Senin, 21 Desember 2020

Menjadi Tidak Pada Umumnya

 Akhirnya ketemu juga jari ini dengan deretan tuts keyboard dimeja kerjaku, sedari pagi rasanya sudah seperti dikejar-kejar debtcolector aja. Alhamdulillah semua pekerjaan yang sudah kurencanakan dari semalam akhirnya bisa terselesaikan, walau begitu jangan salah masih ada rentetan pekerjaan lain yang sudah menunggu. Yang tak pernah lupa ku minta disetiap akhir sholat semoga kita semua selalu diberi kesehatan terlebih disituasi pandemi saat ini, sehingga semua tugas dan kewajiban kita bisa tetap terlaksana dengan baik.

Seperti halnya tugasku untuk setor tulisan di 30DWC selama tigapuluh hari tanpa jeda semoga bisa tercapai dengan mulus. Sejujurnya bingung juga mau nulis apa bukan karena tak tahu apa yang ingin aku tulis justru karena terlalu banyak hal yang bersliweran dipikiranku yang ingin aku tulis.Baiklah, mari manfaatkan sisa waktu yang tinggal beberapa menit ini sebelum bel pulang berbunyi. 

Pernahkah kita berada disituasi dimana kita merasa berbeda dengan yang lainnya, kita menjadi sosok yang tidak pada umumnya?

Aku pernah, bukan dalam hal sederhana seperti salah kostum atau hal simpel lainnya melainkan berbeda untuk kondisi yang lebih serius. Sejak kecil aku memang berbeda dari kebanyakan anak-anak yang bisa bermain ceria selayaknya anak-anak pada umumnya karena aku yang sedari kecil sudah sakit-sakitan. Mungkin itulah yang menjadi awal hingga akhirnya aku sering berada disituasi yang tidak pada umumnya itu. Memang tak mudah menerima kenyataan kalau kita tidak bisa seperti orang-orang pada umumnya. Butuh keluasan hati dan keikhlasan yang lebih agar kita bisa dengan lapang menerima kondisi itu. 

Dulu saat SMP, saat anak-anak lainnya sedang senang-senangnya bergaya dengan kaos dan jam tangan yang kekinian (pada jamannya dulu) aku hanya bisa menyimpan dalam hati keinginan untuk memiliki seperti apa yang mereka miliki. Tapi aku sadar bahwa tak selamanya keinginan harus terwujud, aku tahu kondisi kedua orang tuaku dan aku bukanlah anak yang bisa memaksakan apa yang aku ingin.

Dan hingga saat ini pun seringkali aku berada pada situasi yang akhirnya membuatku memilih jalan yang berbeda dari kawan-kawanku kebanyakan. Entahlah mungkin takdir sudah menuntun langkahku untuk demikian namun aku tak pernah menyesali itu semua, karena pada akhirnya aku menyadari dari semua itu justru banyak sekali pelajaran berharga yang aku dapatkan. Dan pastinya lagi melatihku untuk terus belajar lebih ikhlas dan lebih lapang dada lagi dalam menerima dan menjalani takdir-Nya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Get Well Soon My Sweety

  Ini adalah catatan pertamaku di tahun 2022, catatan pertama yang diawali dengan kesedihan. Kesedihan karena tulisan ini aku buat saat seda...