Jumat, 08 Januari 2021

Biar Kutemukan Makna

Biar Kutemukan Makna

Inilah catatan pertamaku di rumah mayaku di tahun 2021, dua hari terakhir sebelum 30DWC berakhir.

Ya tantangan menulis selama tiga puluh hari yang aku ikuti akan segera berakhir, tak terasa dan ternyata aku bisa untuk konsisten menulis setiap harinya.Walau tak selalu kutulis kisahku di sini, namun kini jejak penaku tak hanya kata-kata di status wa melainkan sebuah cerita atau rangkaian kata yang bermakna.

Meski 30DWC sudah hampir berakhir tapi bagaimana dengan pandemi ini, kapan akan berakhir?
Pertanyaan itu pasti berada di benak setiap orang saat ini baik mereka yang percaya atau pun mereka yang menganggap ini hanya candaan semata. Sudah setahun lebih pandemi akibat penyebaran virus Covid-19 ini melanda negeri kita tercinta dan juga banyak negeri di belahan bumi lainnya. Pastinya banyak cerita meski lebih banyak yang berbalut duka.

Tak usah jauh-jauh memandang, lihatlah saja disekitar kita. Hampir setiap hari suara sirine ambulan memekakan telinga dan menciutkan hati yang mendengarnya. Hampir setiap hari bertebaran berita duka yang mengabarkan kehilangan keluarga atau kawan akibat pandemi ini. Sebenarnya virus yang tak kasat mata ini bukan hanya menyerang tubuh kita namun justru jiwa kita, pikiran kita yang seakan diteror dengan rasa takut, cemas, was-was dan kepanikan yang sejatinya bisa lebih mematikan.

Alhamdulillah hingga detik ini aku masih bertahan, berusaha untuk tetap terus taat menerapkan protokol kesehatan. Mencoba untuk tetap menghindari kerumunan atau sekedar berkumpul dengan kawan-kawan. Maaf, bukan kini aku anti sosial, aku masih keluar rumah, aku masih bekerja, aku masih saling menyapa. Aku hanya sedang berusaha menjaga diriku dan juga keluargaku. Ada putra-putriku yang masih balita dan juga kedua orang tuaku yang mungkin sangat beresiko untuk terkena, maka dari itu aku harus tetap waspada. Karena aku sudah merasakan beratnya berpisah meski itu hanya sejengkal jarak dan sekelebat waktu.

Apakah aku tak lelah?
Apakah aku tak bosan?

Ya, aku pun pernah merasa lelah, aku pun pernah merasa bosan dan jengah dengan semua situasi ini. Tapi hati kembali menuntunku untuk mengimani bahwa inilah takdir yang harus aku lalui, bukan hanya hidup di dunia ini tanpa arti melainkan belajar untuk membaca ayat-ayat ilahi dalam kehidupan ini. Dari saudara-saudara kita yang mungkin saat ini tengah berjuang karena terpapar virus corona, atau dari mereka yang kehilangan orang-orang terkasihnya, banyak pelajaran yang sebenarnya bisa kita ambil. 

Tak harus menunggu kita sendiri yang mengalaminya, berusahalah untuk mengasah hati kita, menempatkan empati dan memandang dengan mata batin kita. Sungguh pandemi ini telah mengajarkan banyak hal pada kita. Tak perlu kujabarkan satu persatu makna yang ada biarkan hati kita menemukan sendiri jawabannya dengan jalan dan kisahnya masing-masing.


*Tetap jaga protokol kesehatan, kuatkan doa Insya Allah kita bisa saling menjaga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Get Well Soon My Sweety

  Ini adalah catatan pertamaku di tahun 2022, catatan pertama yang diawali dengan kesedihan. Kesedihan karena tulisan ini aku buat saat seda...