sangat berharga bagi kami.

*)Menjelang HPL 10/12 Maret 2020

Nugget Ayam Homemade (Weekend Kami)

Setelah beberapa purnama akhirnya emak bisa update lagi nih blog, mumpung belum cuti panjang.

Alhamdulillah dikehamilan ketiga ini emak diberi kekuatan dan ngidam yang lebih berfaedah yaitu demen bebikinan dan kali ini ini setelah ikut harbolnas beli gilingin daging manual (yang murah sih) akhirnya emak berhasil praktekin bikin nuget ayam. Yang bikin tambah semangat adalah Kakak Disti dan Kakak Nia seneng banget bantuin unda bikinnya dan selalu suka dengan hasilnya.

Buat kakak Disti yang pemilih banget dalam hal makanan, nuget ayam homemade ini lumayan membantu emak karena komposisinya ga cuma ayam aja tapi ada sayurannya ada kejunya yang bikin jadi tambah lezat karena ada bumbu cintanya (cieeee).

Berikut ini moment yang sempat terabadikan saat perdana bikin nuget ayam, selanjutnya mah ga pake di poto2, paling buat status wa doank. Biasanya kita bikin hari Sabtu atau Minggu buat stok seminggu kedepan.




Berhubung pas perdana belum ketemu loyang bongkar pasangnya jadinya cukup pake rantam

untuk selanjutnya kakak lebih suka yang bentuk stik panjang-panjang


Dari 2 dada ayam kota bisa jadi 2 pak nuget ayam yang bisa tahan 1 minggu aja itu sudah untung karena anak-anak ga cuma buat lauk kadang suka buat camilan jadi biasanya ga nyampe seminggu dah sold out

Senin, 30 September 2019

Homemade Butter Cookies (Weekend Kami)


Nemu resep praktis lagi dan alhamdulillah berhasil eksekusi lagi meski hasilnya agak-agak gosong karena harap maklum sudah beberapa hari emak flu berat jadi belum On 100%.

Awalnya yang flu si kakak terus pindah ke bunda, ke adik, ke eyang dan akhirnya kami bertiga berakhir pekan ke dokter keluarga. Cuaca yang sedang puanasssnya ruarrrr biasa bikin kepala tambah cenut-cenut, si adek yang kalau lagi sakit jadi minta emban terus benar-benar bikin flu tambah nikmat. Sungguh nikmat sehat itu luar biasa.

Alhamdulillah setelah dapet obat yang kata dokternya juga bingung kalau ngasih obat buat ibu hamil, minggu pagi kepala emak sudah agak lumayan enteng dan demi memenuhi janji sama bocils mari kita eksekusi resepnya.

Hasilnya cuma dikit dan ga sempet poto-poto karena tadi pagi setelah ditengok ternyata tinggal beberapa biji aja yang tersisa di toples. Mau di foto sepertinya kurang cantik, jadi lebih baik dimakan saja.

Yang mau coba bisa langsung lihat di chanel youtube berikut Resep Butter Cookies.

Happy weekend.... and Happy cooking....

Senin, 23 September 2019

Petit French Rolls (Weekend Kami)



Assalamu'alaiukum...

Alhamdulillah hari ini bisa sempet ngeblog lagi setelah off beberapa pekan. Sebenernya cuma ingin sedikit berbagi resep hasil uji coba kami weekend kemarin.

Berhubung Disti dan Rania ribut aja minta dibikinin roti, secara dah lama bingitz emaknye ga bebikinan, maka baiklah demi kalian bunda akan berjuang melawan kemalasan😜

Dan akhirnya kita nyobain resep baru dari chanelnya cook kafemaru yang berjudul Petit French Roll (intinya mah roti). Alhamdulillah meski bikinnya cukup memakan waktu tapi ngabisinnya ga perlu waktu lama dan itu tandanya anak-anak suka (maaf buat ayah yang ga kebagian). Dari satu resep ternyata cuma jadi 12 biji itu aja sudah dibikin imoetz-imoetz ukurannya. Mungkin nanti harus bikin 2 resep biar bisa kebagian semua (ayah, eyang, atung, uti)

Hari Jumat kita bikin yang sesuai resep tanpa isiin, hanya saja berhubung ga punya unsalted butter kita pake blueband. Hasilnya garing diluar dan lembut didalam, mungkin enak untuk pendamping soup
Ini hasil sesuai resep
Hari Sabtu kita bikin dengan sedikit modifikasi diberi isian. Karena masih punya sisa olesan waktu buat bagelen jadi kita jadiin isi saja dan sisanya kita pake blueband dan meses. Ternyata yang isian gula bawahnya agak gosong karena isiannya meleleh (tapi tetep enak kok) buktinya langsung habis sekejap

Oke buat yang mau mencoba silahkan, mudah kok. Dan yang penting buat saya anak-anak seneng, anak-anak doyan. Selamat mencoba

Januari 2026 ( Yuks Mulai Lagi!)

  Apa kabar diriku? Nggak terasa sudah 2026 ya, atau terasa banget perjalanan 2025 kemarin? Gimana berat atau kata anak sekarang "b aja...