Selasa, 29 Desember 2015

Loooooooooongggggggg Weekend, 4 hari bersama Disti

Alhamdulillah, pekan kemarin sempat merasakan long weekend yang lumayan panjang. Libur 4 hari yang cukup berarti buatku pribadi dan tentunya untuk putri kecilku. Melihat di medsos dan BBM memang sebagain besar mengisi liburan dengan bertamasya ke tempat-tempat wisata. Namun aku pribadi memilih liburan yang lain bersama Disti tentunya, walau kita ga piknik kemana-mana tapi tetap asyik ya sayang....

Lihat Kelinci di RBA

Bantuin Bunda Beres-beres buku di RBA

Nunggu hujan re di Masjid Agung Slawi

Hari pertama, aku sudah membuat agenda dengan beberapa teman-teman relawan RBA Tegal untuk membereskan dan menata ulang buku-buku di rumah baca RBA yang ternyata banyak juga. Antara sedih dan senang buku-buku yang ada di rak sudah banyak yang kumal itu tanda sering dibaca. Walau sampai saat ini kami hanya buka dua kali dalam sepekan yaitu hari Jum'at dan Sabtu namun antusias anak-anak untuk datang ke RBA masih cukup besar. Disti yang memang senang dengan kesibukan juga turut ambil bagian membantu menata buku di rak dan mengambilkan buku yang akan dilabeli. Disti juga senang karena di RBA juga ada kelinci dan kucing persia yang kata Disti "Nda, kucingnya lucu gendut cantik". Dari pukul 9 pagi kami terpaksa mengakhiri kegiatan hari itu pukul 3 karena cuaca yang mulai tampak mendung. Tak mau langsung pulang Disti minta jalan-jalan ke Masjid Agung katanya "sholat dulu nda". Sampai di Masjid Agung Slawi ternyata pas sekali adzan ashar, lanjut kami berdua sholat berjamaah dengan jamaah lain yang kebetulan hari itu cukup ramai. Selesai sholat Disti minta foto-foto tapi eh ternyata hujan datang tiba-tiba. Akhirnya satu jam lebih kami berteduh di teras masjid, untung saja masih ramai orang-orang. Hujan tak kunjung berhenti, aku yang khawatir bagaimana kami pulang nanti jika hujan tak kunjung reda sedangkan Disti asyik saja berjalan-jalan di teras masjid dengan riang. Alhamdulillah sekitar jam 5 hujan agak reda, aku langsung berlari ke parkiran mengambil jas hujan dan helm untuk Disti. Dan hari itu tercapai juga kenginginan Disti untuk pake jas hujan barunya walau akhirnya dia tertidur dijalan karena lelah dan memeng belum tidur siang.

Jemurin buku yang habis kehujanan kemarin

Ayo susun yang tinggi

Kamar baru dede 

Hari kedua, aku memang sudah mengagendakan untuk silturahmi ke beberapa teman ya walau hasilnya nihil semua karena sedang pada liburan tapi tak apalah yang penting sudah diniatkan untuk silaturahmi. Dilanjut memenuhi keinginan Disti yang pengen punya kamar sendiri seperti kamar Diva. Kami berdua bergotong royong menyulap ruang kecil dibelakang lemari bufet menjadi kamar kecil untuk Disti dan betapa senangnya wajah kecilku melihat kamarnya walau bukan kamar betulan. Kita sama-sama berdoa ya nak semoga ayah bunda diberi rizki untuk bisa punya rumah sendiri, aamiinnn
Sorenya dilanjut lagi ke RBA untuk menyelesaiakan beberapa buku yang belum diberi label dan lanjut deh foto-foto di Masjid Agung dan tugu teh poci. Kata Disti "Dede ceneng nda" alhamdulillah....
Narsis di Masjid Agung


Narsis di Tugu Poci



Hasil karya Chef Disti

Hari ketiga kami memutuskan untuk dirumah saja dan waktunya cooking class dengan resep sederhana yang aku dapat dari facebook. Kue kentang goreng yanag dibentuk smile dan Disti suka banget. Walau kata ayah rasanya ga asin ga manis tapi yang penting Disti suka. DAn akhirnya ayah dan eyang juga ikut makan kok. Buatku sendiri yang penting bagaimana proses membuatnya yang buat Disti itu sangat menyenangkan. Awalnya aku mau mengajak Disti membuat Playdough tapi karena aku bilang itu ga bisa dimakan makanya Disti ga mau dan ngajak bikin kue aja. Malamnya kami diajak ayah ke Taman Rakyat deh dan senangnya Disti kalau sudah naik odong-odong di "aun-aun".

Serius nonton TV di rumah Mbah (dirumah ga ada TV sih)

Hari keempat dan hari terakhir, kita kerumah mbah yang memang kebetukan sepi ditinggal ke Cirebon. Aku memang dititipi untuk menjaga dan membersihkan rumah mbah dan baru sempat dihari libur terakhir ini deh.

Sebenarnya kita diajak mbah ke Cirebon tapi kasihan ninggalin ayah lama-lama karena memang ayah sedang sibuk mengurus lahan yang ga bisa ditinggal. Walau liburan tidak piknik ke tempat wisata tapi yang penting adalah kualitas liburan itu tetap ada bersama putri kecilku dan mumpung liburan puas-puasin deh slonjor dirumah, abaikan sejenak tumpukan pakaian kotor dan piring kotor di belakang. Selama Disti masih melek ya aku usahakan untuk bermain dengan Disti apalagi waktu sehari ayahnya dirumah Disti tampak bahagia sekali. Maafkan kami sayang yang sudah banyak mencuri waktu kebersamaan kita. Nanti kalau bunda libur lagi dan ada rejeki kita main-main lagi ke jogja mall dan alun-alun trasa (dua tempat favorit Disti).

Kamis, 17 Desember 2015

Maafkan Bunda Sayang...


Hufttttt *Take a deep breath


Seperti orang berlari rasanya ingin berhenti sejenak dan menghela nafas panjang. Sudah hampir dua bulan ini workload dikantor memang sedang tinggi dan sudah hampir dua bulan ini aku juga harus lembur, biasanya jam 4 aku sudah bisa ada dirumah kini tak jarang hingga maghrib aku baru bisa menjemput Disti dirumah mbahnya. Hari Sabtu yang biasanya libur kini aku juga harus tetap berangkat untuk menyelesaikan pekerjaan dikantor.

Dan imbasnya akupun menuai protes dari putri kecilku. Hari Sabtu dimana biasanya kita menghabiskan waktu seharian bersama walau sekedar guling-guling dikasur, kini hari Sabtu dia harus kembali aku titipkan dirumah mbah. Disti jadi mogok makan dan manjanya minta ampun, kalau aku dirumah dia maunya bunda selalu always disisinya nggak boleh ngapa-ngapain. Aku menyadari sikapnya itu wajar, dia menuntut perhatian dan waktuku bersamanya yang jika dihitung memang sangat sedikit sekali. Pagi hari jam 7 Disti sudah aku antar kerumah mbahnya dan maghrib baru aku jemput, jadi tuntas waktu kebersamaan kita kurang lebih cuma 5 jam. Dua jam sebelum aku kekantor itupun disambi menemaniku memasak dan beberes segala keperluan dipagi hari dan 3 jam sebelum Disti tidur. Maafkan bunda sayang...

Akhirnya untuk menjawab protes putri kecilku beberapa hari ini setiap istirahat siang aku usahakan untuk bisa pulang kerumah sekedar menyuapinya dan langsung kembali ke kantor. Hari Sabtu sebelum berangkat aku mengajak Disti jalan-jalan dulu atau seperti minggu kemarin akhirnya Disti ikut menemaniku lembur di kantor karena mbahnya sedang ada acara. Tapi waktu dijemput mbahnya untuk pulang eh malah mogok mintanya pulang sama bunda saja pake jas hujan. Alhasil pulang lembur disti 'kubungkus' dengan jaket dan kugendong sambil dibungkus jas hujan menerabas hujan, sampe dirumah ternyata sudah merem aja digendonganku. Maafkan bunda sayang...

Adistia Azkadina Mufidah yang kini mintanya di panggil dede Mufidah ternyata sudah besar dan makin pintar saja dibalik badannya yang kecil mungil. Bunda kadang sering 'kelabakan' kalau sudah 'bernegosiasi' denganmu. Sebentar lagi usiamu mengainjak tiga tahun dan alhamdulillah dirimu sudah terbiasa mandiri. Sudah pintar makan sendiri, pake baju sendiri, pake sepatu sendiri bahkan sudah bisa membantu bunda mengerjakan pekerjaan rumah. Sebelum tidur bunda senang mendengarmu bercerita tentang aktivitasmu seharian bersama mbah. Kata-katamu dan pemikiranmu seringkali diluar yang ayah dan bunda perkirakan. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, sehat selalu sayang semoga kamu menjadi anak yang salihah dan menjadi amalan ayah dan bunda yang tak terputus saat kami sudah menghadap-Nya. Aamiin.

*) Catatan siang sembari menikmati bekal makan siang

Kamis, 11 Juni 2015

Luv U Muach....muach.... (Disti sayang) ^_^

Bahaya besar nih ternyata bulan kemarin aku belum posting satu tulisanpun, kemane aje??? Setelah dite;usuri bulan sebelumnya aku hanya posting satu tulisan. Ini bisa jadi bahaya besar jika tidak segera ditanggulangi so hari ini aku mo posting dulu ya biar virus menulis tak hilang dari pikiranku.

Mo nulis apa ya??? *Senyap sejenak...

Ini tentang si kecil, imut, lucu yang cerdas namun suka bikin bundanya gimana gitu.... Yup! ini tentang putri kecilku Disti yang makin hari makin banyak aja tingkahnya yang bikin Ayah Bundanya wow!

Di usia yang sudah hampir 2,5 tahun Disti memang belum berhasil disapih *hiks...hiks... Tidak apalah toh masih ada juga kok temannya yang juga belum disapih. Tapi bukan aku tak berusaha, dan yang sekarang sedang aku jalani yaitu bukan lagi weaning with love tapi weaning with 'cap kampak' atau weaning with 'aroma terapi'. Walau belum berhasil 100% tapi setidaknya mencium aroma dua benda itu sudah membuat Disti enggan untuk menyusu tapiiiiii saat tengah malam dan aku sudah terlelap dan aromanya sudah hilang aku masih sering kecolongan. Memang botuh kekonsistenan yang tinggi untuk melakukan semua ini.

Di masa-masa 'galau' ini Disti jadi lebih sensitif dan dirumah jadi lebih dekat dengan Ayah dan Eyangnya, denganku sepertinya ada saja ulahnya yang selalu memancing emosiku *sabarrrrr semoga jadi anak pinter yang salihah ya sayang (sambil nahan emosi). Yang bikin Atung dan Utinya sedih sekarang Disti jadi ga betahan dirumah mbahnya, kalau aku datang mesti langsung minta pulang walau menurut laporan Atung Utinya saat aku tinggal kekantor nurut kok.

Namun diluar urusan menyapih setiap perkembangnnya selalu membuatku bangga dan banyak bersyukur. Disti makin lincah dan ceriwis aja, kosakatanya makin banyak meski masih belum pas pengucapannya.Pokonya bunda luv u muach....muach.... sayang

Hore aku bisa kupas telor sendiri.... (tapi bundanya yang suruh makan telornya :(   )

Hore aku bisa bantu eyang bikin kue pastel (tapi ga berbentuk pastel deh)

Hore aku bisa bantu eyang bikin kacang goreng (bantuin apa mainan ya....)








Selasa, 21 April 2015

Pertemuan Sesaat (Maret 2009 - April 2015)


Hai April...tak terasa sudah hampir memasuki penghujung bulan dan sudah hampir satu bulan aku belum 'mengoceh' lagi di blog-ku ini, dan ternyata juga bulan April aku memang belum membuat catatan apapun sedihnya hiks...hiks...hiks... :(

Okelah untuk catatan pertama bulan ini aku hanya ingin sedikit berbagi tentang pertemuan singkatku kemarin dengan sosok yang namanya lumayan banyak berderet di rak bukuku. Alhamdulillah hari Minggu kemarin tanggal 19 April 2015 Allah memberiku kesempatan untuk bisa bersua kembali dengan Mbak Asma Nadia. Setelah pertemuan terakhirku dulu Maret 2009 saat Mbak Asma mengisi sebuah acara di ITB.

Sejak bulan Pebruari Mbak Asma Nadia memang sudah diagendakan akan mengisi sebuah acara Seminar Remaja di Tegal lebih tepatnya di Slawi namun karena berbagai hal dan juga jadwal yang padat maka waktu pelaksanaan acara beberapa kali di-pending yang akhirnya bisa terlaksana tanggal 19 April 2015 kemarin.

Beberapa minggu sebelum acara panitia menghubungiku untuk bisa ikut mendampingi Mbak Asma Nadia saat dari penginapan menuju ke lokasi acara. Kesempatan yang sangat langka bagiku tak mungkin aku sia-siakan dan langsung saja aku sanggupi dengan satu syarat aku boleh membawa anakku ^_^.

Sabtu, 18 April 2015
Segala sesuatunya sudah kupersiapkan, hari Minggu yang biasanya aku bisa bangun lebih santai tanpa harus terburu-buru ke kantor kini aku harus tetap bangun lebih pagi. Beres-beres dirumah, menyiapkan makanan untuk dirumah dan bekal makanan Disti untuk dibawa. Menurut jadwal dari panitia jam setengah delapan aku sudah harus berada di lokasi acara yaitu di Gedung Yaumi Center. Bagaimanapun sebelum pergi  aku tidak boleh meninggalkan tanggung jawabku sebagai ibu rumah tangga. Bisa ketemu Mbak Asma tapi rumah harus tetap beres,  ok?! ^_^

Minggu, 19 April 2015
Alhamdulillah jam enam kurang aku sudah bisa menyelesaikan semua 'pekerjaan wajib' beres-beres dan menyiapkan makanan untuk sarapan dan makan siang. Jam enam lewat aku coba membangunkan Disti dan menjaga moodnya tetap bagus jadi kita tidak terlambat sampai di lokasi acara. Karena cuaca agak mendung aku tak berani mengendarai motor sendiri sambil membawa Disti akhirnya aku memutuskan untuk naik becak saja karena suami juga baru tidur larut malam sekali jadi aku tak berani mengganggunya. Alhamdulillah kami bisa sampai di lokasi beberapa menit sebelum waktu yang dijadwalkan.

Sambil menunggu panitia siap aku mengajak Disti berjalan-jalan disekitar gedung Yaumi Center sambil mengajaknya sarapan karena tadi dirumah memang baru sarapan sedikit. Dan ternyata ada perubahan rencana, Mbak Asma yang awalnya akan menginap di Hotel Kudus Slawi namun karena sesuatu hal akhirnya menginap di Hotel Rietz Tegal. Waduh! Harus keTegal? Disti mabok nggak nih?!!! *_*

Bismillah...perjalanan menuju Tegal menjemput Mbak Asma Nadia bersama Mbak Puput, Rizal dan Ikes (Ny. Rizal), semoga semuanya aman (terus berdoa dalam hati). Allah memang sesuai prasangka hamba-Nya, aku khawatir disti mabok dan ternyata sesaat sampai di depan pintu Hotel Disti beneran mabok, keluar semua deh hasil sarapan tadi pagi :( untung saja aku sudah mempersiapkan pakaian ganti untuk Disti. Perjalanan langsung dilanjutkan menuju lokasi acara dan Distipun tertidur pulas dan selama perjalanan kami sempat berbincang sedikit tentang Rumah Baca Asmanadia (khususnya RBA Tegal).

Jujur saja aku memang merasa malu, diantara RBA yang lain RBA Tegal memang masih tertinggal dan dengan jujur aku katakan pada Mbak Asma bahwa RBA Tegal masih tergantung dengan Mas Sutono untuk operasional sehari-hari. Dan akhirnya baru aku ketahui bahwa sebenarnya Mbak Asma ingin merekrut Mas Sutono ke Jakarta namun karena RBA Tegal Mbak Asma membatalkan niatnya itu (maafkan aku Mas sutono...).

Pertemuan kami memang tak lama namun semoga dengan pertemuan ini bisa memberi semangat baru bagi kami RBA Tegal dan khususnya untuk aku pribadi. Tantangan seorang perempuan untuk berkarya dan mengaktualisasi diri adalah saat dia sudah masuk kedalam keluarga (menjadi seorang istri dan ibu). Semoga aku bisa lebih memanajemen waktuku lagi dan seperti kata Mbak Asma jangan berhenti menulis dan terus berkarya. RBA Tegal harus terus jalan in sha allah bantuan akan datang dan pesan terakhir Mbak Asma sebelum aku pamit "jangan tambah kurus lagi ya...." hiks...hiks... (aku juga pengen gemuk mbak.....).



*)Terima kasih untuk Rizal (yang biasa kusapa Jajo) yang sudah memberiku kesempatan untuk ikut serta mendampingi Mbak Asma Nadia

Kamis, 19 Maret 2015

Pagi Yang Mengharu Biru


Baru sekarang oh aku rasakan pergi kekantor diiringi tangisan.....*nyanyi modeON

Yap! Pagi ini jadi pagi yang mengharu biru buatku, setelah dua hari kemarin jadi hari yang sulit buat kami (aku dan Disti). Sudah beberapa hari ini Disti memang terlihat agak rewel hingga puncaknya hari Selasa kemarin dia tantrum, sampai-sampai Ibu terpaksa menelponku untuk segera pulang. Sesampainya dirumah aku lihat Disti sedang diemban sama Mbah Kakung sambil terlelap, kata Bapakku Disti baru saja tertidur. Kuraih tubuh mungilnya dan kubaringkan di Kasur, masih terdengar sisa-sisa isak tangisnya. Menatap wajahnya dalam lelap membuat hatiku menangis karena tak bisa selalu disisinya. Ku ambil posisi disamping malaikat kecilku, kupeluk dan kucium dia dan membisikan bahwa aku sangat menyayanginya, walau dia tertidur tapi aku yakin dia mendengarku. 

Sejak bayi Disti memang sangat dekat dengan Atung (panggilan disti buat Mbah Kakungnya), hingga sekarang Disti masih tetap lengket dengan Atung. Terlebih kondisi saat ini Mbah Uti habis kecelakaan sehingga tak bisa menggendong Disti seperti biasa maka otomatis full semua aktivitas Disti ditemani Atungnya. Saya memang sudah mencarikan rewang untuk membantu menemani Disti namun kehadiran Atung yang selalu always ada disampingnnya membuat Disti belum mau digendong sama Bude (panggilan kami untuk rewang yang baru). Seminggu sudah berlalu dan yang terjadi Bude hanya ikut duduk menemani sedangkan semuanya, makan, mandi Disti cuma mau sama Atung. Aku dan ibu merasa kasihan melihat Atung yang 'ga kober istirahat' karena 'ngindangi' Disti yang ga pernah mau diem dan selalu minta ditemani Atung. Akhirnya mulai kemarin keputusan iti diambil, keputusan yang mungkin terasa berat buat Disti karena harus berjarak (sementara) dengan Atung.

Sejak kemarin kami kembali kerumah kidul (rumah orang tua suamiku) kebetulan Eyangnya juga sudah kembali dari Jakarta sehingga saat aku ke kantor Disti Masih ada yang mengawasi. Tujunannya agar Disti lebih dekat dengan Bude dan Atung bisa punya waktu untuk sekedar istirahat sejenak dan bisa fokus merawat Mbah Uti yang sedang sakit. Dan sejak kemarin pula siang hari aku tidak pulang kerumah untuk mengurangi frekuensi Disti mimi ASI. Menurut Bude jika Disti sudah disapi InsyaAllah ga akan rewel tapi aku tetap belum mau memakai paihit-pahitan untuk menyapih Disti biar semua berjalan atas kemauan Disti dan tanpa paksaan. Toh sebenarnya saat aku tidak berada dirumah Disti juga tidak merengek minta ASI, memang Disti hanya minta 'nenen' kalau bundanya nyanding dirumah. Tadinya memang kami sudah berencana Disti akan ikut Mbahnya sementara ke Cirebon sekaligus sebagai usaha proses menyapih namun Allah berkehendak lain dan mungkin ini masih rejekinya Disti jadi masih bisa mimi ASI.

Dan tadi pagi, hingga kau akan berangkat ke kantor Disti masih terlelap karena kemarin Disti tidak tidur siang dan malam sempat terbangun maka pagi ini aku putuskan untuk tidak membangunkannya. Eyangnya (mertuaku) juga menyuruhku kekantor saja biar Disti mandi dengannya. Namun baru beberapa langkah aku keluar dari kamar ternyata Disti terbangun dan menangis minta nenen, akhirnya aku beri ASI dulu sebentar. Awalnya Disti sudah mau saat kupamiti untuk berangkat ke kantor tapi tiba-tiba Disti kembali tantrum. Ku gendong dia keluar kamar dan sempat diam sejenak namuan saat kuserahkan dia ke Eyangnya Disti kembali tantrum, saat itu Bude yang juga baru datang ikut berusaha menenagkan Disti. Sebenarnya tak tega berangkat ke kantor dengan kondisi seperti ini, aku yang biasa kekantor diiringi senyuman dan lambaian tangan Disti sambil beraucap "ati-ati nda..." kini harus berangkat dengan diiringi tangisan.

Disti maafkan bunda, nanti sore bunda pulang ya sayang. Bunda tetap dan akan selalu menyayangimu malaikat kecilku.

Selasa, 10 Maret 2015

Ini Kehendak-Mu (kado ulang tahunku)


Belum lama ini aku kembali diingatkan oleh Allah SWT bahwa manusia hanya bisa berencana dan sepenuhnya hanya Allah yang menentukan.

Siang itu seperti biasa hari Sabtu setelah selesai melakukan pekerjaan rumah aku dan Disti main ke rumah mbah (orang tuaku) karena dirumah juga sepi dan jarak dari rumah kami juga sangat dekat. Planning hari itu ingin membuat kue bersama Ate Eni (panggilan Disti pada adikku). Namun ternyata samapi disna hanya ada mbah atung yang sedang mencuci mobil, mbah uti sedang mengantar ate perpanjang SIM dan sekalian ke Tegal untuk beli tiket travel pulang ke Bandung. Aku lupa tepatnya jam berapa yang pasti saat itu rasanya tulang ini seperti dilolosi saat mendengar kabar bahwa mbah Uti dan ate mengalami kecelakaan di daerah Debong dan yang lebih sedih ternyata lutut sebelah kanan mbah uti patah dan harus dioperasi, lemes deh... Aku yang sedang membuat kue bersama Disti langsung ga konsen dan berusaha terus memantau perkembangan mbah Uti. Masih bersyukur bahwa ate masih baik-baik saja hanya memar-memar.

Kurang lebih delapan hari Mbah Uti Harus dirawat di RSI PKU Muhammadiyah Singkil karena mbah uti nggak bisa langsung dioperasi menunggu tensi dan kadar gula darah normal. Alhamdulillah hari minggu kemarin mbah Uti sudah bisa kembali kerumah dan tinggal latihan untuk bisa berjalan normal kembali. Untuk sementara mobilitas mbah Uti memang terbatas dan ini menjadi tugas dan tanggung jawab kami untuk merawat Mbah Uti, bersama Bapak dan adikku kami saling menguatkan demi memberi semangat juga untuk Mbah Uti bahwa jika Allah mengijinkan pasti bisa pulih seperti sediakala.

Beruntung pula aku memiliki anak yang nurut (makasih Disti sayang) dan suami yang mau mengerti kondisiku saat ini sehingga aku bisa merawat ibuku. Mungkin untuk sementara waktu aku akan lebih sering tinggal dirumah orang tuaku namun sebiasa mungkin tak meninggalkan tugas dan kewajibanku sebagai istri dan ibu. Alhamdulillah lagi sekarang udah ada Bude Inah yang mau membantu dirumah orang tuaku jadi aku bisa tetap kekantor dengan tenang karena selam ibu durumah sakit kemarin aku nggak bisa fokus dikantor. Terima kasih atas pengertian teman-teman dikantor yang mau membantu menghandle pekerjaanku selama aku ijin beberapa hari.

Lama juga nggak online dan ternyata di FB banyak sekali ucapan selamat ulang tahun dari teman dan saudara, jujur aku sendiri sampai lupa ulang tahunku karena khawatir melihat kondisi ibu. Inilah kado'INDAH' di 29 tahun usiaku, Allah ingin kembali mengingatkanku walau dengan cara yang cukup membuat hati ini menangis. Allah ingin kami dan khususnya aku lebih dekat lagi pada-Nya, semoga aku pribadi bisa mengambil hikmah/ pelajaran dari peristiwa ini.

Semua rencana minimal enam bulan kedepan kini harus dievaluasi ulang, In sya Allah Allah sudah mempersiapkan skenario yang lebih indah. Aamiin

Kamis, 26 Februari 2015

Leher Pegel, ngeblog dulu yuk!


Waktu menunjukan pukul 01.58 Waktu Hp Saya...

Simpeg sedang dalam maintenance jadi baru bisa digunakan lagi minggu depan, usulan karpeg/ karis/ karsu baru mulai masuk lagi jadi ngoreksinya sekalian aja nanti. Tadi pagi udah posting pengumuman di websiote kantor sesuai dengan perintah Kabidku. Berhubung bady lagi agak kurang fit jadinya ngeblog dulu deh hehehe....^_^

Semalem kurang lebih jam setengah delapan malam akhirnya sampai juga di depan komplek rumahku dan suami sudah menanti di pos satpam sambil 'bikin iga bakar' (merokok) kapan ayah tobat??? langsung deh cabut kerumah ortu karena Disti memang tidur sama Atung dan Uti selama bunda pergi ke Semarang. Kulihat raut wajah Disti yang sumringah melihat aku datang 'aneka grembolan' serasa semua lelah luntur melihat senyum imut anakku. Berasa aneh atau entahlah terlihat sikap Disti yang salting dihadapanku, sambil sejenak meluruskan kaki yang seharian ditekuk aku menanyakan kegiatan Disti selama ditinggal bunda, dia juga senang membuka beberapa jajan yang sengaja aku beli sebagai oleh-oleh. Sebenernya bingung juga saat beli oleh-oleh karena semua makanan yang dipajang juga ada di Tegal tapi biar judulnya beli oleh-oleh jadilah beli sekedarnya saja. Malam itu saking capenya aku minta ijin suami untuk menginap dirumah ortu dan pulang besok pagi-pagi saja (padahal deket sih cuma berapa gang). Alibi juga sih karena feelingku mengatakan keadaan rumah pasti berantakan jadi daripada cape2 lihat rumah berantakan mending pulang besok pagi aja wkwkwkwk.......:D

Kemarin lusa aku memang harus pergi ke Semarang untuk mengikuti Ujian Kenaikan Pangkat Penyesuaian Ijasah di GOR JatiDiri Semarang. Sebenernya tega ga tega ninggalin Disti tapi memang harus tega sekaligus latihan disapi juga jadilah Disti ku titipkan sama Atung dan Uti (ortuku) karena Eyangnya juga sedang di Jakarta. Walau cuma pergi sehari semalam tapi perasaan persiapannya riweuh banget terutama persiapan untuk meninggalkan Disti dan tentunya Ayahnya. Pesan-pesanku juga sudah kuulang-ulang pada suamiku (mungkin dia pikir cerewet amat atau ga percaya amat sih) biarlah yang penting pesanku tidak ada yang terlewat meski pada kenyataannya tidak semua dilaksanakan. Ayah, bunda titip Disti ya... Atung, Uti titip Dede ya.... Distipun ikut melepas kepergianku ke Semarang, kata Disti "Unda anik Bis...".

Dan hari ini aku harus tetap masuk kantor walau leher rasanya pegel bangetzzzz, efek ngerjain soal di GOR dengan posisi ndingkluk. Kepala juga masih nyut...nyut... padahal AC di bis dah dimatiin, badan masih berasa pegel pokoke. Ya....tapi dari semua itu aku masih sangat bersyukur bisa mengikuti ujian dengan lancar, urusan hasil itu urusan Allah sekarang tinggal berdoa setelah berusaha semampuku. Semoga aku dan teman-teman semua bisa lulus UKPPI, aamiin.....

Senin, 16 Februari 2015

Edisi Weaning With Love (Campur Aduk Rasanya)


Beberapa hari ini Disti mengalami perubahan jam, yang biasanya ba'da maghrib sekitar jam 7-8 malam sudah terlelap sekarang bisa sampe jam 10 masih ON dan yang bikin bundanya terkantuk-kantuk Jam 2 malam bangun dan ngajak main masak-masakan atau lainnya. Perubahan ini tentunya berimbas pada aktivitasku juga, biasanya setelah ngeloni Disti ba'da isya aku bisa mengerjakan pekerjaaan rumah yang sudah menunggu dibelakang untuk dibereskan. Cuci piring, cuci/ setrika baju, nyiapan bahan untuk menu besok, dll yang paling lama jam 11-12 sudah bisa kelar. Nah sekarang, tidurnya saja sudah malem kapan dong bunda beres-beresnya??? 

Sedangkan selama masih ON (belum tidur) Disti inginnya bermain bersama Bunda dan memang aku juga berusaha menyelesaikan pekerjaan rumah saat Disti tidur. Bukan apa-apa aku sadar bahwa waktuk efektifku bersamanya memang sangat terbatas yang kalau dihitung-hitung ga nyampe 6 jam (maafkan bunda ya...). Maka dari itu sebisa mungkin aku berusaha memanfaatkan waktu kebersamaan kami apalagi saat aku libur dan bisa lebih lama bersama Disti.

Dan setelah kuperhatikan dan kuamati akhirnya aku sampai pada sebuah kesimpulan bahwa perubahan jam tersebut dimungkinkan karena saat ini Disti sedang melalui masa-masa sulit. Yap! usia Disti sudah genap 2 tahun dan inilah saatnya penyapihan yang mungkin bagi Disti terasa seperti perpisahan. Sebenernya akupun tak tega tapi memang sudah saatnya dan sudah kuniatkan dalam hati bahwa ku ingin menyapihnya dengan BAHAGIA tanpa paksaan. Dan setelah googling dan membaca berbagai artikel tentang Tip menyapih, berikut ini salah satu artikel yang aku dapat dari website 'ayahbunda' dan sedang berusaha aku praktikan.

(Sumber: http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/kelahiran/tips/tips.menyapih.dengan.cinta/001/005/575/1/1)
Kerelaan Anda dan si bayi untuk mengakhiri kegiatan menyusu adalah kunci utama dari menyapih dengan cinta atau weaning with love

Kalau ada anjuran, olesi saja daerah areola Anda dengan buah mengkudu atau obat merah agar bayi tak ingin menyusu, abaikan saran ini. Menyapih anak dengan cara ini sama dengan melakukan kekerasan padanya. Anda mengambil paksa 'kepemilikannya', yang dapat menimbulkan luka batin. Lakukan sepenuh cinta dengan langkah-langkah ini:
  1. Kurangi frekuensi menyusui secara bertahap dimulai pada siang hari. Sebab pada saat inilah waktu yang tepat untuk mengenalkan dia pada sesuatu yang baru, seperti rasa, bentuk dan tekstur pada makanan pendamping ASI (MP-ASI).
  2. Tambah pemberian MP-ASI sebanyak 3-4 kali sehari untuk mengurangi pemberian ASI pada siang hari.
  3. Tetapkan tempat menyusui hanya pada satu tempat, misalnya di kamar. Gunanya agar si kecil tidak meminta susu di sembarang tempat sekaligus mengajaknya untuk belajar mengenal aturan.
  4. Tunjukkan perhatian dan kasih sayang selama proses menyapih, misalnya mendekap, mengusap atau mencium agar anak tahu bahwa Anda tetap menyayangi dia meski Anda sudah tidak menyusuinya lagi.
  5. Bulatkan tekad. Artinya Anda benar-benar siap untuk melepaskan aktivitas ini. Bila Anda ragu-ragu, Anda akan kesulitan sendiri. Keraguan Anda terbaca oleh anak. Alhasil, anak pun tidak rela disapih.
  6. Sapih anak saat ia dalam keadaan sehat, karena dalam keadaan sakit ia akan semakin butuh kelekatan dengan Anda. 
  7. Libatkan suami sebagai orang yang mampu menghibur dan mengalihkan perhatian anak ketika rewel minta ASI.
  8. Berikan penjelasan pada anak mengapa ia harus disapih. Misalnya, “Ayo, kamu sudah besar, sudah tidak perlu lagi menyusu bunda. Makan kue saja yuk. Atau minum susu di cangkir?” Lakukan dengan sabar, lembut dan cinta Anda. Jangan pernah bosan untuk memberikan alasan padanya.
  9. Ganti aktivitas menyusu dengan membaca buku atau mendongeng sebelum tidur. Aktivitas ini tidak jauh berbeda saat Anda menyusuinya bukan?
Ada aturannya? Pernyataan WHO dan UNICEF di Geneva pada tahun 2001, “Tidak ada keharusan anak disapih pada usia 2 tahun. Benar bila ibu menyusui bayi secara eksklusif di enam bulan pertama kehidupannya. Kemudian ASI dapat dilanjutkan secara bersamaan dengan MP-ASI hingga anak berusia 2 tahun. Tapi tidak ada keharusan kapan harus menyapih.” Penelitian Dewey KG, Pediatric Clinics of North American, tahun 2001, ASI masih boleh diberikan pada anak usia 2 tahun karena masih mengandung: 43% protein, 36% kalsium, 75% vitamin A, dan 60% vitamin C.

Semoga artikel diatas bisa jadi referensi buat para bunda yang juga sedang mengalami hal serupa, semoga akupun bisa menyapih Disti dengan CINTA (luv u my little angle)
 

Senin, 09 Februari 2015

Bahagia yang sederhana...


Bahagia itu sederhana, bahagia itu dekat (dalam hati kita) hanya saja kita yang sering kali tidak menyadari kebahagiaan yang sederhana itu karena terlalu fokus pada arti kebahagiaan yang 'terlalu perfeksionis'.

Alhamdulillah aku masih diberi kesempatan merasakan kebahagiaan yang sederhana itu, Sabtu kemarin 7 Februari 2015 ratu kecilku Adistia Azkadina Mufidah tepat berusia 2 tahun (ga terasa memang...). Sejak aku menyadari keberadaannya di dalam rahimku maka sekali lagi kubuktikan bahwa Allah Maha Adil, aku merasa sangat beruntung karena tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk 'merayu-Nya' agar memberikanku peri kecil yang kini selalu menceriakan hariku.

Sungguh tak terasa sudah dua tahun kami melewati hari-hari bersama, sudah banyak cerita yang kami ukir dan aku hanya berharap Allah selalu menyematkan kebahagiaan disetiap kebersamaan kami, kebahagiaan yang sederhana. Kini ada Disti yang menemaniku saat menunggu Ayah yang harus pulang hingga larut malam. kini ada Disti yang selalu jadi penenang saat lelah dan penat menyerang, menyiummu seperti mencium aroma terapi. Kini ada Disti yang selalu jadi penyemangat saat kaki ini seperti berat untuk melangkah, senyumu seolah berkata "ayo bunda jangan menyerah". Kini ada Disti yang selalu membuatku tertawa dengan segala macam tingkahnya yang tak terduga.

Disti...Cintanya bunda
Disti...Sayangnya bunda
Disti...Cantiknya bunda
Disti...Bahagianya bunda
Terima kasih sayang untuk segalanya, kehadiranmu membuat bunda merasa sangat berarti. Semoga kamu kelak selalu menjadi qurrota a'yun bagi ayah dan bunda.



Selasa, 27 Januari 2015

Take a deep breath (Kutahan amarahku)



Kemarin tak sengaja saya menemukan sebuah artikel yang menurut saya pribadi cukup mengena. Sebagai istri tentunya kitapun hanya perempuan biasa yang juga kadang terbawa emosi dan 'bisa marah'. Suami juga bukan lelaki sempurna yang sikap dan tutur katanya selalu menyenangkan hati kita para istri. Sebagai pasangan suami istri kami juga kadang terpancing emosi jika ada sikap dan atau tutur kata pasangan yang kurang 'sreg' dihati atau bahkan menyakitkan hati. Namun setelah membaca artikel ini setidaknya saya akan lebih berusaha mengontrol emosi, bukankah sebagi perempuan sebaiknya kita memiliki hati yang jauuuuuuuuh lebih lapang agar bisa lebih sabar :)

Berikut artikel ini saya copas dari: http://www.kabarmuslimah.com/kutahan-amarahku-suamiku/

Suatu hari, dua orang wanita yang bersahabat saling bertemu dan bertukar cerita. Salah satu dari mereka lalu mengungkapkan rasa penasarannya bahwa sahabatnya terlihat sangat jarang sekali marah kepada sang suami, atas bagaimanapun perlakuan yang diterimanya.Lalu sang sahabat berkata….Ketika kemarahan itu sudah sampai diubun-ubun, lalu aku masih menahannya dan mencoba tetap mendidik diriku untuk tetap mengingat, betapa jasanya yang dalam himpitan kesusahan, lelah dan penat, dia berusaha mencukupi nafkah untuk aku dan keluargaku. Dan tidak jarang pula, akhirnya dia melupakan perawatan atas dirinya sendiri. Aku seperti halnya kamu, adalah seorang wanita yang diciptakan lebih lemah dari pada lelaki. Dan saat kelemahanku itu hadir dan mengusik mereka, seribu satu kemakluman beliau hadirkan untuk tetap mengerti kekuranganku sebagai wanita. Terkadang keegoisan kami sama-sama datang, namun naluri mengalahnya atas perempuan manja yaitu aku, akan segera dimunculkan olehnya. Direngkuhnya aku dan terucaplah perkataan maaf. Dan, dari disanalah perdamaian kami tercipta. Dan kamipun semakin bertambah mesra.Tapi….Tidak jarang pula, ketika rasa “keunggulannya” sebagai lelaki hadir dan membuatnya sedikit terbawa dalam ego, hal itu memang membuatku sedikit sakit hati, yah aku kan hanya manusia. Namun kesempatan itu tidak aku sia-siakan, aku tata batinku sedemikian rupa sehingga aku terlihat menyenangkannya dalam luasnya hatiku menerimanya. Aku yakin, Allah yang Maha melihat akan lebih ridho kepadaku saat itu.

Saat tiada teman berbagi, dialah yang menyediakan pundaknya yang kuat untukku menangis. Kekuatan pikiran dalam logisnya dia berpikir, yang jelas-jelas memang lebih kuat dari pada aku, akhirnya memberi ruang bagiku sejenak untuk merasa nyaman dan terlindungi. Sekuat-kuatnya wanita didunia ini, tapi sesuai dengan fitrahnya, wanita tetap dan pasti akan merasa butuh diayomi oleh laki-laki.
Rasanya tiada teman yang paling pantas aku akrabi selain suamiku. Dan memang sebagai manusia biasa, dia tidak akan lepas dari kekurangan, seperti halnya aku. Lalu setelah semua itu aku sadari, untuk alasan apalagi aku harus menuntutnya menjadi sempurna? Dan dalam keterbatasan serta kekurangannya sebagai manusia, masih pantaskah aku menuntutnya untuk harus selalu berlaku dan memberi lebih kepadaku? Dan bukan berarti aku merendahkan diriku sendiri atasnya, namun… dengan kalimatku ini, aku mencoba sadar diri, betapa aku mempunyai banyak kekurangan sebagai wanita. Dan dia tetap memilih aku, dan memutuskan untuk menghabiskan sisa waktu hidupnya denganku, membimbing, mengayomi, dan menafkahi aku. Lalu… berilah aku satu alasan, dari celah mana aku bisa tetap beralasan untuk tidak bisa menahan lidahku atas suamiku?

Dengan menahan kemarahanku padanya, insyaAllah akan memberi gambaran jelas tentang diriku, istrinya, yang sebenar-benarnya. Jika aku selama ini belum dapat membuatnya bangga, mungkin saat inilah yang tepat bagiku mengukir kenangan yang dapat membanggakannya. Membuatnya bangga bahwa aku adalah istri yang dapat tetap mengertinya, bahkan dalam keadaan marah sekalipun. Setelah itu, aku yakin dia akan berkata pada hatinya, bahwa dia bersyukur telah meletakkan pilihan atas separoh hidupnya kepadaku.
Dan apakah kau tahu, bahwa suamiku adalah ladang amal yang InsyaAllah akan membawa ku kepada surga Allah yang abadi. Keridhoannya adalah kunci pembuka pintunya, dan mengalah sedikit bukan berarti menjadi budaknya, namun sikap sabar itu yang justru akan memuliakan kita dihadapannya.

Maka, aku belajar untuk tidak merelakan hidup dan hatiku diatur oleh rasa. Rasa amarah, rasa benci, dan apapun yang justru akan membelokkan fokusku dari menghimpun pahala dari sang maha kuasa. Maka dari itu pula, aku ingin mencintai suamiku karena Allah. Hanya karena Allah saja. Jadi setiap kali aku marah kepadanya, aku akan kembali mengingat Allah dan mengingatnya hanya sebatas manusia yang penuh dengan kekurangan, seperti halnya aku. Hal itu yang menjauhkanku dari penghakiman apapun atas suamiku. Setelah itu, betapa hanya keteduhan yang akhirnya memenuhi hatiku, dan hilanglah amarahku.

Dari Ibnu Umar ra. berkata, Rasullullaah SAW. Bersabda :
“Setiap orang di antaramu adalah penanggung jawab dan setiap orang diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya, seorang imam adalah penanggung jawab atas umatnya, ia diminta tanggung jawab atas kepemimpinannya, seorang suami penanggung jawab atas keluarganya, ia diminta tanggung jawab atas kepemimpinanya, seorang istri penanggung jawab atas rumah tangga suaminya (Bila suami pergi), ia diminta tanggung jawab atas kepemimpinanya.“ ( HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi )

Semoga artikel diatas bisa bermanfaat dan bagi yang tidak berkenan mohon maaf, saya hanya ingin mengingatkan diri saya pribadi. Dan masih berkaitan dengan menahan amarah ditegaskan pula oleh beliau Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya: “Orang hebat bukanlah orang yang selalu menang dalam pertarungan. Orang hebat adalah orang yang bisa mengendalikan diri ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rabu, 14 Januari 2015

Untuk para Manajer Keuangan keluarga


Sebagai seorang istri kita harus bisa jadi manager keuangan yang 'hebat' kalau tidak mau 'perusahaan' kita gulung tikar. Berapapun penghasilan rumah tangga kita harus mampu dikelola dengan baik, baik sumbernya berasal dari satu pintu (hanya suami yang bekerja) atau dua pintu (sumai istri bekerja) tetap harus ada pengelolaan yang baik dari sang manager keuangan. Sejak sebelum menikah saya sendiri sudah sering membaca buku maupun artikel mengenai bagaimana mangatur keuangan keluarga dan semuanya memiliki versi yang berbeda dan kita bisa mngadopsinya sesuai kebutuhan. Berikut ini sedikit berbagi saja dari salah satu artikel yang pernah saya baca.

 Mengatur keuangan rumah tangga memang sudah biasa bagi yang mengerti ilmunya. Namun, bagi yang awam finansial, mengatur gaji supaya cukup untuk kebutuhan sebulan dirasa sangat sulit. Berapapun gaji Anda, memiliki kemampuan untuk mengelolanya adalah lebih penting, sehingga kebutuhan Anda tercukupi dan Anda tidak merasa pusing.

Oleh karena itu, ada baiknya Anda menyimak 7 tips mengelola gaji berikut ini, supaya Anda lebih paham dan lebih bijak bagaimana mengelola gaji Anda. Semoga bermanfaat!


1. Patuhi Anggaran Belanja Rumah Tangga
Mengelola keuangan didahului dengan pembuatan anggaran belanja yang jelas. Rencana keuangan ini dapat disesuaikan dengan keadaan masing-masing rumah tangga dan tentunya berapa jumlah gaji Anda. Usahakan, pengeluaran tidak lebih besar dari pendapatan (walaupun pada kenyataanya, seringkali total pengeluaran kita selalu lebih besar dari pemasukan).

Jika sudah membuat anggaran belanja, usahakan untuk mematuhinya. Anda harus berkomitmen untuk mematuhi apa yang sudah Anda susun sendiri, sesuai dengan pos-pos yang telah diibuat.

Menurut Ahmad Ghozali, alokasi dana untuk “menghabiskan” gaji secara ringkas adalah sebagai berikut:

    Zakat, infaq dan sedekah 2,5% hingga 10%
    Melunasi/cicilan hutang maksimal 30%
    Saving, investasi, asuransi 10%
    Sisanya 50-70% (jika hutang Anda sedikit) bisa Anda habiskan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

2. Pisahkan Rekening Belanja dan Tabungan
Minimal, bukalah 2 rekening bank yang berbeda yang berfungsi sebagai rekening transaksi dan satunya lagi sebagai rekening tabungan. Untuk Rekening transaksi, Anda bisa menempatkan uang belanja Anda untuk digunakan sewaktu-waktu. Namun, khusus untuk rekening tabungan, usahakan rekening yang “sulit dicairkan”. Anda bisa menyimpannya di rekening bank tanpa ATM dan tak berbiaya (seperti TabunganKu) atau menginvestasikannya dalam bentuk emas. Tujuannya adalah agar Anda tidak tergoda untuk mengotak-atik rekening tabungan Anda secara bebas.


3. Biasakan Sedekah dan Menabung di Awal
Salahs atu kesalahan dalam mengelola keuangan rumah tangga adalah tidak memerhatikan cara bersedekah dan menabung yang benar. Biasakan untuk mengeluarkan sedekah di awal, supaya gaji yang Anda terima menjadi berkah dan “dicukupkan” oleh Allah Allah SWT sampai akhir bulan. Banyak dari kita yang tak memerhatikan ini sehingga berkah gaji pun tak dapat dirasakan. Jangan hanya “menyisihkan”, namun betul-betul keluarkan dengan niat yang benar.

Begitu pula dengan menabung, langsung potong gaji Anda dan masukkan ke rekenig tabungan sejak awal. Menabung di akhir hanya akan membuat Anda tak memiliki tabungan selamanya.


4. Lunasi Hutang dan Cicilan

Jika Anda memiliki htang baik berupa cicilan rumah, kendaraan, maupun kartu kredit, segera sisihkan dana maksimal 30% dari pendapatan Anda untuk pos pengeluaran ini. Jangan sampai Anda terlena sehingga hutang makin mengggunung tanpa Anda sadari. Ingat, hutang wajib dibayar, meskipun Anda sudah meninggal. Segerakan membayar hutang.


5. Catat Pengeluaran dengan Tertib
Hal ini mungkin agak sulit dilakukan, namun cobalah belajar untuk mencatat setiap pengeluaran Anda sekecil apapun. Dengan rajin mencatat pengeluaran, Anda akan tahu kemana uang gaji Anda mengalir.


6. Bersikap Hemat
Untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga dengan gaji yang minim (atau tetap), maka diperlukan kreativitas dan sikap hemat pada seluruh anggta keluarga. Sikap Hemat akan membuat kita dapat lebih menghargai uang yang kita peroleh dengan susah payah. Berhemat juga merupakan sikap yang baik, sehingga kita tidak terjerat utang konsumtif yang akan berujung pada penderitaan dan penyesalan.


7. Cerdas Menggunakan Kartu Kredit
Sebagian orang membutuhkan kartu kredit untuk kelancaran bertransaksi. Membayar belanja online, misalnya. Namun, mengingat kartu kredit dapat menjerumuskan Anda pada konsumerisme, sebaiknya Anda bijak dalam menggunakan kartu kredit. Bila tak mendesak, jangan pernah menggunakan kartu kredit, supaya gaji Anda tak digerogoti “hantu” kartu kredit ini.

(sumber: http://www.fimadani.com/ini-dia-7-tips-mengelola-gaji/)

Itu tadi sedikit tips yang bisa dibagi, alhamdulillah saya sendiri sejak smp sudah diberi kepercayaan untuk mengatur sendiri keuangan pribadi dengan mulai diberi uang saku per-minggu kemudian terus meningkat per-bulan hingga kuliah dan dengan jumlah yang bisa dibilang lebih sedikit dari uang saku teman-teman saya pada umumnya. Jadi setelah bekerja dan sekarang berumah tangga Insyaallah berapapun penghasilan keluarga kami insyaallah tidak terlalu sulit mengaturnya walau kadang harus lebih berhemat dan prihatin, yang penting kebutuhan utama tetap tercukupi.

Dan perlu diingat berapapun penghasilan kita ada unsur 'keberkahan' yang kadang tidak kita sadari dimana meski penghasilan dirasa sedkit tapi Insyaallah ada Allah SWT yang akan mencukupkan karena kalkulator manusia tidak sama dengan kalkulator Allah. Semoga kita selalu didekatkan dengan pekerjaan dan orang-orang yang mendekatkan kita pada-Nya sehingga Allah SWT selalu memberkahi rizki yang Allah berikan pada kita dan keluarga kita. Aamiin

Selasa, 13 Januari 2015

Siapa yang menyebabkan aku disini?! (Part 1)*



27 Oktober 2009
Aku masih yakin apapun dan bagaimanapun, semua yang terjadi dimuka bumi ini sudah diatur sedemikain rupa oleh-Nya…
***
Hari ini, sebuah pertanyaan berkecamuk dalam hatiku. Pertanyaan yang mungkin sudah lama ada dipikiranku namun sudah lama pula mengendap karena kuberusaha tak memikirkannya. Benarkah keberadaanku “disini” hanya karena Allah?
Kuseret kembali ingatanku ke satu tahun silam, ya kurang lebih satu tahun yang lalu sebelum kuberada ditempatku saat ini. Aku memang telah berjanji dalam hatiku sendiri bahwa akan melakukan apapun demi membahagiakan kedua orang tuaku, ku yakin hal yang sama juga pasti dilakukan oleh sebagian besar mereka yang sangat menyayangi kedua orang tuanya. Dan satu tahun yang lalu janjiku kembali dipertanyakan, mereka memintaku kembali kerumah dan bekerja saja didaerahku. Kebetulan saat itu sedang ada seleksi CPNS di daerahku dan keinginan terbesar kedua orang tuaku adalah aku mau mengikuti seleksi tersebut. Bekerja dilingkungan swasta memang tak ringan namun saat itu aku sedang benar – benar menikmati pekerjaanku yang belum genap satu tahun itu. Haruskah aku mengingkari janjiku?
Konflik batin tak elak aku alami yang membuatku benar – benar bimbang. Antara egoku dan keinginan membahagiakan kedua orang tua berusaha memperebutkan perhatianku. Hingga akhirnya janjikulah yang menang. Aku sadar hingga detik ini belum bisa memberikan apapun untuk menggantikan semua kasih sayang dan perhatian kedua orang tuaku hingga aku seperti ini. Mungkin dengan mengikuti kemauannya itu bisa jadi sedikit jalan bagiku untuk membalas semua pengorbanannya. “Apa sih susahnya ikut tes? kalo ga lulus toh saat ini aku juga sudah bekerja” itu yang ada dibenakku. Meski ternyata tak mudah juga karena aku harus “kucing – kucingan” dengan atasan dan teman – teman ditempatku bekerja, diswasta memang aturannya cukup ketat terlebih kontrakku juga belum genap satu tahun.
Allah mendengar doa kedua orang tuaku…aku lulus dan diterima bekerja di lingkungan pemerintah daerah tempat tinggalku. Betapa bahagianya bapak dan ibu mendengar berita itu, bagaimana denganku? Perasaanku biasa saja, tidak ada luapan kebahagiaan yang aku ekspresikan selain ucapan syukur karena aku masih diijinkan mengukir senyum bahagian diwajah kedua orang tuaku. Dengan didukung alasan bahwa orangtuaku ingin aku pulang, akhirnya atasan di tempat lamaku berkerja mengijinkanku mengundurkan diri meski belum menyelesaikan kontrak.
***
Selang satu setengah bulan setelah kumengundurkan diri, akhirnya kumulai bekerja dikantorku yang baru. Sungguh lingkungan kerja yang jauh berbeda dengan tempat kerjaku dulu dimana lingkungannya benar – benar kondusif dan “terjaga”. Sekarang kuharus mulai beradaptasi lagi dilingkungan yang lebih heterogen. Sampai akhirnya aku muali menyadari satu hal yang mungkin ini akan membuat orang lain berpikir “miring”. Bapakku pensiun kurang lebih satu setengah bulan setelah aku mulai aktif bekerja dikantor yang baru yang kebetulan kantor yang sama dengan tempat bapakku bekerja. Beberapa kalimat dengan nada negatifpun beberapa kali mampir ditelingaku. Aku memang sudah mempersiapkan diri mendengar kalimat – kalimat itu saat ku tahu bahwa aku akan ditempatkan satu kantor dengan bapakku. Namun yang ada dibenakku bahwa masalah penempatan bukan wewenang bapakku, apalagi bapak juga bukan siapa – siapa. Aku tahu pasti bapakku bukan pegawai yang suka “macem – macem”, bahkan ada yang bilang bahwa bapakku itu 'kelempengen'.
Hari ini, setahun kemudian aku bukan lagi berada diposisi peserta seleksi melainkan panitia seleksi. Dan siang tadi saat rapat kordinasi dan ada beberapa pertanyaan yang dilontarkan mengenai system seleksi, pertanyaan yang sudah lama mengendap itu muncul lagi. Benarkah keberadaanku “disini” hanya karena Allah? 

*)Catatan lama yang baru sempat posting (bersambung......)

Melayani dan Memaafkan (Dari Episode Terakhir CHSI)

Melayani bukan menuntut, memaafkan bukan menyimpan dendam (kurang lebihnya begitu), bagi penggemar sinetron CHSI pasti inget kata-kata ini. Itulah kata-kata terakhir yang diuacapkan Hana sebelum sinetron yang diangkat dari Buku Mba Asma Nadia itu berkahir.

Aku sendiri sebenarnya bukan penggemar berat sinetron tapi karena ibu mertua yang sebisa mungkin selalu nongkrongin itu sinetron jadi mau nggak mau kadang jadi ikutan nonton deh. Tapi waktu episode terakhir aku tak sengaja sedang mengganti chanel tv karena kebetulan ibu sedang menginap dirumah adik iparku (bebas deh ganti-ganti chanel). Aku hanya kabagian ujung ceritanya dan sempat dikomentarin suami gara-gara aku bilang "wah alamat bubar nih kalau Karin sudah tobat" dan ternyata memang bener episode terakhir.

Kembali ke kata-kata Hana Sasmita yang diperankan oleh Dewi Sandra yang kini sudah memutuskan berhijab, "Melayani bukan menuntut, memaafkan bukan menyimpan dendam". Hingga tulisan ini aku buat aku masih terus merenung, sejauh pernikahan kami apakah aku sudah cukup dalam mealayani suami atau justru suami merasa aku terlalu banyak menuntut? Apakah aku sudah benar-benar bisa memaafkan setiap kesalahan suami atau hanya berusaha mengabaikannya yang tidak menutup kemungkinan bisa menyimpan dendam? Jawabannya mungkin hanya Allah dan hati kecilku yang tahu.

Sebagai seorang istri aku juga perempuan normal seperti istri pada umumnya yang juga memiliki keinginan-keinginan terhadap suaminya namun apakah keinginan-keinginan itu berubah jadi tuntutan-tuntutan? maafkan aku ya Allah yang masih terlalu banyak menuntut tanpa sadar bahwa diri ini masih belum banyak memberi dan melayani keluargaku (suami dan anakku). Semoga kedepannya aku bisa benar-benar melayani keluargaku sebagai istri dan ibu tanpa pamrih kecuali ridho Allah SWT semata.

Tak ada manusia sempurna dan tak ada manusia yang tak pernah berbuat salah begitu juga antara pasangan suami istri. Perempuan sebagai istri dan ibu memang harus menyiapkan hati seluas telaga yang mampu menetralisir seberapun banyak 'garam' yang dimasukan kedalamnya. Memaafkan setiap kesalahan dan rasa sakit yang pernah tertoreh dihatinya baik dari orang terdekat sekalipun dan membuangnya jauh hingga tak tersisa dendam sedikitpun.

Semuanya bukan pelajaran  yang bisa diselesaikan hanya dalam hitungan seperti pendidikan dibangku sekolah tapi semuanya adalah pelajaran seumur hidup yang terus berproses untuk lebih baik dan lebih baik lagi. Untuk semua sahabat dan saudariku sesama istri dan ibu semoga kita bisa terus melayani keluarga kita dengan sebaik-baiknya hingga Allah SWTyang 'memberhentikan' tugas yang mulia ini. Dan juga mampu memafkan setiap titik kesalahan yang telah merekan torehkan dihati kita dengan selapang-lapangnya dada.

Dengan mengingat kembali tujuan awal kita saat mantap melangkahkan kaki memasuki gerbang pernikahan hanya untuk meraih ridho Allah SWT, Insyaallah akan memperingan langkah kita. Insyaallah ( Wallahu A'lam Bishawab )

Kamis, 08 Januari 2015

Alhamdulillah... (Catatan Pertama 2015)

Ini catatan pertamaku di 2015

Alhamdulillah....
Kemarin 7 Januari 2015 tepat 23 bulan Adistia Azkadina Mufidah jadi kurang satu bulan lagi tepat 2 tahun, waktunya untuk belajar menyapih meski ga tega dan bakalan kangen masa-masa 'asi'. Sekarang nafsu makan Disti sedang moody banget tapi pastinya lagi ga begitu interest sama yang namanya nasi. Disti lebih tertarik 'menjambal' sayur dan lauk pauk ketimbang harus memakannya bersama nasi, tapi alhamdulillah sekarang Disti sudah mulai mau belajar minum susu formula walau dengan penuh perjuangan dan sedikit demi sedikit sekali jadi nanti setelah disapi tetap minum susu ya.... Sehat selalu ya sayang dan terus tumbuh jadi anak yang salehah, tambah pintar dan nurut sama ayah bunda.

Alhamdulillah...
Usaha suami untukk membuka toko pertanian sendiri Alhamdulillah masih berjalan dan mulai menunjukkan perkembangan yang bagus, semoga terus diberi kelancaran dan kemudahan serta selalu dibukakan pintu rizkiNya baik dari arah yang tak diduga-duga. Insyaallah bunda selalu siap membantu meski untuk sementara kita harus hidup lebih prihatin toh kedepannya buat anak-anak kita nanti. Bunda jadi ingat mind map yang bunda buat setelah kita menikah dan sekarang kita sedang meniti cabang kedua semoga Allah mengabulkan doa dan keinginan Ayah untuk bisa menghajikan Ibu (aamiin). Semangat ya Ayah.....semoga Allah selalu menyertai langkahmu dan melapangkan hati pikiranmu untuk menerima petunjuk dan hidayah-Nya (Bunda dan Disti sayang Ayah)

Alhamdulillah...
Aku sendiri masih bisa menikmati suasana pagi hari yang selalu memacu adrenalin berharapa bisa menyelesaikan semua pekerjaan rumah dan tidak terlambat ke kantor. Menyiapkan sarapan sambil 'wira-wiri' meladeni Disti yang kalau moodnya lagi jelek mintanya diambilkan ini itu cuma sama bunda, agak lebih santai kalau Disti sedang bagus moodnya jadi mau ditemani Ayah atau Eyang. Aku yang masih sering terlambat ke kantor karena Disti kadang mogok mandi, mau makan disuapin bunda, mogok nggak mau kerumah mbah (masa mau dirumah sendirian), atau accident di pagi hari yang tak terduga (benar-benar crowded). Namun akhir-akhir ini rasanya ada yang hilang, aku kehilangan waktu soreku berjalan-jalan bersama Disti karena memang lagi musim hujan sih tapi juga karena Disti sekarang lebih sering main dirumah mbah atau kalau sedang dirumah Disti lebih suka main masak-masakan didalam rumah jadi nggak mau kumpul bareng teman-temannya jalan-jalan sore.

Apapun dan bagaimanapun yang penting sampai detik ini aku masih enjoy menikmati peranku sebagai ibu dan seorang istri dengan pekerjaan sampingan sebagai wanita karir (hehehe....) dan sampai detik ini juga masih belum memutuskan untuk kembali mencari asisten rumah tangga (mungkin nati ya kalau sudah ada adeknya Disti...^_^). Terima kasih Ya Allah atas segalanya semoga Kau jadikan hamba dan keluarga hamba menjadi orang-orang yang bersyukur, jangan pernah Engkau cabut rasa syukur dari hati kami. Semoga kami bisa menuliskan sejarah manis di tahun ini tentunya dalam ridho dan naungan cinta-Nya. (Aamiin)


"Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun waj’alna lilmuttaqina imama"

Get Well Soon My Sweety

  Ini adalah catatan pertamaku di tahun 2022, catatan pertama yang diawali dengan kesedihan. Kesedihan karena tulisan ini aku buat saat seda...