Selasa, 12 Januari 2021

WFH Lagi, Kapan Corona Pergi?

Akhirnya WFH lagi, entahlah harus senang atau sedih. Seperti sebelumnya di kantorku mulai kembali menerapkan Work From Home (WFH) sehari di kantor sehari di rumah. Senang karena dengan WFH aku bisa lebih banyak waktu bersama anak-anak di rumah. Sedih karena berarti ini pandemi belum berakhir dan entah sampai kapan. 

Senin kemarin jadwalku WFH dan seperti hari-hari aktif biasanya, anak-anak ku titipkan di rumah orang tuaku dan aku sendiri bekerja di rumah. Setengah hari berjalan aman dan lancar meski kedua putriku mau tetap di rumah tidak mau aku titipkan di rumah mbahnya. Seperti biasa jam dua belas aku istirahat dan menyempatkan untuk menyuapi anakku terutama yang bayi. Jam setengah dua aku mulai membuka laptopku lagi, kali ini laptop kubawa ke rumah orang tuaku aku pikir agar bisa sambil menemani kakak-kakaknya bermain. 

Namun apa daya baru beberapa menit ku mulai mengedit data, putri keduaku mulai menunjukkan tanda-tanda "bahaya". Benarlah ternyata siang itu tingkah manjanya yang ingin mainan masak-masakan bersama bunda praktis membuatku tak bisa melanjutkan pekerjaan kantorku. Tangisnya yang pecah disaat adiknya yang bayi sedang lelap tertidur otomatis membuatku harus berusaha menenangkannya agar tak menambah satu tangisan lagi. Laptop lemot, sinyal internet yang timbul tenggelam dan anak yang mendadak rewel, rasanya perpaduan yang sangat nikmat disiang yang mendung itu.

Jadi teringat 30 hari yang baru saja kulalui, 30 hari menantang diri sendiri untuk rutin menulis tiap hari tanpa tapi dan aku berhasil. Aku berhasil memacu diri untuk bisa lolos tantangan ini meski sempat ragu diawal dan tertatih di beberapa hari terakhir. Ibu bekerja dengan 3 anak yang dua diantaranya balita dan tanpa asisten rumah tangga rasanya sempat tak percaya aku bisa melakukannya. Mencuri-curi waktu diantara rentetan aktivitas untuk bisa sekedar menumpahkan rasa melalui kata-kata itu rasanya ada kepuasan tersendiri di hati. Yap, awal aku menulis memang sebagai bentuk self healing, menghilangkan segala penat dan aneka rasa yang berkecamuk di hati dan pikiranku.

Waktu tersulit bagiku untuk menulis justru saat weekend, sebab saat weekday aku masih bisa menulis di sela-sela jam kantor tanpa terlalu banyak gangguan kecuali ada perkerjaan mendadak yang harus segera diselasaikan. Tapi di rumah, wah rasanya penuh perjuangan untuk bisa sekedar menuliskan kisahku di halaman ig. Dari pekerjaan rumah yang memanggil-manggil ingin disentuh, anak-anak yang minta ditemani bermain, hingga berebutan ponsel dengan anak-anakku. Kenapa nggak ada ART? Bukankah dicatatan sebelumnya aku telah menemukan ART?

Yap, aku memang sudah menemukan ART tapi memang aku pekerjakan di rumah orang tuaku untuk membantu menjaga anak-anakku saat aku di kantor. Sedangkan saat aku libur, ART maka aku liburkan juga. Sejujurnya aku dan suami memang merasa kurang nyaman jika ada "orang lain" di rumah maka dari itu kami memutuskan tak memakai ART di rumah. Jadi semuanya memang ku kerjakan sendiri dibantu suami dan kedua putriku meski lebih banyak bikin riweuhnya tapi yang penting mereka mau belajar membantu bunda menyelesaikan pekerjaan rumah dan menjaga adik bungsunya.

Setiap masa pasti memiliki cerita yang semoga hanya kisah yang indah yang terekam sempurna di ingatan dan kelak akan dirindukan dan selalu indah untuk dikenang.

Jumat, 08 Januari 2021

Biar Kutemukan Makna

Biar Kutemukan Makna

Inilah catatan pertamaku di rumah mayaku di tahun 2021, dua hari terakhir sebelum 30DWC berakhir.

Ya tantangan menulis selama tiga puluh hari yang aku ikuti akan segera berakhir, tak terasa dan ternyata aku bisa untuk konsisten menulis setiap harinya.Walau tak selalu kutulis kisahku di sini, namun kini jejak penaku tak hanya kata-kata di status wa melainkan sebuah cerita atau rangkaian kata yang bermakna.

Meski 30DWC sudah hampir berakhir tapi bagaimana dengan pandemi ini, kapan akan berakhir?
Pertanyaan itu pasti berada di benak setiap orang saat ini baik mereka yang percaya atau pun mereka yang menganggap ini hanya candaan semata. Sudah setahun lebih pandemi akibat penyebaran virus Covid-19 ini melanda negeri kita tercinta dan juga banyak negeri di belahan bumi lainnya. Pastinya banyak cerita meski lebih banyak yang berbalut duka.

Tak usah jauh-jauh memandang, lihatlah saja disekitar kita. Hampir setiap hari suara sirine ambulan memekakan telinga dan menciutkan hati yang mendengarnya. Hampir setiap hari bertebaran berita duka yang mengabarkan kehilangan keluarga atau kawan akibat pandemi ini. Sebenarnya virus yang tak kasat mata ini bukan hanya menyerang tubuh kita namun justru jiwa kita, pikiran kita yang seakan diteror dengan rasa takut, cemas, was-was dan kepanikan yang sejatinya bisa lebih mematikan.

Alhamdulillah hingga detik ini aku masih bertahan, berusaha untuk tetap terus taat menerapkan protokol kesehatan. Mencoba untuk tetap menghindari kerumunan atau sekedar berkumpul dengan kawan-kawan. Maaf, bukan kini aku anti sosial, aku masih keluar rumah, aku masih bekerja, aku masih saling menyapa. Aku hanya sedang berusaha menjaga diriku dan juga keluargaku. Ada putra-putriku yang masih balita dan juga kedua orang tuaku yang mungkin sangat beresiko untuk terkena, maka dari itu aku harus tetap waspada. Karena aku sudah merasakan beratnya berpisah meski itu hanya sejengkal jarak dan sekelebat waktu.

Apakah aku tak lelah?
Apakah aku tak bosan?

Ya, aku pun pernah merasa lelah, aku pun pernah merasa bosan dan jengah dengan semua situasi ini. Tapi hati kembali menuntunku untuk mengimani bahwa inilah takdir yang harus aku lalui, bukan hanya hidup di dunia ini tanpa arti melainkan belajar untuk membaca ayat-ayat ilahi dalam kehidupan ini. Dari saudara-saudara kita yang mungkin saat ini tengah berjuang karena terpapar virus corona, atau dari mereka yang kehilangan orang-orang terkasihnya, banyak pelajaran yang sebenarnya bisa kita ambil. 

Tak harus menunggu kita sendiri yang mengalaminya, berusahalah untuk mengasah hati kita, menempatkan empati dan memandang dengan mata batin kita. Sungguh pandemi ini telah mengajarkan banyak hal pada kita. Tak perlu kujabarkan satu persatu makna yang ada biarkan hati kita menemukan sendiri jawabannya dengan jalan dan kisahnya masing-masing.


*Tetap jaga protokol kesehatan, kuatkan doa Insya Allah kita bisa saling menjaga

Get Well Soon My Sweety

  Ini adalah catatan pertamaku di tahun 2022, catatan pertama yang diawali dengan kesedihan. Kesedihan karena tulisan ini aku buat saat seda...